Pesugihan Keluarga Ku

Pesugihan Keluarga Ku
Envy


__ADS_3

Sesampai nya di rumah sakit, kristin langsung di larikan ke ruang IGD, dengan perasaan yang tidak karuan, aku di paksa untunk menunggu dengan di temani oleh mas bagus, dia adalah pengacara ayah ku, tujuan nya ikut kemari adalah untuk memberikan klarifikasi ke dokter, jika dokter menanyakan alasan mengapa kristin sampai babak belur seperti itu. Dan benar saja sekitar 2 jam kami menunggu di depan pintu UGD, ada 2 orang polisi menghampiri kami, seperti nya pihak rumah sakit menelfon mereka. Lalu mas Bagus mengajak mereka pergi untuk berbicara dan meninggalkan ku sendiri.


Mengapa aku baru menyadari nya, betapa bodoh nya aku, kristin selama ini begitu dingin dengan ku karna ia mungkin merasa iri dengan semua perhatian dari orang tua kami. Jika ku ingat-ingat dulu ketika aku berusia 5 tahun, ia begitu baik dan selalu perhatian dengan ku, bahkan dia yang lebih banyak merawatku di banding kan ibu. Tapi semenjak aku berusia 7 tahun, atau tepat nya setelah aku terpilih, sifat nya mulai berubah kepada ku, seolah dia menjauhi ku dan aku tidak tau apa alasan nya.


Saking kesal nya, aku sampai memukuli kepala ku dengan tangan ku begitu keras, hingga membuat ku agak pusing, aku tidak menangis, dan saat ini aku tidak marah kepada ayah, atau mungkin karna kemarahan ku lebih besar ter arah kepada diri ku sendiri. Mengapa selama 10 tahun aku tidak menyadari nya dan malah selalu menyalahkan nya karna menjauhi ku, dan aku juga ikut menjauhi nya.


Lalu tidak lama kemudian dokter keluar dari ruangan UGD...


"Mas Liam ya?.. kakak kamu sudah baik-baik saja, dan akan segera di pindahkan ke ruang perawatan... namun karna beberapa luka robek di beberapa titik wajah nya, kami harus menjahit nya." ucap dokter yang lekas pergi.


Setelah itu aku pun pergi ke administrasi untuk meminta kamar khusus satu orang, setelah itu aku menunggu hingga kristin di pindahkan. Sekitar setengah jam kemudian aku di beritau bahwa kristin sudah di pindahkan ke kamar perawatan, aku pun dengan segera menghampiri nya.


Betapa lemas nya aku ketika masuk ke ruangan nya, aku melihat wajah nya di tutupi oleh banyak perban, yang hampir menutupi seluruh wajah nya. Aku tidak menyangka pukulan dan tamparan ayah sampai membuat wajah nya seperti ini. Aku pun duduk di samping nya dan diam disana untuk waktu yang lama tanpa berkata atau melakukan apa pun.


Sampai terlihat kristin mulai membuka mata nya...


dia hanya diam tanpa berkata apa-apa, seolah otak nya sedang mencoba memahami situasi saat ini dan mengingat-ingat apa yang sebelum nya terjadi, lalu ia menengok ke arah ku yang tepat duduk di samping ranjang nya. Tanpa berkata apa-apa ia hanya menatap ku yang tidak lama kemudian, air mata ikut menetes dari bolat mata nya.


"maaf". ucap ku pelan.


Mendengar ucapan ku ia langsung terisak tangis... ia terus menangis dan masih tidak mengucapkan satu pun kata dari mulut nya. Membutuhkan waktu cukup lama sampai dia mulai tenang...


"mungkin... kalo aku mati, ga akan ada orang yang nangis buat aku apa lagi merasa kehilangan". ucap nya sembari menatap langit-langit.


"berarti... kakak melupakan aku". saut ku dengan senyum tipis.


"kakak?... aku sampai lupa terakhir kali kamu manggil aku dengan sebutan kakak". jawab nya yang membalas senyuman ku.


"mungkin udah 10 tahun". ujar ku.


"ia ya... mungkin sudah 10 tahun". ucap nya dengan di ikuti tawa kecil.


Lalu tanpa alasan yang jelas, kami berdua pun tertawa tanpa alasan, seolah kami sudah menunggu moment ini selama 10 tahun, dimana kami dapat tertawa bersama, seperti yang biasa kami lakukan dulu.


" maaf liam.. kakak sudah jadi kakak terburuk yang pernah ada buat kamu..." ucap nya.


"engga... kakak selalu jadi kakak terbaik buat Liam, hanya saja kakak ga sadar itu". saut ku dengan senyum.


"apa sih? so puitis gitu.." saut nya dengan wajah mengesalkan.


"gpp lah... mau di bilang puitis atau apa, selama aku bisa milikin saudara kaya kakak". ucap ku dengan senyum.


Mendengar ucapan ku ia kembali menangis, namun bukan tangisan terisak seperti tadi, melainkan tangisan yang di barengi oleh senyuman, terlukis begitu indah di wajah nya.


"Kakak mau pergi dari rumah de.." ucap nya.


"heh? kemana?" tanya ku.

__ADS_1


"belum tau... yang jelas, ga tinggal di rumah". jawab nya


"Yaudah .. tapi nanti liam yang cariin tempat nya ya, titik.. " ucap ku tegas.


"hmmm ok deh, kalo bisa yang ada kolam renang ya" ujar nya bercanda.


"ok deh, kontrakan samping sungai berarti" saut ku.


"yeee... itu mah bakal dapet bonus buaya" ujar nya


Kami pun tertawa begitu lepas, aku sangat menikmati setiap detik di moment ini, moment dimana aku bisa kembali berbicara dengan lepas nya seperti ini dengan dia. Bahkan kami sama sekali tidak membicarakan tentang kejadian yang membuat kakak ku bisa seperti ini.


Tidak lama setelah nya, mas bagus mendatangi kami, dan mengatakan kakak sudah bisa pulang setelah 5 hari, aku pun berterimakasih kepada nya sebelum mempersilahkan nya pergi.


Setelah itu aku pun menelfon Ai untuk menanyakan apakah kakak ku bisa tinggal bersama nya untuk sementara waktu, tanpa memberi tau tentang kejadian hari ini. Lalu Ai mengatakan akan menayakan nya kepada ayah atau ibu nya terlebih dahulu untuk itu.


Dan seperti nya kakak ku juga tidak keberatan jika harus tinggal di rumah Ai.


.


.


.


Singkat cerita 5 hari pun berlalu, aku yang sedang liburan panjang sekolah hanya menghabiskan waktu bersama kakak ku di ruamh sakit, dan terkadang Ai pun ikut datang menemani ku sembari menjenguk Kristin. Dan untuk izin tinggal di rumah Ai, Pak gumelar dan istri nya mengizin kan kakak ku untuk tinggal bersama mereka, bahkan tanpa menanyakan alasan nya. Namun selama 5 hari itu pun, ayah dan ibu ku sama sekali tidak datang untuk menjenguk, malah ibu sempat marah kepadaku karna tidak pulang-pulang dan lebih memilih menginap di rumah sakit, aku pun tidak memperdulikan omelannnya, dan tetap menemani kakak ku.


Lalu kami pun masuk ke dalam, dan terlihat pak Gum dan istri nya sedang menunggu kedatangan kami di ruang tamu, namun di karnakan waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, aku pun ingin segera pulang kaena takut menggangu waktu istirahat mereka. Namun pak gum menghentikan ku, dan mengatakan ingin berbicara sesuatu dengan ku terlebih dahulu. Lalu ia mengajak ku untuk dududk di teras belakang rumah nya.


"yang nyebapin kakak kamu begitu pasti ayah kamu kan?". tanya pak gum sembari menyalakan rokok.


"eh.. kalo itu...". ucap ku bingung menjawab nya


"jika memang benar, aku tidak akan kaget... karna ayah mu hanya sedang menjadi ayah mu saja". saut nya.


"menjadi ayah ku? maksud nya gimana pak?". tanya ku penasaran.


"ayah mu di kenal sebagai iblis yang menyerupai malaikat... ia selalu menunjukan sisi malaikat nya di depan umum dan menutup rapat-rapat sisi iblis nya... banyak kasus hilang nya seseorang setelah mencari masalah dengan ayah mu, bahkan polisi pun sampai tidak berani menyelidiki nya dan lebih memilih alasan lain untuk sesegera mungkin menutup kasus nya.. " ucap nya.


Lalu aku hanya diam mendengar ucapan nya, jujur saya aku tidak kaget mendengar fakta tersebut, karna bagaimana pun dia adalah ayah ku, dan aku tau bagaimana dia, walapun dia selalu mencoba untuk menutupi nya.


"Pernah sewaktu itu... ada seorang wanita yang bekerja untuk dia, membocorkan kasus kecurangan perusahaan nya ke pihak berwajib.. namu seperti yang kau tau, seberapa besar kuasa ayah mu kan?... tidak begitu lama ayah mu yang sedang melakukan meeting berdua dengan ku, mendapatkan telfon dari seorang teman nya.. Dan ia langsung mengajak ku pergi ke suatu gudang yang tidak terpakai, aku bahkan tidak tau mengapa ia mengajak ku saat itu. Setibah nya disana, aku melihat seorang wanita yang sedang di ikat di kursi kayu dengan mulut terikat dan terlihat juga paman mu yang berdiri di belakang wanita itu... tanpa basa basi ayah mu langsung mengambil pemukul baseball berbahan besi yang memang sudah di sediakan oleh anak buah nya, dan langsung memukuli wanita itu sampai tidak sadarkan diri, bahkan mengetahui hal itu ia seperti tidak memperdulikan nya dan terus memukuli wanita itu sampai-sampai aku tidak bisa lagi mengenali wajah nya... namun yang paling membuat ku terkejut ialah... ketika saat ia berpaling melihat ku...", ucap nya dengan raut wajah ketakutan.


"ada apa pak setelah nya? apa yang bapak lihat?" tanya ku yang makin penasaran..


"aku berani bersumpah, untuk sesaat aku melihat mata nya berwaena merah gelap, seolah mata nya di penuhi oleh darah... aku yang melihat nya langsung berkeringat dingin dan diam membeku, dan di saat itu pun aku semakin menyadari untuk tidak macam-macam dengan pria tersebut.. atau mungkin memang itulah tujuan ayah mu mengajak ku kesana saat itu... Dan singkat nya, terjadilah pertunangan kamu dan Ai... namun jujur saja aku cukup lega, setelah melihat mu". ucap nya dengan senyum.


"apa yang bapak lihat dari ku?" tanya ku kembali.

__ADS_1


"entahlah... aku hanya merasa, bahwa kau berbeda dari ayah mu". ucap nya sembari mengelus-ngelus kepala ku.


Lalu setelah pembicaraan singkat kami, aku pun izin pulang karna sudah semakin malam, tidak lupa aku menghampiri Ai dan Kristin yang ternyata sedang sibuk bermain game berdua di Console. Aku yang tidak ingin menggangu kegembiraan mereka, memutuskan untuk tidak menegur mereka dan langsung pulang kerumah.


Pak gumelar menyuruh ku untuk memakai salah sath mobil nya, namun aku menolak dan lebih memilih menaiki taksi karna tidak ingin merepotkan nya lebih jauh.


Ketika di dalam taksi, aku hanya diam sembari menengok ke arah luar jendela dan memikirkan tentang kristin dan Ai. Lalu aku berkata dalam batin ku.


"Mau ayah atau siapa pun, bahkan apa pun itu... aku akan melindungi senyuman mereka berdua, meskipun nyawa ku taruhan nya... aku bersumpah".


.


.


.


Sesampai nya di rumah, aku langsung di omeli ibu di ruang tamu yang seperti nya sudah menunggu kedatangan ku, aku pun hanya mendengarkan nya tanpa membalas satu pun perkataan nya. Bahkan di sepanjang omelan nya itu, dia sama sekali tidak menyinggung tentang kakak, atau pun menanyakan keberadaan nya dimana saat inu. Seperti nya mereka benar-benar tidak perduli dengan kristin.


Setelah lelah mengomeli ku, ibu ku pergi kembali ke kamar nya, dan aku yang hampir tidak mendengarkan sebagian besar omelan nya memutuskan untuk ke kamar dan beristirahat.


Baru aku ingin memejamkan mata, aku mendapat panggilan telfon, yang setelah aku cek, itu dari Afif.


"LIIIAAMMMMMM IKUT AKUU". Teriak nya di telfon.


"hah? ngapa dah.. bikin kaget aja". saut ku sembari meng elus-elus kuping.


"aku ingin mendatangi suatu lokasi, masih di sekitar jakarta juga kok, kamu di jakarta kan sekarang... ayo lah". ucap nya kembali yang begitu bersemangat.


"ga ! " jawab ku singkat.


"ayolah.. aku ga bisa ngealkuin nya sendiri". ajak nya kembali.


Aku yakin kalau aku terus menolak, dia malah akan terus meneror ku untuk ikut, jadi lebih baik aku menuruti nya, karna sebenarnya aku juga penasaran dia ingin mengajak ku kemana.


"ok.. besok aku kasih tau lokasi nya... bye". ucap nya yang langsung mematikan telfon.


.


.


"akhir-akhir ini seperti nya aku mulai di kelilingi oleh orang-orang aneh". gumam ku pelan dengan senyum.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2