
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Jonathan mengambil sebuah gitar dan mulai memainkannya, Jonathan menyanyikan sebuah lagu romantis tatapannya tidak bisa dia palingkan dari Kanaya. Tapi berbeda dengan Kanaya yang terlihat tampak cuek dan acuh tidak memperdulikan tatapan Jonathan.
"Ay, sepertinya dari tadi Kak Jo ngelihatin kamu terus," bisik Gina.
"Biarikan saja."
Beberapa saat kemudian, Jonathan pun selesai menyanyikan sebuah lagu sorak-sorai dan tepuk tangan dari peserta reuni riuh menggema kecuali Kanaya yang masih cuek dan santai.
Jonathan turun dari atas panggung dengan tatapan yang masih tertuju kepada Kanaya tapi Kanaya langsung memalingkan wajahnya, dia masih tidak mau bertemu dengan Jonathan.
"Wuidih, memang beda ya kalau cover boy yang nyanyi pada antusias dan heboh," seru Tio.
"Yoi, fans garis kerasnya Jo ternyata masih banyak," sambung Riza.
"Jo, kita kesana teman-teman sekelas kita dulu sudah berkumpul disana katanya kita harus foto-foto," seru Yogi.
"Oke..."
Jonathan dan teman-temannya pun pergi, sedangkan Kanaya dan Gina masih duduk menikmati alunan musik.
"Oh iya, kamu ingat ga siswi yang dulu disebut manusia alien? apa malam ini dia datang ya?"
"Ga tahu, sepertinya dari tadi aku tidak melihatnya. Wah, kalau sampai si manusia alien itu datang bisa bubar acara reunian ini."
"Memangnya kenapa?"
"Kamu ingat ga, dulu wajahnya saja sangat menjijikan berminyak dan penuh dengan jerawat mana bau lagi membuat selera makan kita hilang kalau dekat-dekat dengannya."
"Kamu jangan berkata seperti itu, kali aja sekarang dia sudah berubah menjadi cantik."
"Berubah apanya? mana ada biaya untuk merubah penampilannya, kamu ingat ga dulu aja dia sering bawa bekal makan dari rumah karena ga punya uang untuk beli makanan di kantin, orang tuanya saja hanya sebagai petani palingan sekarang wajahnya semakin hancur dan tidak berani datang kesini."
Begitulah celetukan dua wanita yang berdiri dihadapan Kanaya dan Gina. Bahkan saat ini mereka berdua terdengar tertawa puas membuat Kanaya mengepalkan tangannya.
Dari tadi Kanaya memang menahan diri untuk menghampiri kedua wanita itu tapi setelah mereka menjelek-jelekan orang tuanya Kanaya tidak bisa diam saja.
"Kamu tahulah berapa penghasilan seorang petani? jangankan untuk biaya merawat diri, buat makan sehari-hari juga mereka pas-pasan."
Kanaya sudah tidak tahan lagi, akhirnya Kanaya bangkit dari duduknya dan dengan cepat menjambak rambut wanita itu membuat wanita itu meringis dan menoleh ke arah Kanaya.
"Siapa kalian berani menghinaku seenak jidat kalian? dulu aku memang selalu diam saja setiap kalian menghina dan menginjak-nginjak harga diriku tapi sekarang tidak lagi kalian memang harus diberi pelajaran," seru Kanaya dengan tatapan tajamnya.
"Ka--Kanaya..."
"Iya, aku Kanaya anak yang kalian sebut dengan sebutan manusia alien."
Semua orang terlihat terkejut bahkan banyak juga yang menutup mulutnya saking terkejut melihat perubahan Kanaya. Kanaya masih belum melepas jambakannya, matanya terlihat memerah. Sementara itu Gina tidak berbuat apa-apa, dia membiarkan Kanaya melampiaskan semua amarahnya yang selama ini sudah dia pendam.
Semua orang terdiam, Jonathan dan teman-temannya pun datang setelah melihat kerumunan. Betapa terkejutnya Jonathan dan ketiga temannya saat melihat Kanaya sedang menjambak Yuli.
"I---itu bu--bukannya Kanaya?" seru Tio tergagap.
__ADS_1
"Kok sekarang dia sudah berubah cantik?" sambung Yogi.
Kanaya menatap tajam semua orang-orang yang ada disana, kemudian Kanaya menghempaskan tubuh Yuli sehingga Yuli terjungkal tepat ke hadapan Jonathan.
"Dulu, kalian begitu sangat bahagia sudah membully dan menghinaku bahkan setiap hari kalian tertawa di atas penderitaanku, bagaimana apa sekarang kalian sudah bahagia karena sudah membuat hidup orang lain hancur? JAWAB!" teriak Kanaya.
"Kalian itu bukan manusia tapi iblis yang menyerupai manusia, kalian menginjak-nginjak harga diriku tanpa belas kasihan. Lihat aku sekarang, aku adalah orang yang dulu sangat menjijikan, aku adalah orang yang dulu selalu kalian rendahkan, aku adalah orang yang dulu selalu jadi bahan mainan kalian semua, tapi sekarang aku sudah bisa membuktikan kalau aku bisa menjadi seperti kalian bahkan aku bisa melebihi kalian."
Mata Kanaya memerah menahan emosinya, kata-kata yang dulu ingin dia sampaikan sekarang sudah tersampaikan bahkan semua orang terlihat menundukan kepalanya merasa sangat bersalah.
"Kalian adalah orang paling kejam yang pernah aku temui, padahal dulu aku tidak pernah mengusik kehidupan kalian tapi kalian dengan kejamnya membuat aku merasa tersiksa sekolah disini. Sekarang aku mau tanya kepada kalian, apa wajah jelekku sangat mengganggu dan menyusahkan kalian? sampai-sampai kalian membullyku tanpa henti dan tanpa perasaan, JAWAB!" bentak Kanaya.
Gina meneteskan airmatanya, Gina memeluk Kanaya untuk menenangkan Kanaya.
"Sudah Ay, sekarang kita pulang saja," seru Gina.
"Tapi aku juga mau mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya karena akibat dari bullyan kalian, menjadikan motivasi supaya aku bisa berubah menjadi wanita yang cantik. Aku hanya ingin memberi tahukan kepada kalian semua, efek dari bullyan itu sangat luar biasa jadi jangan sepelekan itu. Mudah-mudahan anak-anak kalian tidak merasakan karma akibat dari perlakuan kalian dulu."
Kanaya pun pergi meninggalkan semuanya, tapi bukan pergi pulang melainkan pergi ke kamar mandi dan disusul oleh Gina.
"Kamu hebat Ay, aku suka gayamu yang sekarang," puji Gina.
"Kadang manusia berubah karena perlakuan yang mereka terima di dalam hidupnya, begitu pun aku sudah cukup mereka menghinaku sekarang aku ga bakalan biarin mereka menginjak-nginjak lagi harga diriku."
"Setuju."
Sementara itu, Jonathan dan ketiga temannya saat ini sedang berbincang-bincang.
"Jo, aku ga nyangka kalau Kanaya akan berubah menjadi cantik seperti itu," seru Riza.
"Bukan cantik lagi itu mah, cantik banget malah," sahut Tio.
Jonathan hanya diam, entah apa yang sekarang sedang dia pikirkan.
"Kalian ingat tidak mengenai Fitnah yang kita sebarkan sehingga membuat Kanaya dikeluarkan dari sekolahan ini, bahkan kalian juga berhasil menyebarkan fitnah itu di tempat tinggal Kanaya sehinga Kanaya dan kedua orang tuanya diusir dari tempat tinggalnya?" seru Jonathan.
"Iya kita ingat," sahut Tio.
"Bagaimana kalau Kanaya sampai tahu?" seru Yogi.
"Sudahlah jangan banyak bicara, jangan sampai Kanaya tahu kita simpan semua itu dan tutup nanti kalau sudah waktunya biar aku sendiri yang bilang sama Kanaya," sahut Jonathan.
Mereka tidak menyadari kalau saat ini Kanaya dan Gina terdiam mematung mendengar pembicaraan mereka. Jonathan menyesap minumannya dan menoleh ke samping, betapa terkejutnya Jonathan melihat Kanaya dengan mata yang sudah memerah dan berkaca-kaca.
"Ka--Kanaya."
Tes....
Airmata Kanaya akhirnya menetes juga, Jonathan bangkit dari duduknya dan perlahan menghampiri Kanaya.
"Kanaya..."
Plaaaakkkk....
Kanaya menampar Jonathan dengan sangat kerasnya membuat semua orang kaget.
"Keterlaluan sekali kamu, kamu memang orang paling jahat yang pernah aku kenal. Apa salahku padamu sampai-sampai kamu melakukan semua itu kepadaku? Kamu tahu, efek dari fitnah yang kamu sebarkan itu? aku dikeluarkan dari sekolah dan terancam tidak bisa mengikuti ujian, bahkan rumahku hancur dilempari batu oleh para warga, dimana otak kamu? kamu sungguh keterlaluan, aku sangat benci sama kamu!" teriak Kanaya.
Kanaya segera berlari meninggalkan tempat reunian dengan deraian airmata, disusul oleh Gina.
"Tunggu Kanaya!"
__ADS_1
Jonathan pun ikut menyusul Kanaya, diluar gerbang sekolah Kanaya menghentikan langkahnya airmatanya semakin deras, hayinya begitu sakit, Jonathan benar-benar sudah keterlaluan.
"Ay...."
Gina menghampiri Kanaya dan memeluknya. "Dia jahat Gin, aku benci sama dia."
"Iya-iya aku tahu."
"Kanaya...."
Kanaya melepaskan pelukkannya. "Pak Rama, kenapa Pak Rama ada disini?"
Rama menghampiri Kanaya dan menghaus airmata Kanaya.
"Kamu kenapa menangis?"
"Aku tidak apa-apa kok, Pak."
Kanaya segera menghapus airmatanya dengan kasar.
"Aku kesini berniat liburan untuk bertemu dengan Jo tapi kata Mamanya Jo, dia sedang mengikuti acara reunian mangkanya aku langsung kesini untuk menyusul Jo. Kamu mau pulang?"
"Iya."
"Ya sudah, aku anterin kamu pulang."
"Tidak usah Pak, aku bisa pesan grab saja."
"Sudah jangan banyak menolak, sekalian aku juga ingin tahu dimana rumah kamu."
"Rumah aku jelek Pak, pasti Bapak tidak akan suka dan akan merasa jijik."
"Kok kamu ngomongnya gitu? aku tidak pernah loh melihat orang dari kekayaan, rumah kamu mau jelek kek, mau bagaimana pun aku tidak peduli, aku hanya ingin mengenal kamu lebih dekat saja. Boleh kan aku main ke rumahmu?"
Akhirnya Kanaya pun menganggukan kepalanya, sedangkan Gina hanya bisa melongo melihat Rama yang sangat tampan menurut Gina.
"Ayo Gin, kok bengong!" ajak Kanaya.
"Ah, iya Ay."
Kanaya dan Gina pun akhirnya pulang dengan diantar oleh Rama, sedangkan Jonathan yang dari tadi berada disana hanya bisa melihat kepergian Kanaya dengan tatapan sedihnya.
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU