Pesona Si Gadis Culun

Pesona Si Gadis Culun
Wanita Kuat


__ADS_3

🍁


🍁


🍁


🍁


🍁


Tidak lama kemudian, orangtua Jonathan dan Gina serta Rendi pun datang.


"Arka sayang."


"Ateu, Bunda berdarah," seru Arka yang langsung memeluk Gina.


"Jo, ada apa sebenarnya? kenapa kamu bisa bersama anak dan istrinya Rama?" tanya Papa Jonathan.


Akhirnya Jonathan pun menceritakan semuanya kepada kedua orangtuanya, masalah hubungannya dengan Kanaya.


"Ya Allah Jo, kenapa kamu tidak ngomong sama Papa dari awal."


"Memangnya Papa akan mengizinkan Jo untuk menikah dengan Kanaya?" seru Jonathan.


"Jo, setelah almarhumah Mama kamu, kamu adalah orang kedua yang Papa sayangi. Papa bukan orang yang egois Nak, Papa pasti akan mengutamakan kebahagiaan kamu."


"Tapi Pa, Kanaya seorang janda dan sudah punya anak," lirih Jonathan dengan menundukan kepalanya.


"Papa tidak pernah mempermasalahkannya, lagipula Papa sudah mengenal Kanaya semenjak dia menjadi istri Rama. Kanaya anak yang baik, ramah, dan sopan Papa tidak akan melarang kamu untuk menikah dengan siapapun asalkan kamu bahagia, itu sudah cukup buat Papa."


Jonathan pun langsung memeluk Papanya itu. "Terima kasih Pa."


Tidak lama berselang, Pak Krismawan, Bibi Wati dan Mamang Sopandi pun datang.


"Bagaiman keadaan menantu saya? kenapa semuanya bisa terjadi, Jo? siapa yang sudah melakukan semua ini?" tanya Pak Krismawan dengan emosinya.


"Tenang dulu Om, nanti Jo akan jelaskan semuanya lagipula sekarang pelakunya sudah ditangkap Polisi kok," sahut Jonathan.


Semuanya menunggu di kursi tunggu, cukup lama Kanaya berada di ruangan operasi bahkan Arka pun sekarang sudah tertidur di pangkuan Gina.


Ceklek...


Pintu ruangan operasi pun terbuka, semua orang segera menghampiri Dokter.


"Dokter, bagaimana keadaan menantu saya?" tanya Pak Krismawan.


"Pasien mengalami banyak pendarahan, tapi Alhamdulilkah pelurunya sudah bisa diangkat dan sekarang operasinya berjalan dengan lancar, tapi kondisi pasien sangat lemah kalau malam ini pasien bisa melewati masa kritisnya, pasien akan sembuh tapi kalau sampai besok pagi pasien tidak sadar-sadar makan kemungkinan terburuknya pasien akan meninggal dunia."


Semua orang sangat terkejut, Wati dan Gina sudah menangis sedangkan Jonathan sudah terlihat sangat lemas.


"Tidak, itu tidak mungkin. Kanaya pasti akan sembuh, dia tidak mungkin meninggalkan Arka," seru Jonathan.

__ADS_1


"Kita berdo'a saja, semoga pasien segera keluat dari masa kritisnya. Kalau begitu, saya pamit dulu."


Dokter itu pun akhirnya pergi meninggalkan semuanya. Setelah berdiskusi, akhirnya Jonathan duluan yang masuk ke ruangan khusus Kanaya.


Perlahan Jonathan membuka pintu ruangan itu, pertam kali yang dia lihat adalah sosok wanita yang dia cintai terbaring lemah dengan alat-alat yang terpasang ditubuhnya. Jonathan tidak bisa membendung lagi airmatanya, hatinya sangat hancur melihat kondisi Kanaya.


"Nay, bangun Nay. Kamu adalah wanita kuat dan hebat, kamu harus sembuh ada Arka dan aku yang menunggumu. Kenapa ujian cinta kita begitu berat Nay, aku janji setelah kamu sembuh aku akan langsung menikahimu jadi aku mohon bangunlah demi aku dan juga Arka."


Jonathan menggenggam erat tangan Kanaya dan sesekali menciumnya. Jonathan berjanji pada dirinya sendiri, kalau sampai terjadi kenapa-napa kepada Kanaya, dia tidak akan segan-segan untuk membunuh Daniel.


"Awas kamu Daniel," gumam Jonathan dengan rahang yang mengeras.


***


Sore pun tiba...


Jonathan masih setia menunggu Kanaya, walaupun tadi sempat keluar karena harus gantian dengan yang lainnya yang ingin melihat kondisi Kanaya juga.


Tinggalah Jonathan dan Rendi yang ada di rumah sakit, setelah mengantarkan Gina pulang, Rendi pun kembali ke rumah sakit untuk menemani Jonathan karena Jonathan menyuruh semuanya untuk pulang biar dia saja yang menemani Kanaya.


"Jo, nih makan dulu dari tadi kamu belum makan apa-apa," seru Rendi.


"Tidak Ren, terima kasih aku tidak lapar."


"Jo, kamu itu harus sehat bagaimana nanti kalau Kanaya bangun dan justru malah kamu yang gantian dirawat, memangnya kamu mau? sudah sana makan dulu, biar kamu selalu sehat jagain Kanaya."


Jonathan pun berpikir sejenak, hingga akhirnya Jonathan pun mengikuti perintah Rendi.


***


"Ren, lebih baik kamu pulang saja biar aku yang jagain Kanaya," seru Jonathan.


"Tapi kamu kan sendirian, mana wajah kamu terlihat kelelahan seperti itu lebih baik sekarang gantian kamu istirahat dulu sebentar biar aku yang jagain Kanaya."


"Tidak Ren, aku harus menjadi orang pertama yang Kanaya lihat saat Kanaya sadar nanti."


Rendi sudah tahu kalau Jonathan adalah orang yang keras kepala, maka dari itu Rendi pun hanya mampu mengikuti kemauan Jonathan.


"Ya sudah, terserah kamu saja."


Rendi pun mulai merebahkan tubuhnya di atas sofa, sedangkan Jonathan terus saja memperhatikan wajah Kanaya yang semakin memucat.


"Nay, ayo bangun jangan tinggalin aku. Kamu masih punya Arka, apa kamu akan tega meninggalkan Arka begitu saja? apa kamu tidak kasihan kepada Arka?" seru Jonathan.


Ternyata ajaib, tangan Kanaya mulai bergerak dan itu membuat Jonathan sangat bahagia.


"Alhamdulillah, Nay kamu sudah sadar sayang."


Perlahan Kanaya membuka matanya. "A--ku ada dimana?" lirih Kanaya.


"Kamu ada di rumah sakit, Nay. Rendi, bangun Ren tolong kamu panggilkan Dokter!" teriak Jonathan.

__ADS_1


Rendi tersentak dan langsung terbangun. "Kanaya, kamu sudah sadar? Alhamdulillah, sebentar aku panggilkan Dokter dulu."


Rendi pun segera berlari keluar untuk memanggilkan Dokter, mata Jonathan sampai berkaca-kaca melihat Kanaya sudah sadar sungguh Jonathan sangat takut akan kehilangan Kanaya.


Tidak lama kemudian Dokter pun datang dan menyuruh Jonathan dan Rendi untuk keluar karena dia akan memeriksa Kanaya. Jonathan terlihat mondar-mandir di depan ruangan Kanaya.


"Duduklah Jo, kamu ga usah khawatir sekarang kan Kanaya sudah sadar aku yakin ke depannya Kanaya akan membaik," seru Rendi.


Tidak lama kemudian, pintu pun terbuka dan Jonathan langsung menghampiri Dokter.


"Bagaimana Dok dengan keadaan Kanaya?" tanya Jonathan.


"Alhamdulillah, pasien sudah melewati masa kritisnya dan sekarang keadaannya pun sudah stabil tapi saya harap anda jangan dulu banyak mengajak pasien mengobrol karena kondisinya masih lemah biarkan pasien istirahat karena dengan banyak istirahat akan membuat pasien cepat pulih juga."


"Baik Dok, terima kasih."


"Sama-sama, kalau begitu saya pamit dulu."


Jonathan dan Rendi pun segera masuk menemui Kanaya, mata Kanaya masih sayu dan wajahnya pun masih terlihat pucat tapi Kanaya sudah menyunggingkan senyumannya.


"Arka mana, Kak?" lirih Kanaya.


"Stttt...jangan banyak bicara dulu, kata Dokter kamu harus banyak istirahat biar cepat pulih. Masalah Arka kamu jangan khawatir karena dia baik-baik saja kok, saat ini Arka bersama Gina dan juga Bi Wati."


"Kamu memang wanita kuat Nay, aku yakin kamu akan bisa melewati semua ini," seru Rendi.


Kanaya tersenyum dan menganggukan kepalanya pelan, Kanaya sangat lega mendengar kalau Arka baik-baik saja.


🍁


🍁


🍁


🍁


🍁


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2