
Malam hari nya, aku menghabiskan waktu ku hanya dengan bermain game dan berbicara dengan Ai via telfon. Semenjak Kristin tinggal di rumah nya, aku dan Ai jadi jarang menghabiskan waktu berbicara di telfon, aku tidak kesal.. Karna sejujurnya aku juga tidak suka terlalu lama berbicara di telfon terkecuali ada masalah penting.
Aku duduk di kasur ku sembari memperhatikan Kalung yang di berikan oleh Aira nenek ku, sampai sekarang aku belum bisa memanggil khadam atau pun jin penghuni di dalam liontin ini, karna aku tidak mengetahui siapa nama jin tersebut. Aku ingin segera memecahkan misteri tentang kalung ini, namun aku sama sekali tidak memiliki petunjuk selain tentang kemiripan gambar burung dan ular yang sama persisi dengan gambar yang juga di temukan pada Kitab orang mati.
Aku pun hanya merebahkan badan ku sembari menarik nafas panjang, entah apa alasan nya aku melakukan itu.
"Liam... ada yang mengawasi mu". ucap tetua yang muncul di samping ku.
"hah? siapa?". tanya ku.
"aku tidak tau... energi ini berasal dari luar, dan energi nya sungguh luar biasa, namun aku seperti nya mengenal energi ini". ungkap nya.
"tapi kenapa aku tidak dapat merasakan energi nya? apakah ada orang yang ingin menyantet ku". ujar ku.
"tidak... kurasa bukan itu". saut tetua.
[i][b]SRREEEEEEKKKKKKKKK[/b][/i]
tiba-tiba saja jendela ku langsung terbuka sendiri dengan begitu kencang, dan di ikuti angin dingin yang begitu menusuk ke tulang ku masuk ke dalam ruangan.
Tetua pun langsung bersiap sembari berdiri di depan ku, dan beberapa khadam milik ku pun juga ikut muncul.
"TENANG LAH... AKU KESINI HANYA UNTUK BERBICARA." terdengar suara pria yang begitu bergema.
Aku pun dengan segera melihat ke arah luar jendela, dan aku melihat sesosok pria yang ku lihat tadi sore saat ingin pulang dari sekolah.. Peia bertubuh besar dengan tinggi mungkin sekitar 3 meter, dengan rambut putih panjang sampai ke leher, lalu kumis dan jenggot nya begitu lebat.
"Dagon... ternyata kau, pantas aku merasa tidak asing dengan energi ini" ucap tetua.
"kau mengenal nya kek?". tanya ku.
"tentu saja... iblis mana yang tidak mengenal nya, dan dia juga adalah mantan pengikut Aira bersama ku dulu". jawab kakek.
Lalu Dagon melayang dan memasuki kamar ku melalui jendela.
"kau adalah cucu aira?". tanya nya.
"y..ya". jawab ku gugup.
"kalung itu.. tidak ku sangka dia memilih mu". ucap dagon.
"kalung ini? apa maksud nya dengan memilih ku?". tanya ku kembali.
"itu adalah pusaka terkuat milik Aira, yang sekaligus paling tidak berguna. Bernama Towsret Pentagon... Seperti nya dia telah mempertaruhkan segala nya kepada mu". ucap nya yang berdiri tepat di depan ku.
"twosret?... seperti nya aku pernah mendengar nama itu". jawab ku.
"twosret... Sang Fir'aun terakhir, Alcandra membuat khusus kalung itu sebagai hadiah kepada Twosret". ucap Dagon sembari melihat ke arah liontin.
"Lalu kau tau arti dari semua lambang ini?". tanya ku yang begitu antusias.
"Tidak... bahkan Aira pun belum berhasil memecahkan teka teki kalung itu. Karna Aira percaya, bahwa kalung itulah jawaban dari semua pertanyaan nya.. Dan satu-satu nya harapan bagi nya untuk mencapai tujuan nya". ucap nya.
"Tujuan? memang nya apa tujuan aira?" tanya ku kembali.
"Wanita itu adalah wanita yang sangat aneh dan penuh dengan misteri... aku bahkan tidak mengerti apa yang sedang ingin ia lakukan, namun.... aku sungguh ingin mengetahui apa yang sebenarnya ingin ia capai, sampai mempertaruhkan nyawa nya." ucap nya.
"Lalu apa yang kau maksud dengan mempertaruhkan segala nya pada ku?". tanya ku.
"Dengan dia memberikan kalung ini, berarti dia telah mempercayai impian dan tujuan nya kepada mu". saut nya kembali sembari mendekatkan wajah nya pada ku.
Sebenarnya apa tujuan nenek, mempertaruhkan semua nya pada ku? jangan gila. Aku hanya anak lelaki yang selalu menjadi pesuruh, apa yang ingin dia pertaruhkan dari ku.
"jika kita kumpulkan segala informasi yang telah kau kumpulkan, seperti nya sumber kalung ini memang berasal di mesir" ucap tetua.
"Tapi bagaimana cara nya aku bisa kesana, ayah atau pun ibu sudah pasti tidak akan mengizinkan ku, padahal mungkin saja aku bisa menemukan sebuah petunjuk jika aku kesana". saut ku.
"Sabar lah Liam... Waktu mu masih panjang, jangan ulangi kesalahan yang di lakukan oleh Aira" ucap Dagon.
Ketika aku bertanya kesalahan apa yang Aira lakukan, Dagon hanya diam dan tersenyum pada ku.
"Lalu apa tujuan mu untuk bertemu dengan ku Dagon?" tanya ku.
"Seperti yang ku katakan sebelum nya, aku ingin mengetahui tujuan sebenarnya dari Aira... Sampai-sampai aku sangat marah ketika dia mati, seperti meninggalkan segala nya di belakang nya... Namun karna kalung ini ada di tangan mu sekarang, seperti nya... aku masih memiliki harapan... Dan mulai sekarang aku akan mengikuti mu". ucap nya.
Lalu aku pun menengok ke arah Tetua tenang respon apa yang harus aku berikan kepada nya, dan Tetua hanya menganggukan kepala tanda untuk menerima nya saja. Dan aku pun mempersilahkan Dagon untuk mengikuti ku.
"Tunggu liam.. berbeda dengan Jin sepertiku atau pun yang kau miliki sekarang.. Kau membutuhkan sebuah ritual khusus untuk membuat kontrak dengan Dagon". ucap Tetua.
__ADS_1
"hah? kontrak macam apa? aku bahkan tidak pernah mendengar nya". ujar ku kaget
"Mudah... Aku hanya akan membutuhkan darah mu dan darah seekor kucing hitam, dan jika kau membatalkan kontrak dengan ku di tengah jalan, maka kau langsung mati.." ujar nya.
Dengan agak ragu-ragu aku pun mengiakan ajaka nya, karna dengan dia sisi ku, aku merasa akan semakin mendekatkan ku dengan tujuan Nenek. Selain itu dia juga tergolong dalam jenis Jin Purba, pasti dia akan berguna untuk ku ke depan nya.
Lalu aku pun berjalan ke lemari dan mengambil darah kucing, karna aku memang sudah mempunyai persediaan untuk itu. Aku pun menutup jendela 2 lapis dan menyalakan dua lilin, lalu aku pun duduk di lantai. Aku menulis nama lengkap ku dan juga nama lengkap nya masing-masing 2 kali di 2 kertas, lalu aku mengiris tangan ku untuk meneteskan darah ke atas kertas dan aku juga melakukan hal yang sama dengan darah kucing.
[i]AAAAAAAAUUUUUUUUMMMMMM[/I]
Tiba-tiba saja dagon mengaung dengan suara yang begitu menggelegar, dan dalam posisi seperti kucing dengan mata yang melotot, tidak lama aku melihat 2 tanduk tumbuh secara perlahan dari dahi nya, ketika ia mengaung terlihat gigi yang seluruh nya tajam, begitu mengerikan... bulu kuduk ku ikut merinding menyaksikan nya, bahkan lilin yang menjadi satu-satu nya penerangan kami seperti redup di buat nya. Dan tidak lama setelah nya, ia menjadi agak tenang dan kembali berdiri seperti semula.
"makan salah satu kertas". ucap nya.
Tanpa berfikir 2 kali aku pun memakan nya, ketika kertas tersebut sudah masuk ke dalam mulut ku dan ketika ingin ku telan, tiba-tiba saja kertas hitung hilang begitu saja di dalam mulut ku, apa yang terjadi?.
"Yang menelan kertas itu adalah Sukma mu, bukan raga mu... karna ketika kau mati, raga mu hanya akan menjadi bangkai". ucap nya.
Lalu setelah ritual selesai, aku pun merapihkan barang-barang ku dan kembali membuka jendela, setelah nya aku kembali duduk di kasur.
"mengapa wujud mu berubah?". tanya ku penasaran.
"Karna kontrak itu, energi ku kembali seperti semula... semenjak Aira menghilang dan kontrak ku dengan nya terputus, aku kehilangan sebagian energi ku.. kau sendiri, mengapa dengan mudah nya kau mau melakukan kontrak dengan ku? dengan nyawa sebagai taruhan mu.." ucap nya
"Sudah dari bayi aku tenggelam di Lautan hitam ini, dan kurasa tidak ada salah nya jika aku menyelam lebih dalam lagi". saut ku dengan senyum.
"Perkataan itu.. sama persis seperti yang di katakan oleh Aira kepada ku..." ucap nya yang langsung menghilang dari pandangan ku.
"Nenek kah?.... Ku harap aku memiliki kesempatan untuk berjumpa dengan nya". gumam ku pelan.
.
.
Keesokan hari nya, seperti biasa nya aku pergi ke sekolah dan hanya menghabiskan waktu ku di kantin, setelah bel berbunyi aku pun segera tuk pulang dan hanya bermain game sampai malam, aku tidak bisa berhenti memikirkan tentang nenek atau pun kalung itu, dan aku memutuskan untuk pergi ke suatu tumpat sekedar untuk menyegarkan fikiran.
Aku pun membawa motor dan pergi menuju Mall di daerah Kuningan, sekalian aku ingin membeli beberapa part baru untuk komputer ku di rumah.
Sesampai nya di mall aku pun langsung pergi ke lantai atas, dan mencari toko spare part, namun ketika aku masih berada di lantai 2, aku melihat Merry sendirian, tampak jelas di wajah nya dia sangat kebingungan, dan di samping nya juga ada security yang seperti nya juga ikut kebingungan untuk bagaimana cara menenangkan wanita di depan nya itu.
Aku pun tersenyum melihat tingkah nya, dan langsung pergi menghampiri nya.
"LLII...LLIIAAMMM" saut merry yang langsung bersembunyi di belakang ku.
"kamu kenal sama dia dek?" tanya security.
"ia mas.. dia adik dari teman saya" ujar ku berbohong.
Lalu security pun pergi meninggalkan kami berdua dan mempercayakan merry kepada ku.
"Kamu ngapain di sini?". tanya ku.
"Aa...ayah menyuruh ku un..untuk mengambil baju pe..pesanan nya". ucap nya terbata.
"ohh tidak ku sangka kamu berani sendiri kesini.. dimana afif memang nya?". tanya ku.
"hmm ga..gatau". saut nya.
"kamu lagi berantem sama dia?". tanya ku kembali.
"abis nya... d..dia selalu bilang ka..kalo aku penakut da..dan ga berani ke..keluar rumah sendiri... ja..jadi nya aku kesini bu..buat buktiin". ucap nya.
"terus sukses?". tanya ku dengan senyum.
Setelah ku tanya seperti itu, ia malah menampakan wajah seperti ingin menangis, aku pun memegang tangan nya dan mengatakan semua nya akan baik-baik saja, lalu aku pun menemani nya untuk mencari toko dimana ayah nya memesan baju, dan setelah mengitari lantai 2 selama 30 menit kami pun menemukannya.
"liam.. energi mu berbeda dari biasa nya?". tanya Merry tanpa terbata.
"heh.. tuh lancar ngomong nya". saut ku kaget.
"mungkin karna aku udah ga takut sama kamu". ucap nya.
"heh... ada-ada aja kamu". jawab ku
"terus tentang pertanyaan aku tadi.." ucap nya.
"oh tentang energi ku?... hmm mungkin karna ada baru mendapatkan teman baru". jawab ku dengan senyum dan langsung merangkul nya.
__ADS_1
"eh... kita mau kemana?" tanya merry.
"aku kan udah nemenin kamu tadi.. sekarang giliran kamu nemenin aku". ucap ku.
Lalu aku pun memaksa merry untuk ikut dengan ku naik ke lantai 3, untuk berbelanja kebutuhan komputer, setelah itu aku pun berisiatif untuk mengantarkan nya pulang, karna entah mengapa aku tidak berani membiarkan nya pulang sendiri, mungkin karna sifat nya yang sangat super pemalu.
Kami pun pergi ke parkiran dan mengambil motor ku, dan langsung pergi ke rumah Ai yang terdapat di daerah Pulo gadung, arah berlawanan dari rumah ku yang berada di Pondok indah. Setelah 30 menit berkendara kami pun sampai... Dan terlihat banyak pria dan ada juga beberapa perempuan yang sedang menunggu di depan rumah nya sembari mengenakan pakaian agamis, dan tatapan mereka langsung ter arah pada kami.
"lagi ada apaan?". tanya ku pada merry.
"biasa pengajian mingguan". ujar nya
Aku pun tidak mau berlama-lama disni, dan memutuskan untuk segera pergi, namun ketika aku sedang ingin memutar motor ku untuk keluar gang. Ada seorang pria paruh baya keluar dari rumah Merry dan memanggil ku.
"kamu liam?". tanya nya
"oh.. iya?" ujar ku bingung.
"masuk lah sebentar... ada yang ingin ku bicarakan mumpung kamu disini". ujar pria itu.
Aku pun memkirkan motor dan masuk ke dalam rumah, dengan perasaan bingung menempel di fikiran ku. Ketika aku masuk ke dalam aku melihat banyak sekali foto kiai dan juga foto para wali tertempel di dinding-dinding, dan suasana di dalam sini... sungguh membuat ku tidak nyaman, persis seperti yang ku rasakan ketika aku masuk ke dalam kamar afif ketika kami di Bali waktu itu.
"Kenalkan.. saya adalah guru afif dan juga ayah dari merry... kamu bisa memanggil ku Gaffar". ucap nya tanpa menanayakan mengapa aku bisa bersama merry tadi.
"Oh.. ia om". jawab ku.
"Afif sering sekali menceritakan tentang mu pada ku, aku jadi penasaran dengan sosok mu... dan setelah bertemu dengan mu, aku jadi tau mengapa afif menyukai mu" ucap nya dengan senyum.
Lalu Merry datang dan membawakan kami minum, dan duduk di samping ayah nya.
"Gaffar... sudah lama tidak bertemu". ucap tetua yang tiba-tiba saja duduk di samping ku.
"ohhh kau... ******** (menyebutkan nama).... sudah lama sekali, melihat mu membuat ku bernostalgia tentang masa muda ku, kau sekarang mengikuti anak ini?". saut pak Gaffar dengan senyum lebar.
"seperti yang bisa kau lihat". ucap tetua yang membalas senyum.
"tunggu... bagaimana kalian bisa bertemu" tanya ku bingung.
"Aku dulu bertemu dengan nya ketika memperebut kan sebuah hal... Karna aku tidak menginginkan keributan, jadi aku lebih memilih mundur". ucap Gaffar.
"ohh berarti kau mengenal nenek ku Aira?" tanya ku.
"Tidak liam... Aira meninggal bahkan sebelum pria ini di lahirkan, aku sedang mengemban tugas dari ibumu saat itu.. di puncak merapi, namun aku tidak bisa mengatakan apa alasan ku kesana". ucap tetua.
"ohh yasudah... lalu apa yang ingin om bicarakan ke saya?" tanya ku ke gaffar
"Apakah kamu mengetahui sebuah batu mustika bernama Mungbek?" tanya nya.
"hmmm seperti nya aku... oh ia.. aku memiliki nya, dengan warna merah pudar, biasa nya aku menyebutnya dengan nama batu Vermillion karna warna nya yang unik.. ada apa dengan batu itu?". tanya ku kembali.
"ohh sudah kuduga keluarga mu memiliki nya.... bisakah aku memahar batu itu? aku membutuh kan nya... atau mungkin kau ingin menukar nya dengan koleksi ku?" tanya nya dengan wajah antusias..
Aku diam untuk beberapa saat, mengapa dia menginginkan batu itu, dan sebelum nya aku tidak pernah melakukan mahar untuk benda sakral seperti ini, jadi aku juga tidak tau harus mematok harga berapa, selain itu aku juga tidak membutukan uang.
Lalu jika aku tukar dengan salah satu mustika/pusaka nya, harus aku tukar dengan apa, aku di buat bingung, dan seperti nya dia tidak akan diam meskipun aku sudah menolak nya, sebenarnya batu itu kudapatkan dengan mudah, dan aku juga tidak pernah menggunakan nya.. Batu Mungbek atau Vermilion memiliki kemampuan Asyifa untuk penyembuhan, namun setau ku Asyifa yang terkandung dalam batu itu cukup rendah.
Jadi apakah aku harus memberikan harga rendah juga kepada nya?... tidak.. aku tidak akan meminta harga rendah kepada nya, karna seperti nya dia sangat menginginkan nya.
"jelaskan kepada ku terlebih dahulu untuk apa om menginginkan benda itu?". tanya ku.
"maaf.. aku tidak bisa mengatakan nya, namun aku bisa memastikan 2 hal kepada mu, hal yang ingin ku lakukan tidak ada kaitan nya dengan mu dan bukan untuk suatu hal yang buruk". ucap nya..
Sebenarnya aku juga tidak perduli misal pun dia melakukan hal buruk dengan benda itu, lalu bagaimana dengan harga nya... namun sejujur nya aku tidak ingin menjual nya, karna aku menyukai warna nya.. ya.. itu saja alasan aku tidak ingin memberikan nya... Jadi lebih baik aku memberikan harga yang tidak mungkin sanggup untuk ia maharkan..
"Jika aku tidak salah... Merry adalah anak angkat om bukan?" tanya ku dengan wajah serius.
"ya.. dia adalah anak angkat ku". jawab nya yang juga membalas tatapan ku.
"Aku ingin dia..... sebagai persyaratan mahar nya". ucap ku dengan senyum.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.