Pesona Si Gadis Culun

Pesona Si Gadis Culun
Terlalu Membencimu


__ADS_3

🍁


🍁


🍁


🍁


🍁


Rama mengantarkan Kanaya pulang, selama dalam perjalanan tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua bahkan Kanaya memalingkan wajahnya keluar jendela.


Tidak lama kemudian, mobil Rama pun sampaj didepan rumah Sopandi. Jonathan yang dari tadi menunggu dibalik jendela akhirnya terbangun saat mendengar ada suara mobil berhenti didepan rumah Sopandi.


"Akhirnya mereka pulang juga," batin Jonathan.


"Terima kasih Pak, sudah mengajak saya makan malam."


"Sama-sama, kalau begitu aku langsung pulang saja soalnya sudah malam juga."


"Iya, Bapak hati-hati."


Rama pun menganggukan kepalanya dan segera masuk kedalam mobilnya, Rama segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Sopandi.


Kanaya mulai membuka gerbang...


"Kanaya..."


Deg...


Kanaya menghentikan gerakan tangannya, dan dia tahu siapa orang yang saat ini ada dibelakangnya.


Setelah beberapa detik berhenti, Kanaya pun kembali membuka gerbangnya tapi disaat Kanaya hendak masuk sebuah tangan menahan lengan Kanaya dan lagi-lagi Kanaya tersentak.


"Tunggu Kanaya, aku ingin bicara denganmu," seru Jonathan.


Kanaya mengepalkan tangannya, bahkan matanya sudah mulai memerah.


"Lepaskan, jangan sentuh aku," sahut Kanaya tanpa melihat kearah Jonathan.


Perlahan Jonathan melepaskan tangannya, belum juga Jonathan sempat membuka mulutnya Kanaya sudah menutup gerbangnya dengan kasar dan tanpa sedikit pun menoleh kearah Jonathan, Kanaya langsung berlari masuk kedalam rumah.


Jonathan hanya bisa terdiam membeku ditempatnya.


"Kanaya sepertinya sudah sangat membenciku, jangankan mendengarkan ucapanku, melihat wajahku pun dia sudah tidak mau," batin Jonathan.


Akhirnya dengan langkah gontai, Jonathan pun kembali masuk kedalam rumah Pamannya. Jonathan memang pantas mendapatkan perlakuan itu dari Kanaya, karena dulu kelakuan Jonathan terhadap Kanaya jauh lebih kejam dan tidak berperasaan.


Napas Kanaya tampak tersengal-sengal, Kanaya tidak mau tahu kenapa dia tahu dimana Kanaya tinggal tapi yang jelas Kanaya benar-benar tidak mau bertemu dengan Jonathan, orang yang sudah membuat hidupnya hancur.


Mata Kanaya memerah, Kanaya benar-benar benci kepada Jonathan. Jangankan melihat wajahnya, mendengar suaranya saja Kanaya tidak sudi karena suara itu mengingatkan Kanaya akan hinaan yang Jonathan keluarkan dari mulutnya dengan kejamnya.


***


Keesokan harinya...


Hari ini adalah hari sabtu, jadi Kanaya dan Sopandi hari ini libur. Kanaya sudah bangun pagi-pagi sekali dan saat ini sedang pergi ke pasar bersama Bibinya.

__ADS_1


Sopandi saat ini sedang menyesap kopinya di teras rumahnya sembari membaca koran. Sisi keluar dengan meregangkan kedua tangannya, kemudian matanya menangkap seorang pria tampan sedang mencuci mobilnya.


"OMG...Pa, siapa pria tampan itu?" seru Sisi.


Sopandi menoleh dan melihat ke rumah yang berada di seberang rumahnya.


"Mungkin saudaranya Pak Sholeh."


"Ya ampun Pa, tampan sekali."


"Kamu ini, tidak bisa melihat yang bening-bening sedikit matanya langsung melotot. Sudah sana masuk, mandi sana anak gadis kok jam segini baru bangun."


"Iya Pa, oh iya Mama mana?"


"Mama kamu lagi ke pasar sama Teh Aya."


"Oh..."


Sisi pun dengan senyum-senyum sendiri langsung masuk kedalam rumahnya. Sedangkan Jonathan yang dari tadi curi-curi pandang kearah rumah Sopandi merasa aneh karena tidak melihat Kanaya keluar dari rumah itu.


"Kanaya kemana ya? kok ga kelihatan?" gumam Jonathan.


Tidak lama kemudian, taksi yang ditumpangi Kanaya dan Bibinya pun sampai. Kanaya segera membawa beberapa kantong kresek yang berisi belanjaan itu ke dalam rumah tanpa Kanaya sadari dari tadi Jonathan memperhatikan Kanaya.


Wati menoleh kearah rumah yang diseberangnya itu, Jonathan langsung tersenyum dan menganggukan kepalanya kepada Wati membuat Wati ikut menganggukan kepala juga.


"Pa, itu siapa?"


"Oh, mungkin keponakannya Pak Sholeh."


"Heem...."


Wati pun segera masuk menyusul Kanaya dan mulai memasak dibantu oleh Kanaya.


"Aya, kamu tahu ga kalau didepan rumah kita ada pria tampan," seru Wati.


"Maksud Bibi?"


"Ya ampun Aya, itu dirumah depan rumahnya Pak Sholeh ada pria tampannya mungkin keponakan atau saudaranya Pak Sholeh."


"Terus?"


"Ih kamu mah Aya, setiap Bibi ngomongin pria respon kamu selalu saja datar seperti itu. Kamu itu sudah dewasa Aya, tapi Bibi belum pernah melihat kamu dekat dengan seorang pria. Baru tadi malam kamu mau keluar dengan Bos kamu, oh iya bagaimana apa dia nembak kamu?" tanya Wati antusias.


"Idih apaan sih Bibi kok ngomongnya seperti itu? Pak Rama mana mau sama Aya, Bi."


"Jangam suka merendah deh, Bibi sudah tahu semuanya dari Mamang kamu kalau Pak Rama itu sudah menyukaimu sejak pertama bertemu, kamunya saja yang selalu cuek dan tidak peka."


"Sudahlah Bi, Aya tidak mau ngomongin cowok karena Aya sama sekali tidak mau memikirkan tentang cowok."


"Terserah kamu saja deh, Bibi dan Mamang kamu hanya bisa mendo'akan yang terbaik untukmu."


Kanaya hanya fokus dengan masakannya, jujur Kanaya tidak resfect kepada pria semenjak kejadian dulu. Memang benar, kalau tidak semua pria itu sama tapi dari kejadian dulu Kanaya bisa menyimpulkan kalau semua pria hanya memandang fisik saja.


Buktinya disaat wajah dan penampilan Kanaya masih buruk rupa, tidak ada yang mendekatinya bahkan semua pria hanya memandang Kanaya dengan sebelah mata tapi disaat Kanaya berubah menjadi cantik, pria-pria yang dulu menghina dan mengejeknya tiba-tiba saja bersikap baik dan berlomba-lomba untuk mendekatinya.


"Semua pria itu sungguh sangat menjijikan, bahkan Pak Rama pun kalau melihat aku masih buruk rupa belum tentu dia mau deketin aku," batin Kanaya.

__ADS_1


Setelah selesai memasak, Kanaya pun menatanya di meja makan dan semuanya mulai menyantap makanannya dengan lahap.


"Mama, keponakannya Om Sholeh tampan sekali," seru Sisi.


"Hai, kamu itu masih sekolah Sisi jangan ngomongin lawan jenis lebih baik belajar yang tekun biar bisa lulus dengan nilai terbaik, seperti Teh Aya," sahut Wati.


Sisi hanya bisa cemberut, ternyata kedua orang tuanya sama sekali tidak mendukungnya.


"Siapa sih orang itu, kok semuanya bilang pria tampan aku jadi penasaran," batin Kanaya.


Setelah selesai makan, Aya mengambil kantong kresek berisi sampah.


"Aya, kamu mau kemana?" tanya Sopandi.


"Mau simpan sampah ini didepan, sepertinya sebentar lagi tukang sampahnya datang."


"Oh...."


Kanaya pun segera melangkahkan kakinya menuju luar gerbang, dan menyimpan kantong kresek itu disebuah bak penampungan sampah.


"Hai Kanaya!"


Lagi-lagi suara yang sangat Kanaya benci terdengar kembali, Kanaya membalikan tubuhnya dan hendak pergi tapi Jonathan terus saja menghalangi jalan Kanaya.


Kanaya masih menundukan kepalanya, dia benar-benar tidak mau melihat wajah yang sangat dia benci itu.


"Kanaya please, aku hanya ingin bicara denganmu sebentar saja," seru Jonathan.


Kanaya memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menatap langsung mata yang dulu penuh dengan kebencian dan selalu jijik melihat Kanaya.


"Jangan ganggu aku lagi, sudah cukup kamu membuatku sengsara dan menjadi orang yang paling hina, aku tidak mau melihat kamu lagi karena rasa benciku terhadapmu sudah tidak bisa diubah lagi."


Kanaya mendorong dada Jonathan sehingga Jonathan sedikit terhunyung ke belakang. Kanaya segera masuk ke dalam rumah, sedangkan Jonathan lagi-lagi hanya bisa terdiam membeku melihat Kanaya pergi.


🍁


🍁


🍁


🍁


🍁


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2