Pesugihan Keluarga Ku

Pesugihan Keluarga Ku
Pria misterius


__ADS_3

Keesokan hari nya, ada teman ku rizal datang ke rumah saat pagi.


"kenapa cabut nya kesini hadeh". ujar ku sembari bermain game dengan nya di console.


"yaa.. abis nya kamu juga ga masuk, jadi aku ga masuk juga". timpal nya yang fokus melihat ke arah layar.


"alesan...". ucap ku.


Aku hari ini memang tidak ke sekolah karna di suruh ayah untuk membantu Paman ku firman, entah bantuan apa yang ingin di minta oleh paman.


Rizal mengetahui bahwa aku memiliki kemampuan untuk berkomunikasi tentang ghaib, namun hanya sampai sebatas itu, ia tidak tau bagaimana keluarga ku, atau pun tentang pesugihan.


"eh am.. masa ya, aku kemarin pas pulang malem, ngeliat kuntilanak". ujar nya.


"dimana?". tanya ku


"di jalan deket rumah aku deket univ p*ncasila, waktu itu pukul 11 malam, karna mau cepet pulang jadi aku motong jalan naik motor, ga lewat jalan raya seperti biasa nya... pas itu jalanan sepi banget, dan di sebelah kiri ku tuh kuburan semua... waktu aku lagi fokus di jalan, tiba-tiba aku ngeliat ada sesuatu yang terbang di depan atas, aku yang panik langsung aja muter motor hahaha". saut Rizal dengan tawa.


"ga kamu samperin aja zal, ajak kenalan". ledek ku.


"yee.. boro-boro ajak kenalan, ngeliat sekelibat aja dengkul aku udah lemes... oia am, kamu kan bisa ngeliat jin, di tambah kamu bisa komunikasi sama mereka... ajarin aku dong". ujar nya


"boleh.. tapi ada syarat nya". saut ku.


"syarat apa tuh?". tanya nya.


"ntar malem... kalo kamu ketemu sesuatu di depan jendela kamar kamu, dan ga panik.. nanti aku ajarin".ujar ku.


"eh.. ga jadi deh, ga jadi..". ujar nya dengan wajah panik.


Lalu ada seseorang mengetuk pintu kamar ku, dan ternyata itu adalah paman, aku pun meminta Rizal untuk pergi, karna aku memang sedari awal tidak ada janji dengan nya.


Paman ku firman, meminta ku untuk berganti pakaian dan ikut dengan nya, dengan menggunakan mobil kami pergi ke sebuah tempat di daerah berkat, banten.


Membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam di perjalanan, di sepanjang perjalanan, paman hanya diam sembari mendengar kan lagu di hendset nya.


Sekitar pukul 10:30 pagi, kami pun sampai di sebuah hutan, dengan jalan setapak yang hanya bisa di lalui dengan berjalan kaki, kami pun turun dari mobil dan meminta supir untuk menunggu.


"kita mau kemana sih sebenarnya?". tanya ku sembari berjalan di samping paman.


"mau ketemu dukun". ujar nya dengan senyum lebar.


"hah? dukun? buat apa?". tanya ku.

__ADS_1


"sabar.. entar kamu juga tau". saut nya.


Kami pun terus berjalan mengikuti jalan setapak, dengan jalan yang sedikit menanjak dan berlumpur, membuat kaki ku sulit untuk melangkah.


Sekitar 30 menit lama nya kami berjalan, tibah lah kami di sebuah rumah gubuk, aku bahkan tidak menyangka ada sebuah rumah di tengah hutan ini. Aku melihat ada banyak kerang di gantung di dinding-dinding rumah, dan ada sebuah bangku panjang di teras, dan di atas nya terdapat sebuah papan catur yang seperti nya baru saja di mainkan.


Paman pun mengetuk pintu rumah tersebut.


"firman?". terdengar suara pria di balik pintu.


"iya". saut paman ku


Lalu kami pun membuka pintu dan masuk ke dalam, terlihat seorang pria tua sedang berdiri menatap keluar jendelar dengan penampilan yang sangat tidak ter urus, janggut dan rambut nya begitu panjang yang hampir seluruh nya berwarna putih, dengan kulit yang begitu dekil, dia bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana kain hitam.


Isi rumah nya pun cukup menyedihkan, terlihat beberapa lembar daun pisang yang di susun rapih di pojok ruangan, seperti nya daun itu di gunakan untuk tempat tidur. Lalu seperti di depan tadi, aku melihat banyak sekali kerang-kerang kecil yang di buat seperti kalung dan di gantung di dinding-dindung. Dan di tengah ruangan, ada sebuah meja dengan tatakan daun pisang, yang di atas nya terdapat beberapa gepokan tanah, lalu ada juga beberapa bidak catur.


"bagaimana kabar hanum?". tanya pria itu.


"seperti biasa". ujar paman dengan senyum.


Lalu pria itu duduk di dekat meja, dan mempersilahkan kami duduk di depan nya.


"jadi kamu penerus nya, siapa nama mu?". tanya pria itu.


"Liam.. nama ku Liam". jawab ku.


Terlihat paman mengeluarkan sebuah kantung hitam kecil, dan memberikan nya kepada Basuki, lalu ia mengintip isi kantung tersebut yang aku tidak tau apa isi di dalam nya.


"Hanum ingin kau segera kembali". ujar firman.


"hmm kau sudah tau jawaban ku kan?". ucap nya.


"dengarkan basuki, kali ini situasi telah berbeda". ucap firman.


"Aku akan terus bertapa dan menghabiskan sisa waktu ku di sini.. Aku sudah tidak tertarik dengan duniawi firman". ujar nya sembari memberikan kembali kantung hitam tadi kepada firman.


"kami sudah hampir bisa membuka nya.. dan kami membutuhkan bantuan mu". ujar firman sembari menunjukan sebuah gambar di handphone nya.


"ohh.. itu kabar baik, tapi maaf.. aku sudah tidak tertarik". saut nya..


"kau lah satu-satu nya manusia yang bisa kami mintai tolong mengenai ini... Kau menyianyiakan bakat mu". ujar firman.


Terlihat basuki kembali berdiri dan beralajan menuju jendela, dan menatap ke arah keluar dengan tatapan kosong.

__ADS_1


"Aku sudah hidup terlalu lama... Bahkan teman-teman ku sudah lama pergi meninggalkan ku, dulu aku menganggap bakat ku ini adalah sebuah berkah, yang ada di fikiran ku dulu adalah kekuasaan, wanita dan harta. Bahkan jika pun tuhan datang untuk menghentikan ku, aku akan melawan nya.. namun sekarang berbeda firman, semua nya keliru, bakat ku adalah sebuah kutukan dari tuhan kepada ku". ujar nya dengan wajah sayup.


"jangan bodoh basuki.. kau hanya salah memilih jalan saat itu, dan ini adalah waktu nya untuk kembali, tidak ada kata terlambat... dengan bantuan mu, aku dan hanum akan membawa mu kembali ke masa kejayaan mu". ujar firman yang ikut berdiri.


Lalu Basuki berjalan perlahan dan berjongkok tepat di depan wajah ku.


"kau liam kan?". tanya basuki.


"i..iya". jawab ku.


"tataplah mata ku, dan katakan apa yang kau lihat". ujat nya sembari menatap tajam ke arah ku.


Ketika aku melihat ke dalam mata nya, aku hanya bisa melihat seorang pria yang sudah kehilangan semangat juang nya, juga seorang pria yang sudah kehilangan harapan nya kepada dunia. Namun aku memilih untuk diam dan tidak mengatakan apa pun, tapi...


"kau bahkan hanya diam... aku memang hanyalah pria yang menyedihkan". ujar basuki.


"tunggu..." ujar ku.


"hmmm?". saut nya.


"Aku memang melihat rasa keputusasaan begitu besar di mata mu, namun.. aku melihat setitik api tersisa di dalam sana". ujar ku dengan senyum.


"hahaha setitik api? apa maksud mu?". tanya nya.


"tidak.. kau bukanlah seorang pria menyedihkan, tapi.. kau hanya sedang menunggu seseorang untuk kembali menyulut api yang tersisa di dalam diri mu". ujar ku.


Dia pun hanya terbengong dan menatap ku setelah mendengar ucapan dari ku, dan dengan mata yang terbuka lebar, aku melihat tetes-tetes air mata keluar dari mata kiri nya, ya.. hanya dari mata kiri nya.


"HAHAHAHA.... benarkah? apa kah kau orang nya? seseorang yang telah aku tunggu?". tanya nya dengan tatapan sangat tajam ke arah ku.


"itu.. hanya kau yang tau jawaban nya". ujar ku dengan senyum.


"HAHAHAHA... MENARIK.. MENARIK.... Hanum memang paling tau cara mendidik keturunan nya....". ujar nya sembari menepuk-nepuk tangan dengan tawa lebar.


"Hei Liam... apa kau tau siapa aku? apa kau tau manusia macam apa aku sebelum nya?". tanya nya dengan senyum mengerikan ke arah ku.


"tidak.. karna yang aku lihat sekarang adalah, seorang pria menyedihkan yang sesang menunggu uluran tangan seseorang untuk sekedar membantu nya berdiri". ujar ku dengan membalas senyum nya.


"HAHAHAHA..... kau manusia pertama yang berani mengatakan hal itu kepada ku, bahkan ayah mu sekali pun tidak akan berani mengatakan nya.... mungkin karna kau belum tau siapa aku, atau mungkin.. kau hanyalah pria bodoh yang tidak perduli siapa pun yang berada di depan mu". ujar nya.


"lalu.. apakah uluran tangan dari pria bodoh ini, berhasil menggapai mu". ujar ku sembari beridir.


"ya.. kau berhasil". jawab nya dengan senyum.

__ADS_1


Jujur saja, ketika saat tadi dia menatap ku dengan senyum yang mengerikan, aku merasakan hawa membunuh yang sangat kuat, pria ini bukanlah pria biasa, aku juga merasakan energi ghaib yang begitu besar, seperti dia coba untuk sembunyikan.


Namun setakut apa pun aku tadi, Ego ku selalu bisa meneolong ku di saat-saat seperti itu, Ego yang tidak ingin terlihat lemah di depan orang lain.


__ADS_2