
"hmmmmmm". gumam ku yang sedang duduk di gazebo belakang rumah.
"kenapa am?" tanya nya.
"kamu kenapa masih di sini?". tanya ku.
"Mulai hari ini, aku harus nemenin kamu". ujar Anggi.
"24 jam gitu? kamu juga semalem nginep kan?". tanya ku sebal.
"iya". jawab nya.
"kan bisa pulang dulu, baju juga belom di ganti". saut ku.
"Kan belum di kasih perintah sama kamu". jawab nya.
"astaga... yaudah kamu pulang aja, nanti kalau ada perlu sama kamu, pasti aku telfon ya". ujar ku.
"meskipun ga ada perintah, aku wajib ngabisin setengah hari aku sama kamu... nanti aku bakal balik lagi kesini ya". ucap anggi sembari melambai kan tangan.
"Ai kalo sampe tau, mati aku". gumam ku pelan.
Berbarengan saat anggi pergi, suhu Fajar tiba di rumah ku, karna hari ini ada jadwal Silat, ia pun langsung menghampiri ku di Gazebo.
"Am.. itu siapa? cakep banget.. ga pernah liat". ujar Fajar.
"Ambil aja kalo mau". saut ku.
"di kira barang kali.. itu siapa emang nya?". tanya nya kembali.
"sodara jauh". jawab ku berbohong.
"ohh... bisa kali di kenalin". saut nya.
"demi keselamatan suhu, mending jangan". ujar ku.
"eh maksud nya?". saut ku.
"udah punya tunangan dia". ujar ku kembali berbohong.
"ahhh sayang banget, kenapa setiap cewe yang saya suka selalu udah di tegepin". saut nya dengan tawa kecil.
"tegepin?". tanya ku.
"hahaha inti nya udah di milikin orang". saut nya.
"ada-ada aja... yaudah latihan yuk". saut ku.
"saya rebahan dulu sebentar... lagian, saya juga udah bingung, mau ngajarin kamu apa lagi, semua jurus udah kamu hafal dan kamu kuasai... gimana kalo kita latih tanding aja? kan udah lama". ajak nya.
"latih tanding? boleh boleh, sekalian aku mau nunjukin jurus yang aku kembangin sendiri". jawab ku dengan semangat.
"wihh serem tuh kaya nya... boleh lah". saut nya.
Aku pun berganti pakaian di kamar dan kembali ke taman belakang, terlihat suhu fajar sedang melakukan pemanasan dengan meregangkan tangan dan juga kaki nya, baru kali ini ia melakukan pemansan sebelum bertanding dengan ku, mungkin kali ini dia akan benar-benar serius, dan aku berharap seperti itu.
__ADS_1
Suhu fajar sudah beberapa kali ikut kejuaran nasional dan pernah juara juga, ia bahkan menjadi andalan di perguruan kami, membuat dia mau bertarung serius dengan ku, adalah sebuah kehormatan tersendiri bagi ku.
"Liam.. Jika aku kalah, aku akan berhenti menjadi guru mu". ujar fajar dengan wajah serius.
"eh? tidak perlu seperti itu". saut ku.
"Jika tidak seperti itu, maka aku tidak bisa serius". ujar fajar.
"baiklah.. terserah suhu saja". ucap ku sembari memasang kuda-kuda.
Terlihat fajar memasang kuda-kuda nya, dengan sebuah kode tangan untuk menyerangnya terlebih dahulu, aku pun memakan umpan nya dan langsung menerjang maju dengan mencoba menendang leher nya dengan kaki kanan ku.
Ia tidak menangkis kaki ku, namun ia menghindari tendangan ku dan berputar badan, lalu ia mengarahkan tangan kiri nya ke bagian perut ku, aku dengan cepat merespon nya dengan ikut berputar badan, dan mencoba kembali menendang nya dengan tumit kaki kanan ku.
*BUKKKKKKKK*
Fajar mencoba untuk menangkis dengan tangan nya, namun tendangan ku begitu kuat sampai-sampai mebuat nya hampir terjatuh, lalu dengan cepat ia pun mundur beberapa langkah.
"aahhh gilaa power nya". ujar nya sembari meniup-niup bekas tendangan ku pada tangan kiri nya.
"udahan?". ledek ku.
"hahaha kalo karna memar gini aja aku mundur, aku ga akan berada di sini sekarang". jawab nya sembari membuang ludah.
*WUSSSHHH*
Fajar tiba-tiba saja berlari begitu kencang, lalu mencoba untuk menjatuhkan ku dengan menendang kaki ku, namun aku berhasil menahan tendangannya menggunakan betis kiri ku.
Seolah sudah tau bahwa tendangan nya akan berhasil ku tepis, ia langsung menarik kembali kaki kanan dan berhasil menendang perut kiri ku.
Sebelum aku bertarung dengan suhu fajar, aku meminta dagon dan seluruh khadam patigaman ku untuk tidak menjaga ku untuk sementara, karna aku ingin bertarung dengan nya secara adil.
Perut ku pun terasa begitu sakit, namun aku mencoba untuk menahan nya, dan tidak menunjukan ekspresi apa pun.
"Kalo sakit bisa istirahat dulu". Ledek nya.
"hahaha... bukan nya suhu sendiri yang udah cape?". ledek ku kembali.
Pertandingan kami pun terus berlanjut dengan saling berbalas pukul, badan dan pipi kiri ku beberapa kali terkena pukulan nya, aku pun juga berhasil menghajar nya beberapa kali, terutama di bagian perut nya.
Sekitar hampir 1 jam, pertarungan kami pun berakhir, dan pemenang nya adalah.... Suhu fajar. Ia begitu cepat dan sangat berpengalaman dalam pertarungan 1 vs 1, pergerakan ku bahkan berhasil ia prediksi beberapa kali.
Aku pun tersungkur di tanah dengan nafas yang hampir habis, sedangkan fajar, ia masih bisa berdiri dengan luka lebam di pipi kanan nya.
Mungkin kami berdua sudah keterlaluan, namun entah mengapa, kami sangat menikmati pertarungan barusan, sampai-sampai aku cukup di buat frustasi karna kalah dari nya.
"haha udah lama saya ga seserius ini, mungkin terakhir kali saat kejuaraan 2 tahun lalu". ujar nya sembari memberikan ku tangan, untuk membantu ku berdiri.
"Panggilan Suhu emang ga bisa di boongin". saut ku sembari meraih tangan nya.
Setelah nya kami hanya duduk di gazebo untuk beristirahat, tidak lupa aku meminta seorang pembantu untuk membuat kan kami minuman dingin dan juga cemilan ringan.
Ketika kami berdua sedang asik mengobrol, tiba-tiba saja Ai muncul dari pintu belakang rumah, aku pun cukup terkejut melihat kedatangan nya, karna sebelum nya dia tidak bilang jika ingin datang.
"muka kamu kok bonyok gitu sih ih". ujar Ai sembari meegangi pipi ku.
__ADS_1
"Muka saya juga bonyok loh mba, ga di tanyain?". canda fajar.
"bodo amat". bentak Ai.
Lalu aku pun mengatakan kepada nya kalau kami baru saja berlatih tanding, ya walaupun setelah nya dia langsung memarahi ku karna sudah keterlaluan, namun aku menanggapi nya dengan santai, dan sesekali bercanda dengan fajar tentang Ai, sampai-sampai membuat wajah Ai memerah.
Dan sekitar 10 menit kemudian, aku kembali di kejut kan oleh kedatangan Anggi, tidak ku sangka dia sudah kembali secepat ini, dan yang membuat ku sedikit panik, aku belum menyiapkan sebuah alasan kepada Ai, tentang Anggi.
Anggi datang dengan menggunakan kaus putih, dan jeans ketat, ia juga mengikat rambut panjang nya, seolah seperti ciri khas nya.
"aku udah selesai ganti baju". ucap anggi kepada ku di depan Ai dan Fajar.
"hahh?? ini siapa? udah ganti baju? kamu abis ngapain sama dia??". tanya Ai kesal.
"ahhh anu..". ucap ku bingung.
"anu anu apa?". tanya Ai kembali.
"Aku bodyguard nya Liam mulai sekarang". ujar Anggi.
*PAAKKK*
Aku pun reflek menampar muka ku sendiri, setelah mendengar ucapan Ai, karna niat ku sebelum nya adalah untuk menyembunyikan identitas sebenarnya.
"ohhh bodyguardd... cantik banget ya am, pinter banget kamu nyari bodyguard nya, aku juga dong boleh satu, yang guuaanteeengg nanti aku cari". ujar Ai kesal.
Ai tidak pernah lagi memanggil ku dengan sebutan nama, jika ia memanggil ku dengan sebutan nama, ia pasti sudah sangat marah.
"Bukan begitu.. ini tu--". ucap ku terpotong.
"begitu apa am?? mana-mana bodyguard yang badan nya gede gitu, lah ini... tinggi nya juga malah tinggian aku". ujar Ai kembali.
Akhirnya aku memutuskan untuk menjelaskan yang sebenarnya dengan mengatakan dia adalah anak dari Julian, dan untung nya Ai sudah tau bahwa Julian itu adalah bodyguard pribadi milik ayah, jadi aku lebih mudah menjelaskan nya, ya walaupun aku tidak menceritakan tentang kebenaran keluarga Anggi.
Setrlah aku jelaskan, untung nya Ai mau mengerti, dan tidak mau memperpanjang masalah, ya walau pun aku tau, dia menerima nya dengan terpaksa, hanya dengan melihat ekspresi wajah nya sekarang, sedangkan Anggi.. ia terlihat sudah mulai kesal dengan omelan Ai sedari tadi.
Fajar melihat ku dengan senyum mejengkelkan, karna sebelum nya aku sudah berbohong kepada nya tentang Anggi, dan seolah senyuman nya itu mengatakan bahwa ini adalah sebuah karma, karna telah membohongi nya.
Walau pun Ai mulai bisa tenang, tapi dia sesekali menggerutu dan menyindir Anggi, dan Anggi yang sudah tidak bisa menahan emosi nya pun mulai bicara.
"tunangan super bawel begini kok mau aja am?". ujar Anggi di depan Ai.
"heh?.. maksud nya apa ngomong gitu? mau aku aduin bokap aku?". ancam Ai.
"Aduin aja... anak papah". ledek Anggi.
Lalu mereka pun beradu mulut sampai-sampai membuat kepala ku sakit, aku pun memutuskan untuk menarik fajar untuk ikut bersama ku dan meninggalkan mereka.
"eh mau kemana???". tanya Ai kesal.
"makan". jawab ku menahan emosi.
"makan apaan? ini kan ada". ujar Ai sembari menunjuk cemilan di meja Gazebo.
"MAKAN UBIN". ujar ku kesal, sembari berjalan meninggalkan mereka.
__ADS_1
Walau pun sudah ku tinggalkan, mereka masih terus beradu mulut, sampai-samoai seorang pembantu yang ingin menyirami bunga di taman belakang, harus mengurungkan niat nya.