Pesona Si Gadis Culun

Pesona Si Gadis Culun
Perasaan Apa Ini?


__ADS_3

🍁


🍁


🍁


🍁


🍁


Sesampainya di rumah sakit, lagi-lagi Jonathan menggendong Arka dan segera membawanya ke ruang pemeriksaan. Setelah diperiksa, ternyata Arka harus dirawat untuk sementara di rumah sakit karena kondisinya yang masih lemah.


Kanaya saat ini duduk di samping Arka, Kanaya tidak pernah melepaskan tangan Arka bahkan Kanaya berkali-kali mencium tangan puteranya itu.


"Arka, mirip sekali dengan Rama ya?" seru Jonathan.


"Iya Kak, oh iya maaf ya Kak atas ucapan Arka tadi."


"Ucapan yang mana?" tanya Jonathan pura-pura tidak tahu.


"Tadi Arka sudah memanggil Kakak dengan sebutan Ayah, nanti aku akan jelaskan kepada Arka kalau Arka sudah sembuh."


"Tidak apa-apa, senyamannya saja dia mau panggil aku apa karena aku sama sekali tidak keberatan."


Kanaya ingin membalas ucapan Jonathan tapi tiba-tiba ponsel Jonathan berbunyi, Jonathan melihat ponselnya dan ternyata tertera nama Zira di layar ponselnya.


Jonathan menoleh sebentar ke arah Kanaya hingga akhirnya Jonathan menolak panggilan dari Zira.


"Kok ga diangkat Kak?" tanya Kanaya.


"Bukan hal yang penting kok," sahut Jonathan dengan santainya.


Kemudian ponsel Jonathan kembali berbunyi, Jonathan tahu siapa yang menghubunginya dan Jonathan memilih untuk tidak mengangkatnya.


"Angkat saja Kak, kali aja penting."


Akhirnya Jonathan pun mengalah dan memilih untuk mengangkat teleponnya walaupun pada kenyataannya Jonathan sangat malas.


"Aku keluar dulu, mau angkat telepon."


"Iya Kak."


Jonathan pun keluar dari ruangan rawat Arka.


📞"Hallo..."


📞"Astaga sayang, kamu lagi ngapain sih kok telepon aku ga diangkat-angkat?" kesal Zira.


📞"Ada apa?"


📞"Kamu ada dimana? sekarang aku sedang di rumah kamu dan kata orang tua kamu, kamu pergi dari tadi pagi."


📞"Aku ada urusan penting."


📞"Urusan penting apa sih?"


📞"Sudahlah Zira, aku malas berdebat denganmu."

__ADS_1


Jonathan pun langsung memutuskan sambungan teleponnya, Jonathan membalikan tubuhnya dan betapa terkejutnya Jonathan ternyata Kanaya sudah berdiri disana.


"Kanaya."


"Kak, yang barusan nelepon pasti pacar Kakak ya? ya sudah, Kakak pulang saja jangan mikirin Arka karena aku bisa sendiri kok lagipula sebentar lagi Gina pasti kesini," seru Kanaya.


"Aku akan disini sampai Gina datang."


"Tapi Kak---"


Jonathan langsung masuk ke dalam ruangan rawat Arka meninggalkan Kanaya yang masih terdiam.


Jonathan duduk di samping Arka, diusapnya kepala Arka dengan sayang membuat Arka menggerakan tubuhnya dan mulai membuka matanya.


"Ayah...."


Jonathan pun tersenyum kepada Arka, Arka bangun dan langsung memeluk Jonathan sembari menangis. Jonathan mengusap punggung Arka dengan penuh kasih sayang.


"Cup..cup..cup..sudah jangan menangis, masa anak laki-laki nangis? anak laki-laki itu harus jagoan."


Kanaya yang terdiam di depan pintu, lagi-lagi harus meneteskan airmatanya. Sungguh Kanaya sangat merasa bersalah kepada Arka karena tadi malam, Kanaya berusaha menjelaskan dimana Ayahnya sebenarnya.


Awalnya Arka memang terdiam tidak bicara apa-apa, tapi Kanaya tidak tahu kalau Arka ternyata sampai kepikiran Ayahnya dan berakhir dengan demam.


Arka menoleh ke arah Kanaya. "Bundaaa..."


Jonathan melepaskan pelukannya dan membalikan tubuhnya menatap Kanaya, lagi-lagi Jonathan merasa sakit melihat Kanaya menangis seperti itu.


Kanaya menghampiri Arka dengan senyumannya. "Sayang, ini Om Jo bukannya Ayah Arka tadi malam kan Bunda sudah bilang kalau Ayah Arka itu sudah berada di surga jadi Ayah Arka tidak akan kembali lagi," seru Kanaya dengan mata yang berkaca-kaca.


Kanaya memeluk Arka dengan sangat erat.


"Arka ingin punya Ayah Bunda, Arka ingin seperti teman-teman Arka yang punya Ayah. Arka sering diledek karena Arka tidak punya Ayah," seru Arka dengan menangis tersedu-sedu.


Kanaya hanya bisa menciumi kepala puteranya, dia tidak bisa berkata-kata lagi. Kanaya tidak mau sampai Arka mendapat hinaan dan ledekan karena tidak punya Ayah, cukup dia saja yang dulu merasakan sakitnya dihina dan dibully.


"Maafkan Bunda sayang."


Hancur sudah hati Jonathan melihat pemandangan menyayat hati itu, tekadnya untuk melindungi dan menjaga Arka serta Kanaya semakin besar dia tidak peduli lagi apa yang akan terjadi ke depannya, yang penting untuk saat ini tujuannya cuma satu yaitu ingin membahagiakan Arka dan Kanaya.


"Arka..."


Arka melepaskan pelukannya dan menatap Jonathan dengan tatapan polosnya.


"Arka boleh kok panggil Om dengan sebutan Ayah kalau Arka mau."


"Beneran, Om tidak akan marah kalau Arka panggil Om dengan sebutan Ayah?" tanya Arka dengan polosnya.


"Tidak."


"Kak, jangan seperti itu," keluh Kanaya.


"Nay, kamu mau melihat Arka terus-terusan sedih? kamu mau Arka terus-terusan dihina dan diledek karena tidak punya Ayah? apa kamu tidak merasakan bagaimana rasanya dulu kamu dihina dan diledek itu seperti apa? walaupun yang melakukannya aku. Arka masih sangat kecil untuk menerima kenyataan yang sebenarnya, aku takut Arka justru trauma dan menjadi anak yang tertutup."


"Tapi Kak, aku juga tidak mau kalau Arka sampai terus-terusan bergantung sama Kakak. Aku takut Arka tidak akan bisa melepaskan Kakak sedangkan nanti pada akhirnya Kakak akan menikah dan meninggalkan Arka. Aku tidak mau Arka sampai sakit hati untuk kedua kalinya," sahut Kanaya.


"Aku janji, aku tidak akan pernah meninggalkan Arka."

__ADS_1


"Tapi bagaimana kalau pacar Kakak tidak bisa menerimanya?"


"Aku akan putuskan dia dan menikah denganmu."


Deg....


Kanaya sangat terkejut dengan jawaban Jonathan, bisa-bisanya Jonathan berkata dengan santainya akan memutuskan pacarnya dan menikahi Kanaya.


"Sayang, Bunda beli makanan dulu ya."


Kanaya pun segera pergi meninggalkan Jonathan dan Arka. Kanaya berlari dengan deraian airmata, hingga akhirnya Kanaya pun sampai di taman rumah sakit. Kanaya duduk di kursi taman dan mencerna kata-kata yang barusan keluar dari mulut Jonathan.


Entah kenapa Kanaya justru merasakan perasaan yang aneh saat Jonathan mengatakan itu.


"Tidak, aku tidak mungkin punya perasaan seperti itu terhadap Kak Jo apalagi saat ini Kak Jo sudah punya kekasih, masa iya baru pertama kali bertemu lagi aku langsung punya perasaan kepada Kak Jo. Tidak-tidak, aku harus buang perasaan itu jauh-jauh," batin Kanaya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kanaya pun segera bangkin dari duduknya dan pergi mencari makanan, karena Kanaya yakin kalau Jonathan belum makan siang.


Sementara itu di kantor Daniel...


Tok..tok..tok..


"Masuk!"


"Selamat siang Tuan, ini adalah hasil dari penyelidikan saya," seru Asisten pribadinya sembari menuerahkan amplop berwarna coklat itu.


"Terima kasih, kamu boleh pergi."


"Baik Tuan."


Daniel pun segera membuka amplop itu dan membaca isinya dengan sangat teliti, senyumannya mengembang.


"Ternyata Kanaya seorang janda dan suaminya meninggal empat tahun yang lalu karena kecelakaan, wow kalau jodoh memang tidak akan kemana. Kanaya, kamu harus menjadi milikku," gumam Daniel dengan senyumannya.


🍁


🍁


🍁


🍁


🍁


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2