
"Mer... kalo setiap ngemil harus ya di kamar aku?". tanya ku yang sedang berbaring di kasur.
"kalo di sini kan ada TV gede, jadi bisa sambil nonton". ujar nya yang duduk di bawah kasur.
"di kamar kamu kan juga ada". saut ku.
"ga segede ini kan am..". jawab nya.
"yaudah entar tuker aja". saut ku kembali.
"eh serius?". tanya nya dengan wajah berbingar.
"iya.. lagian juga jarang aku nyalain". jawab ku.
Kami berdua pun melanjutkan tontonan kami di kamar ku, dengan sesekali mengerjai Merry dengan merebut cemilan nya, namun seperti biasa dia hanya selalu pasrah jika aku merebut cemilan nya, jadi aku selalu mengembalikan setelah mengambil beberapa.
"oia.. tumben kamu ga main sama afif". tanya Merry.
"Dia kan lagi di US, lagian.. perasaan aku ga sesering itu deh sama dia, sampe-sampe kamu nanya gitu". saut ku.
"ya biasa nya kan jadi ghost buster berdua". ledek nya.
"bukan Merry Buster?". ledek ku membalas.
"dihh...". saut nya.
Sedang asik mengobrol, tiba-tiba saja ada seseorang langsung masuk ke kamar ku tanpa mengetuk terlebih dulu.
"dek.....dek....adekkk....". ujar Kristinnn dengan wajah excited.
"apa apa apa?". saut ku.
"Kakak baru aja dapet email.. di terima kuliah di Stanford university". ucap nya sembari memeluk ku.
"ohhh.. bagus dong, beasiswa?". tanya ku kembali.
"ya engga lah, reguler.. kakak ga sepinter itu". jawab nya.
"emang nya kakak udah bilang papah atau mamah?". tanya ku.
"kalo itu kan...". ucap nya.
"itu kan?". tanya ku.
"itu kan tugas adek.. di tunggu ya". ucap nya yang langsung pergi meninggalkan kamar.
"ehh si kampret emang". eluh ku.
Memang semenjak Kristin kembali ke rumah, belum sekalipun aku melihat nya berbicara kepada orang tua kami, sebenarnya aku agak kesal dengan tingkah nya yang melimpahkan masalah nya kepada ku begitu saja, namun di satu sisi, aku juga ingin melihat nya bahagia dengan apa yang ingin dia benar-benar lakukan.
Aku pun pergi menemui ibu di kamar dan menceritakan tentang Kristin yang di terima kuliah di US, dan sesuai perkiraan ku, Ibu seperti tidak begitu perduli dan hanya menganggukan kepala, lalu ia juga menyetujui akan membiayai seluruh kegiatan nya di sana nanti.
Mungkin untuk ibu atau ayah, ada atau tidak nya kristin, bukanlah menjadi masalah bagi mereka, sedangkan aku... Jika saja aku pergi lebih dari 1 hari tanpa kabar, ibu pasti akan langsung mencari-cari ku.
Setelah itu aku pun pergi ke kamar kristin dan memberitaukan nya bahwa ibu telah menyetujui permintaan nya untuk membiayai kuliah nya nanti, ia pun terlihat begitu senang sampai-sampai kembali memeluk ku.
berarti dengan ini, 6 bulan dari sekarang kristin akan meninggalkan kami, ada rasa sedih juga akan di tinggal lama oleh nya, padahal kami tidak begitu lama bisa kembali dekat, tapi sekali lagi.. apa pun yang membuat nya bahagia, aku pasti akan selalu mencoba untuk mendukung.
.
.
Saat aku kembali ke kamar, terlihat Merry baru saja selesai menonton film, dan akan kembali ke kamar nya untuk bersiap-siap, karna dia ada kuliah siang ini.
"Mau berangkat kuliah Mer?". tanya ku.
"hmm iya..". jawab nya.
"Aku anterin deh, ga ada kerjaan hari sabtu". saut ku.
Merry menyetujui ajakan ku untuk mengantarkan nya ke tempat kuliah nya, aku pun bersiap dengan memakai jaket jeans dan langsung pergi ke garasi mengambil mobil, dan menunggu Merry.
Kami berdua pun segera meluncur ke daerah Bintaro tempat kuliah Merry, yang memakan waktu kurang lebih 30menitan karna jalan yang cukup padat.
"Mer... boleh tanya sesuatu?". tanya ku sembari menyetir.
"tumben nanya dulu, mau nanya apa emang?". tanya nya yang duduk di samping ku.
"Yang aku tau kan kamu bisa melihat ke masa lalu hanya dengan media lokasi, pertanyaan aku... apa kamu juga bisa ngajak orang lain agar bisa ngeliat juga?". tanya ku.
__ADS_1
"ohh maksud kamu seperti mengajak orang lain melihat masa lalu bersamaan dengan aku gitu?". tanya nya kembali.
"nah iya". saut ku.
"bisa iya bisa engga". jawab nya.
"maksud nya?". tanya ku kembali.
"waktu itu aku, ayah dan afif pernah mencoba nya.. seperti berpegangan tangan atau berdekataan saat aku ingin melihat, tapi itu tidak berhasil, seperti ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk ikut ikut melihat". ujar nya.
"apa itu khadam mu?". tanya ku.
"entah lah... karna khadam ku tidak seperti khadam kalian, yang bisa kalian ajak bicara sesuka hati... melainkan dia tidak pernah menunjukan wujud nya, bahkan aku sudah beberapa kali mencoba memanggil nama nya, namun dia tidak pernah menjawab". ucap Merry.
"kalau begitu, dari mana kau tau nama khadam mu?". tanya ku kembali.
"Dari ayah... Dia adalah satu-satu nya orang yang pernah melihat khadam ku.. Selain itu ia juga mengatakan bahwa khadam ku berasal dari Ras Raja Raksasa yang pernah menemani...". ucap nya terhenti.
"Menemani siapa?". tanya ku memastikan.
"ahh tidak perlu di fikirkan.. karna aku sendiri pun masih belum bisa mempercayai nya". saut nya.
"hmmm okok". jawab ku yang tidak ingin memaksa nya.
Sesampai nya di kampus, aku menurunkan nya di Lobby depan dan langsung pergi kembali ke rumah.
Sebelum sampai ke rumah, aku memutuskan untuk memakirkan mobil di sebuah taman yang masih berada di komplek perumahan ku, dan duduk sejenak di sana.
Dengan membeli membeli minuman dingin dan membakar rokok, aku termenung sejenak di bangku taman, dengan suasana yang cukup sunyi.
"Sezen". gumam ku.
Tiba-tiba saja dalam renungkan ku, aku kembali mengingat kejadian di saat Sezen mengingatkan ku tentang sebuah segel, semenjak saat itu, aku belum pernah lagi menemui nya.
Sebenarnya segel apa yang ia maksud, sampai-sampai dalam waktu 7 tahun jika aku belum bisa membuka segel nya, maka mahkluk dalam segel itu akan mengendalikan ku.
Jika di fikir-fikir, pertarungan ku saat itu dengan Alundra cukup tidak masuk akal, karna.. bagaimana mungkin aku dapat mengalahkan alundra dengan mudah nya, aku tau aku cukup kuat di bandingkan manusia pada normal nya, namun dengan Iblis s elevel Alundra, kekuatan ku jauh di bawah nya.
Aku bahkan masih mengingat jelas sensasi saat itu, seolah diri ku menjadi seperti bukan diri ku, rasa haus darah, kemarahan, semangat dan perasaan tak terkalahkan seolah bercampur aduk di dalam diri ku saat itu.
Apa mungkin kejadian itu bersangkutan dengan segel yang Sezen katakan kepada ku, mungkin saja.. karna tepat setelah kejadian itu, Sezen langsung datang ke mimpiku dan memperingatkan ku.
"halo?". ucap ku.
"Liam.. kamu dimana sekarang?". tanya nya.
"di deket rumah, kenapa?". tanya ku.
"lohh kamu belom di kasih tau emang? hari ini kan meeting nya". jawab Anggi.
"hah? meeting apaan? ga ada yang ngasih tau". saut ku bingung.
"yaudah kamu kesini aja dulu, mau aku jemput atau aku tunggu di sini... ayah kamu bentar lagi sampe". ucap Anggi.
"ayah? yaudah kirimin alamat nya aja di chat, biar aku yang kesana". ujar ku membalas.
"oke.. jangan lupa pake pakaian yang rapih ya". ucap Anggi.
Karna sudah melibatkan ayah, aku tau bahwa akan ada sesuatu yang penting, aku pun langsung menuju rumah untuk berganti pakaian, dan sesegera mungkin pergi ke alamat yang sudah di berikan oleh Anggi.
Alamat nya cukup jauh, terdapat di sebuah gedung di daerah Jakarta utara yang akan membutuhkan kurang lebih 1 jam dari rumah ku jika menggunakan mobil, bahkan saat aku masih di perjalanan, asisten ayah (bukan Julian) menelfon ku dan menanyakan keberadaan ku.
Karna sudah sampai di telfon oleh asisten ayah, aku pun menambah kecepatan sampai-sampai aku secara tidak sengaja menyerempet sebuah motor hingga terjatuh.
"WOI MAS HATI-HATI LAH.. PUNYA MATA GA??". Teriak pemotor tersebut dengan kondisi motor nya masih tergeletak di tanah.
Aku pun lekas menghentikan mobil dan langsung mengeluarkan seluruh uang di dompet ku yang mungkin berjumlah hampir 1.5jt rupiah dan tidak lupa meminta maaf, aku pun memberinya kartu nama ayah dengan mengganti nomor telfon nya dengan milik ku.
Pria tersebut yang sebelum nya terlihat begitu marah, langsung terdiam setelah aku berikan uang, karna aku benar-benar sedang terburu-buru. Pria itu pun memutuskan untuk menyelesaikan nya di sini, karna dari yang kulihat memang tidak ada luka pada nya dan motor nya pun hanya tergores bekas terjatuh.
Dan sekitar 1jam lebih perjalanan, aku sampai di sebuah komplek pergudangan yang ku tau kalau tempat ini seluruhnya adalah milik ayah.
Ketika aku memasuki komplek, security seperti telah menghafal plat nomor mobil ku dan langsung mengarahkan ku ke sebuah gudang besar yang berada di ujung.
Sesampai nya di gudang tersebut, sudah ada banyak sekali mobil mewah parkir di depan nya, bahkan ada beberapa bodyguard dan sekitar 10 polisi ikut berjaga di luar.
Aku pun segera masuk ke dalam gudang tersebut, terlihat anggi dengan dengan rambut yang sesang ia ikat dan memakai jas hitam layak nya pria, sudah menunggu ku di pintu gudang.
Ia pun langsung menghampiri ku dan mengajak ku untuk masuk ke dalam.
__ADS_1
"pipi kamu merah kenapa?". tanya ku.
"ahhh ini dari ayah tadi... ternyata yang harus nya kasih tau meeting ini adalah aku, jadi nya dia marah". ujar nya.
"hmm ada-ada aja". saut ku.
Kami pun menaiki lantai dua gudang dan terdapat sebuah ruangan besar, anggi pun mengajak ku untuk masuk ke dalam ruangan tersebut, dan aku melihat sebuah meja bundar berada di tengah, dan ada sekitar 6 orang duduk yang di temani oleh bodyguard mereka masing-masing. Seperti ayah yang di temani oleh Julian di belakang nya.
Lalu seorang wanita menarik sebuah kursi untuk ku duduk dan Anggi pun berdiri di bealakang ku, dengan rasa was-was dan bingung tentang rapat apa ini, aku mencoba menenangkan diri dengan memutar-mutar pulpen yang berada di depan ku.
Selain ayah dan julian di sini, wajah mereka begitu asing bagi ku, aku tidak pernah melihat nya, namun meski begitu.. hanya dari melihat aura mereka masing-masing, aku tau mereka bukanlah orang sembarangan.
"Hanum... ku dengar kau membawa Basuki kembali? apa kau gila?". tanya seorang pria tua berambut putih.
"iya benar, apa yang ingin kau lakukan sebenarnya? bagaimana jika dia mengkhianati kita". ujar seorang wanita berpakaian glamor yang kita sebut saja Lesti.
"Kalian terlalu berfikiran berlebihan... aku sendiri yang menjamin kalau dia tidak akan mengkhianati kita". jawab ayah santai.
"Apakah kau tak mengingat bagaimana sulit nya untuk menyingkirkan Basuki waktu itu? dan sekarang kau malah membawa nya kembali.. kau terlalu gila Hanum". ujar pria tua itu kembali.
"Dari pada kalian meributkan seseorang yang belum tentu akan mengkhianati kita, lebih baik kita mengurusi seorang pengkhianat di antara kita lebih dulu..". ujar seorang pria berwajah chines, yang terlihat masih muda, kita sebut saja Charless.
"Hah?.. jangan asal bicara kau charless, mentang-mentang ayah mu memberikan kekuasaan secepat ini, kau bisa asal bicara seperti itu". ujar Lesti.
"Bagaimana menurut mu hanum?". tanya seorang pria tua yang berbeda, sejak aku masuk tadi, ia hanya memegangi tongkat nya tanpa pernah membuka mata nya. kita sebut saja Yohan.
Lalu julian mengeluarkan sebuah koper hitam dan menumpahkan banyak sekali berkas ke atas meja.
"apa ini??". tanya Pria tua.
"Seperti yang kalian lihat, itu adalah berkas keuangan kita lengkap dengan nama-nama kita yang sudah di bocorkan ke aparat...". ujar Hanum dengan senyum.
Tiba-tiba Lesti terlihat begitu grogi dengan wajah memucat.
"Mungkin pengkhianat ini sudah lupa siapa aku... bukan begitu.... Lesti". ujar hanum kembali.
"A..apa yang ka...kau bi..bicarakan Hanum... Ka..kau me..menuduhku?? kau lupa siapa yang membuat mu bisa du..duduk di situ saat ini hahh!!". ucap Lesti yang terlihat semakin grogi dan ketakutan.
"menuduh mu? aku bahkan tidak mengatakan nya.. mengapa kau begitu panik". ujar ayah dengan senyum.
"Hah?? Gila kau Hanum.. GILAAA". Teriak lesti.
"lesti... kau benar-benar mengkhianati kita?". tanya Pria tua tadi.
"hah? aku.. apa kalian sudah gila, aku adalah pendiri organiasasi ini.. hanum.... HANUM LAH YANG MENGKHIANATI KITA... dia mem...memfitnah ku a..aku yakin itu". ujar Lesti sembari berdiri dan menunjuk ke arah ayah.
Lalu terlihat seluruh peserta yang hadir langsung menundukan kepala mereka, seolah mereka sudah paham bahwa lestilah sang pengkhianat, dan mereka pun sudah tau apa yang akan terjadi kepada nya.
"Kak...kak...kak hanummm... biar kan aku yang membunuh nya, boleh kan???? ". tanya Charless dengan seyum lebar sembari meengangkat-angkat tangan nya ke atas.
"Lakukan sesuka mu". saut ayah sembari membakar rokok.
Charless pun berdiri sembari mengambil sebuah rantai cukup panjang dan menggulung-gulung kan rantai tersebut di tangan nya.
"DORRRRR !! ".
Tiba-tiba saja Julian menembak bodyguard lesti tepat di kepala nya, yang membuat ku cukup kaget dengan suara tembakan nya.
Lesti langsung tersungkur lemas di tanah sembari memohon ampun untuk tidak di bunuh.
"maaf lesti... seperti yang kau tau, peraturan teratas organisasi adalah membantai seluruh keluarga bagi anggota yang terlibat pengkhianatan". ujar Yohan yang masih terlihat begitu santai.
"to..tolong yohan.. setidak nya biarkan anak ku hiduppp, dia masih berumur 6 tahun.. yohann aku mohon". ujar Lesti sembari memegangi kaki Yohan.
Yohan pun tanpa berdiri, langsung menendang wajah lesti, seolah merasa jijik.
Lalu Charless mengalung kan rantai tersebut ke leher Lesti dan langsung mencekik nya sekuat tenaga, dengan wajah tersenyum yang tak hilang menempel di wajah charless.
Hanya butuh persekian detik sampai Lesti mati, lalu charless meminta bodyguard nya untuk mengambilkan karung untuk menaruh mayat Lesti.
"kak hanummmmm". ujar Charless dengan sedikit merayu.
"hmm?". saut ayah.
"bo..boleh kah aku.. yang menyelesaikan keluarga nya? ya.. boleh yaa... aku mohon". ujar Charless.
"Seperti yang ku katakan sebelum nya, lakukan sesuka mu". saut ayah.
"yoshhh... setelah rapat ini aku akan langsung ke rumah nya". jawab Charless dengan wajah penuh kegembiraan.
__ADS_1