
*Dalam Chapter ini dan beberapa chapter ke depan saya akan memakai Sudut pandang dari Dilan/Gafi (anak Tina)*
"Gelap". ucap ku dalam hati.
*ayuk Bu tarikk.. tarik nafas dorong, teru buk*
Aku mendengar percakapan seperti itu berulang kali, dimana aku sebenarnya, begitu gelap, namun.. begitu hangat. Rasa nya aku ingin seperti ini selama nya.
*bu... terus bu... dorong....*
Tiba-tiba saja ada sesuatu yang menarik dan memaksa ku untuk keluar, tidak... Biarkan aku seperti ini selama nya, aku merasa nyaman di sini.
*Bu.. alhamdulilah anak nya sehat*
"siapa mereka?". ucap ku dalam hati.
Setelah aku di tarik keluar, aku melihat sorotan cahaya yang begitu menyilaukan.
"Dingin... begitu dingin... masukan aku kembali".
Lalu seseorang menggendong ku dan menyelimuti ku dengan kain.
"hangat"....
*Dok... kenapa ga nangis?*
*aneh.. padahal dia bernafas normal, dan sadarkan diri, kenapa tidak menangis?*
Ada seseorang yang berpakaian serba Biru menekan-nekan dada ku terus menerus, aku malah menjadi sedikit sesak di buat nya.
"hentikan.. apa yang kalian lakukan". ucap ku kembali dalam hati.
*Dok.. anak saya gpp kan?*.
*semua nya terlihat baik-baik saja, namun entah mengapa dia tidak menangis bu*.
*kok bisa dok? astaga... nak kamu gpp?*
*ibu tenang dulu.. nanti setelah ini akan kita lakukan pemeriksaan lebih dalam*
Lalu pria berbaju biru itu memberikan ku kepada seorang wanita yang sedang tertidur untuk di gendong.
*Dilan.. Dilan.. ini mamah nak, kamu gpp kan nak?*
Pandangan ku yang masih sangat kabur, tidak bisa melihat wajah nya dengan jelas, namun aku dapat merasakan kehangatan dari nya, ia memeluk ku sembari menangis, sebenarnya apa yang membuat nya menangus.
Lalu pria berbaju biru tadi kembali mengambil ku dan membawa ku, namun sebelum aku pergi meninggalkan ruangan, aku melihat sesosok bayangan hitam yang sangat besar berdiri di pojok ruangan, aku tidak bisa melihat nya dengan jelas, namun aku tau sosok hitam tersebut sedang melihat ku.
Aku di bawa di sebuah ruangan dan di letakan di atas kasur tabung, apa yang ingin mereka lakukan kepada ku, aku melihat seorang wanita berpakaian serba putih membawa sebuah jarum kecil.
"jangan.. mau kau apakan itu".
__ADS_1
Lalu wanita itu menusukan jarum tersebut ke tangan kanan ku, setelah nya mereka menutupi mulut dan hidung ku dengan sebuah alat, apa yang sebenarnya mereka lakukan kepada ku, padahal aku merasa baik-baik saja.
Setelah menyuntik tangan ku, wanita itu menyambungkan sebuah selang di tangan ku, ke sebuah kantung berisi air.
"tunggu.. apa yang sebenarnya dari tadi aku bicarakan?.. eh? mengapa aku tau kalau yang wanita bawa itu adalah jarum, bukan kah ini pertama kali nya aku melihat nya, tunggu apa yang sedang aku bicarakan? bahasa apa ini?
Mengapa aku bisa mengerti bahasa ini? sebentar... apa kah aku seorang bayi yang baru saja lahir? heh? apakah seluruh bayi seperti ini semenjak mereka lahir, bukan kah itu tidak normal?
eh? apa itu normal? mengapa aku mempertanyakan pertanyaan yang tidak aku tau pertanyaan nya, tunggu...". ucap ku yang terus berbicara di dalam hati.
Aku seperti begitu dilema, dengan terus bertanya di dalam hati yang sebenarnya aku juga tidak begitu memahami pertanyaan itu sendiri.
Setelah beberapa lama mereka akhir nya kembali menghampiri ku dan melepaskan segela peralatan yang menempel di tubuh ku .
*anehh... seluruh pemeriksaan menunjukan normal, lalu mengapa bayi ini sampai sekarang belum juga menangis?*
"itu di karnakan tidak ada sesuatu yang membuat ku menangis". ucap ku kembali dalam hati.
Dasar aneh, mengapa mereka begitu meributkan perihal aku tidak menangis, tentu saja karna sedang tidak ada yang perlu aku tangisi.
Setelah itu mereka kembali mengangkat ku dan menggendong ku dan mereka membawa ku ke sebuah ruangan, ketika baru saja aku memasuki ruangan, aku kembali melihat sesosok bayangan hitam berdiri di pojok ruangan.
*bu.. setelah kita melakukan pemeriksaan menyeluruh, tidak ada yang salah dengan bayi ibu, jadi ibu tidak perlu khawatir... walaupun memang langkah, namun tidak menangis setelah di lahirkan bukanlah yang pertama terjadi*.
*iya terimakasih banyak*
Wanita yang menggendong ku saat ini, seperti nya sama dengan wanita yang menangisi ku sebelum nya, yang juga memberikan aku kehangatan dalam pelukan nya.
Bayangan hitam yang berada di pojok ruangan terus memerhatikan ku, entah mengapa, aku merasa tidak takut akan sosok nya.
*Dilan... ciluk baaa*
"hehhhh apa yang sedang di lakukan wanita ini". gumam ku.
Wanita yang sedang menggendong ku saat ini terlihat begitu aneh, ia menutupi wajah nya dan kembali membuka nya dan menunjukan ekspresi wajah yang aneh, apa dia gila? seperti nya iya. Meskipun aku belum begitu jelas melihat, aku bisa memahami yang sedang ia lakukan.
*Dilan kok diem aja... ga ketawa*
"TADI SURUH NANGIS? SEKARANG KETAWA??? MAU SITU APAAA??". gumam ku kesal.
*Dilan.. kamu gpp kan? jangan buat ibu khawatir*
Ucap wanita itu yang kembali menangis dan langsung memeluk ku begitu erat.
"ma..maa". gumam ku.
Tiba-tiba saja aku merasa begitu bersalah dengan nya, aku merasakan kesedihan yang mendalam dari nya, aku juga merasakan kesedihan yang lain, entah apa itu, seperti aku memiliki ikatan emosi dengan nya.
"eeaaaa....eeaaaaaa..eaaaaa". Tangisan palsu ku.
*Alhamdulilah... Dilan, kamu akhirnya nangis, alhamdulilah... terimaksih ya allah*
__ADS_1
Ucap wanita itu yang masih terus menggendong-gendong ku, ia masih menangis, namun kali ini berbeda, aku merasakan perasaan lega dan bahagia dari nya.
Wanita itu terus berbicara dengan ku, meski pun lebih banyak yang tidak aku pahami dari omongan nya, namun ada satu kata yang beberapa kali ia keluar kan.. yaitu.. maaf.
*yaudah sekarang ***** dulu ya... biar perut kamu terisi*
"heh? *****?". gumam ku.
Aku melihat wanita itu mengangkat baju nya dan memperlihatkan dada nya, dan langsung mendekatkan kepala ku ke dada nya.
"heh.... kau gila? hah? ma..mau kau apakan aku sekarangg... hentikannnnnn". gumam ku sembari mencoba berontak.
Ketika mulutku sudah menempel, seperti secara alami mulut ku langsung menghisap, dan aku merasakan seperti air keluar dari nya, aku pun baru memahami bahwa yang ia lakukan adalah sesang memberikan ku minum.
Setelah berpura-pura menangis tadi, aku menjadi sangat lelah, seperti energi ku begitu terkuras hanya karna menangis tadi, aku pun tertidur dalam pelukan hangat nya.
.
.
.
*Beberapa jam kemudian*
Aku membuka mata ku perlahan, suasana ruangan begitu gelap, seperti nya karna memang sudah malam, aku pun menengok-nengok ke sekitar, aku melihat wanita yang tadi menggendong ku tertidur.
Aku berada di sebuah kasur kecil yang berbeda dari wanita itu.
Aku juga masih melihat bayangan hitam di pojokan ruangan, sampai aku di buat penasaran siapa dia, mengapa dia terus menatap ku.
Tiba-tiba saja, aku melihat bayangan tersebut perlahan mendekat, seolah ia sadar bahwa aku sudah bangun, ia seperti melayang begitu pelan ke arah, seperti dia mencoba untuk tidak mengangget kan ku.
*Kamuzu...*
Terdengar suara yang begitu serak dan berdengung di telinga, seperti nya suara tersebut berasal dari bayangan itu.
"kamuzu apa maksud mu?". gumam ku dalam hati.
"kau adalah kamuzu... karna itu aku berada di sini". jawab nya yang semakin mendekati ku.
"heh? kau bisa mendengar ku? padahal aku berbicara dalam hati". gumam ku terkejut.
"tentu... karna kau adalah kamuzu, aku datang kesini untuk membuat perjanjian kepada mu". ujar nya kembali.
"perjanjian? perjanjian apa itu?". tanya ku bingung.
"Setelah 500 tahun lama nya... akhirnya aku kembali bertemu dengan Kamuzu bermata Merah (tingkat ketiga)... karna kau adalah kamuzu tertinggi, maka akan membutuhkan perjanjian khusu". ujar nya.
"tunggu...sebelum itu bisa kau jelaskan siapa kau?". tanya ku penasaran.
"Azazel.... aku adalah Azazel". jawab nya.
__ADS_1