
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Jonathan terus saja memperhatikan Kanaya sampai Kanaya keluar dari ruangan Rama.
"Woi bengong aja."
"Eh..."
"Kenapa? Kanaya cantik ya?" seru Rama.
"Iya...Ram, boleh aku tanya sesuatu?"
"Yaelah mau nanya apa?"
"Kanaya itu asli orang mana?"
"Kalau menurut data yang ada di pabrik, Kanaya asli orang kampung cempaka dan dia disini tinggal bersama Om dan Tantenya."
Deg....
"Jadi benar dia Kanaya, orang yang sudah aku bully dan aku hina dengan kejamnya bahkan aku sudah memfitnah Kanaya sehingga dia dan keluarganya diusir dari kampung," batin Jonathan.
Rama menepuk pundak Jonathan. "Kenapa lagi? malah melamun? oh iya, bukannya kampung cempaka itu tempat tinggalmu? memangnya kamu ga kenal sama Kanaya?"
Jonathan terkejut, apa yang harus dia jawab jangan sampai Rama tahu kalau dirinya adalah orang yang sangat Kanaya benci.
"Ah..aku sama sekali ga mengenalnya, mungkin kita memang satu kampung tapi kan kampung cempaka itu luas jadi aku belum pernah melihatnya sama sekali," dusta Jonathan.
"Syukurlah, kalau kamu sampai duluan bertemu dengan Kanaya sudah dipastikan kamu bakalan mendapatkan Kanaya tapi sekarang kenyataannya aku yang duluan bertemu dengan Kanaya jadi kamu jangan coba-coba mendekatinya," seru Rama dengan senyumannya.
"Apaan sih, nyantai aja kali."
Kedua pria tampan itu pun melanjutkan perbincangannya, hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 14.00 siang dan Jonathan pun memutuskan untuk pamit.
"Jo, kamu mau pulang ke kampung?" tanya Rama.
"Enggaklah, aku mau liburan dulu disini lagipula aku masih ada urusan disini."
"Oh begitu, kamu mau tinggal dimana? tinggal di rumahku saja daripada harus nyewa hotel, rumahku besar masih cukup menampung lima puluh orang."
"Terima kasih Ram, tapi aku mau tinggal di rumah Pamanku. Kebetulan Pamanku tinggal di sini jadi untuk sementara waktu aku mau tinggal disana saja."
"Oh, ya sudah aku antar kamu sampai ke depan."
Rama pun mengantarkan Jonathan, disaat mereka melewati ruangan produksi Jonathan tidak sengaja melihat Kanaya yang sedang memarahi salah satu karyawan. Lagi-lagi Jonathan dibuat terkejut dengan perubahan Kanaya, Kanaya yang dia kenal dulu begitu penurut, lemah, dan baik hati tapi berbeda dengan Kanaya yang saat ini dia temui.
Sesampainya diluar pabrik, Jonathan pun masuk kedalam mobilnya.
"Ram, karyawan pabrik ini biasanya pulang pukul berapa?" tanya Jonathan.
"Pukul 16.00 sore kalau lagi banyak kerjaan biasanya lembur sampai pukul 17.00, kenapa memangnya?"
"Ah tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu saja. Ya sudah, aku pulang dulu ya."
"Oke...hati-hati."
"Siap."
Jonathan pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan pabrik Rama menuju rumah Pamannya. Selama dalam perjalanan, Jonathan tidak henti-hentinya memikirkan Kanaya.
"Pantas saja aku cari-cari ke rumahnya tidak ada yang tahu, ternyata Kanaya pindah kesini. Tapi sumpah, aku sampai pangling Kanaya sudah berubah menjadi cantik seperti itu cantik banget malah," gumam Jonathan.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Jonathan pun sampai di rumah Pamannya. Paman dan Tantenya sangat bahagia dengan kedatangan Jonathan, dan Jonathan pun memutuskan untuk istirahat karena jujur saja dia sudah sangat lelah.
"Masih ada waktu, nanti aku akan kembali ke pabrik Rama. Aku harus bertemu dengan Kanaya dan aku ingin meminta maaf kepadanya," gumam Jonathan.
__ADS_1
Jonathan pun merebahkan tubunhnya dan tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Jonathan pun terlelap menuju alam mimpinya.
Sementara itu di pabrik, Rama menghampiri Kanaya yang saat ini sedang fokus dengan komputernya.
"Hai, boleh aku duduk."
"Astaga Pak Rama."
"Kamu sedang sibuk ya?"
"Tidak juga Pak, hanya ada sedikit pekerjaan yang harus saya selesaikan. Ada apa Pak? apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Kanaya.
"Kanaya, aku mau menagih janji kamu."
"Janji apa ya, Pak?"
"Kanaya, aku sudah beberapa kali mengajak kamu untuk keluar makan malam bersama tapi kamu selalu menolak dan malam ini aku harap kamu mau menerima ajakanku."
Kanaya tampak berpikir, Kanaya kembali ingin menolak ajakan Rama tapi setelah dipikir-pikir sepertinya Kanaya harus menerima ajakan Rama bagaimana pun Kanaya harus tetap dekat dengan Rama supaya jabatannya tidak tergeser dan aksi balas dendamnya bisa berjalan dengan lancar.
"Baiklah Pak, saya mau makan malam dengan Bapak."
"Yes, oke nanti malam aku jemput kamu pukul 19.00 malam."
"Iya Pak."
"Ya sudah, kalau begitu kamu lanjutkan lagi pekerjaannya aku mau kembali ke ruanganku."
Kanaya mengangukan kepalanya, Rama begitu sangat bahagia membuat Sopandi merasa heran dengan tingkah Bosnya itu.
"Ada apa Tuan? sepertinya saat ini Tuan sedang bahagia?"
"Iya Pak, saya sedang bahagia. Oh iya Pak, nanti malam saya mau izin membawa keponakan Bapak makan malam diluar."
"Hah...maksud Tuan, Kanaya?"
"Iya, nanti malam saya akan mengajak Kanaya pergi tidak apa-apa kan?"
"Baiklah, terima kasih Pak Sopandi."
"Sama-sama Tuan."
Sopandi pun pergi dengan senyum yang tersungging di wajahnya, dia sudah mengira kalau Bosnya itu sangat tertarik kepada Kanaya dan dia sangat bahagia karena Sopandi tahu kalau Bosnya itu orang baik.
Waktu pun berjalan dengan cepat, waktunya semua karyawan pulang. Seperti biasa Kanaya akan berjalan kaki menuju halte bus yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pabrik.
Sementara itu, dari kejauhan terlihat sebuah mobil. Ya, Jonathan kembali ke pabrik bukan untuk menemui Rama tapi Jonathan ingin bertemu dengan Kanaya dan ingin meminta maaf kepada Kanaya atas semua perbuatan kejamnya di masa lalu.
Itu pun kalau Kanaya mau memaafkannya karena menurut feelingnya, Kanaya tidak akan dengan mudah memaafkannya tapi Jonathan sudah bertekad akan meminta maaf kepada Kanaya.
Jonathan mulai melajukan mobilnya dengan perlahan, mengikuti langkah Kanaya dari belakang. Kanaya terlihat sangat bahagia, senyuman selalu terukir di wajah cantiknya itu. Kanaya duduk di halte untuk menunggu kedatangan bus.
Lagi-lagi Kanaya mengembangkan senyumannya, sembari menyanyi-nyanyi kecil mengikuti alunan musik yang dia dengarkan dari ear phone yang dia sematkan di telinganya.
"Setelah sekian lama tidak bertemu, sekarang kamu sudah sangat berubah bahkan aku tidak menyangka kamu akan menjadi wanita secantik itu," gumam Jonathan.
Tidak lama kemudian, bus pun datang dan Kanaya segera masuk ke dalam bus. Sedangkan Jonathan masih terus mengikuti bus yang ditumpangi Kanaya, Jo ingin tahu dimana Kanaya tinggal.
Setelah beberapa saat mengikuti Kanaya, Jonathan mengerutkan keningnya.
"Lah, ini kan komplek perumahan Paman Sholeh," gumam Jonathan.
Ternyata rumah Bibi Kanaya itu saling berhadapan dengan rumah Paman Jonathan.
"Astaga, ternyata Kanaya tinggal disini?"
Setelah Kanaya masuk ke dalam rumah, Jonathan pun langsung memarkirkan mobilnya dan dia pun masuk ke dalam rumah Pamannya. Jonathan akan bicara kepada Kanaya kalau waktunya sudah pas.
***
Malam pun tiba...
Kanaya sudah tampil sangat cantik menggunakan dress yang Bibinya belikan, rambut Kanaya dibiarkan tergerai dan dibuat curly dibawahnya.
__ADS_1
"Bi, Mang, Kanaya pergi dulu ya."
"Ya ampun, kamu cantik sekali Aya. Memangnya kamu mau kemana?" tanya Wati.
"Bos aku ngajak Aya makan malam," sahut Sopandi.
"Apa? Bos Papa yang tampan itu mengajak Teh Aya pergi?" seru Sisi.
"Iya Sisi, memangnya kenapa?" tanya Sopandi.
"Tidak apa-apa," ketus Sisi.
"Ya sudah, Aya pergi dulu soalnya Pak Rama sudah menunggu diluar."
"Iya, kamu hati-hati ya Aya jangan pulang terlalu malam."
"Iya Bi."
Kanaya pun berpamitan kepada Mamang dan Bibinya dan tidak lupa mencium punggung tangan keduanya sebelum Kanaya berangkat.
Jonathan yang saat ini sedang duduk di balkon kamarnya, langsung masuk kedalam kamar karena melihat mobil sahabatnya datang. Jonathan mengintip dari jendela kamar, awalnya Jonathan pikir kalau Rama akan menemuinya tapi ternyata dugaannya salah, Rama menunggu di depan rumah Kanaya.
Tidak lama kemudian Kanaya keluar membuat Rama menatap Kanaya dengan tatapan kagumnya, kagum akan kecantikan Kanaya. Begitu juga dengan Jonathan, dia tidak menyangkan kalau sudah dandan seperti itu kecantikan Kanaya bertambah menjadi beberapa kali lipat.
"Ayo Pak, kita berangkat sekarang."
"Ah iya."
Rama pun segera membukakan pintu mobilnya untuk Kanaya, Rama mulai melajukan mobilnya menuju sebuah restoran mewah. Dilain sisi, Jonathan terlihat cemberut entah kenapa kok hatinya merasa tidak suka Rama jalan dengan Kanaya padahal Kanaya bukan siapa-siapanya.
Suasana restoran itu sangat romantis, apalagi ditambah dengan alunan musik klasik yang menambah kesan keromantisan suasana malam itu.
Rama sudah memesan berbagai macam makanan dan mereka berdua makan dengan heningnya tanpa bersuara sedikit pun. Setelah beberapa saat, akhirnya Rama dan Kanaya pun selesai menyantap makanannya.
"Nay, sebenarnya ada sesuatu yang mau aku sampaikan kepada kamu."
Kanaya sudah tahu apa yang akan Rama bicarakan.
"Nay, sebenarnya aku-----"
"Ah, maaf Pak sepertinya sudah malam aku harus segera pulang soalnya Bibi dan Mamang aku mewanti-wanti supaya jangan pulang terlalu malam," potong Kanaya.
"Tapi Nay, aku-----"
"Maaf Pak, bisakah Bapak antarkan saya pulang sekarang juga."
Rama menghembuskan napasnya secara kasar. "Ya sudah, kita pulang sekarang."
Akhirnya dengan rasa kecewa, Rama terpaksa mengikuti apa keinginan Kanaya walaupun dalam hatinya sedikit ada rasa yang mengganjal karena belum sempat mengatakan sesuatu kepada Kanaya tapi Rama juga tidak mau membuat Kanaya kesal dan akhirnya memilih menuruti apa keinginan Kanaya.
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1