
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Di tengah-tengah Kanaya yang sedang melamun, tiba-tiba Gina datang dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Ada apa Gin?" tanya Kanaya.
"Ada undangan untukmu, Ay."
"Undangan dari siapa?"
Gina pun memberikan undangan elegan itu kepada Kanaya, perlahan Kanaya membukanya matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Kak Jo mau menikah dengan Zira," gumam Kanaya.
Gina mendekati Kanaya dan duduk di samping Kanaya kemudian mengusap punggung Kanaya dengan penuh keprihatinan.
"Pantas saja sudah beberapa hari ini Kak Jo tidak ada kabar bahkan telepon dan pesanku dia abaikan ternyata dia akan menikah," seru Kanaya.
Kanaya bangkit dari duduknya dan langsung berlari menuju kamarnya, Gina hanya bisa menatap punggung Kanaya dan membiarkan Kanaya sendiri dulu.
Kanaya menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur, ditenggelamkannya wajahnya ke bantal.
"Kenapa kamu mengatakan kamu mencintaiku kalau pada akhirnya kamu akan tetap menikah dengan Zira, kamu jahat Kak sudah memberikan harapan besar kepadaku dan juga Arka," gumam Kanaya.
Malam pun tiba...
Kanaya, Jonathan, Zira, dan juga Daniel terlihat sedang duduk di kamar masing-masing. Keempat orang itu tampak melamun dengan pikirannya masing-masing, entah apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
***
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, tibalah hari dimana Jonathan dan Zira akan melaksanakan akad nikah.
Jonathan masih termenung di kamarnya, walaupun saat ini dia sudah menggunakan pakaian rapi.
Sementara itu, Daniel terlihat menghubungi seseorang.
📞"Lakukan sekarang, jangan sampai gagal aku tidak mau acara akad nikah adikku batal setelah kalian berhasil, kirim foto kalian kepadaku dengan Kanaya dan Arka, kalian mengerti kan dengan tugas kalian?"
📞"........."
Daniel tidak sadar kalau Zira sudah mendengarkan pembicaraannya.
"Kak Daniel mau melakukan apa kepada Kanaya dan anaknya?" batin Zira.
Zira pun dengan cepat segera menghubungi seseorang, entah siapa yang dia hubungi.
Daniel pun memutuskan sambungan teleponnya, saat ini Daniel sudah berada di rumah kedua orangtunya untuk menyaksikan acara akad nikah sang adik.
Sementara itu, di kediaman Kanaya....
"Gin, hari ini biar aku yang mengantarkan Arka ke sekolah soalnya hari ini aku ga bakalan ke toko," seru Kanaya dengan senyuman yang dipaksakan.
"Baiklah Ay, kamu hati-hati ya."
Kanaya dan Arka pun berangkat ke sekolah diantar Pak Katmo, sebuah mobil yang dari tadi menunggu di depan rumah Kanaya mulai mengikuti mobil Kanaya hingga di pertengahan jalan yang lumayan sepi mobil itu menyalip mobil Kanaya.
__ADS_1
"Astagfirullah, ada apa Pak?"
"Ga tahu Bu, mobil itu tiba-tiba berhenti."
Tiga orang memakai pakaian hitam-hitam turun dari dalam mobil itu dan menggedor kaca mobil Kanaya.
"Keluar kalian!" bentak pria itu.
"Ya Allah Pak, mereka siapa?" seru Kanaya dengan memeluk erat Arka.
"Saya juga tidak tahu Bu."
"Bunda, Arka takut."
"Iya, Nak jangan takut ada Bunda disini."
"Ayo keluar atau aku tembak kalian!"
"Ibu diam saja disini, biar saya yang keluar."
"Jangan Pak bahaya, mereka bawa senjata."
"Sudah tidak apa-apa, lebih baik sekarang Ibu hubungi Mas Jonathan atau Mas Rendi."
Kanaya pun segera menghubungi Rendi, tidak mungkin Kanaya menghubungi Jonathan yang saat ini mungkin sedang melakukan ijab kabul.
"Ya Allah, A Rendi please angkat," gumam Kanaya.
Di tengah-tengah ketakutan Kanaya, ketiga pria itu pun berhasil membuka paksa pintu mobil. Pak Katmo diseret dan dipukuli hingga Pak Katmo seketika tak sadarkan diri.
"Ayo keluar!"
"Lepaskan, tolong...tolong...!" teriak Kanaya.
"Cepat foto dan kirimkan kepada si Bos."
Salah satu dari mereka pun memfoto Kanaya dan Arka dengan pistol menempel di kepala keduanya.
Di saat mobil itu baru saja beberapa meter berjalan, tiba-tiba tiga buah motor sport menghadang mobil itu.
Ketiga orang itu turun dari motor dan menghampiri mobil yang menyulik Kanaya dan Arka.
"Keluar kalian!" teriak pemotor itu.
"Sial, siapa mereka."
Dua orang turun dari mobil dan satu orang menjaga Kanaya dan Arka di dalam mobil. Kedua pria suruhan Daniel menodongkan pistol kepada ketiga pemotor yang tidak tahu siapa, tapi ketiga orang itu tidak merasa gentar mereka justru dengan secepat kilat menendang tangan keduanya sampai-sampai pistolnya jatuh.
Merasa kedua temannya akan kalah, satu orang yang berada di dalam mobil akhirnya turun dan langsung mengarahkan pistolnya.
Dor...dor..dor..
Ketiga pemotor itu menggunakan kedua orang suruhan Daniel menjadi tameng sehingga keduanya tewas di tempat ditembak rekannya sendiri.
Saat orang suruhan Daniel merasa syok karena sudah membunuh rekannya sendiri, salah satu pemotor itu memanfaatkan keadaan. Dia mengambil pistol di pinggangnya.
Dor..dor..
Tepat sasaran, timah panas itu tepat menembus jantungnya dan akhirnya dia pun tewas di tempat. Sementara itu, Kanaya hanya bisa memeluk erat Arka dengan deraian airmata dia takut terjadi kenapa-napa kepada Arka.
Ketiga pemotor itu menghampiri mobil...
"Kalian tidak usah takut, justru kami datang untuk menyelamatkan kalian," seru salah satu pemotor itu.
__ADS_1
"Kok suaranya seperti wanita," batin Kanaya.
"Ayo ikut kami, ada seseorang yang saat ini sedang menunggu kalian."
"Si--siapa?" tanya Kanaya.
"Nanti juga kalian akan tahu."
"Tapi, aku sama Arka tidak bisa naik motor itu," seru Kanaya.
"Sudah Kak, Kakak bawa saja mobil itu nanti motor Kakak biar aku suruh teman aku mengantarkannya ke apartemen," seru pemotor yang satunya lagi.
Pemotor yang dipanggil Kakak itu akhirnya melepas helmnya dan benar saja Kanaya sampai terkejut karena dugaannya benar kalau orang itu seorang wanita.
Kanaya dan Arka pun dibawa oleh wanita itu ke suatu tempat.
"Anda mau bawa kami kemana?" tanya Kanaya yang masih terlihat ketakutan.
"Tenang saja, kalian tidak usah takut aku disuruh seseorang untuk membawa kalian ke suatu tempat, kalian aman kok."
***
Jonathan masih saja melamun di kamarnya, hingga tidak lama kemudian pintu kamarnya pun terbuka.
"Ya ampun Jo, kok malah melamun sih ayo buruan turun semua orang sudah menunggu kamu nanti telat loh sampai di rumah Ziranya," seru Papanya Jonathan.
"Kalian berangkat saja duluan, nanti aku nyusul," sahut Jonathan.
"Jo, kamu jangan bercanda sayang masa kami harus berangkat duluan sementara calon mempelai prianya nyusul," sambung Mamanya Jonathan.
Tiba-tiba ponsel Jonathan berbunyi tanda ada notif pesan yang masuk, ternyata dari nomor yang tidak Jonathan kenal. Jonathan pun membuka pesan itu dan betapa terkejutnya Jonathan saat melihat foto Kanaya dan Arka sedang disekap bahkan ditodong oleh pistol seperti itu.
📩"Cepat datang, atau kamu akan melihat keduanya tidak bernyawa lagi."
Jonathan mengepalkan tangannya dan rahangnya mengeras.
"Kurang ajar, awas kamu Daniel sedikit saja kamu melukai Kanaya dan Arka aku tidak akan melepaskanmu," batin Jonathan.
Jonathan pun segera beranjak dari duduknya dan langsung keluar dari kamarnya tanpa menghiraukan kedua orangtuanya.
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1