
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Dua jam kemudian, perlahan Kanaya mulai membuka matanya.
"Bi....."
"Alhamdulillah Aya kamu sudah sadar."
"Anak Aya mana, Bi?"
"Anak kamu ada di ruangan bayi, kamu jangan khawatir dia baik-baik saja," sahut Wati.
"Anak kamu tampan sekali Ay, aku gemes banget," seru Gina.
"Iya Teh, Sisi juga gemes lihat keponakan Sisi," sambung Sisi.
Ceklek...
Pintu ruangan rawat Kanaya pun terbuka, menampilkan sosok suster yang menggendong bayi tampan.
"Ibu Kanaya, anak Ibu harus diberi ASI dulu."
Suster pun menyerahkan bayi tampan itu kepada Kanaya. Kanaya menatap bayi yang baru saja dia lahirkan itu, airmatanya menetes melihat wajah sang anak yang sangat mirip dengan Rama suaminya.
"Ya Allah Nak, wajahmu mirip sekali dengan Ayahmu. Kalau Ayahmu masih ada pasti dia akan sangat bahagia," seru Kanaya.
Gina menghampiri Kanaya dan memeluknya. "Sudah jangan bersedih terus, nanti bayi kamu ikutan sedih. Kami semua ada untukmu Ay, jadi kamu jangan khawatir," seru Gina.
"Iya Aya, masih ada Bibi dan Mamang yang akan selalu ada untukmu anggap saja kami sebagai orang tuamu juga jadi kamu jangan sungkan-sungkan."
Airmata Kanaya semakin deras, Kanaya sangat terharu dan dia beruntung masih mempunyai keluarga dan sahabat yang selalu ada untuknya.
***
Semenjak Jonathan menginjakan kakinya di Australia, Jonathan langsung mengganti nomornya karena Jonathan tidak mau terus-terusan ingat kepada Kanaya tapi pada kenyataannya, walaupun sudah mengganti nomor ponsel tetap saja Jonathan tidak bisa melupakan sosok Kanaya.
Jonathan sangat bingung dengan perasaannya, entah kenapa Jonathan tidak bisa melupakan Kanaya. Mungkinkah Allah memberinya karma supaya tersiksa dengan perasaannya sendiri karena perbuatannya di masalalu sangat keterlaluan kepada Kanaya.
"Hai Jo!"
Jonathan mengusap wajahnya kasar dan menatap wanita cantik yang saat ini duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa Jo? kok kelihatan lagi banyak pikiran?" tanya Zira.
"Bukan urusanmu."
Zira menghembuskan napasnya, selama sembilan bulan ini Zira sudah mencoba mendekati Jonathan tapi Jonathan selalu saja bersikap dingin kepada Zira.
Semenjak pertemuan pertamanya sembilan bulan yang lalu, Zira memang jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Jonathan tapi sayangnya Jonathan selalu mengacuhkannya dan bersikap dingin kepada Zira.
"Jo, pulang dari kampus kita jalan-jalan yuk!" ajak Zira.
"Malas."
Jonathan pun bangkit dari duduknya dan hendak meninggalkan Zira.
"Kamu itu kenapa sih Jo, selalu saja mengacuhkanku dan bersikap dingin kepadaku?" seru Zira yang langsung menghentikan langkah Jonathan.
"Memangnya kamu mau aku seperti apa?" tanya Jonathan tanpa membalikan tubuhnya.
"Kamu sungguh pria yang tidak peka ya, selama ini aku perhatian sama kamu dan kamu tahu itu aku lakukan karena aku menyukaimu, Jo."
Jonathan membelalakan matanya. "Sejak kapan kamu menyukaiku?" tanya Jonathan masih dengan posisi membelakangi Zira.
Zira menghampiri Jonathan dan berdiri di hadapan Jonathan, Zira menatap Jonathan.
"Aku sudah menyukaimu semenjak pertemuan pertama kita."
Jonathan membalas tatapan wanita cantik di hadapannya itu. "Kamu jangan pernah menyukaiku karena sampai kapan pun aku tidak akan bisa membalas perasaanmu," seru Jonathan.
"Tidak, aku sama sekali tidak punya kekasih tapi aku tidak bisa memberikan hati aku untuk siapapun. Walaupun aku berhubungan dengan wanita lain, aku tidak akan bisa membahagiakannya karena hati aku sudah dimiliki oleh seseorang jadi maafkan aku."
Jonathan pun langsung pergi meninggalkan Zira, sedangkan Zira akhirnya tidak bisa menahan airmatanya lagi.
"Siapa wanita itu Jo? aku sudah terlanjur jatuh cinta kepadamu," batin Zira.
Zira adalah puteri dari seorang pengusaha kaya raya, Zira wanita yang cantik apalagi dengan wajah blasterannya membuat semua pria mengejar-ngejar Zira tapi tidak untuk Jonathan, untuk pertama kalinya Zira di tolak mentah-mentah oleh seorang pria.
***
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, Kanaya pun sudah bisa pulang dari rumah sakit.
Sesampainya di rumah, bayi tampan yang diberi nama Arkana Krismawan itu sudah tertidur lelap dalam gendongan Wati. Kemudian Wati pun langsung menidurkan Baby Arka ke kamarnya.
"Pa, bisakah Aya bicara dengan Papa?" seru Kanaya.
"Kamu mau bicara apa Kanaya? bicara saja jangan sungkan-sungkan."
"Pa, bolehkah Kanaya membuka sebuah toko kue? Dari dulu Kanaya sangat menginginkan punya toko kue karena Kanaya memang suka membuat kue," seru Kanaya.
"Buat apa Kanaya? Papa kan bisa kirim uang kepada kamu setiap bulannya, sekarang buat apa kamu bekerja? apa uang yang Papa kirim selama ini kurang?"
__ADS_1
"Bu--bukan begitu Pa, justru uang yang selama ini Papa kirim itu lebih daripada cukup tapi Kanaya cuma tidak ingin bergantung terus sama Papa, uang yang selama ini Papa kirim Kanaya tabung untuk masa depan Arka. Kanaya ingin membuka usaha selain Kanaya punya keahlian membuat kue, Kanaya juga ingin mempunyai kegiatan Pa. Rasanya bosen juga berdiam terus di rumah."
Tuan Krismawan tidak tega melihat Kanaya yang memohon seperti itu.
"Ya sudah, Papa izinkan kamu membuka usaha kue tapi Papa tidak mau kamu sampai kecapean apalagi menelantarkan Arka."
"Insyaallah Kanaya tidak akan menelantarkan Arka, Pa. Soalnya Kanaya akan membawa Arka kemana pun Kanaya pergi, Kanaya tidak akan pernah meninggalkan Arka."
"Ya sudah, kamu boleh membuka usaha tapi jangan sekarang tunggu Arka agak besar sedikit biar tubuhnya kuat untuk dibawa kemana-mana."
"Baik Pa, terima kasih ya Pa."
"Iya sama-sama, dan satu lagi masalah yoko kue nanti biar orang kepercayaan Papa yang akan mencarikannya."
"Iya Pa."
Kanaya benar-benar sangat bahagia karena sang mertua mengizinkan dia untuk membuka usaha sendiri. Sebenarnya alasan Kanaya ingin membuka usaha karena Kanaya tidak mau terus-terusan menyusahkan mertuanya.
Sebenarnya uang yang dikirim mertuanya pun setiap bulan lebih dari cukup tapi Kanaya tidak enak harus berleha-leha di rumah sementara mertuanya yang sudah tua bekerja keras. Biarlah uang itu dia tabung untuk masa depan Arka anak semata wayangnya.
Apalagi saat ini Kanaya menjadi single mom yang harus bekerja keras untuk kebahagiaan anaknya.
Malam pun tiba....
Kanaya menatap wajah anaknya dengan seksama, dan benar saja kata orang-orang kalau Arka mirip sekali dengan Almarhum Ayahnya.
"Nak, jadilah anak yang sholeh dan pintar maaf kamu harus lahir ke dunia ini tanpa sosok Ayahmu. Tapi kamu jangan khawatir, Bunda akan memberikan kasih sayang yang besar untukmu karena untuk saat ini hanya kamulah harta yang paling berharga untuk Bunda dan hanya kamulah penyemangat Bunda sehingga Bunda bisa menjalani kehidupan ini dengan kuat," gumam Kanaya.
Kanaya menciumi seluruh wajah Arka, kemudian Kanaya pun ikut terlelap di samping Arka.
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU