Pesugihan Keluarga Ku

Pesugihan Keluarga Ku
4 Pelayan Tuhan


__ADS_3

"Liam... nama mu sudah terukir pada Batu penerus semenjak kelahiran mu, Rembulan dan dewa sudah memilih mu, Matahari dan langit akan hadir sebagai saksi...Dunia akan menjadi musuhmu, terimalah dan berterimakasih lah". ujar seorang wanita.


_________________________________________


Aku pun menoleh untuk melihat siapa yang sedang berbicara kepada ku...


"A..anak kecil?". saut ku terkejut.


Aku melihat seorang anak kecil berumur sekitar 8 tahunan, dengan rambut berwarna putih dan memiliki cornea mata berwarna ungu terang. Tapi.. aku merasa pernah melihat nya di suatu tempat, namun aku lupa dimana.


Selain tubuh nya yang kecil, suara nya seperti wanita dewasa, dan itu yang membuat ku terkejut setelah melihat nya.


"Siapa kamu?". tanya ku sembari membungkuk di depan nya.


"Aku Rena.. Aku adalah penuntun yang di utus oleh dewa". jawab nya.


"Penuntun? dewa? siapa yang kau maksud". tanya ku kembali.


"Ikuti aku.. maka kau akan mengetahui nya". jawab nya sembari memegang tangan ku.


Setelah perbincangan singkat, Rena menarik tangan ku dengan tangan kecil nya untuk membawa ke suatu tempat, namun bukan ke kuil, melainkan kami akan menuruni tangga yang berada di samping kuil.


Dan selain kami berdua, semua nya masih terlihat terhenti, bahkan burung yang sedang terbang di angkasa juga tidak bergerak.


"indah sekali". gumam ku sembari melihat pemandangan.


Aku sudah datang ke kuil ini mungkin sudah puluhan kali, namun aku tidak pernah memerhatikan apa yang ada di bawah bukit, karna posisi kuil berada di atas bukit yang sangat tinggi.


Aku melihat pemandangan pedasaan di bawah sana, rumah-rumah yang terlihat begitu asri, selain itu aku juga melihat sungai memanjang dari ujung timur ke selatan.


Lalu tiba-tiba Rena menghentikan langkah nya, dan menatap ku. Aku pun sempat bingung di buat nya, lalu dia mengatakan..


"Aku lelah.. tolong naikan aku di punggung mu". ucap nya sembari menarik-narik tangan ku.


"eh??.. o.oohh ok". saut ku.


Aku pun langsung menggendong Rena di punggung ku, mungkin dia lelah setelah menuruni ratusan anak tangga, sedangkan perjalanan masih cukup jauh ke bawah.


"sebentar... kita bukan nya sedang di alam ghaib, apa jin seperti mu juga bisa merasakan lelah Rena?". tanya ku sembari berjalan.


"tentu liam.. di tambah kembaran ku kini sudah tiada, tanpa nya aku hanya memiliki setengah energi tersisa". jawab nya.


"kembaran mu? kau memiliki kembaran?". tanya ku.


"ya nama nya adalah Rina.. dia pergi meninggalkan desa setelah kematian Aira, entah apa alasan nya.. sampai sekarang dia juga belum kembali". ucap nha yang membuat ku terkejut.


BENAR.. wajar saja aku seperti pernah melihat Rena di suatu tempat, mungkin karna aku telah bertemu dengan kembaran nya Rina, saat nenek memanggil ku waktu itu.


Lalu apa perlu aku katakan keberadaan Rina kepada nya? seperti nya tidak usah, karna jika ku katakan, itu sama saja seperti memberitau kalau Nenek ku Aira masih hidup kepada nya.


"Lihat ke arah Bukit di sana". ujar Rena sembari menunjuk Bukit di arah Barat.


"eh.. apa itu?". ucap ku yang bingung.


Aku melihat sebuah pahatan dengan wajah pria berjenggot lebat.


"itu adalah wajah Ningram... leluhur mu, sekaligus orang pertama yang melakukan perjanjian dengan sang Dewa". ujar nya.


"Tunggu tunggu... maksud mu Dewa di sini ialah Dasim bukan?". tanya ku.


"Dasim? bukan dia... dia hanyalah pelayan seperti ku". ucap nya.


"HAAAHHH????".


Aku yang begitu terkejut mendengar jawaban nya, sampai langsung menurun kan Rena dari punggung ku dan menatap nya.


"Bukan Dasim? bukankah dia adalah junjungan pesugihan keluarga ku". ucap ku.

__ADS_1


"Bodoh... Iblis tidak akan pernah menjadi Dewa". jawab nya.


"Lalu siapa Dewa yang kau maksud itu?". tanya nya.


"Dewa kami adalah Tuhan... Tuhan bagi sebenar-benar nya Tuhan, manusia telah banyak di sesatkan oleh banyak sekali Tuhan palsu...". ujar nya.


"Tunggu sebentar... Dewa atau Tuhan yang kau maksud berasal dari Golongan apa? jin/iblis atau mungkin manusia?". tanya ku memastikan.


"Bodoh.. Tuhan tidak memiliki golongan, Tuhan ialah Tuhan, yang menciptakan semua nya... gendong aku lagi, akan kuperlihatkan kepada mu setelah sampai di bawah nanti". ucap nya sembari mengulurkan tangan agar di gendong.


Dengan tanda tanya besar di kepala ku, aku kembali menggendong Rena untuk menuju ke bawah.


Yang masuk di dalam logika ku dari perkataan nya, Tuhan yang ia maksud sebenarnya adalah Iblis yang mengaku-ngaku sebagai Tuhan dan telah mencuci otak Rena dengan ajaran nya.


Namun pertama aku perlu memastikan nya terlebih dahulu, siapa sebenarnya sosok Tuhan/Dewa yang Rena bicarakan sedari tadi.


.


.


Setelah menuruni ribuan anak tangga, akhirnya kami pun sampai di bawah..


"kau orang kedua setelah Ningram yang tidak terlihat lelah setelah menuruni bukit.". ujar nya.


"Sekarang turunkan aku". ucap nya kembali.


Sesampai nya di bawah, aku baru menyadari bawa sedari tadi ada banyak orang sedang memerhatikan kami dari dalam rumah.


"Mengapa mereka terus memperhatikan kita?". tanya ku.


"tentu saja.. karna pelayan tuhan sedang membawa keturunan baru". ucap nya.


"jadi mereka juga menyembah sosok Tuhan yang kau bicarakan tadi?". tanya ku.


"ya tentu... Karna Desa ini juga di buat oleh Tuhan kita". balas nya.


Cuaca saat ini begitu cerah, terdengar banyak suara burung saling saut satu sama lain.


"Itu adalah tempat tinggal Tuhan?". tanya ku sembari menunjuk.


"bukan bodoh... Tuhan tidak tinggal di tempat kecil seperti itu". saut nya.


"Lalu dimana dia tinggal?" tanya ku.


"Arsy". jawab nya.


"heh?.. Arsy? maksud mu di atas surga f*rdaus yang terletak di langit ke 7? aku membaca nya di kitab m*slim". saut ku.


"bodoh... apa kau benar-benar mempercayai tuhan mereka? Arsy yang ku maksud berada di lapisan tertinggi langit, rumah bagi para penhembah setia Tuhan dan juga para terpilih yang sudah tiada". jawab nya.


"Lapisan tertinggi? bukan kah itu sama saja dengan dengan langit ke 7?". jawab ku.


"bodoh bodoh bodoh.... ikuti saja aku, kau akan melihat nya sendiri, sejarah... terlahirnya dunia ini". ucap nya yang membuat ku terdiam.


Sesampai nya di depan kuil, ada sebuah pintu yang begitu besar, aku sempat di buat bingung bagaimana cara membuka pintu sebesar ini.


"Keturunan baru telah terlahir... bukalah". ujar nya.


Tiba-tiba saja pintu terbuka sendiri setelah Rena berbicara, ia pun kembali memegang tangan ku dan membawa ku untuk masuk.


Dan sesampai nya di dalam, aku melihat banhak ukiran besar..


"eh.. apa itu Y*sus?". tanya ku.


"Bukan bodoh... itu adalah sosok tuhan kita". saut nya.


"apa? begitu mirip". saut ku.

__ADS_1


"tch.. mereka bahkan meniru sosok tuhan kita tanpa rasa malu". jawab nya kembali.


Aku hanha bisa diam setelah mendengar jawaban-jawaban dari nya yang penuh dengan kontroversi, namun untuk sekarang lebih baik aku diam dan tenang, sembari mengumpulkan lebih banyak informasi.


Di dalam kuil aku melihat sebuah ukiran besar di depan ku, terlihat seorsng pria berkumis dan juga berjenggot dengan sayap putih di belakang nya sedang menatap ke atas.


Lalu di sebelah kiri dan kanan ku juga terdapat beberapa ukitan yang seperti nya tidak asing..


"Ukiran di sebelah kanan ini adalah wujud Dasim dan juga Ningram?". tanya ku.


"ya.. di bawah ukiran Ningram kau juga dapat melihat nama-nama buyut-buyut mu yang juga terpilih seperti mu". ucap nya.


Aku pun langsung mengampiri nya, dan benar saja... aku menemukan beberapa nama tertulis disana, dengan nama Ningram tertulis paling pertama.. Aku juga menemukan nama Nenek dan juga Ibu ku, bahkan aku juga menemukan nama ku terdapat di paling bawah.


"Lalu di sebelah kiri ini ukiran apa?". tanya ku.


Pada bagian sebelah kiri, aku melihat ukiran anak kembar perempuan sedang berpelukan satu sama lain, yang seperti nya itu adalah Rena dan Rina... Lalu di sebelah nya ... aku melihat ukiran perempuan memakai bunga yang mengitari kepala nya, dan seperti nya aku pernah melihat nya di suatu tempat.


"Anak kecil kembar itu ialah aku... dan ukiran wanita itu adalah Malaikat". ucap nya.


"hah? malaikat? kau yakin dia bukanlah iblis atau jin?". saut ku terkejut


"bodoh... mana ada Jin atau Iblis yang terbuat dari cahaya.. Kita berempat adalah pelayan tuhan, yang masing-masing dari kita mewakili setiap Ras.. Dari manusia, Iblis, Jin dan juga Malaikat". ucap nya.


"Lalu.. siapa nama Malaikat ini?". tanya ku.


"Nama nya adalah... Sezen.... Sezen uhuru". ucap nya yang begitu mengejutkan ku.


"Se... SEZENNN !!!!! ". saut ku spontan.


"Dia bertugas untuk menjadi penuntun para keturunan seperti mu, seharus nya kau sudah pernah bertemu dengan nya". saut nya.


"Te...tentu tapi... aku hanya terkejut mendengar kalau dia adalah Malaikat". jawab ku.


Sebenarnya aku sendiri belum yakin kalau dia benar malaikat atau hanya Jin yang di bentuk sedemikian Rupa oleh sosok yang mengaku Tuhan ini, namun sekali lagi... untuk sekarang lebih baik aku kunci mulut ku, dan buka kuping ku selebar-lebar nya, agar aku memililki pandangan yang lebih luas tentang apa yang sedang aku hadapi.


"Sekarang mari kita lakukan perjalanan waktu.. untuk melihat, bagaimana Dunia dan alam semesta ini di buat". ujar nya.


"eh? oo..ohh ok... dimana kita akan melakukan nya". saut ku.


Lalu Rena terlihat mengambil sebuah sabit yang terletak di pojok ruangan kuil, dan kembali menghampiri ku.


"apa yang ingin kau lakukan dengan Sabit itu". tanya ku.


"Ulurkan tangan kiri mu". pinta nya.


Tanpa curiga, aku pun mengulurkan tangan kiri ku ke arah nya.. dan..


*CROOOTTTTTT*


"AAAAAAAAAAAAAAAA"


Tib-tiba saja dia menebas ke 4 jari ku terkecuali ibu Jari, sampai putus.. Lalu dia mengambil ke 4 jari tersebut dan di peras darah nya untuk di masukan ke dalam sebuah mangkuk berbahan tembaga.


Setelah ia memeras nya, ia memakan ke 4 jari ku tersebut dan ia membawa mangkuk yang telah terisi darah ke depan ukiran sang Tuhan, lalu ia membungkukan badan sembari mengepalkan kedua tangan nya seperti terlihat sedang berdoa..


Lalu....


Tiba-tiba saja kepala dari ukiran sang Tuhan itu bergerak dan melihat ke arah ku..


*TAAAANGGGGGGGG*


Tiba-tiba saja terdengar suara seperti sebauh tongkat berbahan tembaga yang di tumbukan ke tanah, namun suara itu begitu bergemah di seluruh ruangan, aku jadi tidak tau dari mana suara nya.


*TANGGGGGG*


*TAAAANGGGGGGG*

__ADS_1


*TAAAAAAAANNGGGGGGG*


Semakin lama suara tersebut semakin kencang dan kencang... sampai.....


__ADS_2