Pesona Si Gadis Culun

Pesona Si Gadis Culun
Akhir Dari Kebahagiaan


__ADS_3

🍁


🍁


🍁


🍁


🍁


1 tahun kemudian....


Saat ini Kanaya sedang mengandung dan usia kandungan Kanaya saat ini menginjak usia sembilan bulan dan sebentar lagi akan melahirkan.


Setelah menikah, Jonathan dan Kanaya memutuskan untuk pindah ke kampung dan Jonathan pun menyetujuinya jadi untuk saat ini Jonathan mengurus perusahaannya yang ada di kampung halamannya itu, sedangkan yang berada di Jakarta diurus oleh Papanya Jonathan.


Gina dan Rendi pun sudah menikah dua bulan yang lalu, dan sekarang sedang manis-manisnya menjalani hidup sebagai sepasang suami istri. Rumah Kanaya yang ada di Jakarta dia biarkan kosong untuk Arka apabila nanti Arka sudah dewasa, tentu saja Kanaya membayar beberapa orang untuk mengurus rumah itu.


Sementara toko kuenya, untuk saat ini diurus oleh Gina.


"Assalamualaikum sayang!" seru Jonathan.


"Waalaikumsalam."


Jonathan menghampiri Kanaya yang saat ini sedang rebahan di kursi santai kamarnya, Jonathan mencium istrinya kemudian beralih mengelus dan mencium perut Kanaya yang sudah sangat membuncit itu.


"Hallo sayang, bagaimana kabar kesayangan Ayah di dalam perut Bunda, kamu baik-baik saja kan Nak, tidak nakal," seru Jonathan.


"Tidak Ayah," sahut Kanaya dengan menirukan suara anak kecil.


Kanaya tersenyum dan mengusap kepala suaminya itu yang saat ini masih betah menciumi perut Kanaya.


"Ah iya, Arka mana?" tanya Jonathan.


"Arka ikut sama Mama dan Papa, tadi mereka kesini dan mengajak Arka jalan-jalan."


"Oh..."


"Mas mau makan dulu apa mau mandi dulu?"


"Mandi dulu dong sayang."


Jonathan pun langsung menyambar handuk dan segera masuk ke dalam kamar mandi, sementara itu dengan susah payah Kanaya bangkit dari duduknya dan menyiapkan pakaian ganti untuk Jonathan.


Kanaya memang istri yang sangat baik, bahkan selama ini dia tidak pernah absen menyiapkan keperluan suaminya itu. Kanaya sangat bahagia karena saat ini, Kanaya bisa merasakan hamil ditemani oleh suami.


Beberapa saat kemudian, Jonathan pun keluar dari dalam kamar mandi.


"Mas, pakaiannya sudah aku siapkan."


"Ya ampun sayang, kamu ga perlu susah-susah aku kan bisa ambil sendiri."


"Tidak apa-apa, aku kan memang sudah biasa menyiapkan semua keperluan Mas."


Jonathan benar-benar sangat beruntung mempunyai istri Kanaya, selain perhatian, Kanaya pun selalu melayaninya apa pun yang menjadi kebutuhannya.


Kanaya berdiri di depan cermin dan melihat bentuk tubuhnya yang semakin hari semakin bengkak, kemudian setelah selesai berpakaian Jonathan menghampiri Kanaya dan memeluk Kanaya dari belakang.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Jonathan.


"Mas, tubuh aku makin hari makin bengkak aja apa Mas tidak malu mempunyai istri bengkak kaya gini?"


"Kenapa mesti malu, mau bengkak atau pun kurus tidak masalah."


"Tapi aku jadi jelek loh Mas," keluh Kanaya.

__ADS_1


"Siapa bilang kamu jelek, bagi aku kamu tetap cantik kok."


"Bohong."


Jonathan membalikan tubuh Kanaya dan menangkup wajah Kanaya.


"Dengarkan aku sayang, mau kamu berubah gendut kek, mau kamu berubah jelek kek, aku tidak peduli yang penting aku akan tetap mencintaimu sampai akhir hayatku."


"Beneran? Mas tidak akan selingkuh kan? cari wanita yang lebih cantik lagi."


"Astagfirullah sayang, kok kamu bicara seperti itu sih aku tidak ada pikiran kesana karena kamu adalah satu-satunya wanita yang aku cintai dan istri itu adalah kunci kesuksesan suami jadi sayangilah istrimu dan bahagiakan istrimu supaya sukses dunia akhirat."


Mata Kanaya berkaca-kaca, dan Kanaya pun memeluk suaminya itu dengan sangat erat.


"Aku takut Mas ninggalin aku sama Arka."


"Tidak akan, aku tidak akan meninggalkan kalian semua jadi mulai sekarang buang jauh-jauh pikiran seperti itu."


"Aww..."


"Kamu kenapa sayang?"


"Perut aku sakit Mas."


"Ya sudah, sekarang kita ke rumah sakit."


"Tapi kan Mas belum makan."


"Astaga sayang, kamu ini lagi kesakitan loh kok bisa-bisanya masih memikirkan aku."


Kanaya sudah tidak menyahut lagi, sakit di perutnya sudah tidak bisa ditahan-tahan lagi. Jonathan kemudian mengangkat tubuh Kanaya dan membawanya ke dalam mobil, Jonathan segera membawa Kanaya ke rumah sakit.


Di rumah sakit, Kanaya langsung diperiksa dan Kanaya dinyatakan akan melahirkan. Jonathan langsung menghubungi Mama dan Papanya untuk datang ke rumah sakit membawa serta Arka. Begitu pun Gina dan Bi Wati sudah Jonathan kabari walaupun Jonathan tahu, mereka tidak mungkin datang ke rumah sakit hari itu juga karena jarak yang jauh dan membutuhkan waktu.


"Oh iya Suster."


Jonathan pun langsung masuk ke dalam ruangan bersalin, disana terlihat Kanaya sedang meringis kesakitan.


"Sayang, apa yang sakit?" tanya Jonathan panik.


Kanaya menggelengkan kepalanya dengan senyumannya. "Jangan pergi, temani aku disini Mas."


"Iya sayang, aku akan terus disini menemani kamu."


Jonathan mengusap perut Kanaya dengan perlahan. "Nak, jangan buat Bunda kesakitan ya keluarlah Ayah sangat menantikan kehadiranmu," seru Jonathan.


Jonathan menciumi perut Kanaya, hingga tidak berselang lama Kanaya pun mengalami kontraksi. Dokter segera mengarahkan Kanaya, karena ini adalah anak kedua jadi Kanaya tahu apa yang harus dia lakukan.


Jonathan dengan setia menemani Kanaya, Kanaya terus saja memegang tangan Jonathan sembari terus berusaha mengeluarkan buah cintanya bersama Jonathan.


"Ayo sayang semangat, kamu pasti bisa," bisik Jonathan.


Akhirnya dengan dukungan dari suaminya itu, lahirlah seorang bayi perempuan mungil dan juga cantik.


Oek..oek..oek...


"Selama Pak, Bu, anak kalian perempuan."


Mata Jonathan terlihat berkaca-kaca diciumnya seluruh wajah Kanaya saking bahagianya.


"Terima kasih sayang."


Setelah semuanya berjalan dengan lancar, Kanaya pun dipindahkan ke ruangan rawat inap. Arka sangat bahagia, akhirnya adik perempuan yang dia tunggu-tunggu sudah lahir keduania ini.


Saat ini bayi mungil nan cantik itu sedang digendong oleh Mamanya Jonathan.

__ADS_1


"Ya ampun Jo, anak kamu cantik sekali mirip sama Bundanya."


"Tidak ah, dia mirip dengan Jo, Ma."


"Iyakah? tidak ada mirip-miripnya sama kamu. semuanya jiplakan Kanaya saja."


"Masa sih Ma? padahal kan Jo yang sudah membuatnya, kok bisa ga ada satu pun bentuk tubuhnya yang mirip sama Jo? itu sangat keterlaluan," keluh Jonathan.


"Ada kok yang mirip sama kamu, Jo," seru Papa Jonathan.


"Serius Pa, apanya?" tanya Jonathan dengan antusias.


"Ada jari-jari kakinya mirip sama kamu."


"Halah, kok jari kaki sih."


Kanaya tersenyum dan mengusap wajah Jonathan. "Memangnya ga boleh ya kalau mirip sama aku?"


Jonathan menoleh ke arah Kanaya, kemudian kembali memeluk Kanaya dan menciumi pipinya Kanaya.


"Tidak kok sayang, aku cuma bercanda anak kita mau mirip siapapun juga ga masalah."


"Bunda, Arka juga ingin dipeluk."


"Ya ampun, jagoan Bunda sampai terlupakan."


Kanaya pun merentangkan kedua tangannya, Arka langsung naik ke atas ranjang pasien dan memeluk Bundanya itu begitu pun dengan Jonathan yang ikut memeluk putera sambungnya itu.


"Ayah, dede bayinya namanya siapa?" tanya Arka.


"Joya Darsono."


Semuanya pun tersenyum bahagia, tidak ada kata yang bisa Jonathan ungkapkan selain kata syukur.


***


Kini kebahagiaan Kanaya dan Jonathan sudahlah lengkap, Kanaya tidak menyangka kalau akhirnya akan berjodoh dengan Jonathan pria yang paling dia benci di dunia ini.


Jodoh memang tidak ada yang tahu, sekuat apa pun kita menjauhinya kalau memang ditakdirkan menjadi jodoh kita orang itu akan tetap datang kepada kita. Begitu pun sebaliknya, sekuat apapun kita mempertahankan orang itu kalau memang ditakdirkan bukan jodoh kita, makan orang itu akan pergi.


-----END-----


🍁


🍁


🍁


🍁


🍁


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2