
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Selama dalam perjalanan, tidak ada pembicaraan sama sekali bahkan Kanaya merasa tidak enak bisa satu mobil dengan Bosnya sendiri, sudah dipastikan semua karyawan pasti bakalan heboh melihat Kanaya turun dari mobil Bosnya.
"Maaf Pak, saya turyn di belokan itu saja," tunjuk Kanaya.
"Kenapa? pabrik kan masih jauh?"
"Soalnya saya ga mau ada gosip saja Pak, nanti satu pabrik bisa heboh kalau saya turun dari mobil Bapak."
"Tapi----"
"Please Pak, saya mohon."
Akhirnya karena merasa Rama tidak mau membuat Kanaya susah juga dengan gosip yang nantinya akan tersebar, Rama pun menyuruh sopirnya untuk menghentikan mobilnya.
"Terima kasih, Pak."
Kanaya segera turun dari dalam mobil Rama dan dengan cepat berjalan kaki menuju pabrik, sedangkan Rama hanya bisa tersenyum.
Sesampainya di pabrik, Rama segera menuju ruangannya seperti biasa semua karyawan wanita tampak melongo melihat Bos barunya yang sangat tampan itu. Rama pun duduk di kursi kebesarannya.
Tok..tok..tok..
"Masuk."
"Permisi Tuan, maaf mengganggu pagi-pagi."
"Ada apa Pak Sopandi?"
"Maaf Tuan, saya baru mendapat kabar dari HRD katanya Manager Produksi mengajukan resign hari ini," seru Sopandi.
"Kenapa resign?"
"Katanya sakit dan dia akan menjalani pengobatan maka dari itu dia memilih resign."
Rama hanya mengangguk-ngangguk...
"Bagaimana Tuan, kita harus mencari Manager Produksi yang baru."
Rama terlihat berpikir, hingga otaknya kembali tertuju kepada Kanaya.
"Pak Sopandi, saya minta data Kanaya," seru Rama.
Sopandi terkejut. "Hah...Kanaya?"
"Iya, Kanaya saya lihat dia karyawan yang rajin bukannya Kanaya keponakan Pak Sopandi?"
"Iya Tuan, baiklah kalau begitu saya ambil data-data Kanaya dulu."
Tidak lama kemudian, Sopandi pun sudah kembali dengan membawakan map berisi data lengkap milik Kanaya dan Rama membacanya dengan teliti.
"Dia lulusan SMA?"
"Iya Tuan."
"Saya lihat, nilai dia di SMA sangat bagus dan diatas rata-rata berarti dia orangnya pintar?"
"Iya Tuan, dia pernah menjadi juara komputer juga."
Tok..tok..tok..
"Masuk!"
"Maaf permisi, apa Bapak memanggil saya?" seru Alin.
"Iya, silakan duduk."
"Terima kasih."
__ADS_1
"Kamu Alin kan, supervisor bagian produksi?" tanya Rama.
"Iya Pak."
"Bagaimana cara kerja Kanaya?"
Alin terkejut karena Bos barunya tiba-tiba menanyakan Kanaya.
"Kanaya adalah karyawan yang rajin dan ulet Pak, dia sudah 3 tahun kerja disini masih bisa dibilang baru, tapi pekerjaannya sangat rapi dan bisa dibilang mengalahkan karyawan lama juga. Selain itu Kanaya termasuk karyawan yang cepat tanggap dan mudah mengerti dengan apa yang saya perintahkan," sahut Alin.
"Baiklah, kamu boleh kembali bekerja."
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi."
Alin pun meninggalkan ruangan Bosnya dengan perasaan bingung.
"Ada apa sebenarnya? kok Bos menanyakan soal Kanaya?" batin Alin sembari berjalan menuju ruangan produksi.
Kanaya sedang bekerja dengan serius, tiba-tiba Mamangnya datang.
"Kanaya, kamu ikut saya sebentar Pak Rama ingin bertemu denganmu."
"Baik Pak."
Kanaya pun segera mengikuti langkah Mamangnya menuju ruangan Rama.
"Ada apa, kok Kanaya dipanggil sama Pak Bos sih? apa jangan-jangan dia sudah membuat kesalahan?" seru Susi.
"Mati kau Kanaya, pasti setelah ini dia bakalan dipecat," sahut Puri.
Tok..tok..tok...
"Permisi Tuan."
"Ah, silakan duduk Kanaya."
Kanaya pun dengan ragu-ragu duduk...
"Kanaya, mulai besok saya angkat kamu menjadi Manager Produksi yang baru."
Kanaya begitu sangat terkejut mendengar keputusan sang Bos.
"Tapi Pak, saya hanya lulusan SMA lagipula saya cuma karyawan baru disini belum ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan karyawan lama yang sudah belasan sampai puluhan tahun bekerja disini."
"Tidak ada penolakan, pokoknya mulai besok kamu resmi menjadi Manager Produksi dan semua hal mengenai tugas Manager, kamu bisa tanyakan kepada Pak Sopandi."
"Tapi----"
Kanaya melihat kearah Sopandi dan Sopandi terlihat menganggukkan kepalanya. Kanaya sangat bingung dengan keputusan Bos barunya itu, sebenarnya apa yang ada dipikirannya padahal masih banyak karyawan lama yang lebih pantas menjadi Manager Produksi.
Setelah berpikir, akhirnya mau tidak mau Kanaya harus menyetujui keinginan Bosnya itu dan Kanaya sama sekali tidak bisa menolak.
Kanaya pun kembali ke tempat kerjanya, dan langsung mendapat tatapan tajam dari Puri dan Susi.
"Ada apa Pak Bos memanggilmu? pasti kamu sudah membuat kesalahan kan? dan sekarang kamu di pecat, iya kan?" seru Puri dengan senyuman sinisnya.
"Sudah pastilah dia dipecat, lihat dari raut wajahnya yang lesu begitu sudah ketahuan kalau dia dipecat," sambung Susi.
Kanaya menatap tajam kearah Puri dan Susi, lalu Kanaya tersenyum penuh kemenangan.
"Sayangnya, dugaan kalian berdua salah lihat saja besok dan persiapkan diri kalian berdua jangan sampai besok kalian kena serangan jantung," sahut Kanaya.
"Apa?"
Kanaya pun kembali bekerja dengan bibir yang tersungging, otaknya mulai memikirkan hal-hal yang menurutnya sangat menyenangkan.
"Dengan aku naik jabatan menjadi Manager Produksi, itu artinya aku bisa dengan leluasa membalaskan dendamku kepada semua orang yang selama ini sudah menginjak-nginjak harga diriku, aku bisa memanfaatkan jabatanku untuk membalas mereka semua," batin Kanaya dengan senyumannya.
Kanaya memang sudah berubah, bahkan sekarang Kanaya sudah berubah menjadi orang yang pendendam padahal dulu Kanaya adalah anak yang baik hati dan pemaaf tapi sekarang semuanya berubah bersamaan dengan perubahan penampilannya.
***
Malam pun tiba...
__ADS_1
Sehabis makan malam, Kanaya terlihat terduduk dipinggir kolam berenang entah apa yang sedang Kanaya pikirkan.
"Sedang apa kamu disini? bukannya tidur?"
"Eh Mamang."
Sopandi pun duduk disamping Kanaya. "Ada apa? apa yang sedang kamu pikirkan?"
"Aya takut Mang, dengan Aya menjadi Manager Produksi sudah dipastikan itu akan timbul kecemburuan sosial diantara semua karyawan. Aya hanyalah karyawan baru dan bekerja pun baru hitungan bulan, Aya tidak mengerti dengan keputusan yang dibuat oleh Pak Rama itu."
"Mamang mengerti akan ketakutanmu, tapi Mamang juga percaya dengan pilihan Pak Rama kalau kamu akan bisa mengemban tugas itu. Kamu adalah anak yang rajin dan tekun bahkan kamu sangat cepat tanggap dengan apa yang diajarkan jadi Mamang yakin, kali ini juga kamu akan langsung mengerti dengan tugas seorang Manager."
"Entahlah Mang, rasanya Aya takut saja ke depannya bakalan ada masalah dengan dipilihnya Aya sebagai Manager Produksi."
"Kamu jangan khawatir Aya, ada Mamang yang selalu ada dibelakang kamu jadi kalau ada yang berani menyakitimu, kamu langsung bilang saja kepada Mamang. Dan kamu tahu, sebenarnya ini adalah hasil dari kesabaranmu. Selama ini kamu selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang-orang yang ada disekelilingmu, sekarang saatnya kamu buktikan pada orang-orang yang meremehkanmu kalau kamu bisa melebihi mereka."
"Iya Mang, Aya akan buktikan kepada mereka siapa Kanaya yang sebenarnya."
Sopandi menepuk pundak Kanaya. "Akang Sodikin dan Teh Ajeng pasti akan bangga kepadamu Aya, tunjukan kalau kamu di kota menjadi orang yang sukses biar semua orang yang dulu menghinamu menyesal sudah memperlakukanmu dengan sangat kejam."
Bayangan masalalu pun kembali hadir, dan rasa ingin balas dendam pun semakin besar apalagi kepada orang-orang yang dulu menghina dan memfitnahnya.
Keesokan harinya....
Semua karyawan diperintahkan untuk berkumpul karena hari ini akan ada pengumuman mengenai siapa yang menjabat sebagai Manager Produksi yang baru.
"Kanaya mana?" tanya Alin.
"Tidak tahu Bu, mungkin dia tidak masuk," sahut Puri acuh tak acuh.
Rama dan Sopandi pun datang membuat semua karyawan terdiam.
"Selamat pagi semuanya, pagi ini tujuan saya mengumpulkan kalian semua perihal pengunduran diri Pak Ganda karena beliau sakit dan ingin fokus untuk pengobatannya, maka dari itu saya sudah menemukan pengganti Pak Ganda dan saya mohon kalian semua hargai keputusan saya karena saya tidak sembarangan memilih orang dan saya yakin orang ini bisa menjadi Manager Produksi yang menggantikan Pak Ganda, silakan masuk!"
Tap..tap..tap..
Suara heels menggema memecah keheningan, semua karyawan menoleh kearah pintu penasaran siapa yang akan menjadi Manager Produksi yang baru.
Pintu pun terbuka dan semua orang terlihat membelalakan matanya dengan mulut yang menganga, Kanaya berjalan dengan anggunnya dengan memasuki ruangan produksi dan berdiri dengan angkuhnya disamping Rama.
"Inilah Kanaya, Manager Produksi kita yang baru."
Semua orang terkejut bahkan Puri dan Susi memegang dadanya saking terkejutnya, sedangkan Kanaya hanya tersenyum penuh kemenangan.
"Permainan akan segera dimulai," batin Kanaya dengan senyumannya.
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1