
Morgiana menghilang antah berantah.
Morgiana kemudian membuka matanya, lalu melihat disekelilinginya, kedua tangannya membenggang terikat dengan besi kecil melingkari pergelangan tangannya, dirantai menggunakan besi yang tidak mudah dihancurkan, kaki nya juga terikat seperti itu, dengan penuh luka memar, luka-luka gores, luka-luka cambukan, dan baju putihnya menjadi kotor. Ruangan yang mirip, yang benar-benar tempat Penjara seperti dirinya yang pernah dipenjara pada masa lalunya sebelum diselamatkan oleh Alibaba dan Aladdin.
Datang penjaga penjara, lima orang penjaga membuka pintu jeruji nya yang dilapisi besi-besi yang kokoh dan tidak mudah dihancurkan, mereka masuk dan melakukan sesuatu kepada Morgiana yang sedang terikat, terbuka yang mana kondisinya pasrah, tidak bisa melawan dengan dilucuti oleh lima penjaga penjara.
"Ha Ha Ha... Gadis muda berambut merah ternyata masih polos, sungguh nikmat kita berlima pesta pora"
"Ya! saya setuju kapten, pesta perporaan!"
"Wow... lihat punyaku sudah berdiri, hahaha...." sambil menyodorkan miliknya di depan Morgiana, lalu membalas dengan meludahinya.
"Cih! Tidak beradab! Semoga Dewi Eris menimpa azab ke kalian! Dasar belatung!"
"Hoooo.... saya suka sama gadis energik dan pemberontak, akan nikmat untuk menyiksa dirimu..." kapten penjaga penjara mengambil pecut *ceter... ceter... ceter...* memecut Morgiana yang malang bagaikan memecut kuda, dan Morgiana menerima luka merah di bagian itu.
"Bagaimana!? Apa kamu sudah sadar? Biar kita melanjutkan ke fase kedua, kita butuh asupan obat mujarab darimu"
Morgiana merintih kesakitan yang dipenuhi luka:"ah... uh... uh... aku tidak menyerah, jika aku harus kehilangan seuatu yang berharga! Dewi Eris tetap menyertaiku! Dan pada akhirnya Kalian dan Dunia Kalian BINASA! Aku bersumpah atas Hidup Kekaisaran Dantalian Raya!"
Lalu mereka melanjutkan ke fase kedua, lima penjaga penjara melepaskan baju baja mereka, penjaga kedua menampar pipi Morgiana dengan keras sampai ruangan penjara bergema. Dan alat tongkat bisbol penjaga ketiga menggoyang-goyangkan miliknya di bagian belakang Morgiana sembari menepuk miliknya atas-bawah kiri-kanan, lalu penjaga keempat menggelitiki menjilati mengecup menggigit pangkalan bau bawang Morgiana sambil menendang-nendang kedua kaki Morgiana.
"Terima! Hora...!"
Morgiana menahan semua ciutan dan siksaan dari lima penjaga, kapten penjaga maju di depan wajah Morgiana memaksa mulutnya untuk membuka, dengan tangan kanan kapten memaksanya.
"Ayo! Buka mulut kau! Dasar garang!"
Tapi Morgiana berhasil menolaknya, lalu penjaga kelima menyiapkan borgol pasung terbuat dari besi yang tidak mudah dihancurkan. Penjaga kedua melepaskan kedua tangan Morgiana yang terikat, sesaat kemudian Morgiana mencoba untuk memukulnya tapi gagal. Penjaga kelima mengikat kedua tangan Morgiana kebelakang punggungnya dengan pasung borgol besinya, penjaga keempat membebaskan kedua kaki Morgiana, lagi dan lagi gagal untuk menyerang.
"Hahahaha.... semua usaha kamu tidak berhasil! Dasar garang!" Kapten penjaga tersenyum jahat terus memecutnya.
Penjaga kedua memasung borgol besinya ke kedua kaki Morgiana yang bisa dirapatkan dan dilebarkan, membuat Morgiana tidak bisa berjalan dan pasrah begitu saja.
"Apa kamu sudah siap untuk sesi ketiga?"
Kapten penjaga mencoba kembali memaksa membuka mulut Morgiana, memaksa dia berlutut, kali ini Morgiana tidak bisa menahannya lalu tongkat kapten penjaga yang angkuh memanjang itu masuk ke mulutnya, tarik-ulur maju-mundur sodok-menyodok dengan kecepatan ekstra seperti mobil bugatti veyron mengendarai di jalan tol.
"Oh yeah, mantap sekali di dalam mulut kamu... sungguh nikmat, mungkin karena kamu masih polos dan sedikit pengetahuan tentang hal ini, wow terasa tak terbantahkan!"
Tongkat kapten penjaga masuk ke dalam mulut Morgiana sampai ke kerongkongan nya, dan paksa menahannya selama 3 menit, mata Morgiana terbuka lebar mengeluarkan air matanya, terdengar suara *gluk... gluk... gluk...* meronta-ronta merintih kesakitan, karena tongkat Kapten penjaga terlalu besar dan panjang.
"Hahahaha...." ketawa lebar mengisi gemaan ruangan penjara oleh para penjaga.
"Mampus kau!"
Penjaga kedua menyiapkan diri untuk langkah selanjutnya, memukul-mukul perut Morgiana saat bersamaan tongkat kapten penjaga masih di dalam kerongkongannya lalu mendorong mengeluarkannya.
"Uhuk... uhuk... uhuk..." Morgiana tidak bisa berkata apa-apa, hanya pasrah menunggu siksaan dan pora ini berakhir.
Dipegunungan nan hijau, ladang yang indah nan elok Elaina dan Minamiya Natsuki merebahkan diri sembari memikirkan rencana kedepannya.
"Ratu Agung, Anna Kushina ingin kamu kembali ke Kastil Agung. Apa kamu bersedia? Kurasa di masa depan sedang terjadi krisis yang menyebabkan kamu harus dipanggil kembali"
"Hm... ya mungkin, bisa saja. Tentu aku akan memenuhi perintah Ratu Agung untuk kembali, bagaimana denganmu? Apa kamu baik-baik saja mencari Kepingan Dantalian sendirian?"
"Ini tidak masalah bagiku, justru aku sudah terbiasa berpetualang sendirian. Ya aku akan baik-baik saja, Natsuki"
Dengan senyuman Natsuki yang mempesona:" Baiklah... aku akan kembali ke masa depan, hubungi aku kapan saja jika kamu merasa kesepian, dan jangan paksakan dirimu oke. Aku akan segera kembali bersamamu, Elaina"
"Terima kasih Natsuki" Elaina memeluk erat Natsuki bagaikan memeluk guling yang mengenang dirinya berasa di kamar tidur rumahnya, sambil mengelus-elus kan pipinya ke pipi Natsuki yang imut nan mulus.
Elaina memutuskan untuk mencari Kepingan Dantalian sendirian, Minamiya Natsuki membuka portal Dimensi Waktu, melangkahkan kakinya meninggalkan Elaina dibelakang yang mana tangan Elaina melambaikan tangannya menandakan 'Selamat Jalan'.
Mereka tiba pada zaman Kaisar Justinian I naik takhta menjadi Kaisar Bizantium, hidup di zaman Kekaisaran Bizantium ingin mendeklarasikan sebagai Kekaisaran Roma dan mengambil kembali tanah milik Kekaisaran Roma. Setelah kepergian Minamiya Natsuki ke masa depan, Elaina melanjutkan perjalanannya mencari Kepingan Dantalian pada tahun 527 Masehi.
Di dalam penjara, Morgiana sudah kehilangan kepolosannya ketika tongkat lima penjaga penjaga menggilir kepolosannya satu atau sampai memuat empat tongkat sekaligus disaat penggiliran berlangsung, membuat Morgiana kehilangan kesadarannya, karena tidak mampu menahan empat tongkat di depan dan satu tongkat di belakang menunggangi dirinya pada hari pertama Pesta Pora.
Pada hari kedua Pesta Pora di dalam penjara, Morgiana sedikit membelas kasih membuka matanya untuk mengetahui apa yang terjadi, melainkan neraka masih berlangsung tanpa henti Pesta Pora mengundang kontroversial di dalam penjara itu. Suara tangisan, suara rintihan, suara *grusak... grusuk...* pun terdengar selama 24 jam tanpa henti.
Pada hari ketiga Pesta Pora, ternyata Kapten Penjaga memanggil penjaga penjara lainnya dengan membawakan lima orang lainnya masuk ke dalam penjara tempat dimana Morgiana sedang Pesta Pora berlangsung. Walaupun terkejut untuk pendatang baru ataupun Morgiana, akan tetapi dia tetap tabah dan bersabar melewati percobaan ini untuknya.
Pada hari ke-enam Pesta Pora masih tetap berlangsung....
Tiba pada hari ke sebelas, 30 orang penjaga lainnya datang untuk menggilir dan menikmati Pesta Pora ini. Morgiana harus berhadapan 40 orang di dalam penjara untuk 24 jam bertahan, merasakan dirinya akan menemui ajalnya hanya hitungan beberapa hari ke depan.
Hari ke lima belas dengan suasana dan bau menyengat akan Pesta Pora itu, Morgiana menghembuskan nafas terakhirnya. Kepolosannya itu sampai bercecer darah merah ataupun cairan putih, mulutnya bengkak tidak karuan, dadanya dipenuhi darah merah dan cairan putih, baju putihnya kotor menjadi berubah merah untuknya, air mata nya terus mengalir walaupun nafas terakhir telah diam, badannya benar-benar hancur, bahkan burung gagak di atas atap penjara maupun mengudara di luar jendela berteriak-teriak akan kelaparan. Akan tetapi 40 orang penjaga penjaga masih enerjik, tidak peduli dia sudah jatuh, tetap Pesta Pora berlanjut sampai hari ke dua puluh.
__ADS_1
Hari ke duapuluh satu Pesta Pora, kapten mengajak lagi 60 orangnya untuk menghajar Morgiana yang sudah jatuh, yang mana 100 orang di dalam penjara terus menerus melanjutkan Pesta Poranya sampai tiba pada hari ke tigapuluh satu. Suara ledakan terjadi di luar penjara, tembok mulai runtuh tak karuan, 100 orang berhamburan tanpa busana mereka menengok suara ledakan itu, meninggalkan Morgiana begitu saja.
Seorang laki-laki tampak berdiri menggunakan tudung hitam, jas hitam, dengan warna mata merah gelap mengeluarkan aura kejam nya.
"S-siapa kau?!"
Membuat tersontak 100 orang berlari kembali ke penjara dimana Morgiana berada ataupun berlarian menuju gudang persenjataan.
"hm...."
Tetapi lelaki itu dengan refleksi yang cepat, membelah satu per satu sampai 99 orang terbelahnya, yang hanya meninggalkan satu orang itu berada di dalam penjara Morgiana berada.
"A-ampuni, ampuni aku...! k-kumohon..."
"Cih...! Dasar jahanam!"
Tidak heran namun rasa kemurkaan terlihat, membuat burung gagak yang bising itu terbang mengudara menjauhi aura lelaki itu.
"K-kumohon... A-ampuni aku...!"
Membelah satu orang itu dan 99 orang lainnya, dicincang tanpa sisa sedikit pun daging terlihat hanya menjadi seperti cairan 100 mayat itu. Pembantaian pun selesai dengan sekejap tanpa ada perlawanan.
"Sungguh malang... mengapa ini bisa terjadi?! Sungguh kasihan..."
Seorang lelaki itu meratapi melihat keadaan seorang gadis muda berambut merah itu, membawanya ke tempat persembunyian nya. Meninggalkan penjara tersebut dengan menghanguskan nya 'duar' tanpa ada sisa sedikitpun bangunannya.
"Tunggu ya... aku pasti akan menyelamatkan mu, mohon bersabar sedikit lagi kita akan tiba"
Tiba di dalam persembunyian lelaki itu, mencoba untuk membangkitkan kembali gadis berambut merah, dengan memperbaiki semua anggota tubuhnya, satu per satu anggota tubuhnya dapat dipulihkan. Yang pada akhirnya semua anggota tubuhnya kembali seperti sedia kala, namun jiwanya tidak ada.
"Mengapa ini tidak berhasil!? Semua sudah normal"
"He... dia sudah mati, sungguh kejam dunia ini!"
Lelaki itu merasa frustasi, keluar sejenak ke halaman tempat persembunyiannya, menghancurkan pohon yang ada di depannya 'duar' melubangi tanah halaman tempat persembunyian. Lekas kembali ke ruangan dimana gadis berambut merah berada, dan mencoba untuk melakukan ritual ajian untuk mengembalikan jiwanya.
Lelaki itu membuat lingkaran ajian, melakukan ritualnya berlangsung, mengeluarkan cahaya hitam cerah dari lingkaran ajian menyinari seisi ruangan.
"Semoga berhasil...!"
Lalu cahaya hitam cerah itu lenyap, menandakan ritualnya berakhir. Mengejutkan bahwa jiwa gadis berambut merah sudah kembali padanya, dirinya membuka matanya pelan-pelan, menengok ke kiri dan ke kanan, terbangun menampak seorang lelaki itu dengan tudung hitam berjas hitam dihadapannya.
"Semua akan baik-baik saja, aku berhasil menghidupkan kembali kamu" dengan sapaan senyum manisnya terlihat, agar si gadis tidak berasa ketakutan lagi.
"Aku... Cid Kageno, sang Penguasa Kegelapan, ketua organisasi rahasia Shadow Garden yang bergerak sebagai Bayangan Dunia" dengan gaya yang berlebihan, duduk di kotak kayu memperkenalkan dirinya dengan intonasi seperti layaknya penguasa sejati.
"Um.... aneh...! Namaku Morgiana, Si Putri Mantan Budak. Dimana aku sekarang? Aku harus kembali ke Kekaisaran Dantalian Raya segera, dan aku harus membunuh 100 orang itu" wajah serius dan tatapan nya membuat dirinya ingin segera tahu apa yang sedang terjadi.
"Kamu... tenang saja, tidak usah terburu-buru. 100 orang itu sudah ku bunuh semuanya tanpa ada sisa sedikitpun, kamu bisa istirahat dan memulihkan kondisi kamu dengan baik"
"Eh?! Okelah, terimakasih... aku akan memulihkan diriku dan segera kembali" berjalan menjauhi Kageno yang masih duduk di kotak, menyandarkan dirinya ke tembok untuk beristirahat.
"Omong-omong, tadi kamu menyebutkan Kekaisaran apalah itu...."
"Kekaisaran Dantalian Raya!" Teriaknya dengan lancang, yang mencoba untuk tidak sopan.
"Ya ya itu dia... Jadi Kekaisaran Dantalian Raya itu apa? Saya tidak pernah mendengar nama negara itu disini"
"Ha?!" Terkejut perihal pernyataan Kageno.
"A-apa maksudmu? Aku berasal dari Kekaisaran Dantalian Raya, tidak sopan kamu menghina Keangungan Dantalian!"
"Ohya? Hehe... maafkan saya, karena saya memang belum pernah mendengar nama negara nya"
"Tu-tunggu sebentar, seharusnya aku berada di wilayah Irak. Dimana kita sekarang ini?" Rasa aneh menggerutuki gelisah hati Morgiana, yang penasaran dengan ucapannya.
"Kita sekarang ada di Kerajaan Midgar..."
"Haaaaa..... aku tidak pernah mendengar Kerajaan Midgar di duniaku berada, aneh!"
"Apakah kamu pelancong dari dunia lain?"
"Aku tidak tahu, aku secara tiba-tiba sudah berada di dalam Penjara, sebelumnya aku menghadiri Pemakaman Agung Noah bersama Kaisarina Agung, Dalian"
"Oh... Saya kira kamu reinkarnasi, tetapi baguslah kamu sekarang baik-baik saja"
"Ya! Terimakasih, aku harus segera kembali ke Kekaisaran. Mereka menunggu ku, pasti mereka juga mencariku, karena Kekaisaran Dantalian Raya berada diambang perang dengan makhluk aneh. Aku harus kembali....!"
__ADS_1
"Aku bisa membantu kamu untuk kembali, apa kamu bisa menggunakan Sihir? Disini semuanya berkaitan dengan sihir"
"Heee... aku... aku memang tidak bisa menggunakan sihir, tapi aku ahli dalam memimpin pasukan dan bela diri"
"Yah... sepertinya kamu harus menunggu lebih lama untuk kembali, apa kamu punya tujuan lain?"
"B-bagaimana mungkin! um... tidak ada tujuan lain" wajah kecewa terlihatnya karena tidak bisa kembali.
"Ikut denganku, sementara kamu bergabung ke organisasi rahasiaku Shadow Garden. Dan kita akan mencari tahu cara untuk memulangkan kamu, tenang Alfa dan Beta juga akan membantu mu"
"Y-ya... tidak pilihan lagi, aku ikut"
Morgiana bergabung dengan Shadow Garden, mencari informasi tentang dunia ini dan cara untuk memulangkan dirinya. Mereka pun pergi dari tempat persembunyian Kageno, menuju ke kota pada hari yang cerah.
Suara klakson mobil lalu lalang di jalanan kota Midgar, kereta listrik melintas di jalanan penuh lalu lalang mobil dan penduduk, sesampainya mereka di kota Midgar.
"Ba-bahaya...! Bisa-bisa aku kena hukuman lagi...."
Kageno melihat kakaknya mengarah asrama lelaki yang ingin menemui Cid Kageno di kamarnya.
"Sa-saya harus pergi, tenang saja Alfa dan Beta akan menjemput kamu... Ja... sampai jumpa lagi...!" Kageno pun pergi begitu saja meninggalkan Morgiana sendirian, dia berjalan-jalan di sekitaran kota Midgar untuk mengetahui isi kota.
Beberapa saat kemudian, Alfa dan Beta menemui Morgiana.
"Kamu...! Kamu yang bernama Morgiana kan?" Alfa menyapanya dengan keindahan rambut pirang nya, dirinya membelainya.
"Ya! Aku Morgiana... apa kamu Alfa dan Beta yang dikatakan Cid Kageno?"
"Yo... jadi kamu yang bernama Morgiana ya, salam kenal aku Beta" sapaan dari Beta dengan menjabat tangan Morgiana, serta senyuman manis ia berikan.
"Aku... Alfa, sekarang kamu harus ikut dengan kita. Ke markas Shadow Garden berada, ayo!" Alfa memperkenalkan dirinya sambil ingin membawa Morgiana ke markasnya.
"Nah... nah... tidak usah buru-buru, Alfa. Kita bisa mengajaknya berkeliling kota dulu, sudah lama kita tidak Girls Talk" Beta mencoba menghentikan Alfa membawa Morgiana, mengajak mereka untuk rehat dan berlibur sembari memperkenalkan isi kota Midgar ke Morgiana.
"Terserah padamu...!" Memalingkan wajahnya yang cantik berkilau, sebab setuju sama rencana Beta.
Mereka bertiga pergi mengelilingi kota Midgar, lalu beranjak untuk makan siang dan menuju ke toko terdekat yang tampak bertulis 'Toko Kue' yang mencoba mereka memesan kue masing-masing. Lalu duduk di kursi depan toko kue itu, sambil menunggu pesanan datang mereka melakukan Girls Talk.
"Jadi, Morgiana apa kamu benar-benar dari dunia lain?"
"Aku dari Kekaisaran Dantalian Raya, sebelumnya aku masih belum percaya kalau aku ada di dunia lain, tapi sekarang tahu aku berada di dunia lain"
"He... apa itu Kekaisaran Dantalian Raya?"
"Ya... Kekaisaran Dantalian Raya adalah negara terbesar di dunia, yang memiliki wilayah yang sangat luas, yang mencoba untuk menjaga Keseimbangan Dunia. Sekarang dipimpin oleh Kaisarina Agung, Dalian wanita yang bertubuh mungil berambut hitam berpakaian gaun gotik. Dia sungguh cantik setiap dia melangkah mengeluarkan aura keanggunan dan keagungan Dantalian layaknya Bidadari"
"Eh.... iya ya, aku harap kamu bisa pulang cepat. Mengapa dipimpin oleh Kaisarina? Apa ada yang terjadi sebelumnya?"
Morgiana tampak terlihat merenung, bersedih akan kehilangan sosok Kaisar Agung, merindukan dirinya yang pernah menyelamatkan dirinya dari Kematian Mutlak.
"Hu.... dulu dipimpin oleh Kaisar Agung, Ialah Segalanya dari Segalanya, tidak ada pemimpin sehebat Beliau. Beliau juga menyelamatkan aku dari Kematian Mutlak saat Alibaba dan Aladdin mengorbankan diri untuk menyelamatkan dunia. Beliau sosok yang tidak bisa kita katakan dengan kata-kata, melambangkan Beliau sebagai Bapak Dunia. Memiliki kekuatan yang luar biasa, tiada tanding melainkan kelemahan Beliau yaitu Tidak Abadi. Sekarang Beliau sudah Mangkat"
"Wow.... aku... aku juga akan merasakan seperti itu, kalau Cid Kageno juga meninggal. Aku... turut berduka cita, Morgiana"
"Terimakasih, Beta"
"Ya... aku juga Morgiana, aku juga merasakan hal yang sama seperti Beta"
"Terimakasih, Alfa"
Senyuman Morgiana terlihat, kembali riang lagi membuat Alfa dan Beta mencairkan suasana percakapannya.
"Beliau menikah dengan Kaisarina Agung, Dalian dan Ratu Agung, Anna Kushina. Sayang sekali, Mereka belum dikaruniahi keturunan. Padahal jajaran dan petinggi agung Dantalian mengharapkan Keturunan Kaisar Agung, sebelum Beliau mangkat. Aku juga ingin mengandung keturunan Beliau, hehehe...."
"Ohya....? Hahahaha.... ada-ada aja kamu ini, Morgiana" suasana kembali riang, angin sepoi-sepoi, terik matahari menyejukan hati mereka bertiga. Kemudian pesanan kue mereka pun datang, mereka menyantapnya.
"Ayo... makan Morgiana, kue ini enak loh... kamu harus coba" sambil menawarkan kue miliknya ke Morgiana.
"Kamu juga Alfa, kamu mau?" Juga menawarkan kuenya.
"Nyam... nyam.. nyam..." Morgiana memakan kue milik Beta.
"Um... *glek* kue nya enak... aku suka, terimakasih Beta"
Mereka pun menyuapi satu sama lain, Alfa sempat enggan menolaknya tapi Beta memaksanya untuk makan kue itu.
"......"
__ADS_1
Mereka sudah selesai makan, mereka beranjak dari tempat duduknya. Pergi ke markas Shadow Garden berada, Morgiana sangat bersyukur terbebas dari Siksaan dan Pora saat di penjara. Tapi rasa kangen untuk pulang ke dunianya tidak bisa ditutupi lagi, dengan bersabar Morgiana mencoba memulai kehidupan baru di dunia lain, yang tampaknya damai dan tentram.