
*deng* cahaya putih menyinari ruangan, portal dimensi waktu terbuka yang dijaga oleh dua orang, menundukan kepala nan menyambut kedatangan Minamiya Natsuki tiba di Istana Agung....
"Selamat datang kembali, Nyonya Natsuki!"
"Umu... Kerja bagus!" Timpalnya dengan melangkahkan kakinya mengarah pintu masuk ruangan Partisi Meja Bundar, lalu memasuki ruangan yang terlihat terduduk empat orang menunggu kedatangannya.
Anna Kushina, Dalian, Bronya Zaychik dan Maple yang duduk di kursi ruang PMB melirik menyambut Minamiya Natsuki lalu dirinya duduk di kursi yang sudah dipersiapkan.
"Jadi... Kushina, mengapa kamu minta aku untuk kembali? Apa yang sedang terjadi? Dimana sang Kaisar Agung?"
Kushina terdiam memberikan tanda enggan untuk menjawab, melainkan Dalian angkat bicara.
"Natsuki, aku tahu... kamu benar-benar menyayangi Kaisar Agung, menganggap Ia sebagai sosok Ayah kamu. Pertama-tama aku ingin kamu mengetahui perihal ini, bahwa Kaisar... Kaisar...." dengan mulutnya yang tertatih-tatih mengucapkan 'Kaisar' membuat Natsuki semakin gelisah.
"Ada apa dengan Kaisar Agung? Kumohon, beritahu aku!"
"Etto... Kaisar Agung sudah Mangkat!" Ucapan itu terlontarkan oleh Bronya Zaychik, yang sambil menunjukan hologramnya memperlihatkan <Mayat Kaisar Agung yang diawetkan di dalam peti matiNya> kepada Natsuki.
"Ti-tidak mungkin...! Ini pasti bohong! Bohong!" Pecah teriakannya meneteskan air mata melihat kenyataan yang ada di depan mata... gema tangisan melantunkan ke penjuru ruangan, diikuti tangisan empat orang lainnya.
"Ti-tidak...! Aku... eng-enggak mau begini...! Aku... aku harus kembali ke masa lalu... dan menyelamatkan Kaisar Agung dari kematian..."
"Ja-jangan bodoh, Natsuki... kamu... kamu tidak bisa, kembali ke masa lalu, untuk menyelamatkan, Kaisar Agung...! Ja-jangan membuat kita... kita mengharapkan... mengharapkan kepalsuan...!"
"....."
<Hari kedua PMB>
"Natsuki, aku menemukan sinyal... tanda Morgiana berada di titik NGC-224. Bagaimana menurutmu? Apa kamu bisa menjemput dia?"
Bronya memulai hologramnya, menunjukan sinyal-sinyal petinggi agung Dantalian yang menghilang.
"Itu terlalu abstrak, bisa kamu perkecil untuk pencariannya?"
"Tunggu sebentar... kan ku coba"
*tak...tuk...tak...tuk...* bunyi keyboard Bronya, pencet-pencet mendeteksi sinyal.
"Oke dapat! Lihat! Morgiana ada di titik PA-99-N2"
"Ku simpan dulu PA-99-N2. Karena kekuatan sihir ku belum cukup mencapai titik itu, butuh waktu tujuh hari untuk memulai ekspedisi"
"Ya bagus, Natsuki. Sambil kita menunggu, lebih baik kamu memulihkan sihir kamu dan istirahat lah yang cukup" Dalian memuji Natsuki dan menyarankannya untuk jaga kondisi.
"Itu benar, Natsuki. Kita semua mengharapkan kamu" Kushina mendukung omongan Dalian.
"Terima kasih, Dalian. Terima kasih Kushina" melontarkan senyum manisnya diperlihatkan.
"...."
<Hari Ketiga PMB>
Terdengar langkah kaki cepat dari lorong *dobrak* pintu ruangan PMB terbuka. Terlihat raut wajah Raiden Mei memucat.
"Oya?! Mei ternyata! Ada apa kamu?"
"Bro-bronya! Kiana menghilang! Dia tidak ada! Gawat!"
"Haha, itu sudah hal biasa Mei. Si tuna memang sukanya keliaran gak jelas gitu."
"Bukan itu! Kiana benar-benar hilang ! Dia hilang di depan mataku!"
"Haaaaa!?" 4 orang yang duduk, terkejut mendengarnya... karena bisa jadi Kiana hilang ke dalam dunia lain.
"Tenang kan dirimu Mei, ku bantu cari sinyal Kiana berada. Kemari dan duduk lah!"
Lalu Bronya dengan serius otak-atik keyboardnya, memandang layar monitor satu per satu mencari sinyal Kiana, namun kebanyakan tertera 'Fail'. Sehingga 3 jam pencarian sukses mendapatkan sinyal Kiana berada....
"Mei! Aku dapat! Si tuna ada di titik M-110. Sepertinya dia masih diam dan belum bergerak sama sekali, tapi kondisi dia baik-baik saja. Karena tanda sinyal di layar, tidak memberikan kode-kode lainnya. Dia aman!" Sambil menunjukan layar monitornya kepada Raiden Mei.
"Hu.... syukurlah, Kiana baik-baik saja. Berarti dia ada di dunia lain kan?"
"Hm... ya, dia ada di dunia lain" balas Natsuki dengan suasana menenangkan hati Mei.
__ADS_1
"Kamu... kamu Minamiya Natsuki kan?"
"Ya itu aku, kenapa?"
"Ya... bisa aku ikut dengan mu untuk menjemput Kiana? Aku merasa tidak enak, Kiana sendirian disana pasti kesepian. Sungguh malang Kiana ku."
"Umu... akan ku pertimbangkan, tapi misi ku pergi untuk menyelamatkan Morgiana lebih dulu. Aku tahu perasaan kamu, Mei. Jadi gimana?"
"Hm... oke Natsuki, ku tunggu! Hubungi aku saat kamu kembali lagi, Semoga kamu berhasil menyelamatkannya!"
"Terima kasih Mei"
Raiden Mei melangkahkan kakinya beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan ruangan PMB dan mereka.
<Hari Keempat PMB>
"Lah!? Kemana Dalian? Dia tidak ada disini..."
Pintu ruangan PMB terbuka, terlihat sosok Dalian berjalan menghampiri meja PMB.
"Ah... maaf aku terlambat, tadi ada sedikit urusan di dalam Perpustakan Agung Dantalian"
Dalian duduk sambil memperlihatkan bukunya yang Ia bawa dari Perpustakaan.
"Lihat! Buku ini... buku ini ditulis oleh Kaisar Agung, isi nya tentang kehidupan kalian masa lalu. Dan buku ini menjelaskan alasan petinggi agung Dantalian menghilang, bagaimana menurutmu Kushina?"
"Tunggu... sebaiknya, kita berempat yang mengetahui buku itu. Jangan membiarkan petinggi lain tahu akan buku itu, terutama Dewi Eris. Kita rahasiakan buku tersebut"
"Baik"
semuanya setuju untuk merahasiakan buku Kaisar Agung.
"...."
<Hari Kelima PMB>
"Jadi Maple, kamu akan ikut denganku menyelamatkan Morgiana?"
"Aku juga senang mendengar hal itu, jadi menyenangkan kita berdua berpetualang lagi"
"Yups... aku juga suka menjelajahi tempat-tempat bareng Sally. Apalagi menjelajahi bersama kamu, Natsuki. Banyak kenangan dan keindahan yang kudapatkan saat itu. Sungguh menyenangkan!"
"Bagus dah, kita kan tuntas misi kita"
"Ya tentu, Morgiana juga kawanku"
"..."
<Hari Keenam PMB>
*alarm* bunyi alarm komputer Bronya Zaychik, mendeteksi detorsi ruang waktu di wilayah Ukraina.
"Kalian bertiga, lihat video ini!"
Bronya menyiarkan video terjadinya detorsi ruang waktu kepada mereka bertiga. Seorang gadis berambut pendek hitam, tertelan ke dalam detorsi ruang waktu.
"Siapa gadis itu? Bisa kamu identifikasikan, Bronya?"
"Bisa, tunggu..." Dia pun memperkerjakan tangannya mencari informasi gadis itu, lalu menemukan dan teridentifikasi.
"Dapat! Gadis itu bernama Kurome, adik dari Akame" memperlihatkan layarnya kepada mereka, memperlihatkan statistik Kurome.
"Sungguh malang! Kita benar-benar dikacaukan oleh sebab Tak Jelas ini"
"Hm.... kali ini giliran Kurome menghilang, kita harus menghubungi Akame"
Lalu Bronya mencoba kontak, untuk memanggil Akame kembali dan menuju ruang PMB.
"..."
<Hari Ketujuh PMB>
"Jadi agenda hari ini membahas apa kita?"
__ADS_1
"Entah... Kushina izin untuk tidak ikut PMB hari ini, Dalian seperti biasa dia terlambat dan masih di Perpustakaan"
"Ya hanya kita bertiga disini, hehe..."
Beberapa saat kemudian, secara tiba-tiba Akame muncul di ruangan PMB tanpa melalui pintu.
"He!? Ternyata Akame toh! Bikin kaget aja... hehe"
"UwU... boleh minta makanan? Perutku lapar"
Sontak ketiganya kaget, bukannya menanyakan kenapa dipanggil melainkan meminta makanan karena perut keroncongan.
"Duduk lah disini, kita akan membahas setelah kamu makan. Silahkan kamu pesan makanan yang kamu suka, Akame"
Lalu Akame memesan semua makanan yang berkaitan dengan daging, dia memesan semua makanan itu lebih dari 4 porsi.
"..."
<Hari Kedelapan PMB>
Rapat PMB akhirnya ditutup, lima anggota balik ke masing-masing instansi mereka.
"..."
<Hari Kesembilan PMB>
"Apa kamu sudah siap, Maple?"
"Siap!"
"Bagus! Aku akan membuka portal, menuju dunia dimana Morgiana berada"
Minamiya Natsuki membuat portal dimensi dunia.
"Hati-hati dijalan!" Kushina memberi sanjungan, dan Dalian juga mendoakan keselamatan mereka.
"Semoga Dewi Eris memberkati kalian!"
"Kalau terjadi sesuatu, segera hubungi kita!" Perkataan Bronya menutupi salam perpisahan mereka.
Lalu Maple dan Natsuki masuk ke dalam Dimensi Dunia, membawa mereka ke tempat Morgiana berada.
Kiana Kaslana membuka matanya, menemukan dirinya berada di hutan nan gelap dengan suasana jangrik-jangrik, burung hantu bersenda menggema di hutan.
"Aduh... duh... duh... Kepalaku merasa pusing, eh!? Aku... dimana ini? Heeee...."
Kiana tak ambil pikir, bergegas berdiri lalu berjalan sekeliling hutan... Dia menemukan sebuah perkemahan, yang tidak ada pintu, tidak ada jendela, bisa dikatakan seperti rumah. Dia masuk dan mengistirahatkan tubuhnya, karena masih merasa pusing dan tertidur begitu saja.
Keesokan harinya, suara burung berkicau, terik matahari menyinari permukaan, angin menyambut secara sepoi, membangunkan Kiana dari tidur lelapnya.
Membuka matanya, melihat sekeliling membuat dirinya merasa heran.
"Loh... ini dimana ya? Suasana dan tempat yang belum pernah ku rasakan, berasa sangat asing bagiku"
Beranjak dirinya berdiri keluar, untuk melihat sekitar perkemahan ini. Menengok sana-sini, memutuskan dirinya berjalan ke arah barat, demi mencari orang atau kota, seakan dirinya sedang mencari kitab suci. 3 jam berjalan melintasi hutan antah berantah ini, tertampak sesosok gadis muda dengan pakaian agak ketat dibagian pinggulnya, mengenakan seperti telinga kelinci di atas kepalanya, sambil membawa busur panah seperti pemburu, melompatkan diri dan menghampiri Kiana.
"Hai! Siapa kamu?"
"Hai...! aku Kiana Kaslana, kamu?"
"Oh... aku Amber, Ksatria Pengendara dari Ksatria Favonius. Tugasku menjaga dan melindungi penduduk Mondstadt. Lagi apa kamu disini?"
"Yah, aku tersesat di hutan ini. Bisa kamu bantu aku pergi ke kota?"
"Oh... jadi kamu tersesat, seorang petualang yah?"
"Bisa dikatakan seperti itu, aku seorang petualang tapi bukan warga sini"
"Hehe pantesan, ternyata kamu bukan warga sini. Ja... ku antarkan kamu ke kota Mondstadt"
"Terima kasih, Amber"
Lalu Amber membawa Kiana berjalan menjauh dari hutan menuju kota Mondstadt.
__ADS_1