
Kini aku sedang di mobil dalam perjalanan menuju kantor induk milik ayah yang terdapat di Jakarta selatan, tidak begitu jauh dari rumah kami. Dan aku sedang bersama Merry dan juga Bima, karna aku yang memaksa mereka berdua untuk ikut, karna ini pertama kali nya aku datang ke kantor ayah sebagai perwakilan ayah.
Biasa nya dalam 3 bulan sekali akan ada rapat para pemegang saham, sedang kan ayah sedang mengurus bisnis di luar negri, sebenarnya tidak harus aku yang mengganti kan nya, namun ayah mengatakan aku yang harus mengganti kan nya, jadi aku tidak punya pilihan lain.
Aku sempat menelpon Paman untuk membantu ku, namun dia sedang berlibur di Hawai, dan ia juga mengatakan untuk meng ia kan saja apa pun keputusan dewan pengurus, aku pun hanya bisa menyetujui nya sarannnya, karna aku belum mengerti bagaiamana sebuah perusahaan berjalan.
Sesampai nya di kantor, terlihat beberapa karyawan dan juga security sudah menunggu ke datangan ku, dan juga seorang perempuan berumur 40 tahun, namun masih terlihat sangat muda, dan dia adalah Bu Tania, dia menjabat sebagai Direktur di sini.
"astaga liamm.. udah segede gini ya kamu, terakhir tante liat kaya nya masih kecil". ucap nya sembari memeluk ku.
"haha ia tante.. faktor kebanyakan makan". saut ku.
Lalu dia mengantarkan kami bertiga untuk menuju ke ruang rapat yang akan segera di mulai. Sesampai nya di ruang rapat, terlihat sebuah meja berbentuk oval, dan sudah di penuhi oleh para pemegang saham lain nya, di antara mereka ada yang wajah nya tidak asing bagi ku, karna sebagian besar pemegang saham, masih keluarga ku.
Aku pun duduk di paling ujung, tempat terjauh dari layar, tepat di tengah-tengah dan di samping ku ada Bu Tania, namun untuk Merry dan Bima aku menyuruh mereka untuk menunggu ku di luar, karna rapat ini tidak boleh di hadiri selain dari para pemegang saham.
Lalu ada seorang wanita maju dan mempresentasi kan apa yang ada di layar, aku yang biasa nya hanya tertidur di dalam kelas ketika guru mengajar, hanya bisa menatap layar tanpa begitu mengerti apa yang sedang dia bicarakan.
Dan tidak lama setelah persentasi nya, dia menanyakan pendapat masing-masing dewan, aku yang hanya mengerti 20 persen persentasi nya hanya berharap aku tidak di tanya.
Namun ternyata.. Setiap keputusan akhir hanya boleh di ambil oleh pemegang saham terbesar, yaitu ayah ku, dan sekarang aku lah yang harus memutuskan nya.
"bagaiamana pak? apa kita harus ambil atau lebih baik kita lempar saja ke yang lain?". tanya seorang pria.
"hmmm menurut bu tania gimana?". ucap ku melempar pertanyaan.
"kalau saya bagaimana bapak saja, karna saya sebenarnya masih 50:50". ucap tania dengan wajah serius menatap layar.
apa yang mereka harapkan dari bocah 18 tahun dan masih duduk di kelas 3 SMA untuk mengambil keputusan penting seperti ini, aku bukanlah anak jenius, dan tidak sepintar ayah.
"hmmm ia". ucap ku.
"ia apa pak?". tanya yang lain.
"i..iya kita ambil". saut ku.
Lalu mereka semua hanya menggagukkan kepala, dan terlihat wanita yang tadi maju presentasi terlihat begitu senang, sampai-sampai tidak bisa menyembunyikan senyuman di wajah nya.
Sekitar 2 jam rapat pun berlangsung, dan selama rapat aku hanya tetap melempar pertanyaan ke Tania dan juga ke Dewan pengurus, dan akhir nya sekarang aku bisa pulang.
"gila.... pusing banget rasa nya". ucap ku sembari meregangkan dasi.
"ya biasain aja.. nanti kamu juga bakal kaya gitu terus". ucap yang berajalan di belakang ku.
"entah kenapa.. aku ga ada minat kerja kaya gini". saut ku sembari memasuki mobil.
"Kalian tadi di dalem ngomongin apaan sih di dalem? lama banget sampe 2 jam". ucap merry yang duduk di bangku depan.
"ngomongin kamu lah merr.. apa lagi". saut ku.
"hah serius?". tanya nya.
"hadehhh... btw kamu kuliah aman-aman aja kan? ga ada yang aneh?". tanya ku.
__ADS_1
"aman aja sih... cuma ada 1 cowo, nyoba deketin aku mulu". jawab merry.
"ya selama cara deketin nya ga over acting, ya harus nya gpp". saut ku.
"kadang tuh dia suka maksa minta no telfon, atau suka maksa anterin pulang, jadi agak risih juga sih". ucap nya.
"hmmmm". saut ku.
Bima pun hanya tersenyum melihat ku, seperti mengerti apa yang akan ku lakukan.
Dan tidak lama kemudian kami pun sampai di rumah, sebelum pergi ke kamar, aku menyuruh merry dan Bima untuk terlebih dulu masuk, sedang kan aku, aku menelfon salah seorang teman ayah untuk menyewa jasa nya, agar menjaga Merry secara diam-diam ketika di kampus. Karna aku paling membenci jika ada orang yang berani mengusik orang-orang di dekat ku.
"Liam.. ada yang menunggu mu". bisik tetua.
"siapa?". tanya ku.
"kau akan tau ketika kau masuk ke kamar". saut nya.
Aku pun hanya menganggukan kepala, tanda mengerti, dan segera pergi ke kamar.
"Ohhh ADOFO". ucap ku dengan kencang.
Terlihat seekor Baboon berwajah merah sedang duduk di jendela kamar ku.
"sesuai dengan janji ku, aku datang". ucap nya.
"ya.. berarti kau sudah menyelesaikan perang mu?". tanya ku.
"hampir mati? berarti dia juga sangat hebat". saut ku.
"Bukan begitu liam.. Adofo bukanlah iblis bertipe petarung, seperti yang ku katakan sebelum nya kepada mu, Ilmu nya adalah untuk mendeteksi dan membaca pergerakan musuh". ucap Dagon.
"ya.... seperi yang dagon katakan, aku memang bukanlah iblis tipe petarung, namun.. aku bertarung sungguh hebat di sana HAHAHAHA". Tawa nya dengan bangga.
Aku dan Dagon pun hanya menepuk tangan kami, sekedar untuk membuat nya merasa bahagia.
"oia adofo... ada yang ingin ku katakan pada mu, tapi tidak bisa di sini". ucap ku dengan wajah serius.
"ohh apa itu? kenapa tidak bisa disini?". saut nya.
"hanya tidak bisa... nanti kau pun akan tau alasanya". ucap ku.
.
.
.
Saat malam tiba, aku pun melakukan Ritual pelepasan raga, dengan tujuan untuk pergi ke tempat ratu kenjeran, dan seperti sebelum nya, aku meminta hanya Dagon, tetua dan Adofo yang boleh ikut, sedangkan Bile dan lain nya harus menunggu ku di rumah.
"Seperti nya.. kamar ku sudah menjadi tempat rapat kalian". ucap ratu sembari memberikan kami teh.
"sudah lama kita tidak bertemu Ratu.. jadi apakah mungkin kau berubah fikiran sekarang?". Tanya adofo sembari membungkuk kan badan di depan Ratu.
__ADS_1
"hahh.. kau ini.. sama sekali tidak berubah dari dulu, tidak mungkin aku mau menikahi seekor kera". saut Ratu sembari duduk bersama kami.
"AKU BUKAN KERAAAAAAAAAAA". Teriak adofo.
Lalu kami pun hanya tertawa melihat tingkah dari adofo, ternyata kebiasaan buruk adofo adalah mudah untuk jatuh cinta kepada setiap wanita cantik, entah itu manusia maupun Jin sekalipun.
"ohh.. entah mengapa aku bisa menghirup wewangian melati dari teh ini, tapi aku tidak bisa merasakan nya di mulut ku". ucap ku sembari meminum teh.
"seperti yang sudah ku katakan pada mu Liam, saat di sungai waktu itu, di alam ini, kita tidak bisa merasakan dengan lidah, namun dengan hidung..". ucap dagon yang duduk di depan ku.
"benar liam... anggap saja teh ini sebagai wewangian untuk menemani perbincangan kalian". ucap Ratu.
"Oia liam.. apa yang ingin kau sampai kan tadi?". tanya adofo.
Aku pun menceritakan tentang keadaan Aira, dan bagaimana aku bisa bertemu dengan nya, terlihat ia pun langsung melompat-lompat bahagia.
"Cinta sejati ku masih hiduppppp". saut adofo.
"bukan kah kau mencintai setiap wanita cantik adofo". tanya tetua.
"HEII TIDAK SOPAN... tapi memang benar, aku mencintai setiap wanita cantik, tapi... setiap pecinta wanita, selalu memiliki cinta sejati nya, dan aira adalah CINTAAA SEJATI KU ". Ucap adofo yang masih tidak bisa diam.
Lalu aku bertanya kepada adofo tentang alam Yumias, namun sekali lagi, dia juga tidak tau tentang alam itu. Serasa kami sedang berada di ujung tembok, dan tidak dapat mendapatkan informasi lagi, apakah memang aku harus bersabar selama 3 tahun, dan saat aku berusia 21 tahun untuk menunaikan tugas dari nenek. Namun di satu sisi aku juga ingin segera dapat bisa bertemu lagi dengan nya.
"Ohh.. Dagon, apakah kau mengingat tentang seorang penyihir dari Gunung balayan". ucap Adofo.
"tentu aku mengingat nya.. ada apa memang nya?". tanya dagon.
"ku rasa dia pernah menyinggung tentang sebuah alam terpencil yang terpisah dari malakut dan jabalut.. ia juga mengatakan pernah pergi kesana sebelum nya.. dan jika memang benar alam yang dia maksud adalah alam yumias, mungkin kita bisa mendapatkan bantuan dari nya". ucap Adofo.
"Seorang penyihir? siapa dia?". tanya ku.
"dia bernama Gatot, dan dia adalah manusia, dia sekarang memang tinggal di sana, namun saat muda dia cukup memiliki nama di pulau jawa, ketika dia berhasil menghentikan peperangan antara laut utara dan selatan". ucap adofo.
"hah? manusia? dan menghentikan peperangan? bisakah kau menjelaskan nya lebih jelas?". tanya ku penasaran.
"lebih baik kau tanyakan ke ratu, karna dia juga mengambil bagian dalam peperangan itu". ucap adofo.
"heh.. benarkah itu ratu?". tanya ku kembali.
"ya benar liam... saat itu dia masih sangat muda". ucap nya.
"Bisa kah kau menjelaskan lebih detail? aku ingin tau mengapa dan bagaimana peperangan itu terjadi". tanya ku kembali.
"baiklah... semua itu berawal dari.....
.
.
.
[CHAPTER SELANJUTNYA, AKAN MENGGUNAKAN SUDUT PANDANG RATU]
__ADS_1