
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Kanaya pun kembali ke ruangan rawat Arka dengan membawa makanan, sesampainya di ruangan rawat Arka ternyata Gina dan Rendi sudah datang. Kanaya terkejut saat melihat Jonathan dan Rendi berbincang seperti sudah akrab.
"Kamu darimana, Ay?" tanya Gina.
"Habis beli makanan, Kak Jo kenal sama A Rendi?" tanya Kanaya.
"Dia salah satu sahabat aku Nay, dulu kita bertiga aku, Rama, dan juga Rendi kuliah bersama di Amerika namun sepulang dari Amerika Rendi pindah ke Kalimantan dan kita pun akhirnya hilang kontak," sahut Jonathan.
"Itu karena ponselku hilang ada yang nyuri, mangkanya aku ga bisa menghubungi kalian dan setelah aku kembali kesini, ternyata aku terlambat Rama sudah tidak ada," seru Rendi.
"Kak Jo, ini aku belikan makanan sepertinya Kak Jo belum makan siang kan?" seru Kanaya.
"Ya ampun perhatian sekali kamu Nay, aku jadi makin cinta sama kamu," sahut Jonathan keceplosan.
"Apa?" seru Kanaya, Gina, dan Rendi bersamaan.
Jonathan tersentak. "Ah, maksud aku kebetulan sekali Kanaya membawa makanan soalnya aku memang belum makan siang," sahut Jonathan gugup.
Jonathan pun segera mengambil makanan yang ada di tangan Kanaya untuk mengalihkan rasa malu dan gugupnya. Jonathan dan Kanaya makan berdua di sofa, sedangkan Gina dan Rendi menghampiri Arka.
"Neng, sepertinya si Jo suka sama Kanaya," bisik Rendi.
"Memang dari dulu juga Kak Jo suka sama Kanaya cuma keduluan sama Pak Rama, entahlah aku sih berharap kali ini mereka berjodoh," sahut Gina dengan berbisik pula.
"Amin."
Sementara itu, Kanaya dan Jonathan terlihat canggung mereka makan dalam diam tidak ada yang bersuara sama sekali. Hingga akhirnya Jonathan mengambil makanan milik Kanaya.
"Kamu curang, kok makanan kamu enak," seru Jonathan.
"Lah, aku pesan makanan di tempat yang sama kok memangnya makanan Kak Jo kenapa? ga enak ya?"
"Enggak, sama sekali ga enak. Coba kamu suapin aku, pengen coba makanan kamu lagi," seru Jonathan.
Kanaya tanpa pikir panjang langsung menyuapi Jonathan makanannya, Kanaya belum sadar kalau Jonathan saat ini sedang mengerjai Kanaya sekaligus mencari kesempatan.
Sekarang giliran Jonathan yang menyuapi Kanaya. "Gimana, ga enak kan?" seru Jonathan.
Kanaya mengunyah makanannya dengan penuh penghayatan. "Enak kok," sahut Kanaya.
"Masa? tapi kok aku rasa ga enak, mungkin karena makan sendiri kali ya kalau makan dari tangan orang memang jauh lebih enak," sahut Jonathan.
Kanaya masih belum sadar, hingga akhirnya Jonathan pun tertawa karena merasa lucu dengan ekspresi wajah Kanaya.
__ADS_1
"Ih...Kak Jo ngerjain aku ya," kesal Kanaya.
"Tapi asli loh, memang makan dari tangan orang itu jauh lebih enak apalagi dari tangan wanita yang kita cintai," lirih Jonathan.
Kanaya hanya bisa menundukan kepalanya, entah kenapa rasanya beda sekali saat dulu dan sekarang. Sekarang Kanaya jadi suka deg-degan kalau dekat dengan Jonathan tapi Kanaya tahu kalau saat ini Jonathan sudah punya pacar dan berharap Jonathan akan bahagia dengan pacarnya itu.
Jonathan pun memutuskan untuk pulang walaupun hatinya tidak mau pulang, tapi mau bagaimana lagi Zira terus saja menghubunginya membuat Jonathan kesal.
Arka terlihat sudah tidur, Kanaya dan Gina beserta Rendi duduk di sofa.
"Ay, kamu sama Kak Jo cocok lagipula sepertinya Kak Jo masih punya perasaan sama kamu," seru Gina.
"Kak Jo sudah punya pacar Gin."
"Hah serius? sayang sekali."
***
Keesokan harinya...
Arka sudah diperbolehkan pulang, Kanaya merapikan barang-barang Arka sedangkan Gina sedang menyuapi Arka makan.
"Bunda, Ayah mana? kok ga kesini?" tanya Arka.
Kanaya menghentikan kegiatannya dan menatap puteranya itu.
"Ayah mungkin sedang sibuk, jadi ga bisa kesini," sahut Kanaya dengan senyumannya.
"Siapa bilang sibuk, Ayah akan selalu ada untuk Arka."
"Ayaaaahhhh...."
Arka turun dari ranjangnya dan berlari memeluk Jonathan, Jonathan pun menggendong Arka.
"Wah, ternyata Arka berat sekali ya."
"Iya dong Yah, kan Bunda selalu kasih makan Arka."
"Apa Bunda selalu baik sama Arka?" tanya Jonathan dengan melirik ke arah Kanaya.
"Bunda itu baik baik banget Yah, kalau di rumah selalu masakin Arka yang enak-enak."
"Iyakah? bilangin dong sama Bunda Arka, Ayah juga ingin dimasakin yang enak-enak."
"Bunda kata Ayah, Ayah ingin dimasakin sama Bunda," seru Arka.
"Iya, nanti Bunda masakin," sahut Kanaya tanpa melihat ke arah Jonathan.
"Janji ya, jangan bohong," seru Jonathan.
Gina pun mengajak Arka untuk keluar duluan, Gina tahu Jonathan seperti ingin bicara kepada Kanaya.
"Arka sayang, ayo kita tunggu Bunda sama Ayah di luar," seru Gina.
__ADS_1
Arka pun menganggukan kepalanya dan berjalan keluar bersama Gina. Jonathan menghampiri Kanaya yang sedang sibuk membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang, Jonathan berdiri tepat di belakang Kanaya.
"Nay, bisakah aku menjadi Ayah sesungguhnya untuk Arka?"
Kanaya menghentikan kegiatannya dan terlihat terdiam, sungguh Kanaya tidak menyangka kalau Jonathan akan mengatakan itu.
Kanaya pun membalikan tubuhnya dan menatap Jonathan. "Kak, Kakak itu sudah punya pacar tidak seharusnya Kakak berkata seperti itu disaat sekarang ada hati yang harus Kakak jaga."
"Aku tidak mencintai Zira, yang ada dihatiku dari dulu sampai sekarang hanya kamu Kanaya."
"Terus kenapa Kakak menerima wanita itu kalau Kakak tidak mencintainya? Kakak akan menyakitinya kalau begitu, dan aku tidak mau seperti itu."
"Karena aku sudah putus asa, Nay."
"Putus asa?" seru Kanaya dengan mengerutkan keningnya karena merasa bingung.
"Asalan kamu tahu Kanaya, dulu aku memutuskan untuk kuliah kembali bukan karena ingin memperdalam ilmu bisnisku tapi aku ingin menghindar darimu, aku tidak bisa melihat kamu dengan Rama hatiku sakit melihat kalian berdua mangkanya aku memilih pergi supaya aku bisa melupakanmu dan membiarkan kamu bahagia dengan Rama. Tapi ternyata, dugaanku salah walaupun aku sudah tidak bisa melihat kamu dan jauh dari kamu tetap saja hati dan pikiranku hanya tertuju untukmu Kanaya."
Kanaya membelalakan matanya mendengar pengakuan Jonathan, ia tidak menyangka segitu besarkah cinta Jonathan untuk dirinya.
"Empat tahun berada disana aku justru makin tidak bisa melupakanmu, hatiku benar-benar tersiksa selalu ingat sama kamu. Aku tidak tahu kalau Rama sudah meninggal, maka dari itu aku menerima Zira sebagai pacarku berharap aku bisa melupakanmu dan hatiku terbuka untuk wanita lain, tapi lagi-lagi dugaanku salah aku sama sekali tidak merasakan apa-apa kepada Zira."
"Tapi tetap saja Kak, Kakak tidak boleh menyakiti wanita itu."
Kanaya membalikan tubuhnya dan segera menyelesaikan pekerjaannya, setelah semuanya beres Kanaya pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan Jonathan yang masih terdiam di tempatnya.
"Seandainya aku tahu lebih awal kalau Rama sudah meninggal, aku akan kembali kesini tanpa harus menunggu empat tahun dan aku tidak akan terjebak cinta Zira," seru Jonathan.
Kanaya menghentikan langkahnya. "Jangan bicara seperti itu Kak, semuanya sudah diatur oleh Allah mungkin saja memang kita ditakdirkan tidak berjodoh," sahut Kanaya.
Kanaya pun kembali melanjutkan langkahnya, Kanaya setengah berlari menyusul Gina dan Arka yang sudah menunggu di lobi rumah sakit. Mata Kanaya sudah memerah menahan airmatanya, begitu pun dengan Jonathan yang matanya terlihat sudah berkaca-kaca.
Sungguh kisah cinta Jonathan begitu sangat rumit, Jonathan pun segera menyusul Kanaya dan yang lainnya.
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU