
Aku, Dagon dan juga Adofo terdiam dalam renungan setelah mendengarkan cerita panjang dari Ratu, aku seperti sedang mendengarkan sebuah dongeng.
"Bayangkan kelakuan nenek mu Liam... ketika kami sedang sibuk berperang dengan Gandaswati, dia malah sibuk mengubrak abrik kerajaan di jawa". ucap Ratu.
"hahaha terdengar seperti Aira sekali, oia.. apakah Aira tidak ikut dalam peperangan itu?". tanya ku.
"tidak.. dia seperti tidak memperdulikan nya, namun dia sempat hampir menyerang kerajaan Abiseka waktu itu, namun entah mengapa dia berubah fikiran di tengah jalan". ujar Ratu.
"Lalu apakah Abiseka masih ada sampai sekarang?". tanya ku.
"Tentu.. dia selalu berada di kerajaan nya di Demak, aku bisa memperkenal kan nya kepada mu jika kau mau nanti". ucap Ratu.
"ahh tentu Ratu.. mendengar cerita mu, aku sekarang seperti mengangguimi sosok Abiseka". ujar ku.
"hahaha.. dia pasti akan senang mendengar nya". jawab Ratu.
Setelah perbincangan panjang dengan Ratu, aku pun kembali alam manusia, dan menghabiskan waktu bersama Bima bermain game di kamar ku.
"Bim". ucap ku.
"yo?". saut nya.
"Kalo kamu ada pilihan untuk keluar dari kehidupan mu sekarang.. gimana?". tanya ku.
"keluar kehidupan gimana?". tanya nya sembari menengok ke arah ku.
"yaa maksud nya... kamu bisa nikah dan punya keluarga sendiri". ujar ku.
"coba aku fikirin sebentar". ucap bima.
"heh? ga bisa di omongin sekarang?". tanya ku.
"haha bercanda... lagian pertanyaan kamu aneh-aneh aja, lagian aku udah terbiasa hidup kaya gini, dan ku rasa aku bukan manusia paling menderita di bumi ini... aku bisa makan 3x sehari, aku punya HP, aku punya komputer, aku bisa sekolah gratis di sekolah khusus orang kaya dan yang paling penting... aku punya sahabat kaya kamu". ucap Bima dengan senyum lebar.
"haha..ha..ha..ha". tawa ku malu sembari memukul kepala nya.
"oia am.. aku tadi ngeliat mas julian ngobrol sama ayah mu di gazebo belakang". ujar Bima.
"Julianto? yang mana ya". tanya ku.
"itu loh yang di wajah ada 2 jaitan panjang di mata kiri sama pipi kanan nya". jawab bima.
"ohhhh ia.. dia itu salah satu tangan kanan ayah, dia sih kalo ketemu aku suka senyum". saut ku.
"tapi aura nya ga enakin, cuma ngeliat dia aja... udah bikin aku ga brani natap mata nya langsung". jawab Bima.
Julian ada lah salah satu tangan kanan ayah, yang berarti juga, dia adalah salah satu orang yang paling ayah percaya, dia memiliki perawakan bekas jaitan vertikal di mata kiri nya dan juga di pipi nya, dan untuk mata kiri nya, ia menggunakan mata palsu. Ada rumor yang mengatakan, bahwa ayah ku lah yang mengambil mata kiri nya ketika dia gagal dalam tugas. Ia bertubuh besar dan begitu kekar, dan selalu memakai cincin perak di setiap jari pada tangan kiri nya, saat ini dia berumur sekitar 35 tahun.
.
.
"aku mau ke bawah dulu, mau nitip ga?". tanya ku.
"coklat panas am". jawab bima.
Aku pun turun ke bawah untuk mengambil cemilan di dapur lantai 1, sesampai nya di dapur aku pun langsung membuat coklat hangat buatan Bima, di jendela dapur yang dapat melihat langsung ke taman belakang, aku melihat mas Julian bersama ayah sedang berbincang, dan ketika aku menatap mereka, tiba-tiba saja ayah menatap balik ke arah ku, dan memberiku kode untuk menghampiri mereka dengan lambaian tangan.
"ah elah". gumam ku.
Dengan rasa malas aku pun menghampiri mereka, terlihat mas Julian tersenyum ke arah ku, aku pun hanya membalas senyuman nya, lalu aku duduk di sebelah ayah, dan terlihat banyak sekali makanan di atas meja di gazebo.
"lanjutin omongan nya". ujar ayah ku sembari memakan ikan dengan sumpit.
"eh gpp nih pak? ada mas liam". saut Julian.
"sejak kapan kamu berani menyakan perintah saya?". jawab ayah sembari menatap julian.
__ADS_1
Terlihat Julian pun langsung menundukan kepala dengan wajah panik ke arah ayah ku.
"jadi.. untuk 3 orang yang udah saya sekap kemarin, 1 di antara nya udah mengakui perbuatan nya... dan dua sisa nya seperti nya memang tidak tau apa-apa". ucap julian.
"hmm serahkan 1 orang yang mengaku itu ke Yanto, dan 2 sisa nya singkirkan saja... saya tidak ingin ada yang tersisa". ujar ayah sembari mengelap mulut nya.
"baik pak..". jawab Julian.
"oia.. Kamu tau kan ada orang yang menyindir ku di televisi kemarin?". ucap ayah.
"ohh ia.. saya tau pak". saut nya.
"tangkap.. entah mau pakai cara apa pun, yang jelas bawa dia ke depan ku". ujar ayah.
"siap". ucap julian.
Aku hanya diam mendengar obrolan mereka, dan jujur saja, aku sama sekali tidak terkejut mendengar perbincangan tadi, karna sudah sesuai ekspektasi ku, karna aku sudah tau bahwa pak julian adalah seorang Assasin pribadi milik ayah.
Ketika julian mulai memakan makanan nya, tiba-tiba saja ada panggilan telfon di hp ayah, ayah yang sebelum nya terlihat biasa saja, setelah mengangkat telfon terlihat wajah nya mengkerut, seperti sedang menahan emosi.
"Julia.. untuk orang yang tadi aku bicarakan, aku mau malam ini". ujar ayah.
"si..siap". jawab Julian.
Setelah mendengar perintah ayah, julian pun tidak jadi untuk memakan makanan dan langsung izin pergi, karna sekarang waktu sudah menunjukan pukul 4 sore.
"Liam". ucap ayah dengan shusi yang masih ia kunyah.
"ia Pah?". tanya ku.
"Malam ini.. ikut Papah". ujar nya.
"Baik Pah". saut ku.
Aku pun hanya meng iakan ajaka nya, dan setelah itu ia menyuruh ku untuk kembali masuk ke rumah. Aku pun langsung kembali ke kamar.
"bodo amat.. ambol sendiri". saut ku sebal.
Bima yang tau kondisi mood ku yang sedang buruk, meminta izin untuk kembali ke kamar nya. Dan setelah Bima pergi, aku pun hanya merebahkan badan di kasur.
Aku memiliki firasat tidak enak, dengan apa yang akan terjadi malam ini, seperti nya ayah perlahan-lahan ingin mulai menunjukan Dunia nya ke pada ku, namun jujur saja di satu sisi sebenarnya aku juga ingin tau, dunia apa yang ayah tinggali selama ini, sudah tenggelam sejauh mana dia di lautan hitam ini.
.
.
Saat malam tiba, sekitar pukul 9 malam. Aku bersama ayah menaiki mobil dan menuju daerah pelabuhan di jakarta utara, yang jarak nya cukup jauh dari rumah, membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk kesana.
Lalu sampai lah kami di deoan sebuah gudang yang sangat besar, sebelum keluar mobil, terlihat ayah memakai sarung tangan karet berwarna hitam, dan mengajak ku pergi bersama nya.
Ketika kami berada di depan pintu gudang, ada seseorang yang membukakan gerbang dari dalam, ayah ku pun langsung masuk, dan orang yang membukakan gerbang tersebut terlihat menundukan kepala nya ketika kami masuk.
Suasana begitu gelap, aku hampir tidak bisa melihat apa pun di dalam nya. Dan ketika lampu di nyalakan, aku melihat seorang wanita muda yang mungkin baru berumur sekitar 27-29 duduk di sebuah kursi dan dalam kondisi terikat dengan mulut di Lakban. Di samping nya aku melihat ada Julian dan juga sekitar 5 orang lain, yang kemungkinan mereka adalah bawahan Julian, mereka semua mengenakan setelan Jas hitam.
Lalu Julian membuka Lakban yang sebelum nya menutupi mulut wanita tersebut.
"HANUMMM.... MAAF KAN AKU, AKU BERJANJI TIDAK AKAN MELAKUKAN NYA LAGI". Teriak wanita itu sembari menangis-nangis.
*PAAAAAAAAAAKKKKKKK*
"Siapa"
*PAAAAAAAAAAKKKKKKK*
"yang"
*PAAAAAAAAAAKKKKKKK*
__ADS_1
"kau"
*PAAAAAAAAAAKKKKKKK*
"maksud"
*PAAAAAAAAAAKKKKKKK*
"sebagai"
*PAAAAAAAAAAKKKKKKK*
"pengecut"
*PAAAAAAAAAAKKKKKKK*
Setiap satu kata yang keluar dari mulut ayah, satu tamparan pun juga te arah tepat di wajah wanita itu.
"MAAF KAN AKU HANUM... AKU BERSUMPAH DEMI APA PUN, AKU TIDAK AKAN BERANI MELAKUKAN NYA LAGI... AKU MOHON LEPASKAN AKU, AKU MEMILIKI ANAK YANG MENUNGGU KU DI RUMAH". Ujar wanita itu dengan air mata yang tidak habisnya menetes.
"anak? lihat aku... apakah menurut mu aku adalah orang yang akan memperdulikan hal itu?". ujar ayah sembari membungkuk dan menjambak rambut wanita itu.
"Aku mohon hanum... jika kau melepaskan ku, aku akan berhenti dari dunia P*litik dan akan melakukan apa pun yang kau mau". ucap waniga itu.
Lalu aku melihat ayah pergi berjalan menuju sebuah meja kayu, yang di atas nya terdapat alat-alat, seperti gergaji, linggis, baseball besi, atau pun gunting yang berbentuk melengkung ke dalam. Ayah ku pun mengambil Gunting tersebut.
"hanum... aku mohonnnnn... ". ucap nya yang terus memohon.
*JLEEEBBBB*
"AAAAAAHHHHHHHHH".
Teriakan wanita itu dengan begitu keras, setelah di tusuk di bagian paha kiri oleh ayah.
"Hanumm.. aku mohon, ma..maaf kan aku". ujar nya kembali.
Dengan Gunting yang masih tertancap di paha kiri nya, terlihat ayah kembali mendekati meja kayu tadi dan mengambil pemukul Baseba berbahan besi. Ia pun mendekati wanita itu sembari mengayun-ayun kan nya.
"dengarkan aku.. Tidak ada di dunia ini, meskipun tuhan sekali pun.. yang berani menengtang ku". bisik ayah trpat di kuping wanita itu.
"ia... ha..hanum.. mohon jangan bunuh aku". ujar nya kembali.
Tanpa basa basi lagi ayah ku mengangkat pemukul baseball nya dan..
*BUUUUUUKKKKKKKK*
*BUUUUUUKKKKKKK*
*BUUUUUUUUKKKKK*
Terlihat ayah memukul tepat ke arah wajah wanita itu berkali-kali tanpa henti, sampai aku melihat banyak sekali muncratan darah dari kepala nya.
"Tenggelamkan... di tempat paling dalam". ujar ayah sembari membersihkan noda darah di wajah nya.
"siap". saut julian.
Wanita itu sampai terjatuh ke tanah dengan kondisi masih terikat di kursi, aku bahkan sampai tidak bisa mengenali wajah nya, entah mengapa, kejadian ini sedikit mengingatkan ku tentang kejadian yang menimpa Kristin waktu itu.
Lalu Pak dede supir kami, membawakan setelan jas baru ke pada ayah, ayah pun langsung mengganti nya, karna di jas lama nya sudah banyak sekali noda darah nya.
"Liam". panggil nya.
"ya pah?". tanya ku.
"kau memang lah anak ku". ujar ayah ku dengan senyum.
Aku pun di buat bingung dengan maksud perkataan nya, mengapa dia mengatakan hal seperti itu di saat seperti ini. Dan di dalam diam ku, tiba-tiba ia menepuk-nepuk pundak ku dan menyuruh ku untuk pulang lebih dulu dengan pak dede, karna ayah masih ada urusan yang harus di selesaikan.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang, aku masih di bingungkan oleh perkataan nya, apa yang sebenarnya ia maksud dari perkataan nya tadi, aku pun hanya diam dalam renungan di sepanjang jalan pulang.