Pesugihan Keluarga Ku

Pesugihan Keluarga Ku
3 koin


__ADS_3

Aku sekarang berada di depan sebuah kuil yang sudah sering aku kunjungi, bukan di alam manusia, melainkan di alam ghaib, seperti yang ku katakan sebelum nya, bahwa setiap 3 bulan sekali, sang terpilih di wajib kan untuk melakukan Ritual penukaran batu.


Setelah proses penukaran selesai, aku kembali ke dalam raga ku, dengan Bima yang sedang berada di depan ku, ia bertugas untuk menjadi jembatan ku agar bisa kesana. Di sana bukan lah tempat yang bisa sembarangan di datangi, meskipun kita memiliki kemampuan untuk dapat bulak-balik ke dalam alam ghaib.


Itulah yang di katakan oleh Ibu kepada ku, meski aku tidak mengerti tempat apa itu, atau untuk apa semua ritual itu di lakukan.


Setelah Ritual selesai, Bima pun izin pergi untuk kembali ke kamar nya, karna setelah melakukan proses tadi, biasa nya bima akan merasa pusing dan mual untuk beberapa jam ke depan.


"Dagon". panggil ku.


"ya?". saut nya yang muncul di samping ku.


"jadi.. nanti malam apak kita bisa menemui Hannes?". tanya ku.


"tidak.. Aku telah kesana terlebih dahulu, namun untuk sekarang lebih baik kita tidak menemui nya". ujar Dagon.


"mengapa memang nya?". tanya ku.


"Nanti kau akan tau setelah menemui nya, untuk sekarang bersabarlah". jawab Dagon yang langsung menghilang.


"hmm aneh". gumam ku.


Aku yang tidak ada kerjaan di hari minggu, memutuskan untuk pergi ke sebuah Cafe di daerah kemang bersama Merry.


"loh liam.. itu kan ada kandungan alkohol nya". ujar Merry.


"terus?". saut ku


"yee.. udah haram, di tambah kamu belum 21". Ucap merry.


"Aku juga jarang-jarang ... lagian kamu emang ga kenal aku apa? emang nya aku perduli sama yang nama nya haram atau halal?". ujar ku.


"ahhhh... ia sih.." saut nya.


"oia mer.. tentang cowo yang kata kamu suka maksa nomor kamu atau deketin kamu gimana kabar nya?". tanya ku.


"terakhir dia masih gitu beberapa minggu lalu, cuma setelah itu ga pernah lagi". ujar nya.


"ohh mereka bekerja dengan baik berarti". saut ku.


"heh mereka?". tanya nya.


"udah ga usah di fikirin". jawab ku dengan senyum.

__ADS_1


Aku memang sebelum nya menelfon Julian, untuk menyuruh orang menjaga merry secara diam-diam saat dia berada di kampus. Dan seperti nya mereka melakukan perkerjaan mereka dengan baik.


Tiba-tiba perhatian ku tersita kepada seorang wanita yang duduk di dekat meja bartender, ketika aku perhatikan lebih jelas, ternyata itu adalah Cindy.. Cindy adalah teman masa kecil ku, dan dia juga datang pada saat acara pertunangan ku.


Namun ketika aku ingin melambai dan memanggil nya, aku melihat seorang pria duduk bersama nya, ku rasa itu adalah kekasih nya, jadi aku urungkan niat untuk memangil nya, karna takut untuk megganggu mereka.


Aku melihat mereka begitu mesra, saling tertawa satu sama lain, seperti menikmati topik yang sedang mereka bicarakan, bahkan mereka sampai berpegangan tangan di atas meja. Aku pun hanya tersenyum dengan sedikit geli melihat nya.


Saat Cindy tidak sengaja melihat ke arah ku, aku pun langsung merespon dengan tersenyum dan melambai kan tangan ke arah nya, namun tiba-tiba saja Cindy terlihat langsung melepas genggaman tangan nya dengan pria di depan nya itu.


Aku pun sedikit terkejut dengan reaksi nya setelah melihat ku, lalu aku melihat ada pertikaian di antara mereka, namun aku tidak dapat mendengar nya. Tidak lama setelah itu, pria tersebut pergi dengan wajah yang sangat kesal sembari menatap tajam ke arah ku, aku pun makin ke bingungan.


Setelah itu Cindy menghampiri ku dan Merry.


"hei Liam". salam nya dengan senyum, seperti tidak terjadi apa-apa sebelum nya.


"o..ohh haii". saut ku.


Lalu aku mempersilahkan nya untuk duduk bersama ku dan Merry, aku pun langsung menanyakan pria tadi, namun dia menjawab dia adalah mantan pacar nya yang selalu mencoba mengganggu dia. Aku sebenarnya merasa curiga atas jawaban nya, namun tidak ingin terlalu mencampuri hal pribadi nya, memilih untuk diam.


Tidak lupa, aku memperkenalkan Merry kepada nya, namun entah mengapa, aku merasakan tatapan nya berbeda kepada merry, seperti tidak menyukai nya, entah apa alasan nya.


Kami pun menghabiskan kurang lebih 2 jam mengobrol di cafe, setelah itu cindy pamit untuk pulang, aku dan merry pun memutuskan untuk segera pulang juga.


.


.


Aku yang penasaran pun mencoba mengikuti nya, namun sebelum itu, aku menyuruh Merry untuk lebih dulu masuk ke kamar.


Aku melihat pak Yanto ke taman belakang, dan ternyata di sana sudah ada ayah yang sedang duduk sembari menikmati segelas Kopi di Gazebo. Saat mengetahui kehadiran pak Yanto, ayah ku berdiri dan menghampiri nya.


Namun ketika pak Yanto berada tepat di depan ayah ku, dia langsung berlutut sembari terus meminta maaf, tampak jelas rasa kepanikan di wajah nya.


Ayah ku hanya diam dan terus memandangi nya dengan tatapan tajam, pak Yanto tidak berhenti meminta maaf, sampai terlihat ayah menendang wajah nya, sampai membuat pak yanto tergeletak di tanah kesakitan memegangi wajah nya.


Beberapa pembantu yang menyaksikan itu pun langsung berlari pergi masuk ke kamar mereka.


Tanpa berkata apa-apa, Ayah terus menginjak-injak kepala pak Yanto, dan pak Yanto hanya pasrah sembari memegangi kepala nya yang terus di injak-injak.


Sebenarnya aku agak penasaran, apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka, karna sebelum nya aku tidak pernah sekali pun melihat ayah marah terhadap Pak Yanto.


Pak Yanto bisa di katakan adalah Anjing milik ayah, yang bekerja di Kep*lisian. Dia memiliki jabatan sangat tinggi di sana, dan itu pun berkat pengaruh ayah yang membuat nya bisa mendapatkan posisi nya sekarang ini.

__ADS_1


Aku pun memberanikan diri mendekati mereka, tanpa niat untuk mengganggu, hanya sekedar ingin melihat dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Ayah ku melihat sebentar ke arah ku, dan tidak memperdulikan keberadaan ku, dia terus menendangi Pak Yanto yang masih dalam kondisi tergeltak di tanah sembari memegangi kepala nya.


"Yanto". ucap ayah.


"i..iya pak". ujar nya yang langsung bangkit dan duduk di tanah.


"Apa kau lupa.. apa pun yang kau miliki saat ini, adalah karna bantuan ku". ujar ayah dengan wajah datar.


"i..iya pak... tentu pak, saya tidak akan pernah melupakan itu". jawab Pak Yanto dengan wajah memelas.


"Lalu?". ucap ayah.


"Maaf kan saya pak.. Itu di luar kendali saya, itu langsung perintah dari petinggi, bahkan saya tidak bisa melakukan apa pun". jawab Pak Yanto.


"siapa?". tanya ayah.


"si..siapa apa nya pak?". tanya kembali pak yanto.


*BUUUKKKKKK*


Tendangan kaki kanan ayah tepat ter arah ke wajah Pak Yanto.


"Siapa petinggi yang kau maksud?". tanya ayah lagi


"Me..mereka adalah 3 petinggi di pusat pak". jawab nya sembari memegangi wajah nya


"Berikan kontak mereka semua kepada ku". ucap ayah.


"ba..baik pak..nanti akan saya kirim langsung, sekali lagi mohon ma-".


*BUUKKKKK*


"Aku bosan mendengar maaf dari mu, sekarang enyahlah". ucap ayah setelah kembali menendang wajah Pak yanto.


Pak yanto pun yang begitu kesakitan, terlihat mencoba untuk berdiri sekuat tenaga, dan dengan sedikit sempoyongan ia segera pergi.


"Liam". ucap ayah.


"iya pah?". tanya ku.


"Bila aku melemparkan 3 koin ke udara, berapa menurut mu yang akan jatuh ke tanah". tanya ayah.

__ADS_1


"Jika ayah yang melemparnya.. tidak akan ada yang jatuh ke tanah". jawab ku yang mengerti maksud pertanyaan nya.


Lalu ia hanya menepuk-nepuk kepala ku dengan lembut, dan pergi masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apa pun.


__ADS_2