
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Selama dalam perjalanan Jonathan dan Kanaya terdiam membuat Gina bingung.
"Ada apa dengan mereka? pasti sudah terjadi sesuatu deh sama mereka pas tadi aku tinggalin," batin Gina.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Jonathan pun sampai di rumah Kanaya. Jonathan berniat ingin langsung pulang, tapi Arka memaksanya untuk masuk dulu dan Jonathan tidak bisa menolaknya.
Jonathan sangat canggung, Jonathan mengotak-ngatik ponselnya karena Zira terus saja mengirimnya pesan hingga akhirnya Arka pun mengajaknya main dan Jonathan menyimpan ponselnya diatas meja.
Kanaya turun dari kamarnya setelah sebelumnya mengganti pakaian.
"Arka mana?" tanya Kanaya.
"Di kamarnya Bu, tadi Den Arka ngajak Tuan yang tadi ke kamarnya untuk main," sahut Bi Sumi.
"Oh...ya sudah aku mau masak dulu, Bibi lanjutkan saja pekerjaan yang lainnya."
"Baik Bu."
Baru saja Kanaya akan melangkah, tiba-tiba terdengar bunyi ponsel Jonathan. Kanaya mencari suara ponsel itu dan ternyata ada di atas meja, Kanaya mengambil ponsel Jonathan dan tertera disana nama Zira.
"Zira? pasti ini pacarnya Kak Jo?" batin Kanaya.
Ponsel Jonathan pun berhenti berbunyi dan Kanaya melihat disana sudah ada belasan panggilan dari Zira tapi Jonathan tidak mengangkatnya.
Kanaya pun segera pergi ke kamar Arka untuk menyerahkan ponsel kepada Jonathan. Terlihat pintu kamar Arka terbuka sedikit, Kanaya pun perlahan membuka pintu itu disana Kanaya bisa melihat Arka tertawa sangat lepas karena Jonathan mengajaknya main.
Kanaya baru kali ini bisa melihat Arka bisa tertawa selepas itu, bahkan bersama Rendi pun Arka tidak selepas itu.
"Kenapa kamu hadir kembali Kak Jo? kalau hanya untuk memporak-porandakan hati aku dan Arka, aku yakin Arka tidak akan semudah itu bisa melepaskan Kak Jo dan aku takut Arka akan sedih untuk kedua kalinya," batin Kanaya.
"Bundaaaa...."
Jonathan melihat ke arah pintu, kening Jo mengerut saat melihat Kanaya hanya diam dan tidak merespon teriakan Arka. Jonathan bangkit dan menghampiri Kanaya kemudian menepuk pelan pundak Kanaya.
"Hai, kamu kenapa? kok melamun?"
Kanaya tersentak. "Astagfirullah, maaf ini aku hanya ingin memberikan ponsel Kak Jo soalnya dari tadi ponselnya bunyi terus."
"Oh, terima kasih."
Kanaya pun segera meninggalkan kamar Arka dan mulai memasak untuk makan siang, Kanaya memasak dibantu oleh Gina.
"Ay, seandainya kalau Kak Jo memutuskan pacarnya dan lebih memilih kamu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Gina disela-sela masaknya.
__ADS_1
"Jangan suka berandai-andai Gin, itu tidak baik."
"Ga apa-apalah Ay, kan itu seumpamanya soalnya aku lihat Kak Jo itu benar-benar masih sangat mencintaimu itu bisa dilihat dari matanya."
"Aku tidak mau banyak berharap Gin, karena memang pada kenyataannya itu sangat tidak mungkin."
"Ay, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini bahkan yang sudah menikah pun masih bisa cerai lah ini masih pacaran, masih banyak kemungkinan dan aku yakin kalau kamu bakalan berjodoh sama Kak Jo."
"Sekarang gini aja Gin, kalau pun seandainya aku memang berjodoh dengan Kak Jo, apa mungkin wanita itu akan ikhlas menerima perpisahannya dengan Kak Jo? dan satu lagi, Kak Jo itu seorang pengusaha muda yang sukses, pastinya orang tuanya akan mencarikan calon istri yang sempurna untuk puteranya mana mungkin mereka akan merestui Kak Jo menikah dengan seorang janda beranak satu itu tidak mungkin Gin."
Gina hanya bisa diam dia tidak menjawab lagi ucapan Kanaya hingga beberapa saat kemudian, Kanaya dan Gina pun selesai masak.
"Kamu tata di meja makan, aku mau panggil Arka dan Kak Jo dulu," seru Kanaya.
"Oke..."
Kanaya pun kembali melangkahkan kakinya menuju kamar Arka, perlahan Kanaya membuka pintunya dan betapa terkejutnya Kanaya saat melihat Arka dan Jonathan sudah tertidur dengan lelapnya bahkan Arka tertidur di lengan Jonathan.
Kanaya mendekat dan dilihatnya wajah Arka dan Jonathan bergantian, ada rasa sakit dihatinya entah bagaimana jadinya kalau nanti Jonathan pergi meninggalkan Arka sudah dipastikan Arka akan sedih banget.
"Pokoknya aku harus melarang Kak Jo untuk tidak menemui Arka terlalu sering biar Arka juga tidak terlalu mengharapkan apa pun sebelum semuanya terlambat," batin Kanaya.
Kanaya yang awalnya ingin mengajak Arka dan Jonathan untuk makan siang bersama, akhirnya lebih memilih membiarkan mereka tertidur dan meninggalkan keduanya.
***
Keesokan harinya...
Kanaya menyuruh Arka untuk tidak sekolah dulu karena kondisinya masih belum sehat.
"Iya Ay, kamu tenang saja."
"Kalau gitu aku pergi ke toko dulu."
"Iya, kamu hati-hati Ay."
"Iya."
Kanaya pun berangkat menuju toko kuenya, sesampainya di toko kue Kanaya sedikit terkejut karena Daniel sudah berdiri di samping mobilnya dengan tubuhnya menyandar ke body mobil.
"Pagi Kanaya!"
"Pagi!"
Kanaya langsung membuka pintu toko kuenya tanpa menghiraukan Daniel, Daniel tersenyum dan masuk mengikuti Kanaya.
"Kamu kemana aja, kok dua hari ini kamu tidak ada di toko?" tanya Daniel.
"Memangnya kenapa kalau aku ga ada di toko? bukannya kamu kesini untuk membeli kue?" ketus Kanaya.
"Jangan ketus-ketus, nanti cantiknya hilang loh," goda Daniel.
Kanaya memutar matanya malas, entah kenapa Kanaya tidak suka dengan pria yang sekarang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
"Sekarang anda mau beli kue untuk siapa? pertama untuk Nenek anda, kedua untuk adik anda, dan sekarang untuk siapa lagi?" tanya Kanaya.
"Tidak, kali ini aku tidak mau membeli kue."
Kanaya mengerutkan keningnya. "Terus, anda mau ngapain kesini?" kesal Kanaya.
"Memangnya tidak boleh ya kalau aku datang kesini hanya untuk bertemu denganmu saja?"
Lagi-lagi Kanaya mengerutkan keningnya. "Aku itu sibuk Mas, kalau Mas datang kesini hanya untuk main-main lebih baik sekarang Mas pergi saja karena saat ini aku sedang banyak kerjaan."
"Sejak pertama aku bertemu denganmu, aku sudah menyukaimu. Aku cari tahu tentangmu dan ternyata kamu seorang single karena suami kamu sudah meninggal empat tahun lalu karena kecelakaan jadi apa salahnya kalau aku ingin dekat denganmu."
Kanaya menatap tajam ke arah Daniel kali ini Kanaya benar-benar sudah hilang respeknya kepada pria berwajah blasteran itu. Kanaya hendak meninggalkan Daniel tapi dengan cepat Daniel menahan lengan Kanaya.
"Bisakah kamu memberi kesempatan padaku untuk dekat dan lebih mengenal semua tentangmu?"
"Bukannya anda sudah mengetahui semua tentangku tanpa harus bertanya kepadaku? jadi buat apa anda ingin kenal denganku?"
"Kenapa kamu sombong sekali, kamu itu hanya seorang janda dengan satu anak seharusnya kamu senang ada orang tampan, kaya sepertiku yang mau menikahimu bukannya malah bersikap angkuh seperti itu," seru Daniel.
Kanaya menghempaskan tangannya, matanya sudah terlihat memerah menahan airmatanya.
"Aku tidak pernah memintamu untuk menikahiku jadi sekarang lebih baik anda keluar dari toko aku."
"Empat tahun kamu hidup menjanda, dan tidak ada yang mau menikahimu terus kamu harus membanting tulang menjual kue hanya untuk menghidupi anakmu. Kalau kamu mau menikah denganku, hidup kamu dan anakmu akan terjamin."
Kanaya sudah sangat emosi dengan pria sombong di hadapannya. Daniel tidak tahu bahwa Kanaya adalah menantu dari orang kaya, bahkan Arka yang masih kecil pun sudah mempunyai Pabrik warisan dari almarhum Ayahnya.
"Jadi lebih baik sekarang kamu terima aku sebagai suamimu daripada tidak ada yang mau sama kamu dan kamu akan menjanda sampai tua," cibir Daniel.
"Kanaya adalah calon istriku, jadi anda tidak berhak menjudge Kanaya seperti itu."
Kanaya dan Daniel menoleh ke arah pintu secara bersamaan, ternyata disana sudah ada Jonathan yang berdiri dengan santainya.
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU