
π
π
π
π
π
Keesokan harinya....
Seperti biasa Kanaya selalu bangun pagi-pagi dan membantu Bi Sumi membuat sarapan.
"Bu, apa Ibu tidak berniat untuk menikah lagi?" tanya Bi Sumi.
"Aku sama sekali ga ada pikiran kesana Bi, aku cuma fokus saja membesarkan Arka."
"Tapi Den Arka butuh sosok seorang Ayah Bu, semakin besar Ibu pasti tidak akan bisa membesarkan Den Arka seorang diri butuh pendamping untuk menemani Ibu membesarkan Den Arka."
Seketika Kanaya menghentikan kegiatannya, membuat Bi Sumi merasa tidak enak.
"Maafkan Bibi Bu, Bibi tidak bermaksud untuk membuat Ibu sedih."
"Tidak apa-apa Bi, memang benar apa yang Bibi katakan aku butuh pendamping untuk membesarkan Arka tapi untuk saat ini aku masih belum kepikiran ke arah sana, tidak tahu kalau ke depannya."
"Semoga saja ke depannya, Ibu bisa bertemu dan menemukan sosok seorang pria yang seperti Pak Rama."
"Amin Bi, terima kasih atas do'anya."
"Bundaaaa....."
Teriakan Arka sudah terdengar, Kanaya menghentikan kegiatan memasaknya dan menghampiri putera tampannya itu.
"Ya ampun, putera Bunda sudah tampan."
"Iya dong, siapa dulu yang dandani," seru Gina.
"Sudah pasti Ateu Gina dong," sahut Arka.
Gina dan Kanaya pun tertawa. "Oh iya, hari ini Arka lombanya sama Om Rendi ya," seru Gina.
"Iya Ateu."
"Gin, maaf ya aku selalu saja menyusahkan kamu dan Rendi."
"Kamu ngomong apa sih Ay, kamu tidak pernah merepotkan kami justru sebaliknya aku yang harusnya banyak-banyak terima kasih sama kamu, kamu sudah banyak membantu aku," sahut Gina.
"Aku tidak tahu bagaimana nasib aku sama Arka kalau tidak ada kamu, karena aku tidak mungkin sanggup bisa menghadapi ini semua kalau sendirian."
Gina memeluk Kanaya. "Sudah jangan sedih, pagi-pagi sudah sedih kamu harus semangat dan kuat demi Arka."
"Pasti Gin."
Mereka bertiga pun menyantap sarapan bersama-sama, Kanaya langsung pergi ke toko kue dengan diantar oleh Pak Katmo sedangkan Gina dan Arka pergi ke sekolah bersama Rendi.
"Terima kasih Pak."
"Sama-sama Bu."
Kanaya pun mulai melangkahkan kakinya dan mengeluarkan kunci tokonya, Kanaya mulai membuka tokonya.
"Selamat pagi!"
Kanaya terdiam, dan membalikan tubuhnya. "Anda?"
"Aku mau beli kue," seru pria itu dengan senyumannya.
"Ya ampun Mas, aku kan sudah bilang tokonya buka pukul 08.00 pagi dan ini masih kurang setengah jam lagi."
"Tidak apa-apa, aku bisa menunggu."
__ADS_1
Kanaya menghela napasnya, pagi ini suasana hatinya sedang bagus jadi tidak mau merusaknya hanya dengan beradu mulut dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal.
Kanaya membuka tokonya, dan pria itu pun ikut masuk. Kanaya tidak memperdulikannya, Kanaya sibuk membereskan tokonya dan pria itu pun duduk di kursi yang ada di dalam toko, pandangannya tidak lepas dari Kanaya.
"Cantik sekali tapi sayang sudah punya suami," batin pria itu.
Tidak lama kemudian dua orang karyawan Kanaya pun datang. "Selamat pagi, Bu!"
"Pagi."
Setengah jam pun berlalu, Kanaya sudah selesai beres-beres.
"Mas, mau pesan cake apa?" tanya Kanaya.
"Cheese cake saja satu."
Kanaya pun mengambil sebuah cheese cake dan memasukannya ke sebuah box kue yang terdapat nama toko kuenya.
"Ini Mas, harga seratus lima puluh lima ribu."
Pria itu pun menyerahkan uang cash dua lembar seratus ribuan kepada Kanaya tapi disaat Kanaya ingin mengambil uangnya, pria itu menahannya.
"Boleh kenalan? nama aku Daniel."
Kanaya melihat uluran tangan Daniel, Kanaya pun membalas uluran tangan Daniel. "Kanaya."
"Nama yang cantik, seperti orangnya."
Kanaya langsung melepaskan tangannya dan memberikan kembalian uangnya.
"Ini Mas kembaliannya, semoga suka dengan cakenya."
"Pasti suka, dan aku akan menjadi pelanggan setia toko ini," sahut Daniel.
Kanaya hanya tersenyum yang dipaksakan, akhirnya Daniel pun meninggalkan toko kue milik Kanaya.
***
Sementara itu, di sebuah Bandara Jonathan dan Zira pun sampai. Zira merangkul lengan Jonathan, Zira selalu saja nempel kepada Jonathan dan itu justru membuat Jonathan merasa tidak nyaman.
"Mama...Papa...!" teriak Zira.
Zira langsung berlari memeluk Mama dan Papanya, begitu pun dengan Jonathan.
"Kalian terlihat serasi sekali, Mama sampai bahagia melihatnya," seru Mama Zira.
"Iya dong Ma, Zira sama Jo memang serasi."
"Bagaimana kalau kita makan bersama dulu untuk menyambut kedatangan putera-puteri kita," seru Papa Jonathan.
"Ah maaf Pa, Jo capek sekali bagaimana kalau makan-makannya lain kali saja, Jo pengen cepat-cepat sampai rumah pengen istirahat," sahut Jonathan.
"Benar juga, pasti putera-puteri kita sangat kelelahan jadi makan-makannya lain kali saja," sambung Papa Zira.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita langsung pulang saja."
Kedua keluarga itu pun berpisah dan langsung pulang ke rumah masing-masing. Selama dalam perjalanan, Jonathan hanya bisa diam tidak berbicara sedikit pun.
"Kanaya, aku akan bertemu lagi denganmu apa aku akan kuat menahan rasa itu? jika aku bertemu lagi denganmu," batinnya.
Sesampainya di rumah, Jonathan langsung menuju kamarnya. Direbahkannya tubuhnya di atas tempat tidur, pandangan Jonathan lurus ke atas langit-langit kamarnya.
"Ya Allah, kenapa nasib cintaku sangat menyedihkan sekali. Maafkan aku Zira, aku sama sekali tidak mencintaimu aku hanya merasa kasihan padamu, maafkan aku Zira entah kenapa hatiku sudah terkunci dan kuncinya hanya ada pada Kanaya," gumam Jonathan.
Malam pun tiba...
Jonathan saat ini sedang makan malam bersama dengan kedua orang tuanya.
"Kamu sudah berapa lama pacaran dengan Zira, Jo?" tanya Mamanya.
"Baru tiga bulan, Ma."
__ADS_1
"Pinter sekali kamu memilih calon istri, Zira itu anak yang cantik, pintar, dan juga dari keluarga yang terhormat."
"Iya, dan yang paling penting Zira adalah puteri dari sahabat Papa. Papa berharap kamu dan Zira bisa menikah secepatnya karena Papa sudah ingin menimang cucu," sambung Papa Jonathan.
"Itu masih lama Pa, Jo belum kepikiran untuk menikah."
"Kenapa? kamu itu sudah dewasa Jo, bahkan teman-teman kamu sudah ada yang punya tiga anak, sedangkan kamu selama ini tidak pernah memperkenalkan wanita kepada kami hanya Zira yang Mama tahu."
Jonathan tidak menjawab lagi ocehan kedua orang tuanya, dia fokus melahap makanannya.
"Semoga nasib kamu tidak seperti Rama, dia hanya merasakan kebahagiaan sebentar," celetuk Papa Jonathan.
"Iya, kasihan banget ya Rama nasibnya begitu tragis," sambung Mama Jonathan.
Jonathan langsung menghentikan makannya dan menatap Papa dan Mamanya secara bergantian.
"Rama? memangnya kenapa dengan Rama?" tanya Jonathan.
"Astaga, Papa lupa memberitahu kamu Jo."
"Memberi tahu apa?"
"Rama sudah meninggal, dia mengalami kecelakaan."
Praaaaannnngggg...
Sendok yang dipegang oleh Jonathan terjatuh ke lantai, lidahnya begitu kelu bahkan makanannya pun tercekat di tenggorokan sulit untuk menelannya.
"A--apa? me--ninggal?"
Tanpa basa-basi Jonathan langsung berlari ke kamarnya mengambil jaket dan juga kunci mobilnya.
"Kamu mau kemana Jo?" tanya Mamanya.
"Jo mau ke rumah Om Krismawan."
"Besok sajalah Jo, ini sudah malam."
"Tidak bisa, Jo pergi dulu."
Jonathan segera berlari keluar dan dengan cepat masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukannya menuju rumah Rama.
Selama dalam perjalanan perasaan Jonathan sangat tidak menentu, pikirannya penuh dengan sosok Kanaya.
"Bagaimana keadaan Kanaya sekarang?" gumamnya.
Jonathan kembali menginjak gasnya, dia ingin cepat-cepat sampai di rumah Rama. Jonathan ingin bertemu dengan Kanaya, bagaimana keadaan Kanaya apa dia baik-baik saja atau justru malah sebaliknya.
π
π
π
π
π
Jangan lupa guys, mampir ya ke karya terbaruku tap favorit dulu bacanya boleh belakanganππ
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU