Pesona Si Gadis Culun

Pesona Si Gadis Culun
Kecelakaan


__ADS_3

🍁


🍁


🍁


🍁


🍁


Pagi ini Jo sudah berada di Bandara, sebentar lagi Jo akan meninggalkan Indonesia dan entah kapan bisa kembali lagi.


Jonathan melihat layar ponselnya yang terpampang wajah wanita cantik yang sedang tersenyum, ya foto itu adalah Kanaya dulu Jonathan secara diam-diam mengambil foto Kanaya yang sedang bercanda dengan Gina.


"Selamat tinggal Kanaya, semoga aku bisa move on dan tidak memikirkan kamu lagi dan semoga kamu selalu bahagia dengan Rama," batin Jonathan.


Jonathan pun bangkit dari duduknya setelah mendengar pengumuman kalau keberangkatan rute Indonesia-Australia akan segera berangkat. Jonathan melangkahkan kakinya dengan mantap dan penuh keyakinan.


Sementara itu, Rama baru saja selesai mandi dan Kanaya hanya diam saja di tempat tidur setelah berulang kali Kanaya harus kembali muntah-muntah.


"Sayang hari ini Ayah sama Ibu kamu mau pulang ke kampung aku mau nganterin mereka ya," seru Rama.


"Aku ikut."


"Jangan, kamu kan lagi hamil sayang mana badan kamu lemas banget kaya gitu aku ga bakalan lama kok, habis nganterin Ayah dan Ibu aku langsung pulang lagi kesini."


"Tapi aku ingin bertemu Ayah dan Ibu sebelum mereka pulang."


"Ya sudah, kamu ikut ke rumah Bi Wati saja ya jangan ikut ke kampung."


"Iya deh."


Tadi malam Rama langsung memberitahukan kabar bahagia ini kepada semua orang membuat semuanya bahagia.


Sesampainya di rumah Wati, semuanya menyambut kedatangan Kanaya dan Rama dengan suka cita apalagi Ayah dan Ibu Kanaya yang tak henti-hentinya mengucapkan kata syukur atas apa yang sudah Allah berikan kepada Kanaya.


"Ayah, Ibu, Aya ikut ya nganterin kalian pulang," rengek Kanaya.


"Tidak Nak, kamu itu sedang hamil muda jangan dulu bepergian," sahut Ibu Ajeng.


"Iya Nak, kamu istirahat saja ya biar kamu dan calon anak kamu sehat," sambung Ayah Sodikin.


Kanaya hanya bisa cemberut, dia ingin sekali ikut mengantarkan kedua orang tuanya pulang tapi apalah daya dia juga sadar harus memikirkan kesehatannya dan calon anaknya juga.


"Ya sudah, Ibu dan Ayah pulang dulu ya kami janji akan sering-serinh datang kesini untuk menemui kamu," seru Ibu Ajeng.


Kanaya memeluk Ibunya sangat erat dan tidak mau melepasnya, entah kenapa saat ini Kanaya merasa berat sekali untuk melepas kepergian kedua orang tuanya itu bahkan saat ini Kanaya sudah menangis dipelukannya Ibu Ajeng.


"Jangan cengeng, anak Ibu kan kuat."


"Pokoknya kamu harus jaga kesehatan, makan makanan yang sehat dan jangan dulu bekerja yang berat-berat," seru Ayah Sodikin.

__ADS_1


Kanaya beralih memeluk Ayahnya. "Bisakah kalian tinggal saja disini?" seru Kanaya.


"Tidak bisa Nak, Ayah punya tanggung jawab mengurus kebun kamu juga kan tahu bagaimana baiknya Juragan Wasta kepada keluarga kita."


Kanaya menganggukkan kepalanya, walaupun agak sedikit susah membujuk Kanaya akhirnya Ayah dan Ibunya bisa pulang juga. Rama sebagai menantu yang baik harus mengantarkan mertuanya pulang.


Kanaya melepaskan kepergian ketiganya dengan deraian airmata, entah kenapa perasaan Kanaya merasa tidak enak.


"Sudah Aya jangan nangis terus," seru Wati.


"Perasaan Aya ga enak Bi, Aya takut terjadi kenapa-napa sama mereka."


"Hus...kamu ini kalau ngomong sembarangan deh, ga boleh ngomong seperti itu kita do'akan saja semoga mereka sampai dengan selamat dan suami kamu juga bisa kembali lagi kesini dengan selamat."


"Amin..."


Kanaya berusaha untuk bersikap tenang tapi entah kenapa tetap saja perasaannya tidak tenang.


"Ya Allah ada apa ini, kenapa perasaanku tidak tenang seperti ini?" batin Kanaya.


Kanaya terus saja mondar-mandir di kamarnya yang berada di rumah Wati, sungguh perasaannya semakin tidak menentu.


Sementara itu...


"Nak Rama, tolong jaga puteri kami ya jangan buat dia bersedih sudah terlalu banyak dia menderita kasihan," seru Ayah Sodikin.


"Pasti Ayah, Rama akan selalu menjaga Kanaya dan membahagiakan Kanaya jadi Ayah dan Ibu jangan khawatir."


"Kami sangat bersyukur Kanaya mempunyai suami yang sangat baik seperti kamu," sambung Ibu Ajeng.


Muatan yang berat membuat sang sopir oleng dan tidak bisa mengendalikan laju kendaraannya, apalagi jalanan licin akibat hujan.


"Nak Rama, awaaaaaaaassssss!" teriak Ayah Sodikin.


Posisi mobil Rama yang paling depan tidak bisa berbuat apa-apa, selain kejadiannya yang begitu cepat posisinya juga dalam keadaan lampu merah.


"Astagfirullah..."


Bruaaakkkk....duaaaaarrrr....


Truk tronton itu menyeret beberapa mobil yang ada di lampu merah termasuk mobil Rama. Bahkan mobil Rama terseret sampai beberapa meter hingga akhirnya terpental dan terguling ke sisi kanan dan menabrak pohon yang ada di sisi jalan.


Deg...


Kanaya yang sedang tertidur terbangun langsung dan wajahnya penuh dengan keringat.


"Aa, Ayah, Ibu...ada apa dengan kalian? semoga kalian baik-baik saja."


Kanaya mengotak-ngotik ponselnya dan menghubungi nomor ponsel suaminya tapi tidak diangkat-angkat.


"Kok ga diangkat-angkat sih padahal ini sudah siang dan seharusnya sudah sampai di kampung," batin Kanaya.

__ADS_1


Kanaya pun keluar dari dalam kamarnya dan menuruni anak tangga, karena saat ini Kanaya merasa haus dan kebetulan Wati sedang menonton tv.


Di tv sedang menyiarkan berita kecelakaan yang baru saja terjadi, Wati sampai tidak menyadari kehadiran Kanaya saking fokusnya. Mata Kanaya melotot saat melihat sebuah mobil yang dia kenal sudah ringsek tak berbentuk, dan Kanaya melihat dengan jelas polisi mengangkat korban yang ternyata itu adalah suaminya.


Praaaaaannnnggggg....


Gelas yang Kanaya pegang terjatuh dan itu membuat Wati tersentak.


"Kanaya...."


"I---itu...i--itu...mobilnya A Rama, Bi."


"Iya-iya kamu tenang dulu, Bibi sedang menghubungi Mamang kamu dulu."


"Tidak Bi, Kanaya harus kesana itu mobilnya A Rama dan orang yang diangkat polisi itu A Rama, Aya kenal dengan jaketnya," seru Kanaya histeris.


"Sabar Aya, kamu tenang dulu."


Wati memeluk Kanaya dengan erat karena Kanaya terus saja memberontak ingin pergi menyusul suami dan kedua orang tuanya.


Sementara itu dilain tempat, Sopandi dan Tuan Krismawan sudah dalam perjalanan menuju lokasi kecelakaan. Sesampainya di TKP, ternyata sudah banyak sekali orang berkerumun.


Sopandi dan Tuan Krismawan menuju korban mobil sedan hitam milik Rama, dan polisi menunjukan korban-korbannya. Tangan Tuan Krismawan bergetar hebat saat membuka kain penutup yang menutupi para korban.


Airmata Tuan Krismawan jatuh juga, pundaknya bergetar dan tubuh Tuan Krismawan lemas bersimpuh di samping tubuh Rama yang sudah berlumuran darah.


Sedangkan Sopandi tidak bisa berkata apa-apa, apalagi dengan melihat dua korban lagi yang sudah terbujur kaku.


"Apa yang harus aku katakan kepada Aya?" batin Sopandi.


🍁


🍁


🍁


🍁


🍁


Jika tidak ada yang suka dengan novelku tolong tinggalkan saja jangan komen yang macam-macamπŸ™πŸ™karena Author sudah punya alur sendiri untuk cerita iniπŸ™πŸ™


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2