
...<Tahun 527 Masehi>...
...<Lahir seorang manusia yang memiliki tekad dan ambisius yang sangat tinggi. Dia sosok orang yang mampu memulihkan Kekaisaran Roma yang sudah lama mati, memerangi musuh-musuh Romawi demi ambisius nya tergapai. Dia dianugrahi sosok-sosok hebat yang bersedia membantu mewujudkan ambisiusnya, untuk membuka lembar Penaklukan Dunia, untuk menghidupkan kembali Kekaisaran Roma yang telah lama hilang.>...
Pemerintahannya ditandai dengan ambisius tetapi hanya sebagian terwujud renovatio imperii, atau "pemulihan Kekaisaran". Dia bernama Justinian I, atau dikenal oleh rakyatnya dengan nama Justinian Yang Agung, memiliki pendukung yang sangat hebat untuk dirinya dalam pemerintahannya. Salah satunya Jenderal Belisarius, Jenderal Narses, Penyihir Putih Anggun Elaina, Kaisarina Yang Agung Theodora, dan Jenderal lainnya.
Justinian I menjadi kaisar Bizantium tak lama setelah kematian Justin I. Pada 1 April 527 Justinian I naik tahkta menjadi kaisar Bizantium, memerintah pemerintahannya dengan sangat baik seperti, aspek yang lebih bergema dari warisannya adalah penulisan ulang hukum Romawi yang seragam, Corpus Juris Civilis, yang menjadi dasar hukum perdata juga digunakan oleh Kekaisaran Dantalian Raya. Tak lama dirinya menjadi kaisar, 3 tahun lamanya, bangsa Persia berupaya menyerang dan mengambil alih wilayah Kekaisaran Bizantium di kota Dara.
Selama abad ke-6, negara-negara Eropa menyadari pentingnya kavaleri. Pada tahun 530, Persia melancarkan serangan ke Kekaisaran Bizantium. Di luar kota Dara, kavaleri bersenjata lengkap dari Tentara Sassania menyusun garis pertempuran mereka. Dilatar belakangi oleh Kavadh I, Kekaisaran Bizantium sedang berperang dengan Sassaniyah dari tahun 527, diduga karena Kavadh I telah mencoba memaksa orang Iberia untuk menjadi penganut Zoroastrian. Raja Iberia melarikan diri dari Kavadh, tetapi Kavadh mencoba berdamai dengan Bizantium, dan berusaha agar Justin I mengadopsi putranya Khosrau. Justin setuju, tetapi dengan syarat bahwa dia akan melakukannya hanya dalam ritus yang disediakan untuk orang barbar. Ini gagal memuaskan Kavadh, yang menyerang sekutu Bizantium, jadi Justinian mengirim jenderalnya Sittas dan Belisarius ke Persia, di mana mereka awalnya dikalahkan. Pada tahun 529, negosiasi yang gagal dari penerus Justinian mendorong ekspedisi Sassania yang terdiri dari 40.000 orang menuju Dara. Tahun berikutnya, Jenderal Belisarius dikirim kembali ke wilayah itu bersama Jenderal Hermogenes dan Penyihir Putih Anggun Elaina beserta 25.000 pasukan. Kavadh menjawab dengan 10.000 pasukan lainnya dibawah komando Perozes, yang mendirikan kemah sekitar lima kilometer jauhnya di Ammodius, di sekitar Dara.
Bangsa Persia, melebihi jumlah bangsa Romawi dengan 15.000 orang, dikerahkan sekitaran dari kota Dara dan menyusun garis pertempuran mereka. Meski kalah jumlah, Jenderal Belisarius tetap memutuskan untuk berperang. Dia memerintahkan menggali sejumlah parit untuk memblokir kavaleri Persia, meninggalkan celah di antara mereka untuk memungkinkan serangan balik, taktiknya yang sama seperti taktik yang diadopsi dari Persia pada Pertempuran Thannuris dua tahun sebelumnya. Ini didorong ke depan di kedua sisi posisinya, sementara bagian tengahnya ditolak kembali. Disini dia menempatkan infanterinya yang tidak dapat diandalkan di belakang parit tengah, ditempatkan cukup dekat dengan tembok benteng untuk memberikan tembakan pendukung dari benteng kota. Di sayap kiri dan kanan adalah kavaleri Bizantium, dengan kualitas yang kokoh. Mendukung mereka di sisi interior mereka adalah satuan kecil Hun dengan 300 kavaleri Hun dibawah komando Sunicas dan Aigan mendukung kiri, dan lebih banyak bangsa Hun di sebelah kanan dibawah komando Simmas dan Ascan. Jenderal Belisarius juga menempatkan satuan kavaleri Heruli dibawah komando Pharas dalam posisi penyergapan dari sayap kirinya. Cadangan yang terdiri dari kavaleri Bucellarii miliknya sendiri ditahan di belakang pusatnya dan digantikan dipimpin oleh Si John Armenia, letnan terpercaya dan teman masa kecilnya.
Sedangkan Elaina diberikan 500 pasukan panah yang ditempatkan di benteng kota, beserta artileri panah beratnya agar ditembakan ke medan perang untuk menjatuhkan para kavaleri Sassania. Jenderal Belisarius tahu akan kekuatan sihir miliknya, yang dapat membuat para pemanah untuk menjatuhkan banyak anak panah ke medan perang dari jarak yang sangat jauh, juga membuat sinyal pasukan Kavaleri untuk mendobrak pertahanan musuh.
Gelombang pertama serangan Persia diarahkan ke sayap kanan Bizantium, pasukan panah Elaina dibantu dengan sihirnya melepaskan ribuan anak panah, menghujani kavaleri Persia namun ada beberapa kavaleri Persia lolos yang memaksa menyeberangi parit, mendorong mundur kavaleri Bizantium. Ritual sihir yang disiapkan Elaina telah selesai, melancarkan gelombang api membentuk ribuan anak panah membakar seluruh kavaleri Persia. Membuat Jenderal Belisarius takjub akan kedahsyatan sihir Elaina, juga memberikan efek ketakutan kepada bangsa Persia. Namun kavaleri Persia dibawah komando Perozes enggan meratapi hal itu, melepas gelombang kedua serangan Persia mengarah sayap kiri Bizantium. Menyebrangi parit dan mendorong mundur kavaleri Bizantium. Tetapi intervensi Sunicas Hun yang menyerang dari bagian dalam garis Bizantium dengan bantuan artileri panah berat pasukan Elaina menusuk pertahanan musuh, serta serangan Herulian Pharas dari sisi berlawanan, memaksa sayap Persia mundur.
"Tak ku sangka, mereka cukup tangguh juga... lepaskan gelombang ketiga!"
Teriakan Perozes membuka serangan gelombang ketiga Persia, menusuk mengarah bagian tengah pasukan, lalu saat di tengah mereka menyebar membagi dua sisi menyerang sayap kanan dan kiri Bizantium. Memukul mundur kavaleri mereka, yang membuat para infanteri elit Bizantium terjebak di selah-selah parit. Sontak mengejutkan Jenderal Belisarius atas serangan Persia itu, namun Elaina tahu akan kedatangan serangan tersebut membuat sihir yang sudah dia siapkan, melepas mengudara 'Gelombang Air' menerjang kavaleri Persia yang mendekat, berhasil menyapu bersih tanpa sisa.
"Kerja bagus, Elaina!"
Jenderal memerintahkan para infanteri untuk maju serentak dengan formasi kura-kura, maju perlahan membantai musuh yang ada di sekitar mereka.
"Terus maju! Jangan gentar! Kita pasti menang!" Teriakan Jenderal Belisarius membuat moral pasukan naik drastis, memukul pasukan Persia untuk mundur ke perkemahan mereka.
Terus menerus mereka saling balas membalas serangan dalam medan perang, yang akhirnya menemukan jalan buntu untuk kedua belah pihak. Elaina menghampiri Jenderal Belisarius, memberikan suatu siasat.
"Jenderal! Ini tidak baik untuk kita melanjutkan pertempuran, saya punya rencana!"
"Hm? Apa itu rencana kamu, Elaina?"
"Baik Jenderal! Saya meminta Jenderal untuk membawa 5000 Infanteri maju dengan formasi (Ujung Tombak), lalu para kavaleri Hun menyelinap dari belakang Infanteri Jenderal lalu menyergap mereka, saya dan pasukan panah akan membuka jalan untuk kalian, kavaleri sayap kanan Bizantium menjadi cadangan dan pendobrak jantung pertahanan maju dengan kecepatan cepat, dan terakhir kavaleri sayap kiri sebagai pengalihan dan pembantu kavaleri Hun... tentu dengan serangan cepat harus dilakukan! Taktik ini pernah digunakan orang masa depan, dari bangsa Jerman bangsa yang kalian sebut bangsa Barbar. Benar-benar efektif untuk melakukan keefesian mobilisasi pasukan."
Sesaat Jenderal Belisarius terdiam mendengar rencana Elaina, namun tak mau pikir panjang lagi.
"Saya terima rencana mu itu, Elaina. Baik semua! Kita lakukan seperti dalam rencana Elaina! Cepat bentuk formasi! Cepat!"
Pasukan Bizantium berbaris sesuai dengan rencana Elaina, maju perlahan dengan melepaskan gelombang serangan Bizantium terhadap Persia, mengarah ke perkemahan mereka. Elaina memunculkan dua elemen sekaligus, air dan api 'Gelombang Air Tingkat Maksimal' menyerang pasukan Persia yang mendekat (Ujung Tombak) dan 'Amukan Panah Api' melesat menghujani perkemahan dan tempat persediaan mereka, membakar membuat api berkobar kemana-mana.
__ADS_1
"Wow! Luar biasa Elaina! Terima kasih!" Semangat pasukan pimpinan Jenderal Belisarius, membuat barisan menjadi kokoh dan percaya diri.
Perozes dan pasukannya terjebak, di depan pasukan Bizantium semakin mendekat, di belakang jalan mundur ditutup oleh kobaran api dan sihir Elaina yang tak henti-henti menghujani.
"Tamat sudah riwayat ku...."
Lalu gelombang Bizantium menghantam Persia yang membantai mereka tanpa ampun, membuat Pertempuran Dara menjadi kemenangan untuk Kekaisaran Bizantium dan sorakan kemenangan terdengar tanpa henti.
... <Tahun 533 Masehi>...
Tiga tahun lama nya setelah Pertempuran Dara, yang dimenangkan oleh Kekaisaran Bizantium. Membuat Justinian I menginginkan Afrika Utara kembali ke tangan Roma, memanggil Jenderal Belisarius dan Penyihir Elaina menghadap sang Kaisar.
"Selamat untuk kalian berdua! Selamat atas liburan kalian di kota Dara!"
"Terima kasih, Yang Mulia!" Elaina dan Belisarius menunduk, atas ucapan sang Kaisar.
"Selanjutnya! Saya ingin kalian berdua liburan ke Afrika Utara, bagaimana dengan kalian? Disana akan terasa nikmat jika kalian berdua liburan, percayalah. Afrika Utara tempat yang indah dan kaya akan kesejukan, saya minta kalian berdua untuk berlibur!"
"Baik Yang Mulia, kita berdua bersiap mengarungi Afrika Utara" Mereka pun meninggalkan singgasana Kaisar, bergegas kembali ke perkemahan dan membuat rencana liburan mereka di Afrika Utara.
Justinian I berusaha untuk menciptakan kembali kejayaan Roma sebelumnya. Setelah Gelimer merebut tahta untuk menjadi penguasa Kerajaan Vandal, Justinian I menanggapinya dengan menyatakan perang terhadap kaum Vandal. Pada tahun 533 Masehi, Jenderal Belisarius dan Penyihir Elaina memimpin pasukan untuk mendarat di Afrika Utara dan berbaris menuju Kartago.
"Ya Elaina, pulihkan kondisi pasukan! Kita akan segera menyerang Vandals dalam 3 hari ke depan"
Sesampainya mereka disana, mereka membangun perkemahan untuk memulihkan semangat pasukannya. Jenderal Belisarius mengolah otaknya mencari cara untuk menghancurkan Vandal dengan cepat.
"Elaina, peperangan selanjutnya kita akan menyerang kemana? Daerah gurun tandus ini sedikit susah untuk saya mengkordinasi pasukan"
"Kita akan menyerang mereka di sekitaran kota Kartago, kita akan menamakan dengan Ad Decimum adalah penanda di sepanjang jalan pantai Mediterania sepuluh mil Romawi di selatan Kartago. Kita menyerang awal dengan satu tumpuan besar pasukan Bizantium dari Grasse menuju Ad Decimum, Vandal akan mengirim pasukan dari kota Kartago dibawah komando Ammatas, lalu Gibamund dengan 2000 orang dan pasukan utama Vandal dibawah komando Gelimer akan membuat pengepungan dari belakang kita saat di Ad Decimum. Kita akan membagi pasukan sebelum memasuki Ad Decimum, saya bersama Hun akan menghancurkan Gibamund dan mengabaikan pasukan Gelimer. Jenderal Belisarius masuk menerjang Ad Decimum dan mempertahankannya, membukakan jalan untuk John menyerang Vandal sehingga mencapai ke Kartago. Dengan kehancuran pasukan Gibamund, mereka Gelimer berpikir untuk mengambil bukit, saya dan Hun akan mundur untuk menyusun kembali pasukan, disisi lain Jenderal Belisarius mendaki bukit kemudian mengacaukan pasukan Gelimer, lalu saya dan Hun akan mendobrak jantung Vandal membantu Jenderal Belisarius di bukit. Mereka pasti akan mundur ke Numidia, karena John sudah mencapai Kartago lebih dulu"
Perencanaan matang yang dibuat oleh Elaina membuat Jenderal Belisarius takjub, perencanaan yang dilontarkan satu per satu kata seperti melihat masa depan, menunjukan kemenangan Bizantium.
"Bagus! Bagus! Sungguh luar biasa Elaina !"
Sesuai dengan rencana, pertempuran dimulai dengan dua pertempuran serentak antara pasukan Vandal dan Bizantium dengan tumpuan lebih kecil.
Salah satunya adalah antara Elaina bersama tentara bayaran Hun Bizantium dan Vandal Gibamund. Elaina memerintahkan 600 kavaleri Hun menghadapi Vandal, setelah melihat ini para Vandal berhenti di jalur mereka, memungkinkan Hun akan menyerang dan membubarkan mereka. Rasa ketakutan menghantui pasukan Gibamund akan jebakan, dan tercengang melihat keberanian bangsa Hun yang membuat terkejut saat melihat Elaina bersama pasukan Bizantium begitu jauh dari jalan utama. Ketakutan terus menghantui mereka, karena bangsa Hun memiliki reputasi sebagai pejuang yang hebat. 600 Hun mengalahkan 2000 Vandal dan membunuh Gibamund dalam pertempuran, membuat kemenangan kecil dibawah komando Elaina.
Pada waktu yang sama Ammatas membuat kesalahan yang akan merenggut nyawanya. Ammatas sedang mengintai medan perang dengan hanya beberapa orang ketika dia bertemu dengan barisan depan Bizantium yang jauh lebih kuat dibawah komando Si John Armenia, terbunuh dalam pertempuran berikutnya. Sisa pasukan Ammatas bergerak keluar dari Kartago dalam kelompok kecil yang terdiri dari 30 orang, merentang tipis di medan perang. Ketika bertemu dengan Bizantium, mereka segera melarikan diri.
__ADS_1
Gelimer dan pasukannya membangun perkemahan di bukit sekitaran Ad Decimum, setelah mereka menemukan mayat Gibamund. Keesokan harinya, pada pagi hari nan cerah, terlihat pasukan Bizantium mendaki bukit mencoba menyerang perkemahan Gelimer berada. Sentak pertempuran kecil pun terjadi di atas bukit, dimenangkan oleh pasukan Gelimer. Lalu mereka menuruni bukit, untuk merebut Ad Decimum, namun beberapa jam kemudian terlihat pasukan Bizantium berbaris dengan satuan besar. Menghabisi para Vandal, membuat pasukan Gelimer mundur ke Namidia dan meninggalkan Kartago.
Setelah pertempuran ini dimenangkan oleh Kekaisaran Bizantium, Kartago dibiarkan dengan pertahanan yang relatif ringan dan direbut oleh Bizantium. Pertempuran Ad Decimum berakhir dengan kemenangan Kekaisaran Bizantium, sedikit korban dideritanya, sedangkan Vandal harus merelakan banyak korban jiwa atas kekalahan mereka. Bizantium kemudian mulai membangun kembali benteng kota Kartago, dan armadanya juga dibangun di Danau Tunis, lima mil selatan Kartago. Armada Laut nya disiapkan untuk menyerang Kerajaan Ostrogotik, merebut wilayah Italia. Namun sebelum mereka melakukan Penyerangan Roma, Elaina meminta Jenderal Belisarius menyerang habis bangsa Vandal yang berada di barat.
"Jenderal! Ada kemungkinan, bangsa Vandal ingin merebut kembali Kartago. Aku sarankan, kita segera menghabisi para Vandal di Numidia. Memukul mereka keluar dari Afrika Utara"
Belisarius menyetujui perihal itu, karena pertahanan dan armada laut di Kartago sudah siap dibangun.
Setelah kemenangan besar Bizantium dalam Pertempuran Ad Decimum, tentara Jenderal Belisarius dan Elaina menduduki Kartago. Raja Gelimer, yang berada di barat Kartago, meminta bantuan dari saudaranya dan menyusun kembali pasukannya untuk merebut kembali Kartago.
"Elaina, sebenarnya saya ingin segera merebut Roma. Bisakah kamu saja yang menyerang Vandal?"
"Te-tetapi Jenderal, apa anda yakin? Aku mampu menyerang mereka dengan pasukanku"
"Tentu Elaina, kamu lebih pantas memegang kendali untuk mengakhiri Kerajaan Vandal"
"Baik Jenderal! Terimakasih, aku akan segera menyusun strategi. Aku pamit undur diri!"
"Semoga berhasil, Elaina!"
Elaina meninggalkan Kartago sehari setelah pertemuan Belisarius, memulai kampanye nya melawan Vandal pada bulan Desember 533. Kedua pasukan bertemu di Tricamarum, sekitar 30 mil barat Kartago, dan kavaleri Bizantium segera menyerbu garis Vandal, membentuk kembali dan menyerang dua kali lagi. Infanteri Bizantium kemudian dengan semangat juang tinggi menghabisi infanteri Vandal, dan Bizantium mendapatkan keuntungan. Serangan kavaleri Bizantium untuk ketiga kalinya, Tzazon terbunuh dalam pandangan Gelimer. Seperti yang terjadi di Ad Decimum, Gelimer putus asa. Barisan Vandal mulai mundur, dan segera kalah. Gelimer melarikan diri kembali ke Numidia dengan sisa pasukannya, setelah kehilangan 800 orang. Elaina kemudian berbaris di kota Hippo Regius, yang membuka gerbang untuknya.
Gelimer menyadari bahwa kerajaannya telah hilang, dan berusaha melarikan diri ke Spanyol, di mana beberapa Vandal masih tersisa, yang dulu tidak mengikuti pasukan utama ketika mereka menyeberang ke Afrika Utara bertahun-tahun sebelumnya. Namun, Elaina mendengar kabar ini, membuat pasukannya merencanakan pencegatan Gelimer. Dia terpaksa meninggalkan barang-barangnya dan berlindung di pegunungan Tunis bersama bangsa Berber. Tahun berikutnya dia ditemukan oleh pasukan Bizantium yang dipimpin oleh Elaina. Awalnya dia menolak untuk menyerah, bahkan setelah dijanjikan oleh Elaina untuk akan diizinkan memerintah lagi. Setelah musim dingin yang sangat buruk, Gelimer akhirnya menyerah kepada Penyihir Putih Anggun, Elaina. Kerajaan Vandal berakhir, provinsi mereka di Sardinia, Korsika, dan Kepulauan Balearic berada dibawah kendali Justinian. Kekaisaran Bizantium semakin berjaya, atas keberhasilan merebut Afrika Utara sekaligus melenyapkan Kerajaan Vandal.
Ada gejolak di dalam kubu Bizantium, antar Elaina dengan Belisarius.
"Elaina! Selamat atas keberhasilan kamu, untuk melenyapkan Vandal. Selamat!"
"Terima kasih Jenderal, aku bersyukur atas pujian anda"
"Ya baik... Saya minta kamu ikut denganku, menyerang Roma. Ini sudah saatnya tiba, untuk kita sebagai pelopor pemulihan Kekaisaran Roma"
"Mohon maaf, Jenderal! Aku tidak setuju untuk ikut, aku ingin menjaga Afrika Utara, Timur Tengah, dan Konstaninopel. Jadi aku akan pergi ke Jerusalem"
"Ha...!? Me-mengapa, Elaina!? Selangkah lagi kita memulihkan..."
"Ya Jenderal! Tapi sudah saatnya, aku kembali dan masuk ke dalam reruntuhan yang ada di Jerusalem. Sampaikan juga kepada Justinian, selamat tinggal Jenderal Belisarius!"
Lalu Elaina tanpa pasukannya, dengan sapu terbangnya, mengudara meninggalkan Kartago, memutuskan pergi ke Jerusalem untuk mencari reruntuhan. Sedangkan Belisarius, tetap yakin untuk merebut Roma walaupun tanpa Elaina, dia juga menyampaikan pesan Elaina kepada Kaisar Justinian I.
__ADS_1