
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Daniel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia merasa marah karena Jonathan dan Kanaya sudah berani mempermainkannya.
Sesampainya di depan toko kue Kanaya, Daniel langsung turun dari dalam mobilnya terlihat sekali wajah Daniel begitu emosi.
"Selamat datang di toko----"
Ucapan Kanaya terhenti karena Kanaya melihat siapa yang saat ini sedang berdiri di ambang pintu tokonya.
Kanaya mengerutkan keningnya merasa aneh dengan raut wajah Daniel yang memerah seakan sedang emosi. Perlahan Daniel menghampiri Kanaya dengan tatapan tajamnya membuat Kanaya merasa takut.
"Mas, mau pesan apa?" tanya Kanaya gugup.
Daniel langsung mencengkram lengan Kanaya sehingga Kanaya meringis kesakitan.
"Lepaskan Mas, Mas kenapa?" seru Kanaya.
"Berani sekali kamu membohongiku, dan pria yang mengaku calon suamimu ternyata pacarnya Zira adikku," sahut Daniel dengan tatapan tajamnya.
Kanaya membelalakan matanya ternyata Zira adalah adiknya Daniel. Lengan Kanaya terlihat membiru akibat cengkraman kuat dari Daniel, bahkan saat ini Kanaya sudah meneteskan airmatanya.
"Lepaskan Mas, sakit," keluh Kanaya.
"Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus menikah denganku," ancam Kanaya.
Kanaya menggelengkan kepalanya..
Bugh...
Daniel langsung tersungkur, lagi-lagi Jonathan tepat waktu.
"Jangan pernah sentuh Kanaya!" bentak Jonathan.
Daniel menyunggingkan senyumannya kemudian bangkit.
"Berani sekali kamu mengatakan kalau kamu calon suaminya Kanaya sementara saat ini kamu sedang berhubungan dengan adikku!" sentak Daniel.
"Adik?" Jonathan mengerutkan keningnya.
"Iya, Zira dia adikku satu-satunya dan dia merupakan adik kesayanganku, berani kamu menyakitinya kamu akan berurusan denganku."
__ADS_1
Jonathan pun membelalakan matanya, dia tak kalah kagetnya dengan Kanaya.
"Asalkan kamu tahu, selama ini aku tidak pernah mencintai Zira karena wanita yang aku cintai hanyalah Kanaya, dan aku akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya kepada Zira."
Bugh..bugh..
"Kurang ajar, berani sekali kamu mempermainkan adikku."
"Maafkan aku tapi itulah kenyataannya," seru Jonathan.
Daniel hendak melayangkan lagi pukulannya tapi Kanaya dengan cepat menghalanginya.
"Stop, lebih baik sekarang kamu pergi dari sini kalau tidak aku akan lapor Polisi!" sentak Kanaya.
Daniel kembali menyunggingkan senyumannya. "Ingat, urusan kita belum selesai," seru Daniel dengan menunjuk ke arah Jonathan.
Daniel pun segera pergi meninggalkan toko kue milik Kanaya, Kanaya memapah Jonathan dan mendudukan Jonathan di kursi.
"Wajah Kakak lebam, aku ambilkan obat dulu."
Kanaya pun segera mengambil kotak p3k, Kanaya mengusapkan cairan alkohol ke wajah lebam Jonathan kemudian mengolesi salep. Wajah Kanaya dan Jonathan sangatlah dekat, bahkan hembusan napas keduanya pun terasa menyapu wajah keduanya.
" Malam ini aku sudah memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Zira, aku tidak mau terus-terusan membohongi hatiku sendiri, kalau hatiku hanyalah milikmu."
"Tidak Kak, Kakak jangan lakukan itu kasihan Zira mungkin dulu Kakak menerima Zira karena Kakak merasa terpaksa, tapi kan Zira tidak mengetahui itu. Aku tidak mau Kakak menyakiti hati wanita, lagipula Zira adalah wanita yang sempurna dia cantik, dan yang pasti setara dengan Kak Jo."
"Tapi aku tidak mencintainya Nay. Mungkin kalau Rama masih ada, aku masih bisa menjalani hubungan ini walaupun tetap hatiku hanya milikmu tapi sekarang Rama sudah tidak ada dan aku tidak bisa lagi mengabaikan perasaanku ini."
Kanaya menundukan kepalanya. "Tatap mataku Nay."
Perlahan Kanaya mengangkat wajahnya dan menatap mata Jonathan.
"Coba kamu bilang kalau kamu tidak mencintaiku, karena kalau kamu mengatakan itu aku janji aku tidak akan mengganggumu lagi."
Kanaya tersentak, matanya mulai berkaca-kaca dan akhirnya menetes membasahi pipi mulusnya. Kanaya memang sudah mulai mencintai Jonathan, entah sejak kapan rasa itu mulai tumbuh tapi yang jelas Kanaya memang tidak ingin Jonathan pergi lagi dari hidupnya.
Kanaya kembali menundukan kepalanya, Kanaya bingung harus menjawab apa kalau dia jawab tidak berarti dia sudah membohongi perasaannya sendiri, tapi kalau dia jawab iya berarti dia akan mematahkan hati seorang wanita lain.
"Jawab Nay, jangan diam saja. Aku tahu kamu sudah mulai memilik rasa kepadaku, aku bisa lihat dari matamu cukup kamu jawab iya, dan malam ini aku akan mengatakan yang sejujurnya kepada Zira."
"Kak, please jangan berikan aku pilihan yang sulit aku tidak mau ada yang terluka dengan perasaan ini."
"Siapa yang terluka? Zira?"
Kanaya menganggukan kepalanya. "Jadi kamu hanya memikirkan perasaan Zira, terus bagaimana dengan perasaanku? kamu kan sudah tahu sejak dulu aku cinta sama kamu, bahkan aku rela mengalah kepada Rama karena aku merasa aku tidak pantas untukmu, tapi untuk kali ini apa aku tidak boleh memperjuangkan cintaku? aku sudah cukup menderita Nay, mencintaimu dalam diam sungguh sangat menyiksa hati dan batinku."
Jonathan meneteskan airmatanya tapi dengan cepat dia menghapusnya, mungkin saking cintanya Jonathan kepada Kanaya membuat Jonathan tidak bisa lagi menahan gejolak di dalam hatinya.
Jonathan pun bangkit dari duduknya membuat Kanaya seketika melihat ke arah Jonathan.
__ADS_1
"Kalau kamu memang lebih mementingkan perasaan Zira dibandingkan dengan perasaanku, baiklah aku akan mengikuti kemauanmu mulai sekarang aku tidak akan menemuimu lagi."
Jonathan mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan toko Kanaya tapi baru saja Jonathan membuka pintu keluar, tiba-tiba Kanaya berlari dan memeluk Jonathan dari belakang.
"Jangan pergi Kak, aku mohon jangan pergi. Jujur, aku memang sudah mulai mencintaimu dan aku juga tidak tahu kapan rasa itu muncul yang jelas aku tidak mau Kakak pergi," seru Kanaya dengan isakannya.
Jonathan melepaskan tangan Kanaya dan Jonathan membalikan tubuhnya menghadap kepada Kanaya. Diusapnya airmata Kanaya yang terus saja mengalir dari kedua mata indahnya.
"Jangan menangis, aku tidak akan pernah meninggalkanmu Nay. Aku sangat mencintaimu melebihi dari apa pun, selama ini aku rela menderita dan tersiksa oleh cintamu karena aku pikir itu adalah balasan karena aku dulu sudah melakukan hal yang sangat kejam kepadamu, tapi asalkan kamu tahu rasa cintaku kepadamu itu tulus bukan karena kamu sudah menjadi cantik tapi karena aku memang mencintaimu."
Kanaya merasa sangat terharu dengan perkataan Jonathan, hingga akhirnya Kanaya pun kembali memeluk Jonathan.
"Aku juga mencintaimu Kak."
Jonathan benar-benar sangat bahagia, Jonathan pun membalas pelukan Kanaya dan menciumi pucuk kepala Kanaya.
"Terima kasih Nay."
Dari kejauhan, terlihat dari dalam mobil seorang wanita meneteskan airmatanya, tangannya meremas stir mobilnya dengan sangat erat.
Wanita itu adalah Zira, Zira yang awalnya berniat ingin menemui Kanaya dan menanyakan langsung mengenai ada hubungan apa Kanaya dengan Jonathan justru mendapatkan kejutan.
Zira sudah tidak perlu lagi menanyakannya karena apa yang saat ini dia lihat, sudah membuktikan hubungan seperti apa yang sedang dijalani Kanaya dan Jonathan. Zira pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu, sungguh hati Zira merasa sakit melihat itu semua.
"Ternyata dugaanku benar kalau Kanayalah wanita yang selama ini ada dihati Jo," gumam Zira.
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1