Pesugihan Keluarga Ku

Pesugihan Keluarga Ku
D/D (Roh Prajurit Iblis)


__ADS_3

Setelah Charless membunuh Lesti, mayat nya sudah di bawa keluar ruangan dan di masukan ke sebuah mobil untuk di buang, sesangkan untuk rapat, masih terus di lanjutkan.


Aku memberikan kode kepada Anggi yang berdiri di belakang ku, menggunakan tangan ku dan berbisik kepada nya.


"Charless kenapa manggil ayah ku dengan sebutan kakak?". tanya ku berbisik.


"ohh itu karna Charless sangat mengagumi ayah mu, bahkan ada yang mengatakan, bahwa Charless mengganggap ayah mu sudah seperti Dewa". jawab Anggi yang juga berbisik.


.


.


"Jadi... setelah speninggal nya Lesti, siapa yang mau mengambil tanggung jawab nya?". tanya Yohan.


"Aku saja... aku yang akan mengambil nya". ujar Ayah.


"hei hei hanum.. jangan seenak nya, setidak nya kita perlu melakukan voting terlebih dahulu... lagi pula kau sudah memiliki banyak wilayah dan juga bisnis mu semakin meraja lela". ujar Pak tua berambut putih yang kita sebut saja Wisnu.


"Aku.. aku mendukung kak hanumm sepenuh nya". ujar Charless.


"diam kau anak kecil". saut Wisnu sebal.


"HAHHH??? apa kau mau mati pak tua?". ujar Charless sembari melotot.


"Sudah-sudah.. suasana sedang tidak begitu baik saat ini, lebih baik kita membahas nya di kemudian hari.. untuk sekarang, kita harus berkenalan dengan anggota baru". ujar Yohan yang masih belum juga membuka mata nya.


"berdiri". bisik anggi di kuping ku.


Dengan sedikit grogi, dan belum tau menau tentang organisasi atau meeting apa kah ini sebenarnya, aku mencoba untuk tenang, dan memilih mengikuti alur saja.


"Ku harap... kau tidak mengecewakan kepercayaan yang sudah di berikan oleh ayah mu". ujar yohan dengan senyum tipis.


"bo..boleh aku bertanya sesuatu?". ucap ku dengan sedikit grogi.


"tanyakan saja nak". saut Yohan.


"Sebenarnya.. organisasi apa ini?". tanya ku.


"hahaha.. seperti yang ku kira, hanum tidak mengatakan nya terlebih dahulu kepada mu, namun langsung merekomendasikan mu.. Baiklah, aku akan menjelaskan nya..


Nama organisasi ini adalah D/D, Donovan / Daeva, yang berarti Roh Prajurit Iblis.


Organisasi ini di buat tahun 1998, dengan Lesti sebagai pelopor, dan anggota awal adalah 3 orang saat itu, yaitu Aku Yohan, Lesti dan Wisnu.


Anggota aktif saat ini, seperti yang kau lihat, yang pertama adalah aku...



Yohan : Ketua


Hanum : Wali Kuasa


Bernard


Wisnu


Charless


Liam



Lalu kau pasti bertanya-tanya, apa yang kami lakukan? kami semua adalah otak, kami bekerja di balik layar dan tidak akan mau mengotori tangan kami. Itu yang harus kau pahami terlebih dahulu nak.


Kami menjual, membeli, memanipulasi, membunuh, menyiksa, memfitnah atau bahkan menghancurkan sebuah negara jika kami mau.. Kami bisa melakukan apa pun, selama itu bisa menguntungkan kami.


Setiap anggota akan di berikan sebuah tanggung jawab wilayah , seperti Bernard, pria bule itu yang mengatur seluruh kegiatan organisasi di US dan Eropa.


Lalu Charless yang bertanggung jawab di Asia barat dan tenggara, lalu wisnu dan Lesti di Asia timur dan tengah.


Lalu Aku dan Hanum, adalah pengawas, kami berdua memiliki hak untuk ikut campur dalam kegiatan setiap anggota tanpa terkecuali.


Namun bagaimana dengan daerah kekuasaan Lesti? karna dia telah mati, aku pun harus memilih salah satu dari kalian untuk melanjutkan tugas nya.


Aku sebenarnya ingin memberikan tugas ini kepada mu, namun melihat umur mu yang masih begitu muda dan minim pengalaman, aku akan menunda nya, dan membiarkan mu untuk mendalami organisasi kita terlebih dahulu.

__ADS_1


Sementara Aku dan Hanum yang akan mengawasi daerah kekuasaan Lesti sebelum nya."


Jelas Yohan yang masih tidak membuka mata nya, sampai aku dibuat penasaran, apakah dia buta atau tidak.


"ohh ini pertama kali kita bertemu liam.. ku harap kira bisa jadi saudara yang baik". ujar Charless sembari menghampiri ku dan berjabat tangan.


"Sauda-- ohh ya tentu". saut ku.


"Lalu kami memiliki 3 peraturan utama, yang pertama adalah...


1.Anggota pengkhianat akan di bunuh beserta dengan seluruh anggota keluarga nya.


2.Untuk Anggota, di larang mencampuri urusan wilayah yang bukan tanggung jawab nya.



Jika saja kita bertemu di ruang publik, jangan pernah menyapa atau memanggil meskipun itu adalah sesama anggota.



Itu saja, tidak sulit bukan?". ujar kembali Yohan.


"o..ohh ya tentu". saut ku.


"Yohan.. apa kau yakin mau menerima anak ingusan ini?". tanya Wisnu dengan nada merendahkan.


"Aku percaya hanum... seperti yang kau tau, sejauh ini, dia tidak pernah salah menilai seseorang". jawab Yohan.


"Kau merasa takut Wisnu?". tanya ayah dengan senyum.


"hah? apa maksud mu? jangan mentang-mentang kau sudah sedikit berprestasi, kau bisa seenaknnya.. kau mau mati? kau lupa siapa aku?". ujar Wisnu dengan nada tinggi.


"Orang tua yang brisik?". saut ayah dengan senyum.


*BRAAAAKKKKK*


Tiba-tiba saja Wisnu menggeprak meja sampai-sampai membuat meja berbahan kaca ini pecah.


Aneh nya, tidak ada satu pun member yang kaget, mereka hanya diam dan sibuk dengan urusan masing-masing.


Lalu Yohan meminta security yang berjaga di depan ruangan untuk menukar meja yang telah hancur ini dengan yang baru, seolah hal seperti ini sudah biasa terjadi di meeting mereka.


Terlihat tangan Wisnu yang penuh darah sedang di obati oleh bodyguard nya, dan di balut dengan perban.


Setelah Meja kaca yang baru datang, kami pun memulai kembali rapat.


"Bernard.. penjualan kita bulan ini sedikit turun di tempat mu, apa ada masalah?". tanya Yohan.


"Keamaan semakin ketat, dan beberapa penadah di sana lebih memilih penjual lokal, karna lebih mudah bertransaksi, dari pada membeli dari luar dengan resiko lebih tinggi". ujar Bernard sembari merokok.


"kenapa tidak kau bunuh saja pedagang lokal itu?". tanya Charless.


"ahh tidak semudah itu charl... beberapa dari mereka memiliki koneksi dengan aparat di sana". saut Bernard.


"hanum.. kalau tidak salah, kau memiliki kenalan dengan petinggi disana bukan?". tanya Bernard kembali.


"ya". jawab singkat ayah.


"Bisa kah kau menolong ku? aku sedikit di buat frustasi dengan mereka". ujar Bernard.


"tentu". jawab ayah kembali.


"hanum.. pemilihan di sini, ku dengar kali ini kau tidak akan ikut campur, bisa kau berikan alasan nya?". tanya Yohan.


"Aku sudah mengendalikan 90% petinggi, siapa pun yang terpilih tidak akan mampu memiliki pondasi, jadi ku rasa aku tidak perlu menghamburkan uang untuk mendukung salah satu dari mereka". ujar ayah.


"haha seperti yang ku duga dari seorang hanum...berarti bisnis kita akan tetap berputar dengan normal di sini". ucap Yohan.


"satu lagi yang ingin ku bahas, charless... lebih baik kau berhati-hati, ku dengar ada negara di daerah mu, yang akan terjadi sebuah kudeta". ujar Yohan.


"ya.. aku sudah mendengar itu, tenang saja... aku akan berpihak kepadang sang pemenang". jawab Charless dengan senyum.


"lebih baik kau tentukan pilihan mu dari sekarang charl". saut ayah.


"dari sekarang? bukan kah itu seperti berjudi, jika kita salah, maka ada kemungkinan kita akan kehilangan seluruh kendali kita di sana". ujar Charless.

__ADS_1


"tidak... kau hanya perlu membantu kedua nya, maka.. siapa pun yang menang, juga akan menjadi kemenangan mu". ucap ayah.


"HAHAHA... benar... benar sekali... mengapa aku tidak memikirkan hal itu, kau memang yang terbaik kak". Puji charl.


Setelah rapat panjang yang hampir seluruh pembahasan aku tidak begitu bisa memahami, kami pun membubarkan diri, berkas-berkas yang kami pakai selama meeting pun di bakar, tanpa tersisa.


Aku pun berjalan kedepan gudang bersama anggi, dengan niat untuk langsung pulang, karna meeting barusan, sungguh melelahkan.


Namun tiba-tiba saja ada seseorang yang merangkul ku dari belakang.


"hai Liam..." ujar Charless.


"ohh charl, ada apa?". tanya ku.


"tidak apa-apa, aku hanya ingin memberi salam kepada anak hanum... oia, apa kau ingin ikut ke rumah Lesti?". tanya nya dengan senyum lebar.


"A...ahh tidak, aku tidak ikut.. aku memiliki urusan lain". saut ku dengan membalas senyum nya.


"ahh baiklah kalau begitu, berarti aku bisa menikmati semua kesenangan nya sendiri,... haha, yasudah.. sampai jumpa". ujar Charless sembari melambaikan tangan dan pergi.


Setelah Charless pergi, kini ayah ku yang menghampiri ku bersama Julian, lalu ayah mendekatkan mulutnya ke kuping ku sembari berbisik


"Liam... kau hanya perlu diam dan mengamati". ujar ayah sembari mengelus-elus kepala ku dengan lembut.


"i..ia pah". jawab ku.


Lalu aku pun kembali ke dalam mobil, dan berniat untuk langsung pulang ke rumah, tapi..


"loh.. kamu ngapain naik mobil aku juga?". tanya ku yang sudah di depan stir.


"eh.. terus kalo ga sama kamu, aku sama siapa?". tanya anggi yang duduk di samping ku.


"hmm yaudah, pake seet belt nya". ujar ku sembari menyalakan mobil.


.


.


"kamu kok tadi aku lihat ga begitu kaget?". tanya Anggi.


"Kaget? kaget kenapa?". tanya ku kembali.


"ya tentang meeting dan organisasi tadi". ujar anggi.


"ohh... entah kenapa, dengan semua keanehan keluarga ku, aku jadi terbiasa dengan hal-hal seperti itu". saut ku.


"oia nggi... apa keluarga mu juga memiliki kaitan dengan organisasi itu?". tanya ku.


"Maksud mu seperti keluarga ku dengan keluarga mu? jika iya, jawaban nya adalah tidak.. kami tidak ada sangkut paut sama sekali". jawab anggi.


"ngomong-ngomong, apa kau mengetahui tentang pesugihan yang keluarga ku jalani?". tanya ku kembali.


"Tentu liam.. itu adalah hal pertama yang di katakan oleh ayah, saat dia menceritakan tentang sejarah keluarga mu". saut Anggi.


"hmmm gitu... oia, boleh nanya sesuaut yang agak sensitif?". tanya ku sembari fokus berkendara.


"iya tanya aja". saut Anggi.


"Kamu pernah membunuh orang?". tanya ku.


"eh? aku kira mau nanya apa, pasti pernah lah". jawab anggi yang membuat ku sedikit terkejut.


"heh? kamu jawab hal kaya gitu santai banget, kapan dan bagaimana?". tanya ku penasaran.


"Maaf.. untuk itu aku tidak bisa memberitau mu, karna kebanyakan adalah tugas dari ayah mu dulu, sebelum aku melayani mu". ujar Anggi.


"heh? berarti kamu sudah membunuh saat usia mu masih sangat muda?". tanya ku.


"ya.. pembunuhan pertama ku saat aku berusia 11 tahun". jawab anggi dengan wajah polos.


*CCIIIIIITTTTTTT*


Tiba-tiba saja aku menginjak pedal Rem begitu kencang, setelah mendengar jawaban anggi.


"Am.. kamu kenapa? pusing? atau ga enak badan? mau aku aja yang bawa?". tanya anggi dengan wajah khawatir.

__ADS_1


"ahhh gpp..gpp... cu..cuma kaget aja". jawab ku.


__ADS_2