Pesona Si Gadis Culun

Pesona Si Gadis Culun
Kecurigaan Zira


__ADS_3

🍁


🍁


🍁


🍁


🍁


Gina dan Arka pun sampai di toko...


"Bundaaaaaa....."


Kanaya yang sedang sibuk melayani pelanggan merasa terkejut dengan teriakan puteranya itu.


"Hallo sayang, kamu main dulu sama Ateu Gina ya Bunda lagi sibuk."


"Ay, gantian biar aku yang jaga toko kamu istirahat sama Arka."


"Tapi----"


"Sudah tidak ada tapi-tapian, sudah sana Arka katanya mau es krim."


"Bunda, ayo kita beli es krim," rengek Arka.


"Ya sudah, Gin aku nitip toko ya."


"Siap."


"Ayo sayang kita beli es krim!" ajak Kanaya.


Kanaya pun membawa Arka jalan-jalan terlebih dahulu. "Kita beli es krim disana saja ya?" seru Kanaya.


"Iya Bunda."


Kanaya pun mengajak Arka untuk bermain disebuah taman yang tidak jauh dari toko kue milik Kanaya.


"Arka duduk dulu disini ya, Bunda mau beli es krimnya dulu."


"Siap Bunda."


"Pokoknya jangan kemana-mana, duduk disini."


Arka pun mengacungkan jempolnya kepada Kanaya, Kanaya pun segera membeli es krim yang berada di seberang jalan.


Sementara itu, saat ini Jonathan dan Zira sedang berada dalam perjalanan. Zira terus saja merengek meminta Jonathan untuk menemaninya jalan-jalan.


Jonathan memang selalu saja teringat akan Kanaya, jadi saat ini Jonathan sengaja leway toko Kanaya berharap bisa melihat Kanaya walaupun cuma sebentar.


"Sayang, kok jalannya lewat sini sih? kan jadi muter-muter malah semakin jauh, oh aku tahu biar kamu bisa lama-lama sama aku kan?" seru Zira dengan percaya dirinya.


Jonathan memutar bola matanya jengah, sebenarnya saat ini Jonathan sedang mencari waktu yang tepat untuk bicara kepada Zira. Jonathan tidak bisa melanjutkan lagi hubungannya dengan Zira karena hati Jonathan hanya untuk Kanaya.


"Sayang, kok aku pengen es krim itu sih?" tunjuk Zira.


Jonathan menoleh, tapi sayang Jonathan tidak melihat Kanaya karena posisi Kanaya terhalang oleh salah satu Ibu-ibu.


"Nantilah, beli di mini market saja," sahut Jonathan.


"Ga mau, mini market dari sini lumayan jauh aku mau makan es krimnya sekarang. Ayolah Jo, beliin aku es krim itu," rengek Zira.


Akhirnya dengan terpaksa Jonathan pun turun dari dalam mobilnya, Jonathan hendak melangkah tapi dari kejauhan Jonathan meliht Kanaya yang sedang menyebrang.


"Kanaya," batinnya.


Kanaya pun dengan senyumannya membawa es krim untuk Arka, disaat Kanaya akan menyebrang Kanaya terlihat tengok kiri kanan setelah dirasa aman Kanaya pun mulai menyebrang.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba sebuah motor dengan kecepatan tinggi melaju, motor itu merupakan geng motor yang berusaha lari dari kejaran Polisi. Seketika Kanaya membelalakan matanya begitu pun dengan Jonathan.


"Kanayaaaaa....awaaaasss...."


Jonathan segera berlari ke arah Kanaya, sedangkan Zira hanya bisa melihat Jonathan.


"Aaaaaa......"


Bruuuukkk....


Jonathan tepat waktu, Jonathan menarik tubuh Kanaya dan terjatuh ke pinggir jalan dalam pelukan Jonathan. Kanaya masih memejamkan matanya, napasnya terlihat memburu saking kagetnya.


"Bundaaaaa...."


Arka berlari menghampiri Kanaya dan Kanaya pun langsung membuka matanya, ternyata saat ini Kanaya sudah berada dalam pelukan Jonathan.


"Kak Jo."


"Kamu ga apa-apa kan Nay?"


"Tidak, terima kasih Kak."


"Ayaaaahhh..."


"Hallo anak tampan."


Kanaya dan Jonathan pun segera berdiri, Jonathan menggendong Arka dan menciuminya. Sementara itu, Zira yang awalnya ingin menghampiri Jonathan karena merasa khawatir harus menghentikan langkahnya saat mendengar Arka memanggil Jonathan Ayah.


"Ayah?" batin Zira.


Jonathan melihat ke arah lutut Kanaya yang terlihat berdarah. "Ya ampun Nay, lutut kamu berdarah."


Jonathan menurunkan Arka dan kemudian berjongkok di hadapan Kanaya berniat ingin membersihkan luka Kanaya dengan sapu tangannya.


"Sudah Kak, aku ga apa-apa kok," tolak Kanaya yang merasa tidak enak.


Kanaya hanya bisa diam, dia tidak bisa menolak lagi. Kanaya pun mengangkat wajahnya dan menatap ke arah depan, betapa terkejutnya Kanaya saat melihat Zira yang sedang berdiri mematung tidak jauh dari posisi mereka berada.


"Zira...." gumam Kanaya.


Jonathan menghentikan pergerakannya kemudian menoleh ke arah belakang, sungguh Jonathan lupa kalau saat ini dia sedang bersama Zira.


Zira pun segera melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kanaya dan Jonathan, Jonathan pun berdiri.


"Kanaya, kamu tidak apa-apa?" tanya Zira dengan senyum dipaksakan.


"Ah, iya aku tidak apa-apa kok."


"Kamu ga terluka kan sayang?" tanya Zira dengan memeriksa tubuh Jonathan.


"Aku ga apa-apa."


"Kak Jo sekali lagi terima kasih ya, kalau begitu aku pamit dulu. Ayo sayang!" ajak Kanaya dengan menggandeng tangan Arka.


"Ayah, nanti main lagi ke rumah Arka ya," celetuk Arka.


"Iya sayang."


Kanaya melihat ke arah Zira, wajah Zira terlihat memerah mungkin Zira marah. Kanaya pun segera membawa Arka pergi dari tempat itu.


Zira pun segera masuk ke dalam mobil Jonathan tanpa bicara sepatah kata pun dan Jonathan segera menyusulnya. Perlahan Jonathan melajukan mobilnya.


"Apa anak itu anaknya Kanaya?" tanya Zira dingin.


"Iya."


"Kenapa anak itu memanggilmu dengan sebutan Ayah?"

__ADS_1


"Arka sudah tidak punya Ayah, Ayahnya sudah meninggal."


"Iya, tapi kenapa mesti panggil kamu Ayah? dan anak itu bilang menyuruh kamu main lagi ke rumahnya? itu berarti kamu sering dong ke rumah Kanaya?" tanya Zira dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Tidak, aku baru satu kali main ke rumahnya."


Zira pun memutuskan untuk diam dan tidak banyak bertanya lagi, hatinya begitu sangat sesak melihat dan mendengar semuanya.


"Sepertinya Jo dan Kanaya ada hubungan, aku harus mencari tahunya," batin Zira.


Jonathan mengantarkan Zira pulang ke rumahnya dan setelah mengantarkan Zira pulang, Jonathan langsung pergi meninggalkan Zira tanpa sepatah katapun.


Zira hanya bisa menghembuskan napasnya kasar, sampai saat ini Jonathan memang selalu bersikap dingin kepada Zira walaupun status mereka sudah pacaran tidak membuat Jonathan berubah.


Zira tahu kalau dari dulu Jonathan menutup hatinya, bahkan Zira juga tahu mungkin Jonathan menerima cintanya karena hanya kasihan saja tapi Zira tidak memperdulikannya yang penting saat ini Jonathan sudah menjadi miliknya.


Zira menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. "Apa wanita pemilik hati Jo itu adalah Kanaya?" gumam Zira.


Di tengah-tengah lamunannya, pintu kamar Zira pun terbuka dan menampakan wajah sang Kakak.


"Lah, adik Kakak kenapa kok cemberut gitu?" tanya Daniel.


"Ga apa-apa kok Kak."


Daniel tidak sengaja melihat ponsel Zira yang menyala dan disana terlihat ada foto seorang pria yang menurut Daniel merasa pernah bertemu.


Daniel pun mengambil ponsel Zira dan membuat Zira kesel.


"Apaan sih Kak."


"Siapa pria ini?" tanya Daniel.


"Itu pacar Ziralah, bagaimana tampan kan ga kalah tampan sama Kakak," sahut Zira.


"Apa?"


Tanpa sadar Daniel menggenggam ponsel Zira dengan sangat kuat membuat layar ponsel Zira retak.


"Kakak, ya ampun ponsel Zira kenapa sampai retak begini?" seru Zira.


Tanpa bicara sepatah kata pun Daniel akhirnya meninggalkan kamar Zira membuat Zira kesal karena ponselnya sampai rusak.


"Kenapa sih dia? habis rusakin ponselku bukannya minta maaf dan ganti malah pergi begitu saja, dasar punya Kakak menyebalkan," gerutu Zira.


Daniel segera masuk ke dalam mobilnya. "Kurang ajar, ternyata pria itu pacarnya Zira terus kenapa kemarin dia bilang calon suaminya Kanaya, awas kamu kalau sampai menyakiti hati adiku tidak akan aku biarkan kamu lolos dariku," gumam Daniel dengan mengepalkan tangannya.


🍁


🍁


🍁


🍁


🍁


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2