
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Jonathan lagi-lagi mendapatkan penolakan, dan akhirnya dengan langkah gontai Jonathan pun kembali masuk ke dalam rumah Pamannya.
Sementara itu Kanaya langsung masuk ke dalam kamarnya, airmata yang dari tadi dia tahan akhirnya menetes juga. Kanaya menepuk-nepuk dadanya, sungguh saat ini Kanaya merasa sangat sesak.
"Kenapa kamu harus hadir lagi di kehidupan aku? kamu tahu, dengan hadirnya kembali kamu luka yang selama ini sudah aku tutup akhirnya harus terbuka lagi," gumam Kanaya.
Kejadian itu memang sudah lama tapi perlakuan Jonathan dan teman-temannya dulu tidak akan Kanaya lupakan bahkan bisa jadi kejadian itu akan terus Kanaya ingat seumur hidupnya.
Satu yang masih Kanaya ingin tahu, yaitu siapa yang dulu sudah menyebarkan fitnah sehingga Kanaya harus dikeluarkan dari sekolah dan terancam tidak bisa mengikuti ujian walaupun pada akhirnya Kanaya bisa lulus dengan nilai terbaik.
Bahkan yang lebih menyakitkan lagi, rumahnya hancur dilempari warga dan Kanaya serta kedua orang tuanya diusir dari kampung halamannya akibat fitnah itu.
"Aku yakin kalau yang menyebarkan fitnah itu adalah kerjaannya dia, dan kalau sampai benar dia yang melakukannya aku tidak akan pernah memaafkan dia sampai kapan pun," gumam Kanaya.
Jonathan merebahkan tubuhnya di tempat tidur, tatapannya menerawang ke atas langit-langit kamarnya. Jonathan mengingat kejadian di SMA dulu, dan meningat perlakuan demi perlakuan yang sudah dia lakukan terhadap Kanaya.
"Pokoknya aku harus minta maaf kepada Kanaya, aku tidak peduli sekeras apapun hati Kanaya aku harus mendapatkan maaf darinya. Perlakuanku dulu sudah sangat kejam dan aku juga harus mengatakan yang sebenarnya kalau dulu yang memfitnahnya itu adalah aku," gumam Jonathan.
***
Sore pun tiba...
"Bi, Kanaya ke minimarket di depan sana dulu ya mau beli keperluan Kanaya."
"Iya, kamu hati-hati."
"Siap Bi."
"Teh, aku titip coklat satu!"
"Iya."
Kanaya pun segera meninggalkan rumah, Kanaya berjalan kaki menuju mini market karena jaraknya yang tidak terlalu jauh hanya di ujung jalan sana.
Tidak lama kemudian, Kanaya pun sampai di mini market dan segera masuk ke dalam mini market itu. Kanaya melihat-lihat dan mencari sesuatu untuk kebutuhannya, disaat Kanaya ingin mengambil cemilan ternyata seseorang pun ingin mengambil cemilan itu juga sehingga orang itu pun tidak sengaja memegang tangan Kanaya.
"Kanaya..."
__ADS_1
Lagi-lagi Kanaya bertemu dengan Jonathan, dengan cepat Kanaya menghempaskan tangan Jonathan. Kanaya dengan cepat mengambil apa saja yang dia butuhkan setelah itu Kanaya segera menuju kasir.
"Berapa semuanya, Mbak?" tanya Kanaya.
"Semuanya delapan puluh lima ribu."
Kanaya mengambil uang dari dalam dompetnya, tapi Jonathan menyerahkan kartu ATMnya kepada kasir.
"Mbak, semuanya aku yang bayar sekalian belanjaan Nona ini," seru Jonathan.
Kanaya menatap tajam kearah Jonathan dan dengan cepat menyerahkan uang seratus ribu kepada si kasir.
"Mbak, saya bayar sendiri kembaliannya ambil saja buat Mbak."
Kanaya mengambik kantong kresek itu dan segera pergi dari mini market itu dan lagi-lagi Jonathan hanya bisa menghembuskan napasnya. Setelah selesai membayar belanjaannya, Jonathan langsung mengejar Kanaya.
Jonathan menarik tangan Kanaya sehingga membuat Kanaya tersentak dan terkejut.
"Tunggu Kanaya, aku mohon aku hanya ingin bicara sama kamu. Aku ingin minta maaf atas semua perlakuanku dulu sama kamu."
Kanaya menghempaskan tangan Jonathan dan menatap Jonathan dengan tatapan yang sangat tajam.
"Minta maaf?"
"Iya, aku mengaku salah dan selama ini aku tidak bisa hidup dengan tenang karena aku selalu dihantui perasaan bersalah sama kamu, aku mohon maafkan aku supaya aku bisa hidup dengan tenang tanpa dibayang-bayangi perasaan bersalah lagi."
"Kalau setiap kesalahan bisa diselesaikan dengan kata maaf, semua orang tidak akan jera dia akan terus melakukan kesalahan karena dia berpikir akan bisa selesai dengan kata maaf. Apa kamu tidak punya otak? setelah apa yang sudah kamu lakukan kepadaku, sekarang dengan mudahnya kamu minta maaf? apa dulu saat kamu memperlakukanku dengan kejam, kamu memikirkan bagaimana perasaanku? apa kamu memikirkan apa akibat dari perbuatanmu itu? banyak diluar sana anak-anak yang menjadi gila bahkan sampai bunuh diri karena tidak kuat menerima bullyan yang mereka terima!" bentak Kanaya.
Jonathan terperangah, dia baru tahu ternyata akibat perlakuannya dulu membuat Kanaya menderita.
"Aku sangat membencimu melebihi dari apapun, jadi percuma kamu minta maaf kepadaku karena aku tidak akan pernah memaafkanmu dan aku minta mulai sekarang jangan menggangguku dan pergi dari hidupku jangan muncul lagi dihadapanku!" bentak Kanaya.
Kanaya segera berlari meninggalkan Jonathan, sungguh Jonathan sudah bingung harus bagaimana lagi.
"Bagaimana kalau sampai Kanaya tahu yang memfitnahnya ternyata aku, pasti Kanaya akan lebih membenciku lagi," batin Jonathan.
Kanaya masuk ke dalam rumah dan langsung berlari menuju kamarnya.
"Aya kamu kenapa?" teriak Wati.
"Teh, mana coklat pesanan Sisi!" teriak Sisi.
Kanaya tidak mendengarkan teriakan Wati dan Sisi, Kanaya masuk ke dalam kamarnya dan langsung menjatuhkan dirinya keatas tempat tidur.
Kanaya menenggelamkan wajahnya diatas bantal, memang benar apa yang dikatakan Kanaya banyak diluaran sana anak-anak yang menjadi gila, trauma, bahkan sampai bunuh diri karena tidak kuat mendapatkan bullyan yang mereka terima.
Kanaya bukannya tidak merasakan itu, bahkan dulu terbersit dihatinya untuk bunuh diri juga tapi Kanaya masih punya iman dan dia juga memikirkan kedua orang tuanya karena hanya dialah harapan orang tuanya. Jujur, hanya kedua orang tuanya yang menjadi penyemangat Kanaya selama ini.
__ADS_1
"Apa aku salah membencinya? apa aku salah tidak mau memaafkannya? bahkan aku hanya membenci dan tidak mau memaafkannya, tidak seperti mereka yang sudah menyiksa mentalku secara terus-menerus," batin Kanaya.
***
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, semenjak pulang dari mini market Kanaya tidak keluar kamar membuat Wati merasa khawatir.
Tok..tok..tok..
"Aya, ayo kita makan malam!"
Kanaya yang baru saja keluar dari kamar mandi, akhirnya membuka pintu kamarnya dan betapa terkejutnya Wati saat melihat mata Kanaya yang terlihat sembab.
"Ya Alloh Aya, kamu kenapa? kamu habis nangis?"
"Aya tidak apa-apa kok Bi."
"Jangan bohong sama Bibi, jujur kamu kenapa?"
"Aya hanya rindu saja sama Ayah dan Ibu, Bi."
Wati mengusap kepala Kanaya sembari tersenyum. "Ya sudah, bulan depan kita pulang nanti biar Bibi yang anterin kamu pulang kampung."
"Terima kasih Bi."
"Ya sudah jangan nangis lagi, sekarang kita makan dulu."
Kanaya pun akhirnya mengikuti Bibinya untuk makan malam, Bibi sama Mamangnya jangan sampai tahu kalau dia menangis gara-gara orang di masalalunya hadir kembali.
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU