Pesona Si Gadis Culun

Pesona Si Gadis Culun
Ayah.....!!!


__ADS_3

🍁


🍁


🍁


🍁


🍁


Jonathan kembali mengikuti mobil Kanaya, hingga mobil Kanaya pun sampai di depan toko kue miliknya.


"Terima kasih, Pak."


"Sama-sama Bu, kalau begitu saya pamit pulang."


Pak Katmo pun langsung memutar mobilnya untuk kembali pulang ke rumah, baru saja Jonathan ingin membuka pintu mobilnya untuk menghampiri Kanaya, sebuah mobil berhenti di depan toko kue Kanaya.


"Pagi Nona Kanaya!" sapa Daniel.


"Pagi, kenapa anda selalu datang pagi-pagi sekali? aku kan sudah bilang kalau toko kuenya buka jam 08.00 pagi," sahut Kanaya.


"Tidak apa-apa, aku ingin selalu menjadi pembeli yang pertama."


Kanaya memutar bola matanya jengah, sungguh Kanaya tidak suka dengan pria yang sekarang sudah masuk mengikuti Kanaya.


Sementara itu Jonathan terlihat mengerutkan keningnya, ada rasa kesal saat pria itu masuk ke dalam toko kue Kanaya.


"Siapa pria itu? sepertinya mereka sudah saling kenal?" gumam Jonathan.


Jonathan memutuskan untuk menunggu pria itu sampai keluar dari dalam toko kue Kanaya, selama menunggu Jonathan tidak enak duduk ingin rasanya Jonathan masuk dan menanyakan siapa pria itu.


"Mas sekarang mau pesan kue apa?" tanya Kanaya.


"Sekarang aku mau pesan, blackfores yang ini," sahut Daniel dengan menunjuk sebuah cake di etalase.


"Baiklah."


Kanaya segera mengambil dan memasukannya ke dalam box.


"Hmm...ngomong-ngomong suamimu kemana? kok perasaan aku tidak pernah meliht suamimu?" tanya Daniel.


Kanaya menatap Daniel dengan tajam. "Memangnya kenapa anda menanyakan suami saya?"


"Ah tidak, aku hanya penasaran saja. Suami kamu kerja dimana? apa dia seorang pengusaha?" tanya Daniel lagi.


"Mas itu kenapa sih? suami aku mau seorang pengusaha atau bukan memangnya apa urusannya dengan Mas?" kesal Kanaya.


"Ah, maaf."


"Ini, semunya seratus tujuh puluh lima ribu."


"Terima kasih."


Daniel yang merasa tidak enak karena sudah membuat Kanaya kesal, akhirnya memilih untuk pergi dari toko kue Kanaya.


Akhirnya setelah cukup lama Jonathan menunggu, Jonathan melihat pria itu keluar dari toko kue milik Kanaya. Jonathan segera melajukan mobilnya dan berhenti di depan toko.


Terlihat Kanaya sedang mengecek kue apa saja yang saat ini sudah habis. Pintu toko pun terbuka...


"Selamat pagi, selamat datang di toko kue-----"

__ADS_1


Ucapan Kanaya terhenti karena terkejut melihat siapa orang yang sudah masuk ke dalam toko kuenya itu.


"Kak Jo."


"Hai, apakabar!"


"Alhamdulillah baik, silakan Kak duduk aku ambilkan kopi dulu."


"Iya terima kasih."


Kanaya pun segera pergi ke dapur untuk mengambil kopi dan juga kue buatannya, sedangkan Jonathan terlihat memperhatikan setiap sudut toko kue Kanaya yang terasa nyaman itu.


"Silakan Kak diminum dan dicicipi kuenya."


"Terima kasih Nay."


Sesaat keduanya terdiam..


"Maaf Nay, aku turut berduka cita atas kepergian Rama dan kedua orang tuamu," seru Jonathan mengawali pembicaraan.


"Iya Kak, terima kasih."


"Kapan kejadiannya terjadi?"


"Bersamaan dengan keberangkatan Kak Jo ke Australia."


Deg...


Ada perasaan menyesal, kesal, emosi, marah pada dirinya sendiri kenapa dia begitu bodohnya langsung mengganti nomor ponselnya sehingga dia tidak tahu berita besar itu.


"Maaf Nay, waktu aku berangkat ke Australia aku langsung mengganti nomor ponselku dan Papa aku juga katanya lupa memberitahuku. Seandainya aku tahu semua itu akan terjadi, mungkin aku tidak jadi pergi waktu itu."


"Apa kamu baik-baik saja Nay?"


Jonathan menatap wajah Kanaya yang dari terlihat menunduk, Kanaya pun mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Jonathan.


"Menurut Kakak, apa aku akan baik-baik saja saat ditinggalkan oleh tiga orang yang paling berharga dalam hidupku dalam waktu yang bersamaan?" sahut Kanaya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Dada Jonathan begitu ngilu melihat ada kepedihan di mata Kanaya, sungguh Jonathan sangat marah pada dirinya sendiri.


Kanaya mencoba tersenyum tapi airmatanya tidak bisa ditahan dan akhirnya menetes. Jonathan menggeser kursinya dan duduk di samping Kanaya.


"Maafkan aku Nay, aku justru malah pergi disaat kamu sedang mengalami musibah."


"Tidak apa-apa Kak, Kakak tidak salah kok jadi Kakak tidak usah minta maaf."


Kanaya sekali lagi berusaha untuk tersenyum tapi lagi-lagi airmatanya tidak bisa ditahan.


"Bagaimana keadaan anakmu, dia baik-baik saja kan?"


Airmata Kanaya semakin deras, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Jonathan. Kalau bicara masalah Arka, Kanaya memang selalu saja menangis.


Jonathan yang tidak tega melihat Kanaya menangis, akhirnya menarik tubuh Kanaya ke dalam pelukannya. Jonathan ikut merasakan sakit yang saat ini Kanaya rasakan.


"Sulit, sangat sulit Kak menjalani hidup tanpa sosok suami dan A Rama meninggalkan aku dalam keadaan hamil itu sangat berat untukku Kak."


"Menangislah, keluarkan semua kesedihanmu, luapkan rasa sakitmu, sekarang aku sudah kembali dan aku akan selalu ada untukmu Nay."


Tangisan Kanaya semakin menjadi-jadi, empat tahun lamanya Kanaya hanya bisa memendam kesedihannya seorang diri walaupun ada Gina yang selalu bersamanya tapi Kanaya merasa dia tidak punya sandaran hati untuk menenangkan hatinya.


Jonathan mengusap kepala Kanaya dengan penuh kasih sayang dan Kanaya pun merasa nyaman berada dipelukan Jonathan.

__ADS_1


"Ayah...."


Kanaya melepaskan pelukannya dan segera menghapus airmatanya, Kanaya dan Jonathan menoleh bersamaan ke arah sumber suara.


Di depan pintu, Gina datang dengan menggendong Arka. Arka harus pulang karena badannya demam jadi Gina pun langsung membawa Arka ke toko. Arka berontak ingin turun dari gendongan Gina dan setelah turun, Arka langsung berlari dan memeluk Jonathan dengan sangat erat.


"Ayah, akhirnya Ayah pulang juga," seru Arka.


Kanaya saling bertatapan dengan Jonathan serta Gina.


"Sayang, dia bukan----"


Jonathan langsung menyimpan jari telunjuknya di bibir Kanaya dan Jonathan pun tersenyum kemudian membalas pelukan Arka.


"Ayah, Arka kangen sama Ayah kata Bunda, Ayah kerja tapi kenapa Ayah pulangnya lama."


Jonathan menatap Kanaya, dia tidak tahu harus menjawab apa. Kanaya memegang kening Arka dan ternyata badannya sangat panas.


"Ya Allah, badan kamu panas banget sayang."


"Arka demam Ay, mangkanya aku bawa pulang."


Tanpa banyak bicara, Jonathan pun langsung mengangkat tubuh Arka.


"Mau bawa Arka kemana, Kak?" tanya Kanaya.


"Kita bawa Arka ke rumah sakit."


"Ya sudah kamu sama Kak Jo ke rumah sakit, toko biar aku yang jaga," seru Gina.


"Oke, kalau gitu aku titip toko ya."


Kanaya pun segera menyusul Arka dan Jonathan masuk ke dalam mobil Jonathan. Selama dalam perjalanan Arka terus saja mengingau saking panasnya.


"Ayah, jangan pergi lagi Arka ingin tidur dengan Ayah, Arka ingin main dengan Ayah," seru Arka dengan mata yang tertutup.


Lagi-lagi Kanaya meneteskan airmatanya tapi Kanaya segera menghapusnya, Jonathan merasa sangat sakit melihat Kanaya seperti itu.


🍁


🍁


🍁


🍁


🍁


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2