
Tibalah hari dimana aku dan Ai akan bertunangan, sekarang waktu menunjukan pukul 6 sore dan acara akan di laksanakan di pekarangan belakang rumah Pak Gumelar.
Aku memakai setelan jas hitam dengan kemeja putih sebagai dalaman, dan juga dasi berwarna hitam.
sebenarnya aku sangat malas untuk datang ke acara seperti ini, walaupun ada rasa senang bahwa aku akan segera bertunangan dengan Ai, tapi kurasa acara ini agak berlebihan, karna ku yakin di balik acara ini ayah memiliki sebuah rencana.
Lalu aku,ibu dan ayah menaiki mobil yang sama dan segera menuju rumah Pak Gum.
"Liam..." ucap ayah.
"ya yah?". saut ku.
"perhatikan.. lihat...pelajarilah..."
Ucapan ayah yang di baluti dengan senyuman yang sama persis saat kakak Ai meninggal saat itu, bahkan bulu kuduk ku sampai di buat merinding hanya karna melihat senyum nya. Aku pun langsung merasa takut jika terjadi apa-apa dengan Ai, apakah kali ini dia akan membunuh Pak gum? atau mungkin istri nya?.. tidak.. seperti nya bukan itu, karna ayah bukanlah orang yang suka melakukan hal yang terlalu mencolok seperti itu, apa lagi nanti akan di hadiri beberapa pejabat dan juga kolega ayah, lalu apa yang sedang dia rencakan.
Sekitar 30 menit di perjalanan kami pun sampai di rumah Ai, dengan perasaan yang campur aduk, karna aku masih memikirkan tentang rencana apa yang akan di lakukan ayah, aku pun harus memaksakan senyum di wajah ku untuk menyapa banyak tamu yang hadir.
Ketika aku ingin ke dapur untuk menuju ke taman belakang, tiba-tiba saja ada seorang wanita yang memanggil ku.
"liammmm...... apa kabar...." ucap wanita itu.
"ohh... cindy? kamu cindy? udah lama banget". ucap ku dengan senyum lebar.
Seorang wanita berambut pendek seleher, dengan alis tebal, sebagai ciri khas nya. Cindy adalah anak dari salah satu tangan kanan ayah di perusahaan nya, dan cindy juga adalah teman SD ku, namun terakhir kali aku bertemu dengan nya mungkin sekitar 5 tahun lalu saat ada acara besar dari kantor ayah.
"wohh sekarang mau tunangan". ucap Cindy dengan senyum manis nya.
"haha ya gitu deh..". saut ku.
Kami pun mengobrol cukup panjang, sampai Pak gum dan istri nya datang menghampiri ku untuk sekedar menyapa, dan terpaksa aku pun harus meninggalkan Cindy.
"wah ganteng banget calon menantu kita pah". ucap bu Yuhiko.
"ahh tante bisa aja, ngomong-ngomong Ai dimana tante?" tanya ku.
"masih di atas, riasan nya sebentar lagi selesai". ucap nya.
Di tengah perbincangan ku dengan kedua orang tua Ai, tiba-tiba aku mendapatkan sebuah bisikan dari tetua, ia meminta ku untuk pergi ke tempat sepi karna ada yang ingin ia bicarakan, aku pun menuruti nya dan pergi ke depan rumah.
"Liam.. Aku merasakan Khilaman sedang mundar mandir di sekitar rumah". ucap tetua tanpa menunjukan wujud nya.
"khilaman? apa itu?". tanya ku.
"khilaman adalah nama lain dari ular laut berwarna hitam yang begitu besar dengan kepala seperti naga". jelas Tetua.
"sedang apa dia dimari? apa kau mengetahui sesuatu Dagon?". tanya ku memanggil Dagon.
"khilaman biasa nya akan muncul hanya ketika ada sebuah bencana maha dasyat seperti gempa atau pun letusan gunung, untuk memakan jiwa-jiwa yang akan pergi ke akhirat... tapi aku tidak tau alasan mengapa dia berada di sini". ucap Dagon yang juga tidak memunculkan wujud nya.
"ngomong-ngomong jika memang khilaman sangat besar, mengapa aku tidak bisa melihat nya?". tanya ku kembali.
"justru di karnakan semakin besar nya, bahkan aku tidak menyadari bahwa langit sudah di tutupi oleh tubuh nya". ucap tetua.
"Mana mung--"
Ucapan ku terpotong ketika aku menoleh ke arah atas, aku baru menyadari, aku tidak dapat melihat bulan atau pun bintang-bintang di langit.
"oi tetua.. jangan bilang..." ucap ku.
__ADS_1
"ya seperti yang ku katakan sebelum nya, dia begitu besar.. sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa tubuh nya sudah menutupi langit". ucap tetua.
aku hanya melihat kegelapan total di langit sana, sebenarnya apa yang dia lakukan di sini? apakan ini bagian dari rencana ayah sedari awal, lalu apa yang harus ku lakulan.
"apakah kita tidak bisa mengusir nya?" tanya ku.
"tidak... tidak mungkin... karna saking kuat nya, ia sudah seperti mahkluk yang tak tersentuh bagi kami para bangsa Iblis, teman lama ku meengatakan dia adalah salah satu dari 3 peliharaan Dajjal... namun dia tidak memiliki akal, tidak seperti iblis lain nya, dia seperti singa yang selalu merasa lapar, dan akan memakan apa pun selama itu bisa dia makan". ucap Dagon.
"Lalu apa kah benar-benar tidak ada cara lain? karna perasaan ku sungguh tidak enak". ucap ku.
"Seharus nya bisa... dengan menemukan siapa yang memanggilnya, namun jujur saja.. Aku masih ragu bahwa manusia atau pun jin bisa memanggil nya, karna aku tidak pernah mendengar sebuah Ritual untuk memanggil nya... hanya iblis dari golongan Teratas saja yang bisa memanggil nya.". jawab Dagon.
"Golongan teratas? siapa yang mempunya---"
Tiba-tiba saja aku mengingat sesuatu, tentang iblis yang kekuatan nya bahkan setara dengan malaikat.
"Tetua... apakah kau ingat tentang jin yang berada di Puri karang asem waktu itu?". tanya ku.
"iya..tentu aku mengingat nya". balas tetua.
"dia mengatakan bahwa ada iblis yang memiliki kekuatan setingkat dengan malaikat tuhan, dan satu-satu nya alasan dia tidak di sebut sebagai malaikat karna dia adalah pembangkang.. apa menurut mu ada kaitan nya?". tanya ku
"bisa jadi... karna tidak sembarang mahkluk dapat memanggil nya". ucap Tetua.
Aku yang sedang sibuk berbincang dengan para khadam ku, di hampiri ayah yang datang dari rumah.
"tenang saja... aku berjanji tidak akan menyentuh tunangan mu, selama kamu menjadi anak yang papah inginkan". ucap nya sembari mengelus-elus kepala ku.
Seperti nya ayah menyadari bahwa aku sedang membicarakan tentang khilaman atau tentang rencana nya.
"lalu apa yang dia lakukan disini?". tanya ku.
Meskipun ayah adalah orang yang sangat licik, tapi dia adalah orang yang akan selalu menepati janji nya, lalu apakah aku harus menghilangkan rasa khawatir ku ini?, aku masih tidak bisa menebak rencana nya.
Lalu sembari sesekali menengok ke arah langit, aku kembali ke dalam rumah dan mencoba untuk menghilangkan rasa was-was ini, karna yang terpenting bagi ku sekarang adalah Ai dan aku tidak perduli dengan yang lain.
Ketika aku sedang berbincang-bincang dengan kolega-kolega ayah, aku melihat Kristin turun dari lantai 2 bersama dengan seorang wanita yang mengenakan gaun berwarna putih, sungguh menyita perhatian para tamu, termasuk juga aku.. siapa lagi kalau bukan Ai.
"nunggu lama ya? maaf ya.. tadi perias nya kejebak macet, jadi telat deh". ucap nya sembari memeriksa rambutnya.
"beb? hellooo?" ucap nya
"a..ahh.. maaf .. ia gpp santai aja". saut ku dengan senyum.
Padahal ini bukan pertama kali nya aku bertemu dengan Ai, namun perasaan ini, sama persis seperti yang kurasakan ketika aku bertemu dengan nya saat di restorant saat itu, aku menjadi gugup di depan nya dan tidak berani menatap mata nya secara langsung.
"repot banget deh mamah.. masa harus pake gaun panjang gini". ucap nya.
"y.ya.. nama nya juga pengen putri nya keliatan ca..cantik". saut ku grogi.
"kamu kenapa sih? aneh banget tumben.. yaudah yuk, acara nya mau di mulai". ucap nya sembari menarik lengan kiri ku.
Lalu Ai mengajak ku untuk pergi ke taman belakang, namun di tengah perjalanan kami kesana, aku melihat Pak Gum sedang ingin mengangkat telfon, dan ketika dia mengangkat telfon nya, wajah nya langsung 180° berubah, terlihat kecemasan dan rasa ketakutan yang tampak begitu jelas di wajah nya, sebenarnya siapa yang sedang ia telfon.
Lalu aku menyadari bahwa ayah sedang menatap Pak Gum dari pintu depan, dengan senyum penuh dengan misteri, apakah telfon itu termasuk dalam rencana nya.
Ai yang tidak menyadari itu, tetap menarik ku untuk ke taman belakang. Ketika kami sampai, terlihat banyak sekali tamu yang sudah hadir, dan sebuah panggung yang menutupi kolam renang.
Tidak lama kemudian Pak gum dan istri nya naik ke atas panggung, terlihat wajah cemas dan ketakutan masih belum hilang dari wajah Pak Gum, namun istri nya juga seperti nya belum menyadari tentang situasi Suami nya.
__ADS_1
"te..terimakasih...su..sudah mau hadir". ucap Pak gum terbata-bata.
Lalu terlihat istri nya sedikit mencubit paha pak gum dengan tunjuan agar tidak membuat malu mereka.
"Sebelum kita memulai acara pertunangan anak kami, ada yang ingin saya sampaikan... Bahwa saya akan menjual 60% saham induk perusahaan saya kepada Bapak Hanum". ucap Pak gum.
Langsung saja, raut wajah istri nya berubah menjadi begitu terkejut, tidak hanya dia.. Bahkan para tamu di buat terkejut dengan pernyataan nya itu.
Terlihat kebingungan juga tampak di wajah Ai, ia juga seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Ayah nya. Namun ketika aku melihat ke arah Ayah dan Ibu ku, wajah mereka menunjukan senyum puas yang di arahkan kepada seluruh tamu.
"Kami berdua memutuskan untuk menyatukan kedua perusahaan induk kami, terimakasih atas perhatian nya dan silahkan nikmati pesta nya". ucap pak gum yang langsung terburu-buru untuk turun panggung.
Lalu giliran kami berdua untuk menaiki panggung, sekedar untuk memperkenalkan diri.
.
.
.
Singkat cerita, setelah acara selesai kami pun segera pulang ke rumah dengan rasa penuh tanda tanya.
"pah.. sebenar nya Pak Gumelar kenapa? dan untuk apa papah memanggil mahkluk itu?". tanya ku di dalam mobil.
"papah hanya sedikit mengancam nya". ucap nya dengan senyum licik sembari mengelus kepala ku.
"mengancam? dengan memanggil mahkluk seperti itu? aku tidak mengerti sama sekali". jawab ku.
"tidak... mahkluk itu papah persiapkan untuk rencana sebenarnya, papah hanya ingin lebih efisien... karna target ku bukan hanya dia". ucap nya.
"sebenarnya apa tujuan papah? hingga harus menyatukan ku dengan Ai". tanya ku kembali yang memberanikan diri.
"Papah ingin menguasai seluruh perusahaan si gumelar, hanya itu.." ucap nya.
"Mengapa ayah begitu terobsesi dengan Pak Gumelar sampai seperti ini?". tanya ku kembali.
"Liam.. sudah cukup, pertanyaan mu terlalu banyak". ujar ibu ku.
"sudah tidak apa-apa... Anak ini kelak, akan mewarisi segala yang telah aku miliki nanti... lalu mengapa aku terobsesi dengan gumelar? ku akui karna ada sedikit dendam, tapi... gumelar hanya akan menjadi anak tangga untuk kita melangkah lebih tinggi". ucap nya yang kembali mengelus kepala ku.
Aku semakin bingung sengan tingkah ayah, di mulai dari sekitar sebulan lalu, sifat nya seperti berubah drastis pada ku, biasa nya dia sangat dingin dan paling malas untuk berinteraksi dengan ku... namun kini, dia selalu menjawab pertanyaan ku, bahkan juga sering mengelus kepala ku.
Jangan salah.. Aku tetap membenci nya sebagai manusia yang begitu licik, namun.. di dalam hati ku, aku tidak membongi perasaan ku, bahwa aku menyukai perubahan sikap nya ini, aku seperti mulai mengenali sosok ayah yang mencoba untuk dekat dengan ku.
"Papah.. boleh aku bertanya satu hal lagi?". tanya ku.
"hmm?". gumam nya.
"Sebenarnya siapa yang bisa memanggil mahkluk itu?". tanya ku penasaran.
"Tuan kita..." balas nya dengan senyum tipis.
.
.
.
.
__ADS_1