
Aku melihat Julian sedang merokok sendirian dengan di temank kopi di gazebo taman belakang, aku pun datang menghampiri nya.
"tuan liam.." ujar Julian sembari berdiri.
"tenang saja tidak perlu formal, aku tidak seperti ayah ku.. dan kalau bisa jangan panggil aku dengan tuan, cukup nama saja". ujar ku sembari duduk di dekat nya.
"ohh baik.. tu-- Liam". ucap Julian sembari kembali duduk.
"Lagi pula kenapa tiba-tiba kamu sesopan ini kepada ku? tidak seperti biasa nya". tanya ku.
"Semenjak Tuan hanum memberitaukan tentang kaitan keluarga kita, dan telah menunjuk pengikut berikutnya, itu seperti sebuah deklarasi untuk penghormatan kepada Tuan baru dari keluarga kami". jawab nya.
"Ahh andai saja anak mu bisa sesopan itu". ujar ku sembari menyalakan rokok.
"Apa anggi membuat Tu-- Liam kesal? aku akan menberitau nya". ucap nya dengan ekspresi terkejut.
"sudah ku bilang santai saja... untuk anggi, aku hanya di bingungkan melihat nya, maksud ku.. kau adalah ayah kandung nya bukan? mengapa kalian begitu berbeda". eluh ku.
"Mungkin karna ibu nya yang selalu memanjakan nya dulu, aku akan memberinya pelajaran sepulang nya nanti". ujar Julian.
"tidak usah sampai kau beri pelajaran, dia adalah pengikut ku sekarang, menyentuh nya berarti berurusan dengan ku". balas ku dengan santai.
"i..ia tentu saja". jawab Julian.
"oia.. kau bilang dulu ibu nya memanjakan nya.. lalu kemana ibu nya sekarang ?". tanya ku.
"istriku sudah lama meninggal, setelah melahirkan anak kedua". ujar Julian.
"karna penyakit?". tanya ku.
"Bukan.. aku membunuh nya". ucapnya.
Aku cukup terkejut mendengae ucapan julian, sampai-sampai aku sedikit menyemburkan kopi yang sedang aku minum.
"k..kau mem..membunuh nya? bisa kau ceritakan?". tanya ku penasaran.
"tentu.. di keluarga kami, setelah seorang wanita atau pria telah selesai melakukan tugas nya untuk melahirkan 2 keturunan, maka pasangan dari pengikut itu harus di bunuh". ujar nya.
"tu..tunggu.. wanita atau pria? maksud mu?". tanya ku bingung.
"Aku akan mengambil contoh anggi, ia telah sah menjadi pengikut mu saat ini, yang berarti selain menjaga mu dia juga memiliki tugas lain, yaitu melahirkan keturunan, jadi dia akan di berikan seorang pria yang akan menikahi nya... dan setelah anggi melahirkan anak kedua, suami nya akan di bunuh setuju atau tidak setuju..". jawab julian.
"Mengapa keluarga mu harus sampai seperti itu?". tanya ku.
"Ada beberapa alasan kami melakukan nya but, yang pertama untuk menjaga darah keturunan kami agar tidam luntur, lalu kedua adalah agar pasangan tersebut tidak membocorkan info apa pun tentang keluarga kami, dan terakhir.. leluruh kami percaya, bahwa anak ketiga dapat membawa mala petaka". ujar nya.
"lalu.. bagiamana dengan nasib anak kedua nya? apakah pasangan nya juga akan di bunuh?". tanya ku kembali.
"Tidak.. Anak kedua hanya akan menjadi cadangan jika anak pertama mati dalam tugas nya... Dia di bolehkan menikah dan memiliki keluarga normal setelah anak pertama menginjak umur 30 tahun.. seperti Adik ku, dia sekarang tinggal di eropa bersama dengan istri dan anak-anak nya". ujar nya.
"setelah 30 tahun? apa ada alasan tertentu mengapa harus 30 tahun?". tanya ku kembali.
"30 tahun adalah masa akhir profuktif bagi kami, anak pertama di wajibkan menikah sebelum umur 25 tahun.. karna jika setelah umur 30 tahun sang anak pertama baru mati dan masih belum memiliki keturunan, maka anak dari anak kedua lah yang akan menjadi penerus nya". ucap panjang lebar Julian.
"hehh keluarga mu begitu memusingkan, aku seperti sedang di berikan soal mate-matika... yasudah aku ingin kembali ke kamar, terimakasih atas informasi nya". ucap ku sembari berdiri dan meninggalkan nya sendiri.
Semakin mendalami tentang keluarga ku, semakin banyak juga hal juga tradisi hal aneh yang masih berkatian dengan keluarga ku, jika di fikir ulang, pengikut ku seperti Bima atau Anggi sama-sama memiliki nasib sial.
.
.
__ADS_1
"Lapar..". ujar ku sembari rebahan di kasur.
"Liam.. kau ya--". ujar dagon yang tiba-tiba saja muncul.
"Jika kau masih menanyakan tenrang hannesh aku akan membunuh mu". saut ku jengkel.
"Iblis tidak bisa di bunuh liam..". jawab dagon.
"Aku sudah ta--.. ah lupakan saja, aku ingin pergi keluar untuk makan". ujar ku sembari berdiri.
Dengan mengendarai sepeda motor, aku pergi ke sebuah restorant padang yang tidak begitu jauh dari rumah. Sebenarnya di rumah ku sudah ada makanan, namun aku hanya bosan dengan lauk pauk nya.
Namun ketika aku memasuki restorant, aku melihat wajah yang tidak asing sedang menikmati makanan nya.
"loh suhu fajar??". ujar ku.
"ohh liamm... sini-sini". ajak nya untuk duduk di samping ku.
Lalu aku memilih makanan dan duduk di meja yang sama dengan Suhu fajar, oia dia adalah guru silat ku.
"Tumben liat kamu disini am?". tanya nya.
"ohh iya tadi lagi bosen sama makanan rumah, jadi nyari makanan di luar... suhu sendiri sering makan di sini?". tanya ku kembali.
"iya.. Rumah orang tua saya di Radio Dalam sana, jadi setiap pulang ke rumah biasa nya di sempetin mampir kesini, restoran padang favorit saya haha". ujar nya dengan tawa.
"oh gitu.. ngomong-ngomong tentang pelatihan yang di gunung itu jadi?". tanya ku.
"insyallah bulan depan, soal nya memang udah rutinitas kami untuk kesana selama 3 bulan sekali, kenapa kamu mau ikut?". tanya nya.
"pengen sih... nginep nya berapa hari? dan syarat nya". tanya ku.
"haduh 2 malam lagi, kaya nya susah.. nanti coba aku tanyakan ke ibu dulu". ujar ku.
Setelah makan dan berbincang singkat dengan Suhu Fajar, aku pun langsung kembali ke rumah, dan di tengah perjalanan, aku masih memikirkan untuk ikut dalam program latihan tersebut, namun untuk menginap lebih dari 1 malam, akann terasa sulit rasa nya jika harus meminta izin dari ibu, apa lagi belum genap sebulan semenjak aku menginap sampai 2 hari di arif waktu itu.
Terpintas ide di dalam fikiran ku, untuk membuat ibu akan menyetujui permintaan ku, yaitu dengan membelikan nya bunga kesukaan nya, bunga itu adalah mawar merah gelap, semakin gelap warna nya, ia akan semakin menyukai nya.
Aku pun langsung membelokan kendaraan, dan segera menuju ke pasar bunga yang tidak begitu jauh dari rumah ku.
Sekitar 10 menit perjalanan, aku pun sampai di sebuah tempat khusus menjual bunga yang terdapat di daerah Bintaro, tanpa basa basi aku langsung menghampiri penjual bunga dan bertanya apakah ada bunga mawar berwarna merah gelap.
Ia pun menunjukan beberapa mawar yang ia miliki, dan untung nya aku dapat langsung menemukan nya, aku pun langsung memesan agar di buatkan 1 buket dengan warna yang seluruh nya sama.
Setelah nya aku langsung kembali ke rumah, dan dengan perasaan sedikit gugup aku mengetuk pintu kamar ibu.
"masuk". ujar ibu.
Aku pun langsung masuk dengan membawa bunga mawar yang telah ku beli sebelum nya. Dan seperti biasa , ibu terlihat sedang membaca buku di meja rias nya, ia bahkan tidak menengok saat aku memasuki kamar nya.
"Mah... aku ada hadiah". ujar nya.
"hmm? tumben". jawab nya.
Aku langsung menaruh bunga 1 buket tersebut di kasur nya, tepat di samping nya.
"hmmm? bunga mawar?". ucap nya bingung.
"i..ia.. kan mamah suka mawar merah gelap". ujar ku grogi.
Terlihat ibu langsung mencium bunga yang baru saja aku berikan, lalu ia menelfon pembantu di bawah untuk mengambilkan vas kaca yang berisi kan air, agar dia bisa memajang bunga tersebut di meja rias nya.
__ADS_1
"mahh". panggil ku.
"hmm?". saut nya.
"Liam mau ikut acara silat selama 2 malam 3 hari, boleh ya?". tanya ku berharap.
"2 malam? kamu mau buat mamah marah lagi?". ujar nya sembari menengok ke arah ku.
"i..iya, 2 malam doang, kan kali ini acaranya jelas, untuk kegiatan shalat". jawab ku.
"Dulu ayah kamu ga ada yang nama nya nginep-nginep cuma untuk silat, ga boleh". tegas nya.
Setelah mendengar ucapan nya, aku tau kalau aku sudah tidak memiliki harapan untuk mendapatkan izin dari nya, aku pun hanya bisa pasrah dan seperti nya bunga yang ku berikan kepada nya tidak cukup menjadi alat perayu nya.
Namun ketika aku ingin berdiri dari kasur untuk pergi, tiba-tiba saja ada yang membuka kamar ibu, dan itu adalah ayah...
Setelah masuk ke kamar, ia sempat menatap ku sebentar, namun ia langsung menyalakan lampu dan terlihat sibuk melepaskan dasi di depan kaca lemari.
"Lagi ngomongin apa kalian?". tanya ayah yang masih sibuk di depan kaca.
"itu liam.. mau ada acara silat dan harus nginap 2 hari 3 malam, tapi ga aku bolehin". saut ibu.
"yaelah mah.. cuma 2 malam nginep masa ga boleh". saut ku.
Setelah mendengar ucapan ku, ibu langsung memelototi ku dengan seram nya, aku pun langsung membuang wajah dan berpura-pura tidak melihat nya.
"Biarin aja dia kalo mau ada kegiatan, ga perlu di larang-larang". ucap ayah.
"tapi kan pahhh... dia masih ada tugas, dan belum sebulan ini dia juga pergi selama 2 hari ga ada kabar". saut ibu dengan nada kesal.
"udah biarin aja". ucap ayah ku yang masih terlihat melepaskan kemeja nya di depan kaca.
Ibu ku hanya bisa menatap tajam ke arah ku setelah mendengar ucapan ayah, karna jika ayah sudah mengizinkan ku pergi, maka dia tidak akan berani melarang ku. Aku yang tidak ingin terjebak lama di kamar ibu, langsung beranjak dari kasur dan pergi keluar kamar.
Ketika aku memasuki kamar ku, sudah teelihat Bima sedang bermain PS di dalam, lalu aku terpintas sebuah ide.
"eh Bim... awal bulan depan mau ikut aku?". tanya ku.
"kemana tuh?". tanya nya.
"ke acara silat, di gunung salak.. ga jauh". ajak ku.
"boleh-boleh". ucap nya sembari menganggukkan kepala.
"oke.. berarti nanti aku akan bayar buat 2 orang, kita bakal nginep 2 malam di sana". ujar ku.
"eh 2 malem? kamu udah dapet izin dari ibu? nanti malah aku yang di marahin". tanya bima.
"tenang.. udah kok". jawab ku.
Aku juga sebenarnya ingin mengajak Merry, namun jika mengingat sikap pemalu dan fisik lemah nya, aku memilih untuk mengurungkan niat untuk mengajak nya.
.
.
.
.
.
__ADS_1