
Kini aku dan Ai sudah berada di bandara soekarno hatta, karna aku mengatakan kepada Ai bahwa ayah ku meminta ku untuk segera pulang, sebenarnya aku merasa tidak enak dengan nya, karna dia baru saja sampai di bali kemarin. Namun aku juga tidak mungkin berani menolak perintah ayah, dan sebenar nya aku penasaran tentang apa yang ingin ia sampai kan.
Kami berdua pun menaiki taksi, dan aku mengantarkan Ai pulang terlebih dahulu dan tidak lupa aku mampir sebentar di rumah pak Gumelar, setelah itu aku langsung pulang ke rumah.
Sekitar pukul 4 sore aku pun sampai, ketika aku berada di depan rumah, aku melihat seorang pria berbadan sangat besar dengan mengenakan baju berlengan pendek, dan tatto yang memenuhi tangan dan juga leher nya, ia terlihat membawa Gigbag atau sarung gitar. Dan selain dia juga terlihat beberapa pria dewasa menggunakan setelan jas hitam sedang mengobrol satu sama lain di teras depan rumah, Beberapa dari mereka memiliki wajah yang tidak asing, karna aku sudah beberapa kali melihat nya di TV, namun aku tidak pernah bertemu dengan mereka secara langsung.
Aku pun masuk dan mencoba untuk tidak memperdulikan mereka, namun salah satu dari mereka seperti nya mengenal ku.
"ohhh ini Liam ya? sudah besar ya". ucap nya dengan senyum lebar.
"iya om" saut ku.
"saya ga sabar buat acara nanti malam loh". tanya nya.
"oh.. ia om " jawab ku
Lalu aku pun buru-buru pergi karna aku tidak ingin bercengkraman lebih lama dari mereka, ngomong-ngomong apa yang ia maksud nanti malam? apakah ada acara atau hal lain nya. Entalah.. aku tidak perduli.
Ketika aku masuk ke rumah, aku cukup terkejut melihat seorang pria yang sedang berbicara dengan ayah yang di temani oleh kakak perempuan ku. Pria itu bukanlah orang sembarangan.
Aku pun memelan kan langkah kaki ku menuju kamar di lantai 2, dengan tujuan agar mereka tidak menyadari kedatangan ku. Namun tiba-tiba saja ayah memanggil ku..
"Liam... sini kenalin temen papah". panggil ayah ku.
Mau tidak mau aku pun menghampiri mereka, aku pun mencium tangan ayah dan pria itu yang kita sebut saja Pak Yulius.
"Oh ini anak kamu num? terakhir saya lihat ga segede ini haha". ucap Pak yulius kepada ayah ku (Hanum)
"iya" saut ayah ku dengan senyum.
Setelah mengobrol banyak Pak yulius izin pergi dan berjanji akan bertemu kembali pada acara malam ini, yang sampai sekarang aku tidak tau acara apa yang dia maksud.
"Sampah itu... dia seperti nya lupa siapa yang memberikan posisi itu kepada nya, suatu saat akan ku buat dia mengingat nya kembali". gumam ayah dengan suara pelan.
Lalu ayah menyuruh orang-orang yang dia panggil tadi untuk menunggu nya di gazebo belakang rumah. Dan meminta kristin kakak ku untuk naik ke kamar nya, sampai tinggal lah aku dengan ayah sendiri di ruang tamu.
"Liam.. malam ini ada acara besar, untungnya kamu datang lebih cepat... suatu hari kamu akan menjadi penerus ayah, lebih cepat lebih baik kamu memahami posisi kamu sekarang ini... jam 7 kamu sudah harus siap, dan jangan lupa suruh kristin juga". ujar ayah yang lalu pergi meninggal kan ku.
"oia satu lagi.... jangan sampai... ah papah lupa nama nya, inti nya jangan sampai anak gumelar mengetahui nya, papah tidak ingin gumelar mengetahui acara malam ini" ujar nya yang menghentikan langkah sesaat.
Aku pun hanya menganggukan kepala tanda mengerti, dan memutuskan untuk segera pergi ke kamar. Sesampai nya di kamar aku langsung merebah kan badan di kasur dan memikirkan tentang acara apa memang nya nanti malam, namun aku memilih untuk berhenti memikirkan nya dan bersabar sampai nanti malam.
.
.
Waktu sudah menunjukan pukul 7 kurang, aku pun sudah berpakaian rapih dengan mengenakan setelah jas hitam, terlihat kristin juga terlihat memakai dress panjang berwarna merah. Kami menuruni tangga bersamaan, namun tidak satu pun dari kami saling menegur.
Terlihat mobil sudah berjejer rapih di depan rumah ku, dan orang-orang yang ramai tadi pun satu persatu menaiki mobil, terlihat juga orang berbadan besar yang tadi aku bicarakan, ia hanya berdiri seperti menunggu seseorang. Dan tibahlah ayah ku, dia langsung menaiki mobil paling belakang bersama dengan pria besar itu, yang tak lama di susul oleh ibu ku.
Aku dan kristin menaiki mobil yang berada di depan mobil ayah, dan dengan kawalan polisi rombongan kami pun meluncur ke suatu tempat yang aku juga belum mengetahui nya.
Sekitar 30 menit kemudian, rombongan kami pun sampai di sebuah gedung yang terdapat di daerah Sudirman, Jakarta Selatan. Kami pun di sambut oleh seorang wanita blonde, dan menyalami kami satu persatu dengan senyuman yang begitu memikat, dan seperti nya ia sudah mengenal ibu ku, karna mereka sempat berbicara begitu akrab.
Aku dan kristin memasuki gedung, terlihat banyak sekali orang di dalam, mungkin sekitar 50-60 orang. Banyak meja bundar yang di atas nya terdapat makanan dan minuman, Aku juga melihat pak Yanto dan Pak Yulius sedang mengobrol. Suasana begitu ramai dengan lantunan musik klasik sebagai back sound, sampai titik dimana mereka menyadari kehadiran ayah, tatapan mereka pun langsung terfokus melihat ke arah ayah ku. Beberapa dari mereka langsung mengampiri ayah untuk bersalaman, dan ayah langsung memperkenalkan aku dan kristin kepada mereka.
Tidak lama setelah nya, ayah ku menaiki panggung dan mengetuk-ngetuk mic tanda meminta perhatian mereka.
"Selamat datang di acara perayaan 17 tahun anak saya... Liam..."
"hahh !!?? ".
ucapan ayah ku yang membuat ku begitu terkejut, sampai-sampai aku hanya terbengong mendengar nya, bahkan ayah sampai harus memanggil ku 2 kali untuk menemani nya ke atas panggung.
__ADS_1
Dengan perasaan campur aduk aku pun menaiki panggung, entah apa yang di fikirkan atau di rencanakan oleh ayah.
"Suatu hari... dia yang akan meneruskan segala perjuangan ku, karna itu saya memohon bimbingan dan bantuan dari kalian semua"
Ucap ayah yang langsung di ikuti tepuk tangan yang begitu meriah dari hadirin.
Setelah berbicara beberapa kalimat, kami berdua pun turun dari panggung, dan menghampiri ibu yang terlihat begitu akrab mengobrol dengan Wanita blonde tadi.
"ohh Hanum.. bagaimana kabar mu?" tanya wanita itu.
"seperti biasa... oia perkenalkan, wanita berambut pirang ini adalah teman sekolah papah dan mamah mu ketika masih SMP dulu.. Natasyah.. dan dia sekarang bekerja sebagai konsultan keuangan di Amerika". ucap ayah ku.
Lalu aku pun bersalaman dengan natasya dan sekaligus memperkenalkan diri.
"oia... aku tidak melihat gumelar, dimana dia?" tanya natasya.
"Dia sudah tidak di butuhkan lagi" saut paman ku firman yang tiba-tiba saja muncul.
"ohh begitu ya... lebih cepat dari yang ku kira. Jadi apa yang akan kau lakukan setelah ini Hanum? kau bukan tipe orang yang akan berbuat sesuatu tanpa sebuah alasan". tanya natasyah.
"Hmm tidak akan menarik jika aku memberikan jawaban nya sekarang, kau bisa melihat nya nanti..." jawab ayah dengan senyum.
"baiklah... aku akan sabar dan menonton saja" saut nya kembali.
Lalu ayah, ibu dan paman pergi untuk menjumpai tamu-tamu lain, dan meninggalkan aku berdua dengan Natasya.
"Liam... apakah kamu mengenal sosok Toyotomi Hideyoshi?" tanya nya.
"ya tentu... dia sangat terkenal pada masanya, dia adalah seorang petani yang mampu merubah nasib nya 180° mencapai kesuksesan dengan meneruskan mimpi nobunaga oda, dan karna jasa nya dia juga... jepang bisa bersatu seperti saat ini". jawab ku.

...Toyotomi Hideyoshi...
...(1537 - 1598)...
"memang nya ada kaitan apa?" tanya ku.
"kau mungkin belum mengetahui nya... dulu ayah mu adalah seorang anak yang sangat miskin, dulu ia mendapatkan beasiswa dan berhasil masuk ke sekolah dimana aku dan ibu mu berada saat itu, bahkan ia harus berjalan kaki sejauh 7 kilometer untuk sampai ke sekolah setiap hari nya, dan jika di tambah dengan jalan pulang nya, berarti dia berjalan sejauh 14 kilometer dalam sehari, karna ia tidak pernah memiliki uang untuk naik angkutan umum. Namun di tengah keterbatasan yang ia punya, sangat terlihat jelas ambisi yang begitu besar tergambar di mata nya. Dan irana ibu mu... menyadari akan hal itu, lalu irana memutuskan untuk membantu Hanum ayah mu, sampai dimana mereka menikah. Namun apakah ia juga akan memiliki akhir hidup yang sama seperti Hideyoshi? atau tidak... aku ingin mengetahui nya". ucap natasya dengan senyum.
Jujur saja aku bahkan tidak pernah tau bagiamana masa lalu ayah, karna memang dia dan ibu tidak pernah bercerita tentang masa lalu mereka berdua.
"Akhir yang sama seperti hideyoshi? bagaimana maksud mu?" tanya ku kembali.
"Hideyoshi menemui ajal nya karna sebuah penyakit, padahal hanya sedikit lagi dia akan benar-benar bisa menyatukan jepang saat itu.. yang tak lama setelah kematian nya, kekuasaan toyotomi di lengserkan oleh Tokugawa ieyasu.. Dan alasan ku menceritakan ini, karna...... seperti nya, aku sudah melihat sosok Ieyasu di dalam diri seseorang... dia seperti menunggu, dan sabar menunggu sampai waktu nya tiba untuk bergerak.. persis seperti yang di lakukan oleh Ieyasu saat itu". ucap natsya sembari menatap ku dengan tajam.

...Tokugawa Ieyasu...
...(1543 - 1616)...
"hah? siapa orang itu?" tanya ku bingung.
"entahlah... hahahaha... tidak usah terlalu di fikirkan, lebih baik kita menikmati pesta nya". ucap nya yang langsung pergi meninggalkan ku.
Wanita aneh.. namun aku memang tidak begitu terkejut, karna biasa nya orang-orang di sekitar ayah ku kebanyakan adalah orang-orang aneh.
Tiba-tiba handphone ku berbunyi mendapatkan sebuah panggilan, dan setelah aku cek, itu dari Ai.
"halo beb?... kok berisik banget, kamu lagi dimana?" tanya Ai.
"oh..i..ini lagi di ajak ayah ke nikahan temen nya". jawab ku berbohong.
__ADS_1
"ohh yaudah.. nanti aku telfon lagi ya, enjoy the party" ujar Ai yang langsung mematikan telfon setelah nya.
Setelah berbicara dengan nya, aku jadi teringat ucapan paman ku tadi, tentang pak gumelar yang sudah tidak di butuhkan lagi, sebenar nya apa yang ayah ku rencanakan. Apa pun itu.. meskipun harus mempertaruh kan segala nya, aku pasti akan melindungi Ai.
Banyak tamu yang tiba-tiba menghampiri ku dan memperkenalkan diri mereka masing-masing, bahkan ada beberapa dari mereka yang ingin memperkenalkan putri nya kepada ku, namun aku hanya tersenyum menanggapinya.
Di tengah keramaian pesta, aku melihat kristin sedang duduk sendiri di pojok aula, sembari memegangi segelas minuman yang hanya ia putar-putar. Karna aku merasa tidak enak, aku pun menghampiri nya dan duduk di samping nya tanpa berkata apa-apa.
"ngapain kesini?" ujar kristin dengan nada judes.
"pengen duduk aja". saut ku.
"lu mau ngeledek gue kan?" ujar nya yang membuat ku begitu terkejut.
"hah? ngeledek gimana?". tanya ku bingung.
Lalu kristin berdiri dan membanting gelas yang ia pegang ke tanah sampai-sampai menyita seluruh perhatian tamu yang hadir, termasuk keluarga kami.
"GA USAH LU PURA-PURA LAGI... SEMUA NYA UDAH LU AMBIL, GUA WAKTU UMUR 17 TAHUN PUN GA ADA PESTA KAYA GINI, DAN GA CUMA ITU AJA... SEMENJAK LU LAHIR, MEREKA SAMA SEKALI GA PERDULI SAMA GUA.. APA LAGI SAAT MEREKA TAU KALO GUA GA TERPILIH.... LU UDAH NGERENGGUT SEMUA YANG GUA PUNYA DAN LU PURA-PURA GATAU? HAH? .... HAH? LU NGOMONG SAMA TEMBOK SANA !!!! DASAR ADIK SET---"
PLAAKKKKKK !!!!!
Sebelum kristin selesai dengan ucapan nya, tiba-tiba ayah menghampiri kami dan langsung menampar Kristin dengan begitu kencang.
PLAAKKKKKK !!!!!
PLAAKKKKKK !!!!!
PLAAKKKKKK !!!!!
BUUKKKKKKK !!!!!
Ayah ku terus menerus menampar kristin tanpa berhenti, ia bahkan sesekali menendang perut nya begitu keras, sampai kristin tersungkur ke tanah... tidak sampai di situ, ia menarik baju kristin untuk ia berdiri kan..
PLAAKKKKKK !!!!!
PLAAKKKKKK !!!!!
dia kembali menamparnya, sampai-sampai terlihat darah mengalir keluar dari hidung dan mulut kristin.
Ibu ku hanya melihat nya dari jauh, dan tidak menunjukan ekspresi terkejut atau lain nya.. dia hanya diam sembari menikmati minuman nya.
Tamu lain terlihat begitu bingung dengan apa yang terjadi, namun tidak ada dari mereka yang berani menghentikan ayah. Karna memang, seumur hidup aku mengenal ayah.. aku tidak pernah melihat nya segila ini memukuli anak nya. bahkan sedari kecil pun aku tidak pernah melihat ia memukul ku atau pun kristin, mengapa sekarang ia seperti ini..
Aku begitu takut sampai-sampai seluruh tubuh ku seperti membeku, aku sangat ingin menolong kristin, tapi aku sama sekali tidak bisa menggerakan tubuh ku... karna rasa takut ku kepada ayah yang sudah menghisap seluruh keberanian ku.
Sampai paman ku firman memegang bahu ayah ku dan menepuk nya.
"sudah-sudah... tidak enak di lihat tamu lain nya". ucap nya dengan santai.
Lalu paman ku merangkul ayah dan mengajak nya pergi meninggalkan kristin yang wajah nya sudah berubah warna menjadi merah dan biru, di tambah banyak lebam, dan hampir tidak sadarkan diri.
Sembari merangkul ayah, paman memberikan isyarat kepada ku dengan tangan nya untuk segera menelfon ambulan.
Tanpa fikir 2 kali, aku pun menelfon ambulan agar kakak ku segera bisa di tangani...
"Bawa dia keluar... ". pintah ayah ku
Sebelum security ingin menganggkat tubuh nya, aku pun menghentikan nya dan aku sendiri yang mengangkat tubuh kristin ke depan sembari menunggu ambulan..
Dan sekitar 10 menit menunggu di depan, ambulan pun tiba dan membawa kakak ku pergi, tentu nya aku ikut dengan nya yang di ikuti oleh pengacara ayah, untuk ikut ke rumah sakit.
.
__ADS_1
.
.