
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Kedekatan antara Rama dan Kanaya membuat semua orang iri, bagaimana tidak Kanaya yang dulu merupakan wanita si buruk rupa sekarang sudah berubah menjadi wanita yang sangat menawan dan membuat siapa saja yang melihatnya akan menyukainya.
Di tambah saat ini Kanaya mempunyai pacar Bosnya sendiri, Bos yang sangat sempurna sudah tampan, kaya pula sempurna banget hidup Kanaya saat ini.
"Selama siang, apa kamu yang bernama Kanaya?"
Kanaya yang saat ini sedang fokus dengan kerjaannya kemudian mengangkat wajahnya dan betapa terkejutnya Kanaya saat melihat siapa orang yang berada di hadapannya saat ini.
Kanaya langsung berdiri. "Se---selamat pagi Tu---tuan," sahut Kanaya dengan terbata.
Bagaimana Kanaya tidak terkejut, saat ini Tuan Krismawan yang merupakan Papa dari Rama berada di hadapannya.
"Kanaya, bisakah kita makan siang bersama?"
"Bi--bisa Tuan."
"Mari kalau begitu."
Kanaya dengan gugup mengambil tasnya dan mengikuti langkah Tuan Krismawan dari belakang. Sungguh Kanaya saat ini sangat gugup dan takut karena Kanaya sudah berani berpacaran dengan puteranya.
Kanaya sudah punya pikiran kalau Tuan Krismawan akan memarahinya dan melarang hubungannya dengan Rama.
Sopir pribadi Tuan Krismawan membukakan pintu mobil untuk Kanaya dan Kanaya pun segera masuk ke dalam mobil mewah itu, perasaannya sungguh campur aduk dan yang paling menonjol adalah perasaan takut.
"Ya Allah, bagaimana ini? apa yang akan Tuan Krismawan lakukan?" batin Kanaya.
Tidak lama kemudian, mobil mewah itu berhenti di sebuah restoran Jepang.
"Ayo Kanaya!"
"Iya Tuan."
Tuan Krismawan membawa Kanaya ke privat room dan disana sudah tersaji beberapa hidangan yang sangat menggugah selera.
"Kita makan siang dulu, setelah itu baru kita lanjutan pembicaraan kita."
"Iya Tuan."
Kanaya sama sekali tidak terlihat bersemangat, bukan karena makanannya tidak enak melainkan orang yang berada di hadapannya membuat Kanaya tidak nyaman.
Dengan susah payah Kanaya menelan makanannya, hingga akhirnya acara makan siang pun selesai. Kanaya menundukan wajahnya, tangannya sudah terasa dingin dan Kanaya harus siap kalau saat ini Tuan Krismawan akan memaki dan menghinanya karena dia sudah berani berpacaran dengan puteranya.
__ADS_1
"Kamu sudah lama berhubungan dengan Rama?" tanya Krismawan.
"Baru satu bulan, Tuan."
"Apa tujuan kamu menerima putera saya? apa karena dia tampan dan kaya atau karena ada alasan lain, tolong beri saya jawaban yang jelas."
Kanaya kembali menelan salivanya, saat ini Kanaya mengangkat wajahnya dan memberanikan diri menatap mata teduh milik Tuan Krimawan.
"Maaf Tuan, saya tidak pernah melihat pria dari kaya ataupun tampan. Saya sadar diri, saya memang bukan siapa-siapa dan tidak sebanding juga dengan keluarga Tuan, saya memutuskan menjalin hubungan dengan Pak Rama karena beliau adalah orang yang sangat baik dan menerima saya apa adanya. Pak Rama pun banyak membantu saya, terlepas dari wajah saya yang sekarang sudah berubah Pak Rama dulu sempat melihat wajah saya yang masih buruk rupa dan Pak Rama adalah pria pertama yang bilang kalau saya cantik jadi saya tidak punya alasan untuk menolak Pak Rama. Maaf karena saya sudah lancang menjalin hubungan dengan putera Tuan," seru Kanaya.
Kanaya kembali menundukkan wajahnya, terdengar kekehan dari Tuan Krismawan membuat Kanaya kembali mengangkat wajahnya dan terlihat Tuan Krismawan terkekeh membuat Kanaya mengerutkan keningnya.
"Kenapa kamu gugup seperti itu? saya hanya menanyakan hal yang sepele dan tidak perlu dijawab dengan terlalu serius juga," seru Tuan Ktismawan.
"Ma--maksud Tuan apa?"
"Sebenarnya saya sudah sejak lama tahu akan hubungan kalian, bahkan saat Rama digantung tanpa kepastianpun saya tahu karena memang pada dasarnya tidak ada rahasia-rahasiaan diantara kami. Semenjak Mamanya Rama meninggal, Rama memang dekat dengan saya dan Rama selalu menceritakan semuanya kepada saya."
Kanaya hanya melongo mendengar ucapan Tuan Krismawan, dia tidak menyangka kalau Tuan Krismawan seramah itu padahal dia sudah berpikiran kalau beliau akan memarahi dan menghina Kanaya tapi kenyataannya malah sebaliknya.
"Sebenarnya tujuan saya mengajak kamu kesini, karena ingin membicarakan hal penting sebelum nantinya saya menemui orang tua kamu."
Lagi-lagi Kanaya tersentak. "Bertemu Ayah dan Ibu saya? untuk apa Tuan?" tanya Kanaya.
"Karena saya ingin melamar kamu untuk Rama."
Deg...
"Me---melamar?"
"Iya, saya ini sudah tua jadi saya ingin disaat nanti saya pergi, Rama sudah ada yang menemani dan tidak akan kesepian lagi. Jujur, sejak pertama saya melihat kamu saya memang langsung suka karena saya lihat kamu adalah gadis yang baik dan cocok dengan Rama."
Kanaya hanya bisa diam, dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Bagaimana, apa kamu menerima lamaran Rama anak saya?"
"Ehmm...maaf Tuan, bolehkah saya memikirkannya dulu?"
"Silakan, tapi jangan lama-lama saya kasih waktu kamu dua hari untuk berpikir jangan sampai kamu memberikan jawaban yang salah. Saya sengaja melamar kamu duluan sebelum Rama, karena saya ingin tahu saja apa jawaban kamu supaya kalau kamu menolak putera saya, saya bisa memberi pengertian kepada Rama."
Akhirnya setelah makan siang bersama, keduanya memutuskan untuk kembali ke pabrik. Kanaya segera kembali belerja, sedangakan Tuan Krismawan langsung pergi menunju ruangan Rama.
Ceklek...
Tuan Krismawan masuk ke dalam ruangan Rama, dilihatnya Rama sedang mondar-mandir dengan raut wajahnya yang terlihat khawatir.
"Kamu kenapa Rama? kok kelihatan seperti yang khawatir?" tanya Tuan Krismawan.
"Ya ampun, buat apa Papa mengajak Kanaya pergi dan mau ngapain?"
"Papa hanya ingin mengajak calon menantu Papa makan siang bersama saja kok," sahutnya dengan santai.
__ADS_1
"Yakin hanya makam siang bersama? Papa tidak macam-macam kan sama Kanaya?"
"Astaga Rama, memangnya Papa mau ngapain macam-macam kepada Kanaya terus keuntungannya apa buat Papa?"
"Terus Papa ngomongin apa dengan Kanaya? ga mungkin kan Papa hanya mengajaknya makan siang saja, pasti ada sesuatu yang Papa bicarakan dengannya?"
"Iya, Papa memang habis membicarakan sesuatu dengan Kanaya."
"Membicarakan apa?"
"RAHASIA....."
"Ishh..ishh..ishh..jadi sekarang Papa mau main rahasia-rahasiaan nih sama aku."
"Nanti juga kamu bakalan tahu kok, ya sudah Papa pulang dulu rasanya sangat capek Papa ingin istirahat dulu."
"Mau Rama anterin?"
"Tidak usah, Papa bawa mobil sendiri kok."
"Ya sudah, Papa pulang dulu."
"Hati-hati Pa."
Tuan Krismawan pun akhirnya pergi meninggalkan pabrik, Rama merasa sangat penasaran sebenarnya apa yang sudah Papanya bicarakan dengan Kanaya.
Sementara itu, Kanaya merasa tidak fokus bekerja ucapan Tuan Krismawan sungguh sangat mengejutkan dan jujur, sebenarnya Kanaya tidak punya pemikiran sampai kesana.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang?" batinnya.
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU