
Waktu menunjukan pukul 4 Sore, Aku sedang duduk di sebuah bangku taman yang masih berada di dalam komplek perumahan ku, aku sedang menunggu jemputan afif. Dan sekitar 30 menitan menunggu, afif pun datang.
"Kita butuh peralatan atau Ritual khusus ga sih kalo mau masuk ke dunia ghaib, bersama dengan raga kita". ujar ku.
"ada kok, sebenernya ada 2 cara agar kita bisa kesana bersamaan dengan raga kita, yang pertama melalui Ritual yang akan kita lakukan nanti, dan kedua dengan menemukan gerbang ghaib, biasa nya gerbang ghaib muncul karna ada sebuah bencana alam atau di buat sengaja oleh Jin tertentu.. tapi tidak semua jin bisa melakukannya". jawab afif sembari menyetir mobil.
Kami pun segera pergi menuju gunung gede, dalam perjalanan, afif meminta waktu untuk tidur, jadi aku yang membawa mobil nya selai dia beristirahat.
Terkadang aku berfikir, mengapa aku harus repot-repot selalu meng iya kan ajakan nya, apakah karna aku masih merasa berutang budi kepada nya saat di Bali dulu, namun kurasa bukan karna itu.. Mungkin tanpa ku sadari, aku menikmati nya.
Sekitar 2 jam lebih kami pun sampai di sebuah parkiran rumah makan, karna untuk ke atas sana kami harus berjalan kaki. Aku pun membangunkan afif dan mengajak nya untuk beristirahat terlebih dahulu di kedai.
Kami memesan kopi hitam panas 2, dan hanya makan beberapa roti yang tersedia.
"fif.. kenapa ya, kamu kok bisa lengket banget sama aku". ujar ku.
"dih.. lengket gimana? aku bukan gay loh ya". saut nya bercanda.
"ya engga... maksud aku, kamu kan kepribadian yang soleh, rajin shalat, dan semua khadam milikmu seluruh nya muslim... sedangkan aku, berbeda 180° dari mu..".tanya ku
"Entah, kalo di tanya seperti itu aku juga jadi bingung..". jawab nya sembari menyalakan rokok.
"contoh nya, semisal aku bertanya, Apa kamu pernah membunuh orang? tidak mungkin kamu per--". tanya ku terpotong.
"pernah". jawab nya.
"hahh?". saut ku.
"Dulu aku ini bajingan parah am... lebih tepat nya, aku maksa pacar aku dulu buat gugurin kandungan nya.. Dan mungkin perceraian yang aku alami tahun lalu, seperti karma untuk ku... Aku suka berjudi, juga peminum.. dan juga mantan pemakai, percaya tidak percaya, aku sudah bulak balik penjara 2 kali." ucap nya dengan senyum.
"serius? wahh aku ga nyangka sama sekali". ujar ku terkejut.
"ya gitu deh... jadi mungkin, alasan sebenarnya aku melakukan hal-hal seperti ini tanpa pamrih, lebih seperti untuk penebusan dosa ku". ujar nya.
Mungkin kata-kata yang tepat untuk afif saat ini ialah "Dont Judge a Book by its Cover", aku sama sekali tidak mengka afif yang begitu taat beragama seperti ini, memiliki masa lalu cukup kelam.
"yaudah yuk.. udah jam 9". ujar afif sembari berdiri.
Aku pun mengikuti nya dan kami segera menanjak gunung, sebenarnya ada orang yang melarang kami untuk menaiki gunung malam-malam seperti ini, namun afif beralasan ada barang milik nya yang tertinggal di atas sana dan tidak begitu jauh, jadi akan segera kembali.
Kami sama sekali tidak membawa perlatan apapun untuk menanjak, aku bahkan tidak membawa tas, sedangkan afif hanya membawa perlatan Ritual di dalam tas nya.
Sekitar 1 jam kami menanjak, afif terlihat begitu kelelahan, sedangkan aku baru sedikit berkeringat dan belum lelah sama sekali, mungkin benar yang di katakan oleh Bela waktu itu, bahwa keluarga ku memiliki stamina di atas rata-rata manusia biasa nya.
__ADS_1
Jalanan setapak dengan medan yang tidak rata, dan tidak ada sama sekali penerangan membuat kami sangat kesulitan melihat ke depan, karna hanya bermodalkan sebuah senter yang afif bawa.
"am turun kesini". ujar nya.
Ternyata di balik semak-semak dan pepohonan di samping jalan setapak yang menanjak, ada sebuah jalan setapak menurun yang seperti nya memang sengaja di sembunyikan atau di samarkan.
Kami pun menuruni jalantersebut, namun baru saja kami melangkahkan kaki, aku mendengar suara lengkingan tawa kuntilanak yang cukup menyayat kuping, namun kami yang sudah terbiasa, sama sekali tidak memperdulikan nya.
"am.. kantungi batu ini". ujar afif sembari memberikan batu berwarna hitam.
Semakin kami turun, kami semakin sering mendengar suara-suara yang tak wajar, seperti suara auman singa, bahkan sesekali kami juga mendengar lolongan anjing.
Setelah 50 meter kami menyelusuri jalan menurun, kami menemukan sebuah bongkahan batu besar, dan afif mengatakan bahwa batu ini adalah tanda bahwa kita sudah dekat dengan tempat Ritual. Aku yang melihat afif sudah sangat ke lelahan, ber inisiatif untuk membawakan tas milik nya.
Setelah berjalan 50 meter lagi dari Batu besar tadi, kami melihat ada sebuah cahaya lilin di bawah sana, kami pun segera menghampiri nya.
Dan ketika sampai di sumber cahaya tersebut, aku melihat ada meja kayu panjang, dengan beberapa ayam mati di atas meja, tidak hanya itu, terdapat juga banyak bunga melati di seluruh tempat ini, seperti tidak lama baru di taburi.
"terus mau apa?". tanya ku.
Lalu afif menyuruh ku untuk mengikuti nya kembali berjalan turun, aku pun hanya meng iyakan nya. Kami kembali berjalan meninggalkan tempat ritual tadi, sekitar 10 menit berjalan, aku di kagetkan oleh taman bunga mawar yang begitu besar.
"loh memang nya di gunung gede ada taman ini?". tanya ku.
"eh serius? sejak kapan? kok ga make Ritual?". tanya ku bingung.
"inget jalan setapak kecil yang berada dekat di tempat ritual tadi? itu adalah gerbang ghaib, dan batu yang ku berikan sebelum nya adalah untuk menstabilkan kesadaran saat Raga memasuki ke alam ghaib, karna jika tidak... kita akan bernasib seperti 5 orang sebelum nya, yaitu sukma nya saja yang masuk ke dalam sini, sedangkan tubuh nya tersungkur pingsan". jelas afif.
"hmm berarti di tempat ritual tadi memang ada gerbang ghaib nya". saut ku.
Tiba-tiba saja kami merasakan hembusan angin yang cukup kencang, sampai-sampai membuat beberapa bunga mawar berterbangan ke udara.
Lalu kami melihat ada sesosok wanita berdiri tepat di samping pohon yang jarak nya sekitar 50 meteran dari kami, kulit nya sangat putih dengan dress panjang tanpa lengan berwarna merah, karna jarak kami agak jauh, aku tidak bisa melihat wajahbnya dengan jelas.
Kami mencoba untuk mendekati nya, namun ia malah berlari memasuki hutan, kami pun mengikuti nya yang terlihat berlari, tunggu.. dia tidak berlari dengan normal, dia melompat-lompat sembari berlari, seperti seorang ninja.
Afif yang sudah kelelahan pun tidak bisa mengejar nya, aku pun menyuruh nya untuk menunggu di sini dan memberikan tas miliki nya, sedangkan aku, aku tetap mengejarnya dengan berlari sekuat tenaga.
Dia terus melompat-lompat menjauh dari ku, aku yang tidak mau mengalah, semakin kencang berlari mengejar nya, sampai di mana kami berada di ujung hutan, dan ternyata kami sedang di atas Air Terjun.
Terlihat wanita itu berhenti tepat di ujung air terjun, dan membelakangi ku.
"kau bukan.. yang menyembunyikan jiwa 5 orang pendaki?". tanya ku.
__ADS_1
"iya". jawab nya tanpa menoleh ke arah ku.
"Kembalikan lah jiwa mereka, maka aku tidak akan meminta pengikut ku untuk bergerak". ujar ku.
"Aku tau aku tidak akan ada kesempatan jika melawan mu, walaupun hanya melihat mu sesaat tadi... tapi aku enggan untuk mengembalikan 5 sukma tahanan ku". ujar nya sembari berbalik menatap ku.
Setelah ia memperlihatkan wajah nya, aku melihat salah satu bola mata nya menggantung sampai ke pipi, dan banyak sekali borok luka dengan nanah yang masih terlihat basah, bahkan sebagian rambut di depan nya botak.
"ohh jadi kau yang membuka gerbang ghaib tadi... dan apa alasan mu, sampai kau begitu tidak mau melepaskan mereka". tanya ku.
"Kau memiliki jenis energi seperti ku, seharus nya kau mengerti bagaimana jika rumah atau tempat berharga mu di injak-injak oleh manusia seperti mereka.." saut nya dengan wajah menggeram.
Tidak lama kami mengobrol, afif dengan nafas senin kamis, menepuk pundak ku, ia terlihat begitu lelah setelah menyusul kami.
"Aku mewakili mereka meminta maaf telah memasuki rumah mu tanpa izin, di tambah telah berbuat se'enak nya di rumah mu, namun yang harus kau tau.. mereka tidak memiliki niat sama sekali untuk melakukan itu, biar kan mereka bebas". ujar afif.
Ketika afif sedang mencoba untuk meyakinkan jin wanita di depan kami, aku melihat ada sesosok jin terbang dan turun di samling wanita itu.
Ia terlihat begitu tua, dengan pakaian kumal agak berantakan, ia memegang tongkat kayu dengan rambut panjang yang seluruh nya putih, dan kedua mata nya menyala berwarna merah.
"Anak manusia... sebelum nya aku ucapkan selamat datang di rumah ku, desa mawar merah.. aku adalah pemilik tempat ini, dan pemilik seluruh wilayah di Gunung Gede ini.. Sukawati". ujar nya dengan suara bergemah.
Afif kembali meminta untuk melepaskan kelima manusia tadi, dan terlihat wanita itu diam dengan sesekali menggeleng-gelengkan kepala nya.
"Kembali kan 5 manusia itu..". ucap Sukawati kepada jin satu nya.
"TIDAK.. AKU TIDAK AKAN MENGEMBALI KAN NYA". Teriak wanita itu.
"KEEMMBAAALLIIKAAANN !!!! ".
Teriak Sukawati dengan suara yang begitu mengerikan, bahkan bulu kuduk ku sampai di buat merinding hebat oleh nya. dan jin wanita yang ia bentak pun, hanya terdiam dengan raut wajah begitu ketakutan.
"mengapa kau mau membantu kami". tanya ku.
"Aku hanya tidak ingin ada keributan di sini.. dan yang utama, aku sangat tidak ingin memiliki masalah dengan mu". jawab nya menatap ku.
Seperti nya dia merasakan keberadaan Dagon dan lain nya, karna biasa nya jin biasa tidak akan dapat merasakan nya, bahkan afif sekalipun tidak bisa.
"baiklah.. aku akan mengembalikan mereka, namun aku memiliki sebuah syarat". ujar jin wanita itu.
"Syarat? syarat seperti apa?". tanya afif.
"aku ingin---
__ADS_1