
"Huffft . . . Pusing nih mau pakai apa buat pensi nanti”. Gadis blasteran berparas cantik yang duduk di kantin sekolah bersama dengan sahabat – sahabat nya, yakni Briana Caroline MC. Mereka di pusing kan dengan pensi akhir tahun sekaligus pensi kelulusan mereka.
“Hmm, iya nih, gue juga bingung, malah tema nya enggak banget lagi, kekanak - kanakan banget hhuuftt” sambung Anya si cewek imut, kulit putih, yang selalu memakai bando.
“Kalau gue apa lagi, mending gue di suruh pakai kain sarung saja sekalian dari pada di suruh pakai kostum anime jepang, iuucchht siapa sih pencetus ide tema nya, ngeselin banget sih”. Sambar si cewek ehh nii cewek atau cowok ya ? Ha ha ha. Dia Raysa, cewek tomboy ini lebih suka di panggil Ray, kata nya sih biar lebih keren.
“Hmm . . . Entah lah, dari pada kita ngedumel enggak jelas kayak gini, mending nanti akhir pekan, kita cari referensi, mana tahu kita ketemu solusi nya” Usul Briana pada teman nya.
“Ya sudah, ehh tapi gue enggak mau yang aneh – aneh ya nanti” sambung Anya.
“Iya iya Miss Perfectionis” jawab si Ray sambil menarik bando yang ada di kepala Anya.
“Iihh elo resek ya, kan jadi kusut rambut gue”. Anya merasa jengkel dan cepat – cepat merapikan rambut nya.
Raysa / “Biarin sok kecakepan banget sih loe, sok imut”.
“Sudah deh, kalian enggak usah pada bising, lihat tuh mereka pada ngeliatin kita, malu tau”. Briana mencoba menghentikan kedua sahabat nya itu sembari melirik ke sekitar kantin yang sudah berapa pasang mata melihat ke arah mereka.
Raysa dan Anya tersenyum kikuk karena menjadi pusat perhatian siswa lain nya.
Raysa/ “Kita masuk ke kelas saja yuk, gue sudah jenuh di sini”.
Briana/ “Ya sudah yuk, gue juga sudah malu di lihatin mereka gara – gara kalian”.
Anya/ “Gara – gara si Ray itu”. Cibir nya.
Raysa/ “Ehh enak saja gara – gara gue”.
Anya/ “Iya lah, gara – gara elo kita jadi di liatin sama mereka”.
Raysa ingin membalas Anya namun di henti kan oleh Briana.
“Sudah donk, kalian ini ya, setiap hari enggak ada habis nya ya, gue tinggal nih”. Briana beranjak meninggal kan kedua sahabat nya.
__ADS_1
Briana berjalan menuju ke kelas XII IPA 1, dia berjalan menyusuri koridor sekolah yang di ikuti kedua sahabat nya dari belakang. Briana cukup popular di sekolah di karena kan dia satu – satu nya siswi yang berketurunan blasteran peranakan Jerman, dia memiliki wajah cantik putih nan mulus, tinggi semampai bak model international, belum lagi hidung nya yang mancung serta mata nya yang berwarna olive green menunjuk kan dengan jelas bahwa dia adalah gadis indo.
Tak sedikit para siswa cowok ingin mendekati nya. Dan tak sedikit juga para siswa cewek cemburu pada nya. Walau pun begitu Briana tidak pernah menghiraukan itu. Briana tak pernah perduli dengan omongan – omongan orang lain yang mengatakan dia sombong dan merasa cantik.
Semua mata tertuju pada Briana, setiap kali dia menyusuri koridor melewati siswa lain nya dan tak jarang mereka menegur sapa diri nya, namun Briana selalu acuh pada mereka bahkan tak pernah melirik sekali pun.
“Briii . . . .”. Terdengar suara teriakan seorang siswa cowok memanggil Briana.
Briana pun menoleh ke pusat suara, yakni membalik badan nya. Ia melihat sosok tampan, berkulit kuning langsat serta berbadan tegap tinggi yang memanggil nya itu, ia siswa cowok bernama Ryo, ia adalah ketua panita pentas seni akhir sekolah mereka.
“Ada apa?”. Tanya nya dengan ketus.
Ryo/ “Emm. . . . gini Bri, nanti pas pensi kan kita bakal ada acara drama dongeng putri salju, nah maksud kami, kamu yang kami pilih untuk jadi pemeran putri salju nya, karena pemeran itu pas banget di kamu. Gimana ?, kamu bersedia enggak?”.
Briana/ “Gue enggak mau, loe cari saja yang lain”. Tolak nya mentah – mentah.
Ryo/ “Tapi Bri, please tolong kami, ngitung – ngitung kan untuk acara di sekolah kita dan terakhir kali kita di sekolah ini”.
“Kalau gue bilang enggak mau, ya enggak mau, jangan paksa – paksa gue, kalau enggak ada lagi yang di bicara’ in, gue cabut ke kelas”. Ia pergi meninggal kan Ryo tanpa menunggu tanggapan Ryo.
.
.
“Bri . . . kok loe jutek banget sih sama Ryo?, terus main langsung nolak lagi penawaran nya”. Anya kepo setiba nya mereka berada di dalam kelas dan duduk berpepetan di bangku nya Briana, tak ketinggalan Raysa juga.
“Isssh . . . kalian apaan sih, pakai pepet – pepetan gini duduk nya”. Briana mendorong pelan tubuh kedua sahabat nya itu. Dan Raysa pun mengalah, ia segera duduk di bangku depan dan membalik kan badan nya.
Raysa/ “Elo ya . . . semua cewek – cewek di sekolahan pada berebut untuk mendapatkan peran itu, ini loe yang langsung di tawarin malah langsung di tolak”.
Anya/ “Iya betul tuh, gue saja kalau ada audisi nya bakal mau ikutan”.
Briana/ “Ya sudah, loe saja sonoh yang meranin tuh peran, kalau gue sih ogah”.
__ADS_1
Anya/ “Hmp .. . Loe ya, benar apa yang di bilang satu sekolah, loe itu sombong, mentang – mentang loe cantik jadi loe bisa sok jual mahal gitu”.
“Bodo amat, gue sama sekali enggak perduli, kalau loe mau sama peran itu, silahkan ambil sana”. Briana memutar bola mata nya.
.
.
Briana terdiam sendiri duduk di bangku taman sekolah nya. Seisi gedung sekolah sudah hampir kosong dengan para murid mengingat sudah jam pulang sekolah. Briana masih terbengong sembari melihat kaki nya yang dia ayun – ayun kan.
“Cukup, aku tak mau kejadian itu terulang lagi”.
Dari jauh Ryo yang baru keluar dari gedung aula sekolah tak sengaja melihat Briana duduk sendirian di bangku taman.
“Itu kan Briana, kenapa dia belum pulang jam segini?”.
Ryo berencana ingin menghampiri nya namun di urung kan nya kembali niat nya itu. Ia menghentikan langkah kaki nya di balik tiang yang tak jauh dari keberadaan Briana, ia hanya bisa memperhatikan Briana dari balik tiang tersebut hingga Briana pun beranjak dari tempat nya.
Briana berjalan menuju ke parkiran sekolahan yang terparkir mobil sedan berwarna merah dan mobil sport berwarna hitam. Briana pun berlalu dengan mobil sedan merah nya. Ryo yang sejak tadi mengikuti nya dari belakang pun berlalu dengan mobil sport hitam nya.
.
.
“Aku enggak mau berteman lagi sama kamu, kamu sekarang sudah cacat. Kamu cacat. Heh . . . anak cacat pergi sana jauh – jauh jangan main ke sini. Dasar cacat ha ha ha ha”.
“Enggaaaaaaaaaaaaaaaak”. Briana berteriak, ia tersentak dari tidur nya. Dia mendapat kan mimpi buruk tentang kehidupan nya di masa lalu. Keringat nya bercucuran di seluruh tubuh nya. Wajah ketakutan nya terlihat jelas. Bayang – bayang tersebut selalu terngiang di ingatan nya.
“Oh Goooooooooooood . . . .”. Dia mengusap wajah nya sembari menghela nafas nya dengan relax.
#Triiing . . .
Terdengar suara nada dering menandakan notifications pesan whatsapp masuk. Briana meraba ponsel nya dan melihat layar ponsel nya.
__ADS_1
*Mami/ “Briana . . . besok Mami akan balik ke Jakarta jam 3 siang, Mami minta sepulang sekolah kamu jangan kemana – kemana lagi ya, soal nya ada yang mau Mami omongin ke Kamu, Mami sayang kamu and I miss you”.
Briana mencampakkan kembali ponsel nya ke tempat tidur tanpa membalas pesan dari sang Mami dengan kesal.