Pesona Si Gadis Culun

Pesona Si Gadis Culun
Merelakan


__ADS_3

🍁


🍁


🍁


🍁


🍁


Jonathan dan keluarga besarnya pun segera menuju kediaman Zira, Jonathan tidak henti-hentinya mengepalkan tangannya sungguh Jonathan sangat khawatir dengan keadaan Kanaya dan Arka.


Mama Tiri Jonathan terlihat mengerutkan tangannya, ada yang aneh dengan sikap anak sambungnya itu.


"Sepertinya Jo tidak bahagia dengan pernikahan ini?" batinnya.


Rombongan keluarga Jonathan pun sampai di kediaman Zira tapi sayang, bukannya disambut dengan baik-baik Daniel malah langsung menyerang Jonathan dengan membabi buta membuat semuanya terkejut.


"Daniel, hentikan!" teriak Papanya Zira.


"Apa-apaan ini!" teriak Papa Jonathan.


"Memang kamu pria brengsek, kurang ajar kalau sampai terjadi sesuatu kepada Zira aku tidak akan melepaskanmu!" teriak Daniel.


Jonathan mengerutkan keningnya, dia sungguh tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Daniel.


"Ini ada apa sebenarnya?" tanya Jonathan.


"Nak, ini ada surat dari Zira," seru Mama Zira dengan menyerahkan sepucuk surat kepada Jonathan.


Jonathan pun merasa bingung, perlahan Jonathan membukan kertas itu dan membacanya.


"Jo, disaat kamu membaca surat ini mungkin aku sudah pergi jauh dari sini. Aku sadar kalau cinta itu tidak bisa dipaksakan, aku tahu cinta kamu hanya untuk Kanaya jadi percuma juga kalau aku terus memaksakan cinta ini, itu hanya akan membuat semuanya terluka. Aku tahu Kanaya dan anaknya dalam bahaya, maka dari itu aku meminta bantuan seseorang untuk menolong mereka dan saat ini mereka sudah berada di tempat yang aman. Alamatnya sudah aku kirimkan ke ponsel kamu, cepat susul mereka dan perjuangkan cinta kamu semoga kalian selalu bahagia dan sampai jumpa lagi dilain waktu, Zira."


"Pa, mana kunci mobilnya?" seru Jonathan.


"Kamu mau kemana Jo?" tanya Papa Jonathan.


"Jo mau bertemu dengan cinta Jo."


Papa Jonathan pun menyerahkan kunci mobilnya, dan Jonathan langsung masuk ke dalam mobil kemudian melajukannya meninggalkan rumah Zira.


Mama Tiri Jonathan terlihat menyunggingkan senyumannya, dia sudah tahu kalau Jonathan tidak mencintai Zira. Daniel begitu sangat marah, apalagi saat mendengar berita kalau anak buahnya mati semuanya.


Daniel pun segera masuk ke dalam mobilnya dan mengejar mobil Jonathan. Jonathan mengarahkan mobilnya menuju sebuah pantai, karena Zira menyuruh orang bayarannya mengantarkan Kanaya dan Arka ke Pantai.


"Kanaya, Arka tunggu aku," gumam Jonathan dengan senyumannya.


Jonathan sangat bahagia ternyata Zira bisa berbesar hati merelakannya dan melepaskan Jonathan.


Sementara itu di Pantai...


Kanaya dan Arka tampak bingung, kenapa ketiga orang itu membawanya kesini bahkan mereka bilang bakalan ada seseorang yang datang menjemput Kanaya dan Arka.


"Bunda, kita sedang menunggu siapa disini?" tanya Arka.


"Bunda juga tidak tahu sayang, kita tunggu saja sebentar ya."


"Kalau begitu, bolehkah Arka main-main dulu?"

__ADS_1


"Boleh, tapi jangan jauh-jauh."


Arka pun langsung berlari dan bermain pasir disana, sedangkan Kanaya duduk di atas pasir sembari memperhatikan Arka.


Tidak lama kemudian, mobil Jonathan pun sampai di pantai. Jonathan segera keluar dari dalam mobilnya dan berlari mencari keberadaan Kanaya dan juga Arka.


Jonathan terus mencari keberadaan Kanaya dan Arka hingga tidak lama kemudian, dari kejauhan terlihat Kanaya sedang duduk sedangkan Arka sedang asyik bermain pasir.


Perlahan Jonathan menghampiri Kanaya dengan senyumannya, dan Jonathan berdiri tepat di belakang Kanaya.


"Kanaya...."


Kanaya mendongakkan kepalanya dan seketika membelalakan matanya. "Kak Jo."


Kanaya pun segera berdiri. "Kok Kak Jo ada disini? bukannya hari ini Kak Jo dan Zira----"


"Tidak Nay, pernikahannya batal Zira sudah membatalkannya dan dia sudah merelakan aku denganmu."


Mata Kanaya sudah berkaca-kaca, Jonathan pun tanpa basa-basi lagi langsung memeluk Kanaya.


"Maaf karena selama satu minggu iniengabaikanmu dan Arka."


"Tidak apa-apa Kak."


Arka yang mendengar suara Jonathan langsung menoleh. "Ayaahhh...."


Arka berlari, Jonathan melepaskan pelukannya dan menyambut kedatangan Arka.


"Ayah, Arka kangen banget sama Ayah."


"Ayah juga kangen sama Arka."


"Ayah janji, setelah ini Ayah akan selalu berada di samping Arka."


"Beneran?"


"Iya, bahkan Ayah akan tinggal di rumah Arka bersama Bunda."


Kanaya melotot. "Ishh, Kakak jangan sembarang kalau ngomong mana ada tinggal satu rumah belum nikah," sewot Kanaya.


"Ya nikah dulu dong sayang, aku juga tahu kok," seru Jonathan dengan senyumannya.


Wajah Kanaya memerah karena mendengar Jonathan memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Arka sayang, lihat deh pipi Bunda merah bagaimana kalau kita cium," seru Jonathan.


Jonathan dan Arka pun mencium pipi Kanaya bersamaan, Jonathan pipi sebelah kiri dan Arka pipi sebelah kanan membuat Kanaya akhirnya tersenyum.


Jonathan dan Arka tertawa bersama, sementara itu Daniel yang baru sampai di Pantai segera mencari keberadaan Jonathan dan Kanaya.


Setelah beberapa saat mencari, akhirnya Daniel menemukan Jonathan dan Kanaya sedang tertawa bersama sedangkan Arka kembali bermain pasir.


"Kurang ajar kalian berdua, kalian tertawa di atas penderitaan Zira aku tidak akan membiarkan kalian bahagia, kamu harus mati Jonathan," gumam Daniel.


Daniel mengeluarkan pistol dari pinggangnya dan segera mengarahkannya kepada Jonathan, Kanaya yang tidak sengaja menoleh dan betapa terkejutnya Kanaya saat Daniel berada disana dan mengarahkan pistolnya kepada Jonathan.


"Kak Jo awaaaaasss!" teriak Kanaya.


Dor.....

__ADS_1


Timah panas itu mengenai punggung Kanaya karena Kanaya menghalangi Jonathan. Jonathan dan Daniel sama-sama terkejut, tidak lama kemudian polisi pun datang dan langsung menangkap Daniel.


Ternyata ketiga pemotor yang menyelamatkan Kanaya dan Arka belum pergi dan masih berada di sana, mereka mempunyai feeling kalau Daniel akan kesana dan ternyata dugaan mereka benar. Ketiganya bukan tidak mau kembali menolong Kanaya, tapi tempat itu terlalu riskan dan bahaya untuk mereka kalau mereka beraksi.


Akhirnya mereka berinisiatif menghubungi Polisi, sekarang ketiganya hanya bisa melipat tangannya di dada menyaksikan penangkapan Daniel.


"Kak, tugas kita sudah selesai aku juga sudah menghubungi Nona Zira, jadi sekarang lebih baik kita pergi dari sini."


"Oke..."


Ketiga pemotor yang ternyata orang bayaran Zira pun memutuskan untuk pergi dari Pantai itu.


"Nay, bangun Nay!" teriak Jonathan.


"Ayah, Bunda kenapa?"


"Bunda tidak apa-apa sayang."


Jonathan pun segera mengangkat tubuh Kanaya dan membawanya ke dalam mobilnya, Jonathan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hatinya begitu sangat khawatir apalagi saat ini Arka pun terus menangis karena melihat Bundanya berdarah.


Sesampainya di rumah sakit, Jonathan pun kembali mengangkat tubuh Kanaya. Dia tidak peduli, kemeja putihnya berubah menjadi merah karena darah Kanaya sedangkan Arka terus saja mengikuti Jonathan dengan deraian airmata.


Kanaya segera dibawa ke ruang operasi, Jonathan menghubungi orangtuanya dan juga Gina.


Jonathan memeluk Arka. "Sudah jangan menangis sayang."


"Bunda tidak apa-apa kan, Yah?"


"Tidak, Bunda tidak apa-apa kok Bunda akan baik-baik saja."


Jonathan memeluk erat Arka, sebenarnya dalam hatinya Jonathan merasa takut tapi Jonathan berusaha bersikap tenang supaya Arka tidak panik.


🍁


🍁


🍁


🍁


🍁


Bagi yang penasaran siapa ketiga pemotor yang menolong Kanaya, yuk mampir di novel terbarukuπŸ™πŸ™



Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2