
Ryo berdiam diri di dalam kamar nya sembari menatap jaket Briana yang tertinggal, ia masih mengingat apa yang terjadi di rumah Briana. Ryo melihat sosok Briana yang asli. Briana yang rapuh, lemah dan kesepian. Meski ia belum tahu dengan jelas kehidupan Briana namun dia yakin bahwa Briana sangat membutuhkan seseorang di sisi nya.
Ryo mengambil jaket itu dan melihat nya dengan seksama. Tanpa sengaja ia merasakan ada sesuatu pada kantong jaket itu. Ryo mengeluarkan benda itu. Ia melihat sebotol obat yang isi nya tinggal setengah dari botol berukuran lebih kurang dari 5 cm.
Ryo membolak - balik kan botol tersebut ingin mencari tahu obat apa itu.
"Obat apa ini? Apa dia lagi sakit?".
Ryo langsung menyambar kunci mobil nya dengan membawa obat itu. Tanpa berpamitan pada bunda nya, ia langsung bergegas keluar.
Ryo memarkirkan mobil nya di depan apotek yang tak jauh dari perkomplekan rumah nya.
" Mbak, saya mau nanyak apa di sini jual obat ini?". Ryo menyodorkan sebutir obat itu dan menyembunyikan yang lain.
Apothecar itu mengambil nya.
"Bentar ya mas". Ia membawa obat itu ke dalam.
" Ya mbak". Ryo tak sabar ingin mengetahui obat apa itu sebenar nya dan membuat sedikit kebohongan.
Apothecar itu pun kembali menghampiri Ryo.
"Maaf mas, kami tidak menjual obat ini, karena obat ini resep dari dokter dan tidak di edar di apotek mana pun".
Ryo/ " Ouh gitu ya mbak".
"Iya mas, obat ini khusus di buat sama dokter pskiater, enggak sembarangan, karena sangat berbahaya kalau di konsumsi tanpa anjuran dokter. Lagian kan enggak mungkin orang menderita depresi mau beli obat di apotek, karena sudah pasti mereka merasa malu beli nya he he he". Jelas nya.
"Ouh gitu, terimakasih banyak ya mbak". Ryo mengambil kembali obat itu dan keluar dari apotek itu.
Setiba di rumah, Ryo kembali berdiam di dalam kamar nya sembari memegangi botol yang berisi obat milik Briana. Ryo mengingat penjelasan dari apothecar tentang obat itu. Ryo mengingat bahwa ia sering melihat Briana selalu membawa obat itu dan berusaha menyembunyi kan nya.
Flash back...
"Nya, Sha tugas berdua mana? Kok enggak ada ini?". Ryo meneriaki Anya dan Raysha yang duduk di bangku mereka. Ryo menghampiri mereka untuk mengumpulkan tugas Anya dan Raysha.
" Bentar lah... Gue lupa ngeletak buku gue dimana". Anya sibuk mencari buku nya, ia membongkar tas nya.
"Ray buku gue ada enggak sama loe?".
" Enggak ada". Jawab nya singkat.
__ADS_1
"Bri tempat loe ada enggak?". Anya langsung menyambar tas Briana sebelum Briana menjawab nya. Spontan Briana merampas kembali tas nya dan menjatuhkan sesuatu dari tas nya. Secepat kilat Briana mengambil nya lalu menyembunyikan nya ke dalam saku rok nya. Ryo sempat melihat nya.
Karena penasaran Ryo menjadi dua kali lipat memperhatikan nya. Sempat ia melihat Briana sedang minum obat tersebut dengan sembunyi - sembunyi.
.
.
"Apa elu bilang?, cowok - cowok bren**ek?". Sentak Anya berdiri.
Briana/ "Ck, mereka memang pantas dengan sebutan itu. Lagian ya lu itu cari teman yang benaran dikit napa. Jangan ngasal saja pilih - pilih teman. Sudah kayak barang obralan saja".
"Apa?". Suara Anya bernada tinggi sehingga se - isi kelas tertuju pada mereka. Tak terkecuali Ryo dan Dimas yang baru muncul di dalam kelas, mereka juga beralih melihat mereka. Ryo melirik teman sekelas nya berbisik - bisik membicara kan mereka.
Ryo memperhatikan Briana sedang mengendalikan diri dan emosi nya. Sempat ia melihat Briana mengepalkan kedua tangan nya begitu erat.
Setelah Briana berhasil membuat Anya kikuk, tanpa basa - basi ia pergi meninggalkan kelas. Ryo bergegas lari mengikuti nya dari belakang, ia melihat Briana menyusuri koridor sekolah tanpa menghirau kan orang sekitar termasuk laki - laki paruh baya yang beribawa yakni wali kelas nya, yang berselisih jalan dengan nya, ia sudah siap - siap ingin menyungging kan senyuman terbaik nya.
"Briana . . . Kamu mau kemana? Kelas akan di mulai". Beliau bertanya namun Briana tidak menghirau kan beliau, Briana tetap ngelengos melewati nya.
"Briana . . . Bri . . .". Teriak nya mrmanggil Briana yang sudah berjalan sampai ke pintu gerbang.
Ryo meminta izin pada wali kelas nya untuk menyusul Briana dan di setujui.
"Elo mau kemana sih Bri sebenar nya?". Gumam nya.
Dalam waktu setengah jam kini mereka berada di daerah yang nampak sunyi dan sedikit kumuh. Ryo melihat Briana menghenti kan mobil nya ke pinggir jalan lalu turun dari mobil nya, ia berjalan menuju satu gedung tua nan menyeram kan. Ryo pun ikut turut menyusul diri nya dari belakang dengan mengendap - ngendap. Ryo berjalan menyusuri ke dalam gedung tua itu sembari melihat sekeliling tempat yang begitu usang, gelap dan menyeram kan. Ryo mengikuti kemana Briana berjalan, hingga akhir nya mereka berada di teras paling atas gedung tersebut.
"Tempat apa ini? Kenapa dia ke sini?". Ryo masih bingung.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrgggght". Tiba - tiba Ryo mendengar Briana menjerit sekencang mungkin.
Ryo bersembunyi dari balik tiang yang sedikit berlumut, lalu mengintip Briana yang berjalan ke pinggir bibir teras sembari berteriak. Mata Ryo terbelalak ketika ia melihat Briana sudah berjalan semakin di ujung.
"Jangan - jangan dia mau bunuh diri lagi, gawat".
Dengan gerak cepat Ryo berlari mendekati Briana lalu menyergap tubuh nya dari belakang sembari menjauh dari pigir genteng.
Sentak Briana terkejut tiba - tiba seseorang menyeret tubuh nya, lalu meronta - ronta.
"Apa - apa' an ini?, lepasin gue, lepasin". Sekuat tenaga ia melepas kan tangan Ryo yang ada di pinggang nya dan sekuat tenaga juga ia memukuli Ryo.
__ADS_1
"Enggak, gue enggak mau ngelepasi elo asal kan elo janji sama gue enggak bakal mau bunuh diri". Ryo semakin mengencang kan tangan nya, menahan rasa sakit pukulan dari Briana.
"Apa?". Kesabaran Briana sudah di ujung batas dan sudah mengetahui siapa orang tersebut, sekuat tenaga ia menarik tangan Ryo, setelah ia berhasil lalu ia mengeluar kan keahlian tae kwondo nya, ia membanting badan Ryo hingga jatuh pingsan.
Awal nya Briana tidak memperduli kan nya, namun ia melihat Ryo tak berkutik dengan cukup lama. Briana menyenggol Ryo dengan kaki nya, namun Ryo tidak merespon nya.
"Heh . . . Heh . . . Heh . . . . ".
"Heh . . . Bangun . . . Enggak usah pura - pura lu. Heh . . . Bangun lu . . . ".
Briana mulai panik karena Ryo masih tidak merespon.Secara perlahan Briana mendekati Ryo. Ia membungkuk kan badan ny, tangan Briana gemetar saat ia ingin mengecheck nadi dan nafas Ryo. Briana mendekat kan telinga nya pada dada Ryo lalu merasa kan detak jantung Ryo berdetak dengan normal. Ryo mengintip apa yang di lakukan Briana kepada nya lalu memejam kan mata nya kembali.
"Gue yang hampir pingsan, kok jantung loe yang dag dig dug". Ryo membuka mata nya sembari mengulum tawa nya. Sentak Briana berdiri dan benar - benar marah.
"Ha ha ha ha". Ryo tertawa puas karena ia telah berhasil mengerjain Briana.
Spontan Briana melayang kan tinju nya ke wajah Ryo.
#Baaaammm . . . .
"Adoooooooooooiiii". Rintih nya sembari memegang pipi nya yang terkena bogem mentah dari Briana, lalu pergi meninggal kan Ryo.
"Bri . . . Briana . . . Tunggu . . . . ". Ryo berlari mengerjar Briana dengan wajah nya yang sudah lebam.
"Bri . . . Loe mau kemana?. Sorry, gue cuma bercanda tadi, Bri . . .". Ryo menarik tangan Briana, spontan tangan Briana menepis nya. Mata Briana memerah menatap Ryo.
"Don't toch me". Briana membentak Ryo.
Ryo melirik tangan Briana bergetar hebat namun ia menyembunyi kan kedua tangan nya di balik badan nya.
"Oke oke oke, sorry, gue enggak akan nyentuh lu, sorry". Ryo mengangkat kan kedua tangan nya. Setelah mendengar penjelasan Ryo, Briana pergi meninggalkan nya.
.
.
Ryo sering memperhatikan tingkah Briana ketika ia di sentuh oleh nya, Briana seperti memiliki trauma di sentuh oleh laki - laki, dan Ryo juga memperhatikan nya di saat malam acara akhir tahun sekolah, ia melirik Briana merasa tidak nyaman, wajah nya pucat dan menahan rasa takut yang tidak di ketahui oleh Ryo.
Dan yang paling jelas di saat berada di rumah Briana. Ryo benar - benar terkejut melihat sosok Briana yang bagaikan bak bidadari sempurna ternyata asli nya tak sesempurna itu, ia memiliki banyak kekurangan dan sangat menyedihkan.
Flash On...
__ADS_1
Ryo mengusap wajah nya.
"Gue harus cari tahu, apa yang menyebabkan Briana seperti ini".