
Hari ini aku sedang iseng mengunjungi sebuah universitas yang akan menjadi tempat kuliah ku nanti, ya walaupun masih beberapa bulan lama nya, aku hanya sekedar iseng mampir, lagi pula.. kampus ini adalah milik ayah, jadi tidak ada yang bisa melarang ku.
Aku bersama Anggi berjalan mengitari kampus, melihat-lihat ruangan, dan juga beberapa lapngan futsal dan juga basket yang terpisah.
Ketika aku sedang duduk di kantin bersama anggi, ada seorang pria berumur sekitar 50 tahunan menghampiri ku.
"Mas.. Liam ya?". tanya nya pria itu.
"iya? bapak siapa ya?". saut ku.
"Saya Rektor di sini, kebetulan tadi di kasih tau sama security bilang nya ada mas Liam dateng, kenapa ga bilang-bilang dulu.. nanti kan bisa saya temani". ujar nya sembari duduk di depan ku.
"ohh iya makasih pak perhatian nya,...
oia kebetulan ketemu sama bapak, saya ada permintaan". ucap ku.
"permintaan apa tuh mas?". tanya nya.
"Tolong perlakuin saya sama seperti mahasiswa yang lain ya, jangan di beda-beda kan... terus sebisa mungkin jangan kasih tau staff lain siapa saya". ujar ku.
"ohh iya mas tenang aja itu". jawab pria bernama pak Seno.
Setelah itu aku dan Anggi izin pamit pulang kepada beliau, karna tidak enak terlalu lama di sana, di tambah aku sudah menyelesaikan tour ku.
Namun sesampai nya di parkiran mobil, aku bertemu dengan wanita yang sangat tidak asing...
"lohhh Liammm.. Anggi... kalian ngapain di sini?". tanya Dhafina yang baru saja keluar dari Mobil.
"wihh baru lulus aja rambut udah di warnain.... ngomong-ngomong aku abis iseng aja keliling kampus, kan aku bakal kuliah di sini, kalo kamu sendiri?". jawab ku.
"cakep kan tapi di warnain pink gini hehe... ohh bagus dong, berarti kita bakal satu kampus". jawab nya.
"loh serius? haha kebetulan banget, Anggi juga bakal kuliah disini.". jawab ku.
"Iya.. kebetulan juga rektor di sini tuh Paman aku, jadi ga perlu ribet deh ngurus-ngurus dokumen hehehe". jawab dhafina kembali.
"ngomong-ngomong Rizal gimana? dia udah mutusin mau kuliah dimana?". tanya ku.
"Dia mau nyoba masuk kuliah negri kata nya, biar biaya nya ga terlalu mahal... kamu tau sendiri kan kondisi ekonomi keluarga nya gimana". saut Dhafina.
"ohh good luck deh buat dia.. yaudah aku cabut dulu ya". ucap ku sembari membuka pintu mobil.
"ohh oke oke.. see ya Liam Anggi". saur Dhafina.
Jadi nanti selain Rizal, teman-teman dekat ku sewaktu SMA juga akan masuk ke kampus yang sama, termasuk juga dengan Bima dan Anggi.
Kalau Ai, dia masih di buat bingung dalam memilih kampus, sebenarnya dia sempat ngoto ingin masuk ke kampus yang sama dengan ku, namun aku melarang nya untuk menggunakan alasan bodoh seperti itu, lebih baik untuk mengikuti kata hati nya kemana dia akan memilih kampus.
.
.
"Yoo liammm.. welcome welcome". ujar Rangga menyambut kedatangan kami dari dalam meja Barista nya.
Aku memutuskan untuk mampir ke Bar milik nha terlebih dahulu yang berada di sekitaran Menteng sebelum pulang, karna minuman ku di rumah sudah habis.
"cieee bawa cewe nih". ledek nya.
"Temen doang, yaudah yang biasa ya.. 2 botol". ujar ku.
"ok ok.". jawba nya.
Setelah nya Rangga pergi ke belakang dan mengambilkan 2 botol minuman favorite ku.
"oia Am.. kamu inget Amanda yang waktu itu pernah dateng kesini kan?". ujar nya sedikit berbisik.
"ohh iya tentu, kenapa memang nya?". tanya ku.
"beberapa hari kemarin, aku lihat dia ngobrol sama cowo serius banget, eh beberapa menit kemudian mereka terlihat cekcok cukup lama.. lalu sebelum Amanda pergi, ia sempat menampar pria itu dengan tas nya". ujar Rangga.
__ADS_1
"ah masa sih? kamu yakin itu amanda?". tanya ku memastikan.
"yakin 100%... dia kan memang suka dateng kesini beberapa minggu sekali". jawab nya.
Dengan kepribadian Amanda yang ku kenal selama ini, dan mendengar hal yang baru saja di ceritakan oleh Rangga, membuat ku cukup heran, karna setau ku Amanda adalah orang yang elegan dan seperti nya bukan orang yang mudah terbawa perasaan.
Di tambah dia yang cukup sering datang ke rumah ku, aku selalu melihat nya dalam keadaan seperti biasa.
"ahh buat apa aku perdulikan". gumam ku.
"kenapa am?". tanya Rangga.
"oh gpp kok... yaudah thanks ya minuman nya, pulang dulu". ucap ku sembari memberikan uang.
.
.
Setelah nya aku pulang bersama Anggi menuju rumah ku, dan ketika sampai, aku melihat ada mobil amanda terparkir, aku pun jadi terfikirkan kembali tentang cerita dari Rangga barusan.
Sebelum ke kamar, aku mampir ke dapur untuk membuat kopi, dan dari dapur aku melihat Amanda dan Ayah dan juga Ibu sedang berbicara di Gazebo.
"Tumben mau keluar". gumam ku kepada ibu .
Ketika aku selesai membuat kopi dan ingin menuju kamar, salah satu pembantu ku memberitau ku kalau ayah meminta nya untuk memanggil ku untuk menghampiri mereka.
"yaelah..". gumam ku.
Aku pun menghampiri mereka yang terlihat sedang mengobrol santai, dengan ayah yang terlihat sedang sibuk dengan tablet nya.
"hai liammmm....". sapa Amanda dengan senyum riang.
"oo.ohh hai juga". saut ku.
Lalu aku duduk di samping amanda, dan bergabung dengan mereka, terlihat banyak buah-buahan di meja.
"am... kamu lagi libur panjang kan ya sebelum masuk kuliah". tanya Amanda.
"Aku udah izin sama Hanum dan irana, kamu ikut aku ya ke perjalanan bisnis lusa". ujar nya kembali.
"ehh?? kemana?". tanya ku.
"Ke Jepang... anggap aja sekalian jalan-jalan". ujar nya kembali dengan senyum lebar.
"jepang? tapi aku belum ada passport loh". saut ku.
"Tenang... nanti aku bantuin buat emergency passport, kamu nanti terima jadi aja besok, tapi aku minta foto dan data-data kamu ya am". ujar nya.
"o..ohh okok". jawab ku.
"liam.. pas sampe di sana, kamu akan bawa nama perusahaan kita.. jangan malu-maluin". ujar ayah tanpa menengok ke arah ku.
"i..iya yah". jawab ku.
"yaelah kaku banget bapak-bapak... tenang aja nanti sama aku". ujar amanda dengan senyum yang terus menempel.
Aneh melihat senyum nya, setelah mendengar apa yang Rangga ceritakan tentang nya, seperti dia memiliki 1 sisi yang tidak ingin di tunjukan.. sebenarnya itu adalah hal wajar, karna setiap manusia pasti memiliki sisi yang tidak ingin di perlihatkan kepada orang lain.
"oia pah.. liam boleh minta guru baru ga?". tanya ku.
"guru apa?". saut Ibu.
"Guru tinju... Silat kan udah Liam kuasain, pengen belajar yang lain aja". jawab ku.
"yaudah nanti papah cariin". saut nya.
Setelah itu aku permisi dan pergi ke kamar bersama Anggi.
Ini akan menjadi perjalanan keluar negri pertama ku, aku menjadi cukup di buat tidak tenang karna nya, apa lagi tujuan nya adalah jepang, ada beberapa tempat yang sangat ingin ku kunjungi di sana.
__ADS_1
Sebenarnya aku di buat terkejut, karna ibu mau menyetujui nya, apa yang di lakukan amanda untuk bisa membujuk ibu agar aku bisa ikut bersama nya.. ya.. apa pun itu, aku harus berterimaksih kepada nya.
"oh ya nggi.. kamu nanti juga ikut ya". ujar ku.
"eh.. emang boleh?". tanya nya kembali.
"gampang nanti aku yang bilang". saut ku.
"oke kalo gitu". jawab nya.
Sebelum amanda pergi, aku telah mengirimkan nya foto ku dan juga Anggi, di tambah beberapa dokumen yang sekira nya di butuh kan.
.
.
Malam hari nya saat aku turun ke bawah untuk mengambil gelas di dapur, aku melihat ayah sedang duduk sendirian di ruang tamu, terlihat ia sedang fokus membaca koran dengan kondisi TV menyala.
Aku memberanikan diri menghampiri nya untuk memberitau kalau aku bertemu dengan Dasim beberapa hari lalu, aku hanya ingin mengetahui respon nya.
"pah". ujar ku sembari duduk di bangku berbeda.
"hmm?". saut nya.
"Liam kemarin ketemu Dasim". ujar ku.
"ia papah tau". saut nya.
heh? dia sudah tau? dari mana dia sudah tau, apa mungkin dasim sendiri yang memberitau nya atau kah dari Bile?.
"oia besok jadwal penukaran batu bukan?". tanya nya sembari menaruh koran.
"iya pah..". jawab ku.
"hmm..". terlihat ia sedikit menarik nafas, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Setelah kamu selesai menukarkan batu, katakan hal ini kepada pria tua yang menjaga kuild tersebut (Rembulan sudah tiba, waktu nya mengambil sabit, permulaan baru telah terlahir, berikan persembahan pertama) jangan sampai lupa". ujar nha.
"eh.. untuk apa pah?". tanya ku.
Tanpa menjawab kembali pertanyaan ku, ia kembali mengambil koran nya dan kembali membaca nya. Aku yang sudah terbiasa dengan sikap nya, memutuskan untuk pergi meninggalkan nya tanpa bertanya lebih lanjut.
Sesampai di kamar, aku jadi terfikirkan dan di buat sedikit penasaran dengan apa yang baru saja ayah sampaikan, apakah itu semacam kode atau sejenis nya, dan akan terjadi sesuatu jika aku mengatakan kepada penjaga nya? entahlah.. untuk sekarang akan ku pendam rasa penasaran ku, untuk hari esok.
.
.
.
*Keesokan hari nya*
Aku dan Bima sedang bersiap untuk melakukan ritual penukaran Batu, sedangkan Anggi ku minta untuk menunggu di luar.
Setelah seluruh persiapan selesai, kami pun memulai ritual nya..
.
Aku sudah berada di depan kuil dengan membawa batu yang akan ku tukarkan dengan batu yang berada di dalam kuil, seperti biasa ada seorang pria tua yang menyambut ku di depan kuil.
Ia pun langsung mengantarkan ku ke dalam kuil untuk menukarkan Batu, dan setelah proses selesai, ia kembali mengantarkan ku untuk keluar kuil, namun sebelum aku pulanh, tidak lupa aku menyampaikan perkataan yang di sampaikan oleh ayah semalam.
"Rembulan sudah tiba, waktu nya mengambil sabit, permulaan baru telah terlahir, berikan persembahan pertama". ucap ku yang berada di belakang nya.
Setelah mendengar ucapan ku, tiba-tiba saja ia menghentikan langkah nya, ia tidak bergerak untuk beberapa saat, aku pun menyadari hal aneh, ketika aku menengok ke arah sekitar, tiba-tiba saja semua nya seperti berhenti.
Seolah waktu telah di hentikan, bahkan Api yang di gantungkan di pintu masuk berhenti bergerak.
"heh? ada apa?". ucap ku.
__ADS_1
Lalu di tengah waktu yang masih berhenti, tiba-tiba seseorang memanggil ku dari belakang.
"Liam... nama mu sudah terukir pada Batu penerus semenjak kelahiran mu, Rembulan dan dewa sudah memilih mu, Matahari dan langit akan hadir sebagai saksi...Dunia akan menjadi musuhmu, terimalah dan berterimakasih lah". ujar seorang wanita.