
Sudah lebih dari 2 minggu setelah kematian Tina, terkadang aku masih memikirkan nya, dan ada juga rasa menyesal karna tidak bisa menyelamatkan nya, mungkin kah aku terlalu lemah untuk melakukan nya? atau aku hanya kekurangan alasan untuk itu.
"Liam.. cepatlah". ujar charless mengajak ku keluar ruangan.
"ahh iya". saut ku sembari berdiri.
"bersihkan dulu darah di tangan mu". ucap charless kembali.
Aku pun pergi ke kamar mandi untuk mebersihkan darah di tangan ku, di saat aku sedang mencuci tangan, aku melihat diriku sendiri melalui cermin di depan ku, aku terdiam sejenak, apa yang aku lakukan di sini? aku merasa tidak nyaman dengan keadaan ini.
Kini aku berada di sebuah gudang, tempat saingan saingan bisnis charless berada, aku, charless dan beberapa anak buah nya, menghabisi seluruh gembong yang bersembunyi di dalam gudang ini.
Setelah mencuci tangan, aku pun segera pergi ke depan menyusul charless, sesampai nya di depan, aku melihat charless sedang merokok sembari menyuruh anak buah nya untuk mengarungi setiap mayat.
"ku dengar kak hanum kembali hari ini?". tanya nya dengan santai.
"ya.. seharus nya sekarang dia sudah di tiba di jakarta". ujar ku.
"ahhh aku ingin sekali bertemu dengan nya, tapi sayang nya aku harus pergi ke korea sore ini". ucap nya.
"Korea? ada masalah disana?". tanya ku.
"tidak.. bukan sebuah masalah, melainkan ada bisnis baru di sana.. yasudah, aku harus pergi sekarang, terimakasih sudah membantu ku menemukan lokasi ini". ujar charless dengan senyum lebar.
Lalu charless pergi bersama anak buah nya, dengan total 3 sedan dan 1 mobil box hitam.
Aku pun memutuskan untuk segera pulang, terlihat anggi sedang berdiri di dekat mobil, karna memang sebelum nya aku meminta nya untuk tidak ikut ke dalam.
"kamu yang menyetir ya, aku sedang tidak mood". ucap ku sembari duduk di belakang.
"iya tentu". jawab Anggi.
Di tengah jalan, aku hanya menyenderkan kepala sembari melihat ke arah luar jendela, entah apa yang sedang aku pandangi, fikiran ku sedang dalam ke adaan bimbang, namun aku juga tidak begitu bisa memahami, tentang apa yang sedang aku bimbangi.
Lalu tiba-tiba handphone ku berbunyi, setelah aku lihat, ternyata panggilan dari Julian.
"Liam.. ayah mu ingin bertemu dengan mu". ujar nya.
Setelah itu, Julian memberikan alamat lengkap di chat.
Entah ada perlu apa ayah ingin menemuiku, semenjak kejadian Tina, aku belum bertemu dengan ayah lagi, karna sehari setelah nya ia pergi ke inggris karna ada urusan bisnis, dan ketika pulang, dia malah ingin langsung menemui ku, namun mengapa tidak di rumah saja.
Aku pun memberikan alamat yang di berikan oleh Julian ke Anggi, dan kami pun segera menuju kesana.
"belakangan ini muka kamu lesu terus am". ujar anggi sembari menyetir.
"begitu ya? tidak perlu di fikirkan". jawab ku di kursi belakang.
Sekitar 30 menit perjalanan, kami pun sampai di sebuah GOR (Gelanggang Olah Raga), di depan GOR terlihat ada Julian yang seperti nya memang sedang menunggu ku, aku pun menghampiri nya, dan ia langsung mengajak ku untuk masuk ke dalam.
Saat di dalam, aku melihat ayah sedang berdiri di lapangan basket, dengan pakaian Jas lengkap, ia terlihat sedang melempar bola ke keranjang beberapa kali, dan semua bola yang ia lempar masuk semua.
Dan aku juga tidak melihat satu pun orang di dalam, hanya ada ayah, seperti nya ayah sudah mem booking tempat ini.
Aku pun segera menghampiri nya, dan ia meminta ku untuk berdiri di samping nya.
"Mengapa kau menolong adik nya?". ujar ayah tanpa menengok ke arah dan terus melemparkan bola.
Aku pun terkejut, mengapa ayah mengetahui nya, apakah karna anggi mengadu? seharus nya tidak, karna aku sudah meminta anggi untuk merahasiakan nya, dan aku sangat yakin dia tidak akan membantah perintah ku.
"A...a...aku---"
__ADS_1
*BUUUKKKKKKKK*
Tiba-tiba saja ayah langsung memukul ku dengan sangat keras menggunakan tangan kanan nya, aku pun langsung terkapar di tanah, dengan hidung yang berdarah.
*BUKKKKK*
*BUUUKKKKKK*
Ia mendirikan ku dengan menarik kerah ku, dan kembali menghajar ku terus menerus, sampai akhirnya dia melepaskan genggaman nya.
Entah karna alasan apa, aku tidak terkejut saat dia memukuli ku, aku hanya merasa bahwa suatu saat, hal seperti ini akan terjadi. Ini juga menjadi pertama kali nya dalam seumur hidup ku, ayah menghajar ku.
Aku hanya diam sembari terduduk, dengan darah yang terus mengalir dari hidung dan juga mulut ku, aku bahkan sempat mendegar retakan tulang pada hidung ku, saat ia menghajar ku tadi.
Padahal Patigaman ku sedang aktif, mengapa dia bisa menghajar ku sampai seperti ini.
"Hilangkan rasa manusiawi mu, penguasa sejati tidak membutuhkan hati, tapi hanya mengandalkan akal... Dunia ini tidak di kendalikan atau berjalan dengan kebaikan, tapi dengan pengkhiantan, perampasan, kemunafikan, dan kebohongan...
Di dunia ini, tidak ada cerita yang baik akan mengalahkan yang jahat, karna tokoh jahat lah yang akan selalu mendapatkan kendali.
Jika kau terus seperti ini, kau tidak akan pernah bisa meneruskan ku, kubur lah perasaan mu dalam-dalam, gunakan akal mu untuk berjalan, bergerak atau bahkan untuk bernafas".
pungkas ayah dengan wajah begitu tenang sembari melempar bola.
"i..iya yah... maaf". jawab ku.
"Bunuh anak itu". ujar ayah sembari menatap ku.
"a..aku tidak bi--"
*BUKKKKKK*
Belum sempat aku menyelesaikan perkataan ku, ayah kembali menghajar wajah ku.
"tidak bi--"
*BUKKKKKK*
"Bunuh... anak.... itu". Tegas nya kembali.
"ti--"
*BUKKKKKKKK*
Percakapan tersebut berulang terus menerus, sampai - sampai aku mulai kehilangan kesadaran ku.
"BUNUUHHHHH ANAK ITUUU". Teriak ayah dengan wajah yang begitu kesal.
ini pertama kali nya aku mendengar ayah berbicara sebanyak itu, dan ini juga pertama kali nya aku melihat dia semarah itu.
*BUKKKKKK*
*BUKKKKKKKK*
Aku sampai terkapar dengan pandangan yang mulai buram, aku bahkan sudah tidak bisa lagi merasakan rasa sakit di wajah ku. Namun aku memaksakan diri untuk duduk sekuat tenaga.
"Senang nya..". ujar ku dengan senyum.
"senang?". tanya ayah.
"selama 18 tahun aku hidup, baru kali ini aku di marahi, bagaimana aku tidak senang hahaha". ujar ku dengan tawa yang kupaksakan.
__ADS_1
"Mengapa kau sampai seperti ini, hanya untuk anak yang baru 2 minggu kau temui". ujar ayah sembari meregangkan kerah nya.
"janji.. ayah harus membunuh ku dulu, baru ayah bisa membunuh nya". saut ku dengan senyum ke arah nya.
Lalu dengan wajah yang penuh amarah, dia kembali menarik kerah ku dan menatap ku dengan tajam. Aku yang sudah pasrah akan kembali di hajar, hanya bisa membalas ekspresi nya dengan senyuman ku, bahkan aku sudah pasrah jika aku harus mati saat ini.
Namun hal yang tidak bisa aku pun prediksi terjadi....tiba-tiba...
ayah.. memeluk ku dengan begitu erat..
"BAGUS.... anak ku memang harus seperti itu, BAGUSS.. KU MAAF KAN HAHAHAHA". Ujar nya dengan tawa lebar.
"heh?". saut ku begitu terkejut.
"kau memang sudah besar". ujar ayah sembari menepuk-nepuk pundak ku.
Setelah itu, ia pun pergi bersama Julian, dan meninggalkan aku di lapangan sendirian, Anggi yang baru saja masuk pun begitu terkejut setelah melihat keadaan ku.
"am... am.. kamu gpp?". ujar nya sembari membantu ku untuk duduk.
"per...pertanyaan nya bisa gak tanpa formalitas". saut ku lemas.
"eh? maksud nya?". tanya nya.
"ya kamu bisa liar sendiri kan". saut ku.
"ah iya maaf.. yaudah kita ke Rumah sakit dulu". ujar Anggi kembali.
Lalu Anggi menggendong ku, untuk sampai ke mobil, setelah itu, ia pun menggantarkan ku menuju ke rumah sakit.
Di tengah perjalanan, aku kembali memikirkan kejadian barusan, apa yang sebenarnya di fikirkan ayah, ku kira aku akan mati tadi, namun di akhir, dia malah memuji ku.
"Ahhhhhh... aku memang tidak bisa menebak jalan fikiran nya". teriak ku di dalam mobil.
"eh.. kamu kenapa am?". tanya Anggi.
"ah gpp". saut ku.
Sesampai nya di rumah sakit, aku pun langsung di larikan ke UGD, dan langsung mendapatkan penanganan karna ada beberapa luka robek di wajah ku.
Kekuatan pukulan yang di pakai saat menghajar ku sungguh berbeda dengan saat dia menghajar yanto atau kakak ku dulu, jika saja dia menggunakan kekuatan pukulan yang sama terhadap mereka, aku pastikan mereka akan mati.
Namun menurut ku, alasan ayah menggunakan kekuatan yang lebih besar saat menghajar ku bukan lah karna ingin membunuh ku, melainkan dia hanya ingin menunjukan bahwa kekuatan nya memang lah lebih tinggi dari ku.
Khadam wanita dengan kuku panjang yang selalu bersama ayah, aku di buat penasaran, setinggi apa patigaman nya, sampai-sampai mampu menembus pagar patigaman ku yang sudah bertambah kuat dari sebelum nya.
.
.
Setelah perawatan selesai, aku mendapatkan beberapa luka jaitan pada wajah ku, bahkan lebih parah dari yang di terima oleh Kristin waktu itu.
Sebenarnya dokter menyarankan ku untuk menginap terlebih dahulu, namun aku yang tidak ingin berlama-lama hanya karna luka seperti ini, lebih milih untuk langsung pulang dan beristirahat di rumah.
Atau mungkin aku hanya tidak ingin membuat orang-orang di sekeliling ku merasa khawatir karna aku sampai menginap di rumah sakit, terutama Ai, aku sudah bisa menebak bagaimana reaksi nya.
Entah mengapa, aku tidak marah, seolah pukulan dari ayah tadi, seperti membebaskan ku dari beban-beban ku.
Apa mungkin itu memang tujuan nya? atau mungkin saja dia memang sudah tau bahwa aku tidak akan mau membunuh anak itu, orang itu.... seseorang yang selalu aku coba untuk membenci nya, namun tidak pernah bisa.
Sesampai nya di rumah, aku pun langsung buru-buru ke kamar dengan menutupi wajah ku di punggung anggi, dan ketika sampai di kamar, aku meminta anggi untuk tidak memperbolehkan siapa pun untuk masuk ke kamar ku, karna aku tidak ingin di lihat oleh siapa pun dalam keadaan seperti ini.
__ADS_1
Aku duduk termenung di kasur sembari merokok dan meminum kopi yang baru saja di bawakan oleh anggi, sembari bersender dan melihat ke luar jendela kamar.
"perjalanan ku masih panjang". gumam ku pelan dengan senyum tipis.