Pesona Si Gadis Culun

Pesona Si Gadis Culun
Kedatangan Bos Pabrik


__ADS_3

🍁


🍁


🍁


🍁


🍁


Malam ini semuanya sedang makan malam bersama.


"Aya, rencananya besok anak pemilik Pabrik akan pulang dari Amerika dan dia akan langsung ke Pabrik untuk memantau keadaan jadi kamu harus siap-siap berpenampilan yang rapi dan bersih karena menurut informasi, dia tidak suka dengan karyawan yang kucel," seru Sopandi.


"Wah kebetulan sekali Aya sudah cantik Mang, coba kalau Aya masih buruk rupa sudah dipastikan Aya akan ditendang dari Pabrik," sahut Kanaya.


Wati dan Sopandi terkekeh. "Ngaco kamu," sahut Sopandi.


"Apa Bos baru itu sudah tua, Mang?" tanya Kanaya.


"Tua apaan, dia itu anaknya Pak Krismawan kira-kira umurnya tidak jauhlah sama kamu namanya Rama Krismawan, orangnya tampan loh Ay," seru Sopandi.


"Wah, Papa bisa jodohkan dia dengan Sisi," celetuknya.


"Jangan banyak berkhayal Si, mana mungkin orang kaya seperti mereka mau besanan sama kita," sahut Sopandi.


"Siapa tahu Pa, mereka tidak memandang harta dan mau merestuinya."


"Sisi, kamu bicara apa sih? kamu itu masih sekolah jangan mikirin tentang jodoh-jodohan lebih baik sekarang kamu belajar yang benar supaya kamu bisa mebdapatkan nilai yang bagus seperti Teh Aya," seru Wati.


Sisi hanya memutar bola matanya malas, sekarang Mama dan Papanya memang lebih memilih membela Kanaya dibandingkan dengan dirinya yang anak mereka.


Setelah selesai makan malam, Kanaya pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Kanaya menghubungi kedua orang tuanya yang ada di kampung, sungguh Kanaya sangat merindukan mereka tapi Kanaya tidak bisa pulang secepatnya soalnya Kanaya harus mengumpulkan uang supaya bisa membawa uang yang banyak untuk kedua orang tuanya.


***


Keesokan harinya...


"Aya, lebih baik sekarang kamu berangkat ke Pabrik bareng sama Mamang saja soalnya kalau naik bus takutnya kamu terlambat dan anak Bos keburu datang," seru Sopandi.


"Baiklah, Mang."


Kanaya dan Sopandi pun berpamitan kepada istrinya, sedangkan Sisi sudah berangkat menggunakan motornya.


Sesampainya di Pabrik, benar saja apa yang dikatakan Mamangnya kalau semua karyawan sudah siap-siap untuk menyambut kedatangan anak pemilik Pabrik yang menurut gosip sangat tampan itu.


Kanaya pun segera berlari menuju ruangan produksi dan tidak lama kemudian, sebuah mobil sedan hitam berhenti di halaman Pabrik. Semua karyawan berdiri dan menghentikan pekerjaannya untuk menyambut kedatangan anak Bos.


Seorang pria tampan, tinggi, dan putih turun dari dalam mobil membuat semua karyawan menganga melihat Bos barunya itu kecuali Kanaya yang terlihat biasa-biasa saja.


"Gila Pur, anak Pak Bos tampan sekali," bisik Susi.


"Kalau Bos kita seperti itu, kayanya aku ga bakalan sering absen deh, Sus," sahut Puri.

__ADS_1


Rama mulai berjalan dengan gagahnya, ia terlihat memperhatikan setiap sudut Pabrik itu dengan sekasama. Semuanya menundukan kepalanya, hingga akhirnya Rama melewati barisan yang disana ada Kanaya.


Rama berdiri tepat dihadapan Kanaya dan memperhatikan Kanaya yang saat ini sedang menundukan kepalanya. Hingga kemudian, Rama kembali berjalan meninggalkan bagian produksi itu.


"Astaga, wangi parfumnya sangat memabukan. Kapan ya aku punya pacar seperti dia?" seru Puri.


"Jangan mimpi, ayo semuanya kembali bekerja!" teriak Alin.


Hanya Kanaya yang sama sekali tidak tertarik dengan Bos baru itu, ini lagi-lagi akibat trauma masalalu yang membuat Kanaya benci dengan laki-laki. Bagi Kanaya, semua laki-laki itu sama hanya melihat wanita dari wajah dan penampilannya saja.


"Pak Sopandi, bagaimana kondisi Pabrik selama ini?" tanya Rama.


"Semuanya berjalan dengan baik Tuan, bahkan pemasukan setiap bulannya semakin meningkat."


"Bagus, Papa sering menyebut nama Pak Sopandi. Menurut Papa, Pak Sopandi adalah karyawan kepercayaan Papa dan sudah bekerja disini selama puluhan tahun jadi saya tidak khawatir karena saya yakin Pak Sopandi akan membantu saya juga."


"Saya selalu siap Tuan, kalau ada yang Tuan tidak mengerti mohon Tuan segera hubungi saya."


"Pasti, kalau begitu Pak Sopandi bisa melanjutkan pekerjaannya saya mau memeriksa dulu semua mengenai Pabrik ini."


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi."


Pak Sopandi pun meninggalkan ruangan Rama, lalu Rama mulai memeriksa satu persatu berkas yang sudah menumpuk diatas meja kerjanya.


Disaat Rama membuka berkas-berkas itu, tiba-tiba sekilas terbayang wajah Kanaya. Rama hanya tersenyum dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Setelah selesai mempelajari berkas-berkas mengenai Pabrik yang akan dipimpinnya, Rama pun meminta Pak Sopandi untuk menemaninya melihat-lihat setiap bagian di Pabrik itu.


"Karyawan kita semuanya rajin Tuan, mereka bekerja dengan bagus sehingga kualitas yang didapat pun sangat memuaskan."


Cukup lama Rama terdiam dan memperhatikan Kanaya membuat Sopandi pun ikut menghentikan langkahnya dan melihat kearah pandang Rama.


"Tuan, ada apa?" tanya Sopandi.


"Ah, tidak apa-apa mari kita lanjutkan lagi."


Waktu pun berjalan dengan cepat, jam makan siang pun tiba semua karyawan berlomba-lomba berlari menuju kantin sepertinya semuanya sudah sangat lapar.


Kanaya makan dengan tenangnya, seperti biasa Kanaya makan sendiri dia tidak mau ada teman yang menemaninya karena sendiri lebih nyaman daripada harus bersama orang-orang yang hanya menjilat saja.


Tiba-tiba semua karyawan tampak berisik dan gaduh, ternyata sang Bos baru masuk kantin membuat semua karyawan merasa senang apalagi karyawan wanita.


"Ya ampun Pak Rama tampan sekali, mau dong jadi selingkuhannya," seru Puri.


"Ga apa-apalah aku jadi pembantunya juga yang penting selalu dekat dan melihat wajah tampannya setiap saat," sambung Susi.


"Bisa ga ya punya suami seperti Pak Rama," seru Puri.


"Astaga, Pak Rama cowok idaman banget sudah tampan, tajir pula, mana ada wanita yang menolaknya."


Berbeda dengan Kanaya, ia justru fokus dengan makanannya ia sama sekali tidak terpengaruh dengan antusias para karyawan wanita yang memuja Bos barunya itu.


Bagi Kanaya, ia tidak tertarik dengan pria tampan. Semenjak dulu Jonathan selalu membullynya dengan kejam, membuat Kanaya membenci pria tampan. Menurutnya, semua pria sama saja hanya melihat wanita dari penampilannya saja bukan dari hatinya.

__ADS_1


"Pak Sopandi, saya ingin mencoba makanan di kantin ini," seru Rama.


"Baik Tuan."


Sopandi pun segera mengambilkan makanan untuk Bosnya itu, sedangkan Rama terlihat celingukan dan bibirnya sedikit terangkat saat melihat Kanaya yang sedang makan sendirian.


"Ini Tuan, apa Tuan mau makan di ruangan Tuan?" tanya Sopandi.


"Tidak, itu terlalu jauh saya makan disini saja."


Rama pun mulai melangkahkan kakinya dan Sopandi mengikutinya dengan membawa nampan berisi makanan untuk Bosnya itu. Semua karyawan menatap kagum, hingga akhirnya semuanya terkejut saat Rama duduk dimeja Kanaya.


"Maaf, boleh saya duduk disini?" seru Rama.


Kanaya mengangkat wajahnya dan betapa terkejutnya Kanaya saat melihat Rama sudah duduk dihadapannya. Kanaya terlihat gugup dan langsung bangkit dari duduknya.


"Ma---af, biar saya yang pindah tempat duduk."


Kanaya segera mengambil nampannya tapi Rama menahannya.


"Tunggu, kamu mau kemana?"


"Saya pindah tempat duduk Pak."


"Kenapa?"


Kanaya melihat kearah Mamangnya. "Bapak kan mau makan, takutnya saya mengganggu makan Bapak."


"Duduk dan habiskan makananmu, saya tidak merasa terganggu."


Kanaya kembali melihat kearah Mamangnya dan Sopandi menganggukkan kepalanya. Kanaya pun dengan terpaksa duduk kembali, Kanaya hanya merasa terkejut sekali karena pasalnya baru kali ini ada yang mau duduk satu meja dengannya dan itu adalah Bosnya.


Lagi-lagi tatapan tidak suka diperlihatkan oleh semua karyawan kepada Kanaya.


🍁


🍁


🍁


🍁


🍁


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2