
*TOK TOK TOK*
Terdengar ketukan pintu, aku yang masih dalam ke adaan begitu mengantuk, aku pun bangun dan melihat jam, ternyata waktu masih menunjukan pukul 4:30 Pagi, aku pun bangkit dari kasur dan membukakan pintu.
"Amm". ucap Merry dengan tangisan.
Rasa mengantuk ku pun langsung menghilang ketika melihat Merry menangis, aku pun mengelus-elus punggung Merry sembari mengajak nya duduk di atas kasur ku.
"Kenapa mer?". tanya ku
"A..ayah ku meninggal". ucap nya.
"Maksud kamu pak Gaffar? kamu tau dari mana?". tanya ku yang duduk di samping nya.
"aku tau dari afif, barusan banget dia nelfon aku". ucap nya dengan isakan tangis.
Aku pun langsung meminta nya berganti pakaian dan segera pergi menuju ke rumah Pak Gaffar menggunakan sepeda motor.
.
.
Sesampai nya di rumah Gaffar, terlihat sudah banyak orang sedang sibuk merapihkan bangku dan mulai mengibarkan bendera kuning, padahal waktu masih menunjukan pukul 5:30 Pagi.
Merry pun langsung menghampiri afif yang sedang sibuk berbicara dengan seseorang dan langsung memeluk nya tanpa berkata apa pun. Lalu afif pun melihat ke arah ku dan menghampiri ku.
"maaf ya am jadi ngerepotin kamu terus". ujar afif.
"ga usah ngomong gitu di saat begini, yang penting merry aja dulu tenangin". ucap ku.
Jujur saja, aku sama sekali tidak perduli dengan meninggal nya Pak Gaffar, yang aku perdulikan hanyalah Merry, karna dia sudah ku anggap seperti adik ku sendiri, walaupun sebenarnya dia lebih tua dari ku, dan melihat nya seperti itu, seperti membuat ku merasakan hal yang sama.
Semakin tinggi matahari, semakin banyak juga orang yang datang, dan tidak lama ada sebuah ambulan jenazah sudah menunggu di luar, sedang kan aku, aku hanya menghabiskan waktu di warung kopi dekat dari sana.
"Mas bukan orang sini ya?". tanya penjaga warung.
"hmm bukan". saut ku.
"ohh pantes muka nya ga pernah keliatan, mas kesini mau ke tempat Pak Gaffar?". tanya nya.
"iya". saut ku yang sedang malas di ajak bicara.
"Ga nyangka ya, orang yang rajin beribadah, malah sampai bunuh diri di kamar mandi". ujar nya.
Aku tidak kaget mengetahui fakta bahwa Gaffar meninggal di karnakan bunuh diri, karna terakhir kali aku melihat mata nya, aku melihat tatapan seorang pria yang begitu putus asa, dan kemungkinan dia juga gagal melakukan penjemputan Sukma terhadap istri nya dan memutuskan untuk mengakhiri hidup nya.
"oia kabar istri nya gimana pak?". tanya ku.
__ADS_1
"Istri nya sudah meninggal mas beberapa hari lalu". ujar nya.
Aku sedikit heran, mengapa Merry tidak tau bahwa ibu angkat nya sudah meninggal beberapa hari yang lalu, apa mungkin afif sengaja untuk menyembunyikan nya.
Setelah berbincang-bincang singkat dengan penjaga warung kopi tadi, aku pun memutuskan untuk kembali ke rumah Gaffar, dan terlihat banyak orang sedang berdoa, aku yang mencoba untuk mengintip ke dalam rumah, terlihat Merry sedang menangis yang di temani oleh Afif di samping nya, di depan tubuh Gaffar yang sudah membeku.
.
.
Singkat cerita, setelah proses penguburan selesai yang di lakukan pada siang hari nya, Merry pun kembali ke rumah Gaffar untuk sekedar membantu membereskan barang-barang yang agak berantakan, dan ternyata sebelum kami sampai, sudah ada beberapa orang yang sedang sibuk membuka-buka laci, dan setelah ku tanyakan kepada afif siapa mereka, ternyata mereka adalah keponakan dan juga saudara-saudara dari Gaffar. Padahal tadi aku sama sekali tidak melihat mereka ketika acara Berdoa dan juga proses penguburan.
Merry yang melihat nya pun menjadi naik Pitam, dan langsung menghampiri mereka, ada 3 orang pria dan 2 orang wanita, mereka semua terlihat sudah berumur.
"NGAPAIN ??". tanya Merry dengan nada tinggi.
"Anak Yatim buangan ga perlu tau". saut salah seorang wanita sembari sibuk memeriksa laci.
Afif pun yang mencoba sekuat tenaga untuk tidak ikut campur masalah keluarga gaffar, tampak jelas rasa geram terpampang di wajah nya.
"JANGAN DI BERANTAKIIINNN".
Teriak merry sekuat tenaga, sampai-sampai menyita perhatian orang-orang yang berada di luar.
"BRISIK BANGET SIH ANAK YATIM, LU GA LIAT, KITA TUH CUMA MAU AMBIL HAK KITA AJA.. GANGGU AJA LU".
Aku yang sudah tidak tahan dengan kelakuan mereka terhadap Merry, aku pun langsung berjalan masuk dan tanpa berkata apa-apa langsung menghajar pria itu tepat di perut nya, sampai-sampai dia terseungkur di tanah sembari memegangi perut nya.
Keributan pun terjadi, aku yang sudah kepalang kesal, sampai menghajar 2 pria yang lain karna mencoba untuk meninju ku, warga yang berada di luar pun sampai memisahkan kami.
"SAUDARA SAYA POLISI... SAYA LAPORIN KAMU". ujar salah tau wanita tadi.
"ohh yaudah bagus". saut ku.
Ketua RW pun sampai datang untuk menengahi kami, mereak berlima tidak mau berdamai dan tetap mau melaporkan ku ke polisi dengan tuduhan kekerasan, aku yang tidak perduli mempersilahkan mereka untuk memanggil saudara mereka yang mereka sebut tafi seorang Polisi.
Sekitar 30 menit kemudian, ada 2 orang polisi datang membawa mobil patrol dan membawa ku ke Polsek terdekat untuk di introgasi, Merry dan Afif pun mengikuti ku menggunakan mobil milik nya. Dan juga mereka berlima tadi.
Sesampai nya di kantor polisi, aku di introgasi di ruangan berbeda dengan mereka, aku yang tidak ingin di buat pusing karna masalah ini, menelfon pak yanto.
"halo pak yanto". ucap ku di telfon.
"ohh mas liam ya? kenapa mas?". tanya ku.
"saya sekarang lagi di Polsek Kr*mat J*ti, karna ada masalah tadi". saut ku.
"HAH?.. oke oke tunggu di sana ya, kalo bisa jangan sampai ayah mu tau". ujar pak yanto dengan nada kaget.
__ADS_1
Aku pun meng ia kan permintaan Pak yanto dengan tidak memberi tau ayah tentang masalah ini.
Polisi di depan ku yang seperti nya juga adalah kenalan dari saudara mereka tadi, menanyakan ku dengan nada yang tidak enak.
Sekitar 20 menit kemudian, ada seorang polisi yang seperti nya beliau adalah seorang Kapolsek di sini, masuk ke dalam ruangan, lalu dia berbisik ke introgator di depan ku. Dan tidak lama ada 2 orang polisi dari Polda yang seperti nya di minta oleh Pak Yanto untuk datang.
Mereka pun sedikit berbincang-bincang, dsn tidak lama kemudian, Introgator yang sejak tadi menanyakan ku dengan nada yang tidak mengenakan, tiba-tiba saja dia berubah jadi baik dengan senyuman tak lepas dari wajah nya.
Aku yang sudah kesal pun keluar dari ruangan, dan pergi ke ruangan depan. terlihat Merry, Afif dan juga 5 orang saudara gaffar. Merry pun langsung memeluk ku dan menanyakan ke adaan ku, aku pun menenangkan nya dengan mengakatan sudah tidak apa-apa.
Lalu aku menunjuk ke arah mereka ber 5 yang juga sedang menunggu di ruang depan.
"Tuntut merek dengan pasal Perampokan". ujar ku.
Kedua polisi tadi pun meng ia kan permintaan ku, dan menahan mereka, bahkan saudara polisi mereka ikut membawa mereka ke dalam ruang introgasi.
Mereka yang terkejut pun, mencaci maki ku dan Merry tanpa henti, selagi mereka di bawa ke dalam.
"Tuntut juga dengan pasal pencemaran nama baik dan juga Penghinaan". ujar ku.
Kedua polisi tadi hanya mengangguk dan berkata akan segera memproses mereka, aku yang sudah sangat kesal dengan mereka berlima, sampai menelfon kembali Pak Yanto agar memastikan mereka di proses Hukum. Sedangkan aku, aku kembali menemani Merry kembali ke rumah Gaffar.
.
.
Setelah urusan selesai di rumah pak Gaffar, kami bertiga memutuskan untuk mampir ke cafe terdekat, sekedar ingin berbincang santai, sembari membicarakan apa yang harus di lakukan kedepan nya.
"Pusaka dan mustika Pak Gaffar gimana?". Tanya ku sembari meminum Kopi susu dingin.
"Sementara bakal aku simpan aja semua, dan nanti beberapa akan aku kasihkan ke murid-murid yang lain juga". ujar afif.
"untuk warisan beliau seperti rumah dan barang-barang lain nya? dia kan ga punya anak kandung, masa harus di kasih ke saudara-saudara nya tadi". ujar ku.
"kalau masalah itu tenang am, Pak Gaffar meinggalkan surat wasiat di atas meja makan di dapur, dia bilang untuk menjual rumah beserta barang yang bisa di jual nya, 80% di sumbangkan kepada panti asuhan, dan 20% akan di berikan ke Merry". ucap afif.
"heh? aku ga perlu uang ayah kok, kasih aja semua ke panti asuhan". ujar Merry.
"Mer.. itu adalah permintaan terakhir ayah mu, setidak nya dia ingin bertanggung jawab untuk terakhir kali nya.. ya walaupun jujur saja, aku tidak bisa menutupi rasa kesal ku kepada nya, karna harus mengakhiri hidup dengan cara seperti itu". ucap afif sembari menghela nafas.
"iya mer.. terima aja, lumayan kan buat pegangan kamu". ujar ku.
Merry hanya menganggukan kepala, dan tampak jelas di wajah nya, dia berusaha untuk menahan air mata nya untuk jatuh.
"berarti nanti kamu yang bakal urus semua dong fif?". tanya ku
"ya iya.. palingan nanti aku akan meminta tolong murid lain nya untuk membantu juga". saut afif.
__ADS_1
Setelah itu kami pun berpisah, aku dan merry pulang ke rumah, sedangkan afif ia mengatakan akan melakukan pertemuan dengan murid-murid gaffar.