
Sampai aku melihat sebuah tangan berwarna hitam keluar dari tanah... tempat dimana aku mengubur ketiga benih tadi...
__________________________________________
Sekujur tubuh ku seketika di buat merinding hebat, aku merasakan energi yang tidak pernah ku rasakan sebelum nya, seperti energi yang meledak-ledak.. Sebenarnya mahkluk apa yang telah kami lepaskan ke dunia ini..
Perlahan tangan tersebut mencengkram tanah dan menarik tubuh nya untuk ke atas, dan ketika ku perhatian lebih jelas, ternyata ia memiliki Kulit seperti buaya, berwarna hitam.. Perlahan aku melihat kepala nya mulai muncul ke permukaan,dan akhirnya seluruh tubuhnya berhasil keluar ke permukaan.
"hahh... akhirnya aku dapat merasakan penderitaan ifrit"
ucap nya sembari memukul-mukul kepala nya dengan tangan kiri nya.
Ia memiliki rambut berwarna putih pendek, seluruh kulit nya memang lah kulit buaya, bahkan mata nya juga mengedip secara Horizontal seperti hal nya buaya, dengan pupil mata berwarna kuning ia langsung menatap tajam kepada ku.
"kamu...".
ucap nya sembari menunjuk ke arah ku, lalu ia berjalan mendekati ku, terlihat kulit nya perlahan berubah menjadi kulit manusia, dengan kulit putih bersih, dan jujur saja.. wajah nya begitu tampan dan sama sekali tidak menakutkan, namun hanya mata nya yang masih mengedip seperti seekor buaya. Dan ia berpenampilan seperti pria muda.
"kamu yang membebaskan ku?". tanya nya menatap tepat di mata ku.
"y...ya kami lah yang membebaskan mu". ucap paman ku yang juga terlihat gugup.
"apa aku bertanya pada mu? ku rasa aku bertanya kepada anak ini". ucap nya.
"i..ia kami beruda yang sudah melepaskan mu". jawab ku yang begitu grogi.
"lalu apa tujuan mu... sampai-sampai membantu ku untuk terlepas dari segel ini?" tanya nya.
"Aku ingin ka--"
Ketika paman sedang berbicara, tiba-tiba saja mahluk itu mendadak bergerak begitu cepat dan langsung meninju ke arah paman, Bile pun muncul seketika untuk menahan pukulan nya, namun.. mereka berdua malah terlempar begitu jauh dan menghantam pohon.
"Sudah ku katakan... aku tidak berbicara dengan mu". ucap nya.
Aku begitu shock dengan kejadian barusan, paman dan Bile yang terlempar terlihat begitu kesakitan, lalu khadam wanita milik paman muncul dan langsung merapalkan Asyifa kepada nya.
"jadi... apa tujuan mu melepaskan ku?". ucap nya yang kembali menatap ku.
"a..aku ingin mencuri Himkar dari Prabu Kamesan, karna alasan itu aku membutuhkan kekuatan mu untuk membantu kami". ucap ku.
"ohh jadi dia masih ada disini.... baiklah, untuk membalas rasa terimaksih ku, aku akan bertarung untuk terakhir kali dengan nya". ucap nya sembari merangkul ku untuk berjalan dengan nya.
"apa maksud mu terakhir kali nya?". tanya ku bingung.
"Karna kali ini... aku akan benar-benar membinasakan nya". ucap nya dengan senyum yang begitu mengerikan.
Lalu kami pun segera pergi penuju ke petilasan Prabu, namun sebelum kami pergi terlihat paman kembali menggali ke tiga berlian tadi, dan menyimpan nya, ketiga berlian tersebut berubah menjadi bening, seperti energi di dalam nya sudah terlepas.
"boleh aku bertanya sesuatu?". tanya ku.
"ya" jawab nya singkat.
"bisa kah kau memberikan alasan mengapa kau membenci paman ku?" tanya ku.
Lalu dia menatapku dengan senyum dan mengatakan.
"Aku tidak menyukai sifat Munafik"
Kami kembali menelusuri gelap nya hutan, dengan pemandangan langit yang mulai gelap tanda malam akan tiba.
Ketika aku berada di dekat nya, aku merasakan ada nya energi yang terus berputar-berputar di sekitar kami, aku juga merasakan ada nya amarah yang coba dia sembunyikan dengan senyum di wajah nya saat ini.
"siapa nama mu?" tanya nya.
__ADS_1
"Liam.. lalu bisa kah aku mengetahui nama mu?". tanya ku dengan sopan.
"dulu.. manusia-manusia yang menyembah ku, memberikan ku berbagai nama seperti Abaddon,uhtli, dan Acabra... kau bisa memanggil ku dengan sebutan-sebutan itu". ucap nya.
"Baiklah.. aku akan memanggil mu dengan Acabra". ucap ku tersenyum ke arah nya.
Kami terus berjalan dengan paman yang mengikuti kami dari belakang, terlihat paman sama sekali tidak berani berbicara, seperti nya dia cukup trauma karna pukulan tadi.
Ketika kami sampai di sebuah batu yang begitu besar, yang terdapat di dalam hutan dan tidak jauh dari tempat kami sebelumnya. Acabra menyentuh Batu tersebut dengan tangan kanan nya, dan diam untuk sesaat, dan tidak lama kemudian muncul 2 jin berwujud wanita kembar, kedua mata mereka berwarna hitam, dengan rambut cukup panjang dan kulit putih pucat.
Setelah mereka melihat Acabra, terlihat mereka berdua langsung bersujud di depan nya tanpa mengucapkan apa pun. Aku sebenarnya ingin menanyakan siapa 2 jin itu ke pada nya, namun aku masih grogi untuk berbicara atau pun bertanya kepada nya.
Lalu sekitar 1 jam berjalan, aku melihat sebuah air terjun begitu besar yang dasar nya tidak dapat ku lihat, seperti sebuah jurang. Aku sempat menengok ke dalam nya dari atas, namun Acabra mengingatkan ku agar berhati-hati, karna Sukma atau pun jin yang terjatuh ke dalam sana tidak akan pernah dapat kembali.
Aku pun terkejut dan memberanikan diri untuk bertanya tentang alasan nya, lalu dia mengatakan, jurang itu mengarah langsung ke neraka bumi. Aku yang tidak begitu paham maksud nya, hanya menganggukan kepala tanpa kembali bertanya.
Lalu sampailah kami di petilasan Prabu. Kami sekarang berada di atas bukit dan
Terlihat ada 3 rumah adat jawa yang begitu besar saling berhadapan di bawah sana, dan di tengah nya terdapat sebuah tempat mirip seperti Gazebo berbentuk bulat, tanpa atap. Dan aku melihat seorang pria berlakaian adat jawa sedang duduk di gazebo tersebut dengan 2 wanita di belakang nya.
Tanpa basa-basi Acabra langsung mengambil ancang-ancang dan melompat begitu tinggi yang langsung menerjang pria di bawah sana. Namun ketika dia sudah dekat dengan pria itu, tiba-tiba saja aku melihat banyak sekali jin langsung menghentikan terjangan nya, dan Acabra pun sedikit terpental karna itu.
Aku yang kaget, langsung segera turun ke bawah untuk membantu nya, sebelum aku turun paman mengatakan untuk memberi dia waktu setidak nya 15 menit untuk mengalihkan perhatian Prabu Kamesan, aku pun hanya menganggukan kepala tanda mengerti.
Sesampai nya di bawah, aku langsung menyuruh keluar seluruh khadam tipe petarung milik ku, tanpa tetua di antara mereka. dan Aku berdiri di samping Acabra.
"Buaya... seperti nya ada manusia bodoh yang membangkitkan mu" ucap prabu dengan senyum di wajah nya.
"ya.. berkat mu, aku sekarang mengerti apa yang di rasakan Ifrit, aku berterimakasih atas itu". ucap Acabra.
"ohhh kau tidak perlu berterimakasih pada ku, yang cukup kau lakukan adalah terus tidur di bawah pohon itu sembari menunggu hari Akhir". ucap prabu sembari berdiri dari kursi nya.
Setelah prabu berdiri, terlihat ada puluhan... tidak.. tapi ratusan jin muncul di sekitaran petilasan, mereka semua terlihat waspada dan menunggu perintah.
Lalu aku menyuruh seluruh khadam ku yang berjumlah hanya 16, untuk menjauhkan para jin itu dari Prabu, agar Acabra bisa berfokus untuk melawan Prabu.
Tidak lama setelah nya, Acabra yang sudah di penuhi oleh amarah merubah bentuk nya kembali menjadi seekor buaya, walaupun hanya kulit nya saja yang berubah. Ia langsung maju menerjang Prabu dengan ekor nya, Prabu yang mencoba untuk menahan nya sendirian, membuat nya harus mundur beberapa meter setelah menahan nya, dan Prabu yang kesal karna itu berteriak dan meminta para jin bawahan nya untuk membantu nya.
Namun tidak satu pun dari para jin itu mampu mendekati prabu, karna terlihat Dagon begitu mendominasi pertarungan dan tidak membiarkan satu pun jin bawahan nya mendekati prabu. Lalu Acabra kembali melayang ke arah Prabu begitu cepat dan langsung menghajar nya beberapa kali dan sekali-kali terlihat ia juga mencoba untuk menggigit nya dengan gigi-gigi tajam nya, namun Prabu dengan begitu susah payah berhasil menghindari sebagian besar serangan nya.
Prabu yang terlihat cukup putus asa dengan kondisi nya, mengeluarkan sebuah kriss yang cukup panjang dari pinggang nya, namun Acabra yang tidak memperdulikan itu, ia kembali mendekati nya dan mencoba untuk menghajar nya, namun.. ketika Prabu menyabetkan Kriss tersebut ke lengan kanan Acabra, dia langsung mendapatkan luka robek di lengan kanan nya, dan dengan cepat Acabra mundur sejenak.
"kau tidak akan bisa mengalahkan ku.. BUAYA SIALAN...." ucap Prabu dengan terengah-engah.
"ohhh.. seperti biasa, kau selalu memiliki pusaka-pusaka aneh... tapi.. jangan berharap karna pusaka itu kau bisa mengalahkan ku". ucap Acabra sembari memegangi tangan kanan nya
Lalu Acabra berdiam diri dan menutup mata sembari merapat kan tangan nya lalu terlihat mulut nya seperti merapalkan sesuatu..
WUUSSSSSSSSSSSSSSSSS
Tiupan angin yang begitu kencang bersumber dari nya, seperti dia baru saja melepaskan energi yang begitu besar.
Lalu Acabra sedikit membungkuk dan menatap tajam Prabu, sedangkan Prabu juga bersiap dengan ancang-ancang nya, seolah dia mengerti sesuatu yang begitu berbahaya akan segera menerjang nya.
"ini akan menjadi pertarungan terakhir kita". ucap Acabra dalam posisi membungkuk dan siap menyerang.
"Ya.. Akan kupastikan kali ini, kau akan tersegel untuk selama nya". jawab Prabu.
Acarda langsung saja menerjang dengan begitu kencang, cakaran demi cakaran dia arah kan ke Prabu, namun dengan begitu susah payah Prabu bisa menangkis serangan bertubi-tubi dari nya.
Aku melihat banyak sekali energi hitam,ungu dan Biru seperti meledak-ledak di sekitar mereka, dan...
SSRREEEEEKKKKK
__ADS_1
Terdengar suara tusukan, tanda pertarungan sudah berakhir....
Acabra berhasil menusukan tangan kiri nya ke dalam perut Prabu, namun aku tidak melihat darah keluar dari perut nya, sama seperti ketika Acabra terkena sabetan Kriss di lengan kanan nya, apa mungkin semua Iblis seperti itu.
"sudah berakhir". ucap Acabra yang masih dalam bentuk buaya nya.
"SI...SI...SIIIAALLLLAAAANNNNN". Teriak Prabu sebelum terjatuh dan tidak bergerak.
Lalu terlihat paman berlari dari balik salah satu rumah sembari membawa ketiga benih tadi, dan menaruh nya di dekat tubuh Prabu, Acabra yang sudah mengetahui apa yang ingin paman ku lakukan, ia pun mundur beberapa langkah.
Lalu paman membacakan rapalan dan menempelkan sebuah kertas yang sudah dia tulis, ke tubuh Prabu. Setelah itu aku kembali melihat angin yang begitu besar bertiup begitu kencang, dan seperti berputar-putar di atas Ketiga benih tersebut.
Tidak lama kemudian, Tubuh prabu perlahan menghilang, dan ketiga benih yang sebelum nya sudah berubah menjadi Berlian bening, kini kembali mengeluarkan Warna seperti sebelum nya, sama seperti saat Acabra terjebak di dalam nya, beda nya.. cahaya yang di timbulkan benih itu serkarang, tidak secerah saat Acabra masih tersegel di dalam nya.
"Selamat tinggal...". Ucap acabra pelan.
.
.
Sekitar 1 jam setelah nya, para jin bawahan Prabu satu per satu meninggalkan tempat ini dan pergi, namun beberapa dari mereka tinggal dengan maksud ingin melayani Acabra sebagai tuan mereka selanjutnya, namun.. Acabra menolak mereka.
"Aku sudah mendapatkan Himkar"
Ucap paman sembari menunjukan sebuah miniatur Rumah adat Korea, aku pun menanyakan apa itu sebenarnya, namun paman hanya mengatakan, benda ini akan membantu ayah untuk mencapai salah satu tujuan nya, tanpa menjelaskan detail nya.
"Liam.... Apa yang harus ku lakukan untuk mengucapkan rasa terimaksih ku, apa ada hal yang kau inginkan?". tanya Acabra yang sudah merubah bentuk nya menjadi manusia normal.
"tidak Acabra, justru aku dan paman ku yang harus mengucapkan terimakasih pada mu, karna pertarungan mu tadi... kami bisa mengambil Himkar ini". jawab ku sembari sedikit menunduk tanda terimakasih.
"tidak... jika hanya itu, maka aku tidak akan puas, katakan saja... aku pasti akan mengabulkan nya, kau ingin kekayaan? Wanita? apa pun itu". ucap nya memaksa.
Aku sempat diam untuk sesaat, memikirkan apa yang harus ku minta kepada nya supaya dia puas, namun setidak nya untuk saat ini tidak ada yang benar-benar aku ingin. Lalu tiba-tiba saja aku memiliki sebuah ide gila...
"Acabra.. jika kau memaksa maka akan ku katakan keinginan ku". ucap ku.
"katakan lah". saut nya
"Jadi lah salah satu pengikut ku". ujar ku
Terlihat paman cukup kaget mendengar permintaan ku, namun ia hanya diam dan tidak merespon, seperti nya dia masih takut akan di hajar lagi jika terlalu banyak bicara.
"HAHAHAHAHA.... aku? jadi pengikut mu? HAHAHAHA..... baiklah, aku akan menjadi pengikut mu". ucap nya dengan raut wajah serius.
Aku pun terkejut dan juga merasa begitu senang dia mau menjadi salah satu khadam ku, bahkan aku sampai tidak bisa menahan senyum yang keluar dari wajah ku.
"Tapi... tidak untuk sekarang, karna ada yang harus aku lakukan, namun aku berjanji... setidak nya 5 tahun lagi, aku akan kembali dan menemui mu". ucap nya dengan senyum.
"Baiklah... lakukan apa yang ingin kau lakukan". saut ku membalas senyum nya.
Lalu Acabra membawa ketiga Benih tadi dan pergi bersama kedua jin wanita bawahan nya, mereka pergi memasuki hutan, sampai aku tidak bisa lagi melihat mereka.
"ayo pulang... anak gila". ucap paman sembari mengelus-elus kepala ku dengan kasar.
"sama kaya yang ngomong". saut ku.
Lalu kami berdua pun pergi meninggalkan alam ghaib dan kembali ke dalam jasad kami masing-masing.
.
.
.
__ADS_1