Phantasy The Animation

Phantasy The Animation
PETUALANGAN ANEH II "SHADOW GARDEN"


__ADS_3

Claire Kageno adalah kakak perempuan Cid Kageno dan pewaris Keluarga Baron Kageno.


Claire adalah seorang wanita muda dengan postur tubuh yang tinggi dan ramping. Dia memiliki rambut yang panjang berwarna hitam dan mata merah.


Ketika menjadi siswa, dia memakai seragam Midgar Royal Spellsword Academy yang terdiri dari jaket blazer biru dongker dengan aksen emas, dasi, kemeja putih, rok putih dengan aksen biru dongker, stoking hitam, dan sepatu boot wanita setinggi lutut.


Claire telah terbukti keras dan tegas terutama kepada adik laki-lakinya, Cid yang terus-menerus dia latih dan tegur jika dia terlihat malas. Menjadi pewaris keluarga Kageno, dia harus tegas dan tabah untuk menjaga reputasi keluarganya. Dia juga memiliki lidah yang tajam dan tidak keberatan mengkritik atau menghina orang.


Meskipun dia bersikap dingin terhadap adiknya, Claire sangat mencintai Cid, bahkan mungkin memiliki perasaan romantis kepadanya dan benar-benar mencoba semua yang dia bisa untuk menguatkan dia dan mengamankan masa depan yang lebih baik baginya. Faktor lainnya atas keterikatan berlebihannya adalah dia mengetahui bahwa dia memiliki kerasukan iblis yang menyebabkan dia percaya bahwa dia hanya memiliki sedikit waktu tersisa dan memilih untuk menghabiskan apa yang tersisa bersama Cid, dan sama sekali tidak menyadari bahwa Cid telah menyembuhkannya. Dia telah terbukti terlalu protektif terhadapnya, rela membunuh siapa pun jika ada yang menyakitinya.


"..."


Maple dan Minamiya Natsuki berpencar di kota Midgar mencari Morgiana. Maple masuk ke Akademi Midgar, bertemu dengan gadis berambut berwarna putih nan indah, dengan style tubuh lumayan erotis, Maple menyapa dia.


"Halo, selamat siang"


"Selamat siang juga"


"Hehe, namaku Maple. Kamu siapa?"


"Namaku Alexia Midgar, salah satu putri dari Kerajaan Midgar dan bersekolah di Akademi ini. Kamu mau mencari siapa?"


"Etto... aku sedang mencari Morgiana, apa kamu kenal dengan nya?"


"Sayangnya enggak, coba kamu cari ke tempat bagian informasi di Akademi ini. Mungkin kamu tahu, pergi lah ke arah timur sana, lalu belok ke kanan dan melintasi lorong sampai habis, didepan situ terdapat pintu dan bertulisan (Ruang Informasi)"


"Hehe... terima kasih, aku kesana sekarang"


Meninggalkan Alexia, Maple pergi ke timur Akademi mencari tempat informasi. Saat dia berjalan menuju kesana, Maple berpapasan seorang lelaki berambut hitam, mata berwarna merah gelap dengan menyarungkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


"Halo, selamat siang"


"Ho... iya, selamat siang"


"Perkenalkan namaku Maple, hehe... aku mau bertanya"


"Um... silahkan, apa itu?"


"Etto ne... kamu kenal Morgiana? Ciri-cirinya gadis muda berambut merah, dengan pakaian nya putih seperti mungkin pakaian budak"


"Morgiana, dia mencari Morgiana... hm... sepertinya menarik, mungkin dia juga pelancong dunia lain"


Dengan senyum sinisnya, enggan memberitahu Morgiana berada.


"Ah... aku Cid, Cid Kageno. Salam kenal, tapi maaf aja. Aku tidak kenal gadis itu, ada apa dengannya? Apa hubungan kamu dengan dia?"


"Hehe... sayang ya, hubunganku dengan dia itu kawan. Tentu seperti sahabat sejati di dalam Kekaisaran Dantalian Raya, dia tiba-tiba menghilang. Dan kita mendapat sinyal kalau Morgiana berada di dunia ini, jadi kita berdua memutuskan mencari dan menyelamatkan dia"


"Oh jadi benar, Morgiana dan dia juga dari Kekaisaran Dantalian Raya... hmmm, sungguh menarik"


"Heee, iya ya. Tapi sangat sayang, aku tidak kenal dia"


"Hehe... okelah, terima kasih. Salam kenal Kageno"


Mereka pun berpisah, mengakhiri percakapan dengan Kageno menyembunyikan keberadaan Morgiana.


"Dia berkata (berdua)... pasti ada satu orang lagi juga mencari Morgiana, hm..."


Maple melanjutkan langkah kakinya menuju tempat informasi berada, dan berpapasan lagi dengan gadis muda berambut hitam, dengan warna mata merah cerah, baju yang rapi membuat dirinya elok dan cantik.


"Hai... selamat siang"


"Um... selamat siang" menyambut sapaan Maple dengan penuh rasa penasaran.


"Etto... aku Maple, salam kenal. Oya kamu kenal sama Morgiana gak?"


"Oh! Salam kenal, aku Claire Kageno. Maaf aku gak kenal"


"Eh!? Kamu siapanya Cid Kageno? Sama-sama mempunyai nama keluarga yang sama"


"Ya aku kakaknya Cid Kageno, kenapa emangnya?"


"Oh... aku tadi jumpa sama Cid Kageno juga, sebelum aku datang kesini"


"Oh... ya dia adik aku, jangan sampai kamu macam-macam dengan dia!"


"Hehe... tenang, aku hanya mencari Morgiana"


Lalu Maple tiba di tempat informasi, membuka pintu dengan mengetukannya 'Permisi'.


"Silahkan masuk, dengan siapa ya? Ada keperluan apa?" Disambut oleh gadis berambut merah dengan warna mata merah terang, yang sedang duduk di kursi sambil baca-baca buku dan menutupnya.


"Perkenalkan, aku Maple. Katanya disini adalah tempat informasi, aku ingin mencari informasi gadis berambut merah bernama Morgiana. Apa kamu tahu dia?"


"Uhm... tidak! Mohon maaf ya, kita lagi sibuk mencari informasi tentang organisasi bernama Shadow Garden. Kita mau berperang melawan mereka, karena mereka menggunakan kekuatan tak masuk akal. Jadi informasi tentang gadis Morgiana, sama sekali tidak ada di dalam dokumen kita"


"Eeeee... susah sekali mencari dirinya, dia sudah menghilang. Yaudah, terima kasih ya"


Maple meninggalkan tempat informasi dengan perasaan kecewa, karena sama sekali tidak menemukan informasi sedikit. Lalu dia keluar dari akademi, menuju kota dan mencari penginapan untuk bermalam sambil menghubungi Natsuki.


Disisi lain, Minamiya Natsuki terjadi adu ketangkasan dengan gadis muda berambut hitam, memiliki telinga serigala di kepalanya, dan ekor tumbuh di bagian punggungnya.


"Umu... lumayan juga kekuatan mu, apa kamu tahu Morgiana? Aku sedang mencarinya, dan untuk membawa dia kembali"


"Argh....! Bodoh amat! Terima ini!"


Dia menyerang Natsuki dengan mencakar nya, namun berhasil dihindari. Lalu Natsuki membuka portal, menjauh dari gadis aneh itu.


"Fu... dasar gadis energik, untungnya aku menghindari pertarungan yang sia-sia itu"


Maple tidak bisa menghubungi Natsuki, dan bermalam sendirian di penginapan.


Keesokan harinya di pagi cerah, terjadi ledakan di Akademi Midgar. Muncul sekelompok ******* untuk menghancurkan Akademi Midgar, asap ledakan menjulang tinggi membuat Maple tahu dan mencoba dia kembali ke Akademi lagi.


Terlihat Claire dan Alexia di depan gerbang Akademi.


"Hai Claire dan Alexia, ada apa di dalam? Apa yang sedang terjadi?"


"Oh... Maple toh, iya kita... akademi kita lagi diserang sama kelompok ******* Dark Rose, benar-benar memuakkan mereka menjebak siswa siswi di gedung olahraga" Alexia menyambut sapaan Maple dengan perasaan gelisah.


"Heeee.... sungguh!? Ayo kita selamatkan mereka, sebelum terlambat"


"Tidak bisa, ada penghalang sihir yang membuat kita tidak bisa masuk" balas Claire dengan wajah cemas karena Cid ada di dalam juga.


"Oke... bisa kalian berdua minggir bentar, aku akan menghancurkan penghalang sihir itu"


"A-apa yang kamu coba lakukan, Maple!? Jangan! Penghalang ini sangat keras dan sulit dihancurkan!"


"Sudah, cepat minggir bentar!"


Mereka pun setuju untuk minggir, dan tidak menghalangi Maple.


"Penyatuan Mesin Kedalam Satu Lengan!"


Tangan kanan Maple berubah menjadi senjata laser, menyiapkan panas api menyerang penghalang itu dan dihancurkan begitu saja. Membuat Alexia dan Claire terkejut.


"Wow, gila!"


"Ayo Claire, Alexia. Kita selamatkan mereka!"


Mereka bertiga berlari menuju gedung olahrga, tanpa panjang pikir mereka bertiga langsung mendobrak dan menyerang para *******. Perlawanan juga terjadi dilakukan oleh para siswa-siswi, membuat kelompok ******* dihancurkan dan dibunuh begitu saja. Berkat serangan yang dilakukan Maple, Claire, dan Alexia... Kelompok Dark Rose musnah dengan cepat, para sandera semuanya berhasil diselamatkan tanpa korban jiwa.


"Terima kasih Maple, sudah menghancurkan penghalang sihir, yang membuat kita berdua tidak masuk"


"Kamu benar-benar kuat, Maple! Terimakasih"


Alexia dan Claire berterima kasih kepada Maple, terlihat Cid Kageno dengan rasa penuh penasaran. Memalingkan pandangannya, dan mencoba untuk menjauh dari Maple. Tetapi kakaknya menghalanginya menjauh, membawa Cid ke ruang perawatan.


"Maple, sampai jumpa lagi. Aku mau membawa adikku ke ruang perawatan"


Cid dan Claire meninggalkan Alexia dan Maple, secara mendadak Minamiya Natsuki muncul dihadapan Maple dan Alexia.


"Maple, jangan berbuat yang sia-sia. Ayo kita lekas pergi"


Alfa dan Delta mengamati gedung olahraga dari kejauhan, melihat Natsuki ada disitu. Delta memberitahu Alfa kalau gadis yang dilawannya kemarin ada di gedung olahraga itu, kalau dia juga mencari Morgiana.

__ADS_1


"Jaa... Alexia, sampai jumpa lagi!"


"Ya sampai jumpa lagi!"


Maple dan Natsuki meninggalkan Akademi menjauh dari sana, dan kembali ke penginapan dimana Maple sudah bermalam disitu. Sampai malam hari mereka memulihkan kondisi mereka disana.


"Maple, kita harus segera mencari keberadaan Morgiana. Kita tidak bisa lama-lama disini"


"Iya aku tahu itu, Natsuki. Aku membantu mereka juga karena ingin mendapat petunjuk, hehe maaf ya"


"Gak apa-apa, lain kali kamu harus menghemat kekuatanmu"


"Hehe oke Natsuki, selamat malam. Aku merasa ngantuk sekali, mau tidur dulu"


"Aku juga, selamat malam"


Pagi hari datang, Cid Kageno merasa kalau mereka berdua masih mencari Morgiana. Lalu memanggil Alfa dan Beta untuk datang ke tempat dia yang sudah disiapkan, dengan aura megah, posisi meja dan kursi menghadap ke arah jendela keluar, lalu diiringi musik klasik, membuat nuansa ruangan seperti ruangan berkelas.


Dan tibalah Alfa dan Beta mengetukan pintu, Cid mempersilahkan mereka masuk, melihat Cid duduk di kursi dengan rasa percaya diri, bahwa mereka akan menganggap Cid orang yang paling penting di dunia.


"Master Shadow, ada apa memanggil kita?"


"Hoo... jadi kamu tidak tahu apa maksudku memanggil kalian? Gimana kalau kamu, Beta?" Dengan gaya mengangkat segelas Wine.


"Eh.. aku, aku juga tidak tahu Master" dengan perasaan sangat mengagumi dan memuja dia.


"Hmm... kalian tahu kan, ada dua gadis mencari Morgiana. Apa kalian dia masih di markas? Jangan sampai mereka mengetahui Morgiana"


"Iya Master, Morgiana masih di markas kita. Mereka yang mencari masih belum menemukan petunjuk Morgiana"


"Bagus! Uhum... Wine ini rasanya enak sekali, baiklah aku minta menjaga Morgiana"


"Siap Master, omong-omong Master Shadow. Ada sekelompok mengatasnamakan Shadow Garden, ini sangat menghina kita. Apa perlu kita segera musnahkan mereka?"


"Hm... sangat nikmat, tentu biarkan waktu berjalan seiring. Namun berhati-hati dalam pelaksanaan, ada kemungkinan itu perangkap. Sebaiknya kamu mencari tahu lebih dalam sebelum bergerak"


"Baik Master Shadow"


"Hm... sudah saatnya aku pergi, mengarungi dunia yang fana ini. Mencari sebuah kebenaran tak berarti, sampai jumpa wahai putri-putri anggun"


Alfa dan Beta tersipu malu mendengar perkataannya, lalu dia meninggalkan mereka dengan gaya seperti menghilang dalam bayangan terik matahari yang menyinari jendela.


Claire berjumpa dengan Maple di depan stasiun bus, dia memberikan petunjuk ke Maple kalau gadis berambut merah dibawa sama Shadow Garden.


"Maple! Aku dapat informasi, kalau gadis yang kamu cari itu ternyata dibawa sama Shadow Garden. Organisasi gelap yang mengandalkan kekuatan iblis, aku juga mendapat informasi kalau markas mereka ada di selatan kota Midgar"


"Sungguh...!? Kalau itu benar, aku harus pergi kesana memeriksa mereka"


"Tunggu Maple! Jika kamu sendirian, sangat berbahaya. Biarkan aku ikut denganmu!"


"Eh? Apa kamu yakin? Karena aku kesana tidak sendirian, melainkan bersama temanku satunya"


"Ya aku yakin kok, dan juga aku ingin mencari tahu tentang Shadow Garden. Jadi ini kesempatanku, bersama orang sekuat dirimu akan menyenangkan pergi kesana"


"Baiklah, ikuti aku! Temanku satunya juga akan segera tiba disana"


Maple dan Claire pergi ke selatan kota Midgar, mencari markas Shadow Garden berada. Sesampainya mereka disana, terlihat Natsuki menunggu kedatangannya.


"Kamu cukup lama Maple! Dan siapa dia?"


"Hehe maaf Natsuki, oya perkenalkan dia Claire Kageno"


"Salam kenal"


"Ohya Claire, perkenalkan dia Minamiya Natsuki. Temanku satunya, yang ku bilangin itu"


"Ya salam kenal juga"


"Jadi apa benar Morgiana ada disini, Maple?"


"Aku mendeteksi melalui radar, iya itu benar. Lihat lah radar ini, berkelip-kelip menandakan Morgiana ada disini" sambil memperlihatkan radarnya ke mereka berdua.


"Bagus dah, sekarang kita hanya cukup menghancurkan tempat ini. Persiapkan dirimu Maple!"


"Keluarlah Mode Kerakusan!" Muncul dua kepala seperti kepala naga, bergerak mengikuti Maple.


"Penyatuan Mesin: Kerahkan Seluruh Perlengkapan!" Maple berubah menjadi Dewa Mesin Perang, semua persenjataan lengkap menyelimuti tubuh Maple.


"Maple! Aku akan membuat sinyal, setelah itu kamu terbang dan hancurkan segalanya!"


"Baik!"


Natsuki menyiapkan sihir waktunya dengan skala besar.


"Tingkat Maksimal: Manipulasi Waktu Akhir!" Membuat penghalang sihir agar musuh tidak bisa lolos.


"Manipulasi Dimensi Rantai: Keruntuhan Akhir Dunia!" Melepaskan sihir waktunya ke arah bagian tengah organisasi, meledakan segalanya.


"Sekarang Maple! Maju!"


"Baik!" Lalu maple terbang dan menembakan ke segala penjuru, menembaki secara membabi buta, menghancurkan banyak bangunan.


"Heeeeee" dengan perasaan kagetnya, Claire merasa tercengang melihat kelakuan mereka yang aneh.


Beberapa saat mereka berhenti sejenak penyerangannya, terlihat sosok Morgiana dengan raut wajahnya yang sedikit kesal dan bahagia melihat Natsuki dan Maple melayang di langit-langit.


"Dasar kalian! Benar-benar tidak ada ampun!"


"Hahaha maafkan kita, Morgiana. Senang melihat kamu lagi"


"Aku juga Morgiana, aku diperintahkan untuk menyelamatkan kamu. Apa kamu baik-baik saja?"


"Lihat! Aku memang baik, tapi lokasinya berantakan. Dasar kalian ini!"


"Hahaha..." canda tawa mereka menyambut kehangatan reuni mereka. Lalu Mereka pun pergi dari tempat itu, menuju ke penginapan di kota Midgar.


Usut punya usut, markas itu adalah markas palsu Shadow Garden. Cid Kageno menugaskan Morgiana untuk tinggal disana, yang berkata kalau ada dua orang yang mencari Morgiana. Lalu dia setuju, dan menunggu nya di markas palsu itu. Melakukan rencana, menyebarkan berita palsu kalau Morgiana dibawa oleh Shadow Garden di markas palsu itu.


Mereka akhirnya tiba di penginapan, lalu Claire meninggalkan mereka dan kembali ke rumahnya, dengan perasaan tercengangnya masih teringat atas kejadian tadi.


"Wah sungguh menyenangkan, kita bertiga bertemu kembali"


"Terima kasih Natsuki, terima kasih Maple sudah menyelamatkan ku"


"Umu... itu sudah tugas kita, sesama rakyat Dantalian harus saling menyelamatkan. Ini berkat Bronya Zaychik yang berhasil melacak kamu"


"Iya aku sangat bersyukur, akhirnya aku bisa pulang ke Kekaisaran Dantalian Raya"


"Ya benar, selamat datang kembali Morgiana!" Dengan senyuman manis Natsuki, lalu memeluk erat tubuh Morgiana karena rasa kangennya tak terbantahkan.


"Wah... curang! Aku juga mau!" Lalu Maple juga ikutan memeluk tubuh Morgiana.


Lalu mereka menghabiskan malam terakhir di dunia lain mereka. Pagi menyising menyambut keberadaan mereka, tibalah waktunya mereka untuk pulang ke rumah.


"Apa kamu sudah siap Morgiana?"


"Aku siap!"


"Bagus! Aku akan membuka portal dimensi dunia, mohon kalian berdua mundur sedikit"


Minamiya Natsuki merapalkan sihir dimensi dunianya, terbuka portal yang mengarah kembali ke dunia Kekaisaran Dantalian Raya berada.


Mereka masuk ke dalam portal, lalu portal dimensi dunia tertutup begitu saja.


Portal dimensi dunia itu, disaksikan oleh seluruh anggota Shadow Garden dan juga Cid Kageno dari kejauhan, bahkan Natsuki tidak bisa mendeteksinya.


"Hmmm... selamat tinggal Morgiana, Si Putri Mantan Budak. Senang berjumpa dengan mu"


Menundukan kepalanya seperti memberi penghormatan terakhir, lalu mereka menghilang begitu saja....


"..."


Di pagi hari nan cerah, aku dan teman-temanku berpamitan dengan abangku di Mansion keluarga ku. Kita harus kembali ke akademi dengan kereta yang ditarik oleh kuda, bersama tentara kerajaan mengawal Putri Kerajaan.


"Tidak ada yang ketinggalan kan?"

__ADS_1


"Tidak ada, tenang saja, bang Ruft"


"Setelah kembali ke akademi pun, kamu harus semangat"


"Iya"


"Kamu juga harus segera menentukan apa yang akan kamu lakukan setelah lulus, Ayah pasti menginginkan kamu melanjutkan ke jenjang berikutnya"


"Iya, aku mengerti"


"Aku akan tetap diam soal menjadi petualang sampai saat-saat terakhir"


"Efa juga jaga kesehatan. Kamu di sini selalu bekerja, apakah sempat ambil istirahat?"


"Tidak apa-apa. Tuan Ruft juga jagalah kesehatan"


"Kalian berdua juga semoga sehat selalu. Jika ada kesempatan, silahkan berkunjung lagi"


"Ya, terima kasih banyak"


"Aku ingin selamanya di sini"


"Kamu ini selalu terlihat malas, ya? Apakah di rumahmu juga seperti itu?"


"Kalau di rumah aku selalu berpura-pura semangat, makanya agak melelahkan"


"Justru seharusnya di sini juga seperti itu"


"Kini aku mengerti perasaan orang yang ingin menikah dengan keluarga bangsawan"


"Meskipun menikah dengan bangsawan, bukan berarti bisa bermalas-malasan"


"Kenapa kamu berkata jahat seperti itu?"


"Setelah kembali ke akademi, ayo kita semangat untuk belajar bersama"


"Tidak mau!"


Seorang ksatria keluar dari kereta kuda itu, dia juga abangku, memanggil namaku...


"Hei, Seika... sudah waktunya pergi. Jangan membuang waktu"


"Maaf, Gray. Aku yang menahan mereka"


"Tidak apa-apa. Abang juga jagalah kesehatan"


"Gray"


"Apa lagi? Lagi pula kamu akan datang ke ibu kota kan? Nanti juga tiba saatnya kita akan bertemu lagi"


"Benar sekali, itu pun jika Gray bisa selamat dari jebakan dan pembunuh yang dikirim untuk membunuhku"


"Jangan mengatakab ramalan yang sial seperti itu"


"Itu hanya bercanda. Yang kukatakan tadi hanya bercanda"


"Ba-baiklah"


"Tuan Ruft, mohon maaf jika merepotkan selama saya tinggal di sini"


"Justru saya yang merasa terhormat, Yang Mulia. Saya akan berusaha mengembangkan ilmu sihir dan memajukan wilayah demi kerajaan"


Aku pun menghampiri abangku...


"Sampai jumpa, bang Ruft. Jaga dirimu"


"Ya Seika. Sampai jumpa lagi"


Kami pun pergi menaiki kereta kuda itu, menyusuri jalanan bertanah, dikelilingi ladang rerumputan yang hijau nan indah, meninggalkan Mansion keluarga ku.


Seperti biasa, di dalam kereta kuda aku selalu mabuk dan tidak enak badan.


"Kamu ini kalau sudah naik kereta kuda, langsung tidak mau berbicara"


"Aku benci untuk melakukan sesuatu ketika sedang mabuk"


"Padahal guncangan dari keretanya cukup kecil"


"Maafkan saya karena tidak bisa menjadi teman bicara Anda"


"Tidak usah dipikirkan"


"Tapi tak kusangka kamu pun punya kelemahan"


"Karena aku juga manusia biasa"


"Ya, bisa jadi"


Kereta kuda perlahan-lahan bergerak, terdengar burung elang yang mengudara di atas kereta kuda.


Secara tiba-tiba memaksa kereta kuda kita diberhentikan, melihat seorang gadis muda berambut merah panjang, dengan pakaian gaun yang elegan, namun terdapat tanduk di kepalanya, dia tergeletak di pepohonan. Membuat Putri Kerajaan turun dari keretanya, dan abangku juga untuk mengawal dia untuk menghampiri gadis itu.


"Ada apa sama gadis ini? Dia kenapa? Ini pertama kalinya aku melihat dia, bahkan penglihatan masa depanku tidak ada gadis ini"


"Sungguh, Yang Mulia?"


"Seika, coba kamu lihat. Sini sebentar!"


"Hmn... ada apa?"


Aku pun terkejut melihatnya, dia tidak sadarkan diri.


"Manusia kah atau siluman kah?"


"Ayo kita bawa dia ke dalam kereta"


Kita pun membawanya masuk ke dalam kereta kuda, melanjutkan lagi perjalanannya.


"Hei Seika. Aku tidak melihat dia dalam penglihatan masa depan ku, siapakah dia? Apa kamu tahu tentang ini?"


"Mohon maaf, Yang Mulia. Aku juga tidak tahu hal ini. Kita tunggu saja sampai dia terbangun"


"Ya kamu benar juga"


"Tapi dia bertanduk, ada kemungkinan dia ras iblis. Tidak baik kita membawanya"


"Tidak usah dipikirkan, bang Gray. Aku merasa dia tidak bahaya. Justru omong-omong, bang Gray. Apakah tidak apa-apa berada di kereta ini? Kamu kan kaptennya"


"Tidak apa-apa. Prioritas utamaku adalah berada di samping Yang Mulia untuk menjaganya"


"Tapi, jika ada bahaya menyerang, apa yang akan kamu lakukan?"


"Untuk mencegahnya, aku akan mengerahkan pasukan dalam jumlah banyak. Dalam keadaan darurat, aku akan memberi komando sambil melindungi Yang Mulia. Kira-kira seperti itulah"


"Kalau begitu bagus. Baiklah aku ganti topik pembicaraan, kira-kira ada berapa perampok di negeri ini?"


"Perampok? Mungkin ada puluhan atau ratusan"


"Oh, kalau begitu, mereka itu siapa?"


Terjadi ledakan di kereta kuda yang ada di depan, memaksa kami berhenti mendadak lagi.


"Ada apa lagi?"


"Tampaknya kereta kuda samaran yang kosong telah dihancurkan"


"Sepertinya keadaan darurat itu sedang terjadi" aku menghadap jendela, memegang selah yang mencoba untuk keluar. Dan aku pun keluar ke atas atap kereta kuda, meninggalkan Putri Kerajaan, Abangku, dan gadis pingsan di dalam kereta.


"Sudah lama tidak beraksi akrobatik seperti itu"


"Ada perampok!" Teriak salah satu pengawal kerajaan.


Terlihat 3 orang perampok di atas tebing, dua orang lainnya dengan busur panah, sepertinya ada ketuanya di sana dengan penutup mata, yang memerintahkan untuk menyerang.


"..."

__ADS_1


__ADS_2