
Happy reading...
☘️
☘️
☘️
...Lebay.. Mungkin kata itu yang akan keluar dari bibir seseorang, jika melihat orang yang sedang jatuh cinta. Atau kata lainnya sekarang ini adalah BUCIN....
...Jika memikirkan seseorang yang dicintai, waktu seakan berjalan cepat dan tak pernah cukup hanya sesaat memandang wajah yang selalu dirindukan. Bahkan ingatan pun hampir lumpuh dipenuhi oleh sang terkasih. Namun, jangan terlalu hanyut oleh buaiannya. Karena cinta bisa membuat bahagia, tetapi juga bisa membinasakan dalam sekejap mata....
...💗💗💗💗...
"Bae.. Sudah dong merajuknya," menatap netra Giordan.
Segala cara sudah dipakai oleh Lili, akhirnya dia mencoba dengan cara terakhirnya sambil bernyanyi. "Peluklah tubuhku, kecup keningku," Lili bersenandung ceria seraya memeluk erat tubuh Giordan, lalu menempelkan keningnya ke bibir suaminya yang menahan tawa karena tingkah lucu Lili yang selalu bikin greget hati Giordan.
"Tenangkan hatiku yang merindukanmu. Aku tak ingin Bae merajuk meluluh, saat ini," setelah menyelesaikan bait lagu itu, Lili mendaratkan bibirnya ke bibir seksi suaminya.
Tanpa menunggu komando majuuuu.. Seraaanngg.. Giordan segera melahap bibir ranum milik pasangan halalnya itu.
Kedua tangan Giordan meraup wajah cantik Lili. Dalam hitungan detik, Giordan sudah melahap habis bibir merona milik pasangan halalnya yang sedari tadi telah menantangnya. Sop lidah asem pedas manis itu, kini telah menarik-narik di dalam satu mangkuk mengabsen satu persatu deretan isi yang sesekali menggigit dan membelit lidah bergoyang dalam satu mangkuk dengan kuah berkoyak yang sangat hot. Tanpa memberikan kesempatan jeda waktu untuk menghirup kuah yang mengepul, Lili hanya bisa ikut larut dalam permainan suaminya kali ini tanpa protes seperti biasanya. Permainan lidah asem pedas manis dalam satu mangkuk dengan kuah berkoyak yang beraroma mint.
Kapal yang mulai berlayar di lautan lepas itu, bernahkoda seorang kapten Giordan Adhitama yang membawa seorang penumpang berjemari lentik dengan kuku panjang yang terawat menelusup ke sela-sela rambut hitam yang tertata rapi. Sesekali wanita itu menarik lembut rambut yang terombang-ambing saat sang kapten memanjakannya.
Sang wanita pun tak berani melawan, ketika sang kapten menurunkan salah satu tangannya mengecek kondisi gunung es yang mulai mencair.
Disaat sang wanita mulai menikmati alunan permainan, tiba-tiba sang kapten menyudahi pertautan dua bibir itu.
"Bae.."
__ADS_1
"To be continued, Sayang," lirih Giordan, ujung jemarinya masih tetap tenang menari di bibir ranum istrinya.
Bibir Lili refleks mengerucut. Lalu meraih jemari Giordan dan digigitnya pelan.
"Maafkan aku, Bae.." kedua tangan Lili melingkar kembali ke leher Giordan dengan posesif.
Siang yang terik tak menyurutkan tekad Lili untuk tetap merayu sang pujaan hatinya, agar memaafkan kesalahan yang telah diperbuatnya di mall, tadi.
"Kau mau apa pasti kan ku beri. Kau minta apa akan aku turuti. Walau harus aku terlelah dan letih. Ini demi kamu, sayang," Giordan bersenandung kecil terkontaminasi oleh istrinya. Seulas senyum terbit di wajah tampan yang telah membuat Lili jatuh cinta.
"Saaaaaaaayyyyaaaang.." panggil Lili panjang sambil menghela nafas.
"Aku tak akan berhenti menemani dan menyayangimu. Hingga matahari tak terbit lagi. Bahkan bila aku mati. Ku kan berdoa pada Ilahi tuk satukan kami di Surga nanti," Giordan melanjutkan kembali bait lagu band ternama itu. Kedua sudut bibirnya melengkung ke atas. Namun, disaat Lili memandangnya, buru-buru suaminya mengeraskan kembali rahang kokohnya.
'Iihhh.. Ya Alloh, dengan cara apalagi aku harus melunakkan hati suami hamba,' Lili membatin menangis.
"Tahukah kamu apa yang ku pinta. Di setiap doa sepanjang hariku? Tuhan, tolong aku, tolong jaga dia. Tuhan, aku sayang, My Angel,"
Lili tidak membalas ucapan Giordan barusan. Dia hanya memeluknya erat dan menangis hebat.
"Sayang, apa yang terjadi? Apa kau tidak mencintaiku? Apa pernikahan ini menyiksamu?" tanya Giordan menelisik ke dalam netra Lili.
Lili bukan segera menjawab pertanyaan Giordan, ia malah semakin menangis kencang. Dan lagi-lagi, dia semakin memeluk erat tubuh suaminya dengan tubuh yang terguncang hebat.
"Sayang, ada apa dengan dirimu?" tanya Giordan melemahkan nada bicaranya.
"Bae.. Maafkan aku. Jangan pernah berhenti mencintaiku. Jangan pula pergi menjauh dari hidupku," ucap Lili di sela isak tangisnya. Dengan wajah yang semakin dibenamkan di dada bidang Giordan.
"Maafkan aku, Sayang," Lili berkata pelan. "Aku sendiri bingung dengan diriku, Bae. Kenapa sejak aku hamil tidak bisa mengerem segala keinginanku? Emosi yang selalu meluap tanpa bisa dibendung lagi?" kedua tangannya melingkar erat di pinggang suaminya.
"Bukan maksudku bersikap bar-bar dan seenak jidat. Dan aku juga tidak bisa menyalahkan ngidam aneh ini, Bae," Lili menjelaskan keanehan yang terjadi dalam dirinya akhir-akhir ini.
__ADS_1
Giordan bergeming. Ia hanya mendengarkan dan memandang wajah istrinya yang berurai air mata. Duduk bersandar.
"Tadi itu, aku sedang menemani Lia untuk menunggu kliennya, hampir satu jam bersama Lia. Tapi aku merasa bosan dengan menunggu seperti itu," lanjut Lili menjelaskan duduk permasalahannya hari ini.
Lili menatap ke arah wajah Giordan sambil meneliti perubahan ekspresi wajah suaminya, setelah setengah perjalanan penjelasan kejadian di mall tadi.
"Lalu?" sahut Giordan sambil merengkuh pinggang ramping Lili.
"Setelah menunggu lama, ehh.. Ternyata yang ditunggu orang itu," Lili mencibirkan bibirnya.
"Siapa?"
"Orang itu, Bae," ucap Lili sambil menggaris abstrak di dada kekar Giordan.
"Orang di masa lalu kamu? Lalu kamu pergi meninggalkan mereka untuk melampiaskan kemarahan kamu. Dan disaat kamu sedang memilih tas branded favorit kamu, tiba-tiba ada seseorang yang menyambarnya dari tangan kamu? Dan selanjutnya terjadilah aksi jambak menjambak rambut dan terguling-guling di lantai hingga berakhir nyungsep tengkurap seperti kura-kura yang tak bisa bangun lagi?" Giordan menerangkan detail insiden di mall.
"Bae.." Lili terbelalak. "Ya Tuhan, apa sih yang nggak diketahui oleh suamiku yang serba tahu! Sebelum aku menceritakannya! Bae.. Memang yang terhebat!" puji Lili menempelkan hidungnya ke hidung Giordan.
"Jangan pernah lakukan itu lagi, Sayang! Aku nggak ingin terjadi sesuatu dengan kamu dan baby di sini!" ucap Giordan mengelus perut rata Lili.
Helaan nafas panjang Giordan terdengar di rungu Lili. Ia tahu kalau laki-laki yang begitu dicintai nya, sangat menghawatirkan dirinya juga baby yang menjadi penghuni rahimnya, saat ini.
"Maafkan aku lagi, Sayang. Aku berjanji tidak akan ceroboh seperti itu lagi. Tapi, apa Bae tidak cemburu aku bertemu dengan Adam?" tanya Lili penasaran.
Giordan tergelak atas pertanyaan istrinya. Sudut bibirnya melengkung ke atas membentuk senyuman manis. Kemudian dia menempelkan keningnya ke kening Lili.
"Masa lalu adalah sebuah kenangan yang indah tidak bisa begitu saja dibuang dari ingatan kita. Namun, sepenting apakah masa lalu itu di kehidupan kita yang akan datang? Haruskah kita berbelok kembali ke masa itu? Jika masa depan kita sudah terbentang dengan indah di depan mata kita! Berbahagia dengan pasangan halal kita bersama keluarga kecil kita! Berdamailah dengan keadaan nyata, bukan hanya kamuflase sesaat yang akan menyesatkan pikiran dan hati kita, hingga menjadikan semuanya FATAMORGANA!" ujar Giordan dengan senyum bahagia dan mendekap erat tubuh istri tercintanya.
⭐⭐⭐⭐🌟
Yuk like komen yang banyak biar tambah semangat GILI na.. 🙏🏻🥳🥳🥳
__ADS_1