
Happy reading..
☘️
☘️
☘️
Suasana hati Giordan saat ini lagi tak baik-baik saja, setelah melihat foto istrinya begitu dekat dengan Jayden Prayoga. Yang dikirim seseorang dengan nomor telpon yang tidak dikenalnya, semakin membuat panas dadanya.
Jayden Prayoga adalah rival terberat Giordan Adhitama, semenjak duduk di bangku sekolah menengah atas. Mereka berdua telah bersaing mulai dari bersaing dalam pelajaran sekolah maupun bersaing dalam mendapatkan cewek yang menjadi idola di Mentari Internasional School.
Tangan Giordan mengepal sempurna ingin rasanya meninju muka Jayden Prayoga, saat ini. Berani sekali dia mengibarkan bendera perang dengan seorang Giordan Adhitama. Giordan menatap foto itu di setiap slidenya dengan tatapan yang menghunus pada lelaki yang berdiri berdekatan dengan istrinya, sangat terlihat seperti pasangan yang romantis. Seorang wanita yang begitu perhatian dengan membersihkan kemeja yang dipakai laki-laki di depan nya.
Giordan menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya sembari tersenyum mengejek ke arah foto Jayden Prayoga. "Aku pemenang nya! Aku yang mampu menaklukkan hati Gadis Unik itu! Kau telah kalah, Jayden! Kau tidak bisa merebutnya dari Aku! Apa yang telah menjadi milikku takkan kubiarkan terlepas dari genggaman tanganku! Walaupun harus beradu otot di ring tinju denganmu sekalipun!"
"Bos.." suara Ardo mengagetkan Pria berparas tampan yang sedang terduduk lemas.
Dengan ekspresi yang tak bersemangat Giordan menjawab panggilan Ardo. "Tak bisakah kau mengetuk pintunya terlebih dulu!"
"Maafkan saya, Bos. Tapi sedari tadi saya sudah mengetuk pintunya, tapi Bos Giordan sedang tidak fokus dengan pekerjaan. Sehingga saya menerobos masuk ke dalam ruangan ini, dikarenakan ada hal yang sangat mendesak harus diberikan jawaban segera."
"Hmm.." hanya jawaban itu yang keluar dari bibir Giordan dari sepanjang kalimat Ardo yang didengarnya.
"Cuma itu, Bos?" sahut Ardo dengan ekspresi datar.
Dengan menyipitkan keduanya matanya, Giordan bertanya pada Ardo dengan suara penuh penekanan, "Hal penting apa yang ingin kau katakan!"
Ardo yang tersentak kaget, refleks langsung menjawab pertanyaan Bosnya dengan sedikit gemetaran. "Maaf, Bos. Barusan Ibu Sasha mengabarkan akan menggunakan Nona Ayra sebagai model untuk peluncuran produk baru kita yang bekerja sama dengan Mantili Company."
"Apa di Negeri ini cuma dia yang menjadi model! Batalkan saja kerjasama kita dengan Mantili Company! Aku sudah tidak berminat menjalin hubungan kerja dengan mereka!"
"Tapi, Bos."
"Yang mengaji kamu. Aku atau mereka!" sahut Giordan tanpa ada senyuman di bibirnya.
Jantung Ardo yang semula berdetak normal, kini hampir terlempar dari tempatnya. Mendengar ucapan Bos nya yang menggelegar.
"Putuskan kerjasama itu!"
__ADS_1
"Pihak kita akan terkena pinalti."
"Bayar!"
"Baik, Bos." akhirnya Ardo mengiyakan keputusan Bos nya itu. Cari aman adalah cara yang terbaik buat rekening pribadi Ardo.
"Segera cari informasi tentang Jayden, ada maksud apa dia mendekati istriku!" ujar Giordan sembari menyodorkan ponselnya ke hadapan Ardo.
"Cari mati." gumam Ardo. Sekilas melihat foto laki-laki yang bernama Jayden dengan istri Bos nya.
"Siapkan mobil. Aku mau menjemput istriku di Hotel Mentari." titah Giordan bangkit berdiri lalu langsung keluar dari ruangan kerjanya.
*****
POV LIA
"Ini anak berendam apa tidur di toilet? Sudah setengah jam yang lalu, Lili ke toilet." Lia menatap jarum jam yang terus bergerak berpindah angka.
"Sudah sore juga! Harus segera balik sebelum Tuan Giordan menggantungku, gara-gara istri tercintanya aku pinjam dan belum dikembalikan." ucap Lia sambil melangkahkan kakinya ke arah toilet untuk menjemput Lili.
"Toloooong.." Lili berteriak minta bantuan untuk membebaskan dirinya dari preman-preman suruhan orang untuk mencelakainya.
Mendengar suara teriakan minta tolong dari arah toilet. Refleks Lia langsung mengingat sahabatnya yang berada di toilet. Ia pun berlari kencang untuk segera mencapai toilet sebelum terlambat.
Ketika tangan laki-laki itu hendak mengusap pipi Lili yang mulus tanpa celah itu. Dengan gerak cepat Lili menangkis nya.
"Melawan kamu!" ucap laki-laki itu sambil mendorong tubuh Lili hingga tertelungkup di lantai.
Brakk..
Tubuh Lili terjatuh di lantai toilet hotel yang lembab. Karena Lili tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
Lia tersentak kaget melihat tubuh Lili yang sudah tertelungkup di lantai. Dengan gerak cepat ia melepaskan kedua sepatunya sambil terus berlari menghampiri Lili.
"Hai, hentikan" teriak Lia dari jauh berlari kencang untuk menyelamatkan sahabat nya sambil melemparkan sepatunya ke kepala pria itu.
Klotak..
Sepatu kets Lia melayang ke udara dan mendarat tepat pada sasaran yang di tuju ke atas kepala preman-preman suruhan orang yang tak menyukai Lili.
__ADS_1
"Ayo segera kita pergi dari sini!" ajak preman satu pada preman yang berkepala plontos itu.
"Kamu sudah memotret gadis itu, untuk laporan ke Bos kita?" tanya preman yang berkepala plontos.
"Sudah beres semua." sahutnya.
"Go.. Lari cari jalan keluar!" teriak preman-preman itu sambil tergesa-gesa pergi. Namun topi dari salah satu preman itu terjatuh dan tak berani mengambilnya.
"Lili.. Bangun." pekik Lia sambil berjongkok di samping Lili yang tak sadarkan diri.
Tangan yang gemetaran itu mengambil ponsel dari dalam saku celana jeans nya. Menscroll mencari nama di kontak untuk segera dihubungi.
Sambil menunggu sambungan teleponnya terhubung, Lia terus berusaha menyadarkan Lili dari pingsannya dengan memberikan minyak kayu putih di hidung Lili. Minyak kayu putih yang selalu ada di dalam tas Lia untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang terjadi di luar dugaan nya.
"Halo, Assalamualaikum." sapa Giordan dari sebrang telepon.
"Bos Giordan, Lili pingsan!" teriak Lia ketika sambungan telepon diangkat seseorang.
"Apa maksudmu!" teriak balik Giordan.
"Segera ke sini, Bos Giordan." kata Lia lagi.
"Di sini, di mana!"
"Di toilet Hotel Mentari." sahut Lia gugup, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Giordan untuk menghukumkan. Karena lalai menjaga istrinya.
Dalam sekejap Giordan dan Ardo telah sampai di parkiran Hotel Mentari. Untungnya pada saat Lia menghubungi Giordan Sedang perjuangan menuju Hotel Mentari.
Langkah besar Giordan yang membawanya langsung masuk melangkah ke dalam Hotel Mentari tanpa menoleh kanan dan kiri. Fokusnya kini hanya pada istrinya.
Langkah Giordan terhenti ketika sampai pada toilet Hotel Mentari dan kedua bola matanya tertuju pada tubuh yang terbaring di lantai dengan posisi kedua mata yang masih terpejam.
"Bod0h!" bentak Giordan pada Lia.
Seketika Lia mematung mendengar suara bariton Giordan dan bergumam lirih, "Mati aku!" bayangan wajah Giordan dengan tatapan mata yang tajam menghunus ke pupil Lia.
🌟🌟🌟🌟🌟
Bersambung..
__ADS_1
Hukuman apa yang akan diterima Lia dari Bos Giordan karena ketelodarannya dalam menjaga Lili..
Kepoin terus yuk.. GILI 😍😍