Pesona Sang Devil

Pesona Sang Devil
Ngeces


__ADS_3

Happy reading..


☘️


☘️


☘️


Muka lelah sangat kentara di paras tampan sang CEO GA group itu. Demi menuruti permintaan ngidam aneh istri dan baby nya, Giordan rela begadang hingga subuh hanya untuk menunggu sop buah segar pesanan sang istri siap disajikan.


"Sayang.." Giordan masuk ke dalam rumah, suasana sepi tak ada sahutan dari siapa pun.


Giordan melangkahkan kakinya dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik yang membangunkan istrinya. 'Kasihan sekali istri dan baby ku, sampai ketiduran di sofa seperti itu. Pasti sakit sekali punggungnya tidak tertidur dengan sempurna.'


Perlahan Giordan menurunkan paper bag bawaannya di atas meja di depan sofa. Kemudian mendaratkan bokongnya tepat di samping Lili yang sedang tertidur. Ia menatap Lili yang terlihat kelelahan dan memberikan isyarat jari telunjuk nya di depan bibir, ketika melihat Ardo dan Lia memasuki ruang tengah. Agar tidak bersuara yang bisa mengganggu waktu istirahat istrinya.


Hampir setengah jam berlalu, terlihat Lili menggerakkan kepalanya mencari sesuatu untuk dijadikan sandaran. Giordan yang melihat pergerakan itu, secepat nya ia mendekat dan meraih kepala Lili ke dalam dekapan nya. Kehangatan tubuh Giordan membuat nyaman Lili dan kembali terlelap.


Giordan tersenyum tipis dan mendaratkan ciumannya ke kening Lili.


"Bae.." lirih Lili membuka netranya perlahan. Tatapan matanya bertemu dengan manik mata suaminya.


Giordan menatap dua bulatan cantik di wajah wanita yang ada dalam pelukannya saat ini. Manik yang bening, penuh cinta dan kasih sayang yang tulus. Giordan tetap dalam diamnya, dia tak mengeluarkan satu pun kata. Dia hanya ingin memandang wanita yang telah merajai hatinya itu dalam keheningan.


Debaran halus masih menyusup di kalbu si pemilik rahang tegas. Jika memandang wanita pujaan hati sedekat ini. Lili merasakan kedamaian dalam dekapan suaminya. Rasanya berdua seperti itu membuat semua kerumitan dunia yang membebani tiba-tiba saja menguap lenyap.


Sedetik kemudian, pandangan Lili membawanya ke arah sesuatu di atas meja. Tangannya terulur untuk menyentuh paper bag yang tergeletak di atas meja. "Apa itu, Bae?" kerutan di dahi Lili menunjukkan ke ingin tahuan apa yang ada dalam paper bag itu.


"Oh, itu sop buah segar pesanan kamu, sayang," jawab Giordan sambil membuka paper bag.


"Sop buah segar?" tanyanya kembali.


"Iya, sayang."


Pandangan Lili tajam terangkat dan terfokus pada sebuah wadah yang di dalamnya terdapat potongan buah segar seperti kotak dadu. "Hanya ini?" tanya Lili serius.


"Iya, sayang. Sop buah segar itu sesuai pesanan kamu," ujar Giordan dengan semangat.


"Mana penjualnya?"


Mendengar pertanyaan Lili seperti itu. Giordan terkesiap. Memandang wajah Lili dengan perasaan aneh dan debar-debar jantung yang akan menghadapi sesuatu yang bakal terjadi selanjutnya.


"Penjual apa, sayang?" tanya Giordan yang tak mengerti dengan maksud Lili.

__ADS_1


"Penjual sop buah segar ini, Bae!" suara tegas Lili yang memenuhi dalam ruangan itu.


Giordan segera menutup mata dan mempersiapkan jantungnya agar tidak terkena serangan jantung mendadak. Begitulah dengan kedua orang yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari Tuan dan Nyonya nya.


Lili segera berdiri dari posisinya duduk. Lalu menghentakkan kakinya ke lantai. "Aku maunya sop buah segar sama penjualnya! Sekarang juga!" teriaknya kencang, lalu menangis sesenggukan.


Giordan yang terkejut melihat istrinya menangis, berlari menghampiri. "Sayang.." panggilnya dengan begitu lembut.


Lili mendengus. Bibirnya mengerucut kesal. "Aku pingin nya makan sop buah segar yang penjualnya berjenggot, yang dagunya ada bulu-bulu tipis nya gitu."


Giordan menghela nafas panjang dan memejamkan matanya sesaat. Kemudian memandang datar ke arah Ardo sang assisten pribadi. 'Aku rasa sebentar lagi lahar gunung Merapi tersembur,' mata Giordan memberikan kode pada Ardo dan Lia.


"Kenapa tadi kamu nggak bilang sayang," ucap Giordan.


Lili menatap Giordan tajam, "Tadi aku sudah bilang begitu!"


"Kapan, sayang?"


"Tadi!"


"Aku nggak mendengar nya."


"Makanya kalau istri bicara itu didengerin dulu! Jangan langsung ditinggal pergi gitu saja."


Lili berdecak, "Enggak mau!"


"Maafin Mas, ya sayang. Tadi tidak mendengarkan permintaan baby dengan baik dan benar," Giordan berusaha mencuri hati istrinya.


Lili berdecak tidak puas. "Sebagai gantinya, aku mau makan sop buah segar nya disuapin sama Bae, tapi sambil cabutin bulu kakinya kak Ardo! Titik! Tak boleh dibantah!"


Ardo mengusap wajahnya kasar. Menekan-nekan pangkal hidungnya dengan jari, berharap rasa pusing yang tiba-tiba hinggap di kepalanya segera hilang.


Sedangkan Lia hanya bisa menganga tak percaya dengan kalimat yang terucap dari bibir Lili sahabat nya itu.


"Lili.." pekik Lia dengan kedua mata yang melotot.


"Apa?" sahut datar Lili.


"Enggak salah?"


"Apa yang salah? Biasa aja kok!"


'Astaga! Ngidam baby Sultan yang merepotkan sang assisten pribadi,' Ardo menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Giordan terdiam. Bingung antara mengiyakan atau melarang keinginan istrinya yang aneh itu.


Lia mendengus jengkel. "Kamu itu apa-apa sih, Lili," protes Lia pada Lili.


"Keberatan? Kenapa juga kamu yang sewot?" Lili menelisik dalam ke arah Lia.


"Apa hubungannya dengan kamu? Pacar kamu?" tanya Lili lagi.


"Eh, tidak begitu. Li," sangah Lia.


"Tidak begitu apanya! Itu tadi kamu yang sewot!" ucap Lili dengan bibir yang mengerucut.


"Sayang.. Biar Mas, saja yang menggantikan nya, ya?" usul Giordan meredam situasi.


"Enggak mau! Mau nya kak Ardo!"


Ardo memejamkan matanya sambil berkali-kali menghela nafas panjang. Seolah ada beban berat di kepalanya yang harus diangkat.


Giordan tersenyum samar ke arah Ardo. 'Please, Do. Turutin aja kemauan istri dan baby ku, dari pada nanti ngeces. Nanti biar aku transfer bonusmu!' seperti itulah kata-kata yang diucapkan oleh Giordan pada Ardo lewat tatapan matanya.


Ardo memandang wajah Lia sebentar. Seolah meminta pendapat sekaligus ijin untuk menerima atau menolak kemauan Nyonya besar nya yang lagi ngidam itu.


Lia yang dipandang seperti itu oleh Ardo hanya bisa mengedikan bahunya. Merasa kasihan pada laki-laki yang dicintai nya, tetapi dia juga tidak tega melihat keinginan Lili sahabat nya yang radak-radak nyeleneh itu.


"Bae..!" panggil Lili.


"Iya, my Angel."


"Iya atau tidak!"


"Iy-iya sayang."


"Ardo! Cepat duduk sini!"


Ardo berjalan mendekat ke arah Tuan dan Nyonya nya sambil berkomat-kamit merapalkan doa keselamatan untuk dirinya.


Akhirnya Lili memakan sop buah segar nya dengan disuapin Giordan sambil mencabuti bulu kaki si Ardo.


"Beginikan enak dari tadi! Dari pada ngeces! Masa baby seorang Giordan Adhitama ngeces!" Lili membayangkan itu saja tidak mau.


"Aaahhh, jangan sampai baby ku ngeces! Tidak mau.. Tidak mau!"


☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


😂😂 Angel wis angel 🏃🏃🏃


__ADS_2