PHOBIA (TRAUMA)

PHOBIA (TRAUMA)
BAB 15


__ADS_3

Hampir setengah jam Ryo menunggu dirinya turun ke bawah akhir nya Briana pun muncul dengan memakai t-shirt Ryo yang agak besar untuk tubuh Briana yang langsing. Ryo terpaku menatap langkah Briana menuju mendekati nya, sempat Ryo menelan ludah nya ketika ia melihat Briana sedang mengikat rambut nya sehingga leher nya yang jenjang terlihat lebih jelas.


"Jaga mata loe". Briana membuyarkan tatapan Ryo. Meski terlihat cuek tapi Briana sadar bahwa Ryo menatap nya.


" Eh. . . He he he, sarapan yuk, nyokap gue sudah nyiapin ini semua". Ryo menarik kursi meja makan untuk Briana dan Briana pun duduk sembari melihat banyak nya aneka jenis masakan rumahan buatan bunda nya Ryo.


"Enggak apa - apa kan kalau elo sarapan nya makan ini?". Ryo sedikit sungkan karena masakan rumahan sang Bunda yang terbilang indonesia banget.


Tanpa kata Briana mengambil piring lalu mengambil nasi serta lauk pauk itu ke dalam piring nya. Ryo melihat Briana mulai menyuapkan makanan nya ke dalam mulut nya,Ryo merasa sedikit takut jika masakan bunda nya tidak sesuai dengan lidah Briana.


"Emm... Maaf ya kalau sarapan nya hanya makanan rumahan, gue harap sesuai dengan selera lidah loe hi hi hi". Ryo masih menatap getir setiap kali Briana menyuapkan makanan nya.


Briana/ " Elo mau makan atau cuma mau lihatin gue makan?".


Ryo/ "Eh... Iya, gue mau makan kok he he he. Oh ya emm mobil loe mau gue suruh orang yang bawa ke sini atau....?".


"Biar gue saja yang ngambil". Briana terdiam sejenak seperti mengingat sesuatu.


" Maksud gue, kita berdua yang ngambil ke sekolah".


Ryo/ "Hmm oke, entar kita ambil bareng - bareng, terus sampai sekolah baru kita balik masing - masing, gitu kan?".


Briana/ " Enggak usah, kita ke sekolah nya naik taxi online saja, entar elo yang setirin mobil gue, soal nya gue lagi enggak bisa bawa mobil dulu, gue masih lemas".


"Oummm oke, gue pesan taxi online nya dulu ya". Ryo mengangguk lalu menyambar ponsel nya.


Briana/ " Jangan sekarang".


Ryo/ "Lho kenapa?".


Briana/ " Huh.... Elo mau makan buru - buru karena taxi online nya sudah muncul?".


"Eh he he he enggak sih, ya sudah entar kalau sudah siap makan saja baru gue pesan taxi online nya". Ryo meletakkan kembali ponsel nya di atas meja.


Briana menggelengkan kepalanya sembari menyunggingkan senyuman nya.


.


.


Tepat di pinggir jalan yang tak jauh dari pintu gerbang sekolah, sebuah mobil taxi online memarkirkan mobil nya lalu menurunkan Ryo dan Briana.


" Sudah saya bayar pakai credit ya pak?". Ujar nya dengan ramah.


"Ehh i. Iya dek..".


Ryo melihat mata pak supir begitu liar melihat Briana yang terlihat hanya memakai baju kaos yang panjang nya sepaha. Ryo menatap supir itu dengan sinis.


" Bapak mau saya lapor kan atas tuduhan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur". Ancam nya.


"Ehh... Maaf, saya permisi, terimakasih sudah order dan jangan lupa bintang 5 untuk saya he he he". Supir itu tertawa getir karena ancaman Ryo lalu berlalu.


" Bintang lima bintang lima, entar langsung gue kasih lu bintang jatuh biar cepat - cepat taubat". Ryo ngedumel sendiri usai supir itu pergi. Ia merasa kesal dan menghampiri Briana sembari membuka jaket nya.


Ryo menarik tangan Briana, sentak membuatnya terkejut.


"Apa - apaan sih loe?".


Ryo mengikatkan jaket nya ke pinggang Briana agar melindungi nya dari pandangan para mata keranjang.


" Lain kali elo enggak boleh keluar seperti ini, banyak mata keranjang yang ngeliatin elo".


Briana mengerutkan dahi nya, ia enggak ngerti apa maksud Ryo.


"Elo kenapa sih?".


" Gue enggak mau ada yang mau mencelakai elo, paham?". Ryo menatap nya dengan tegas, ia membuat Briana terdiam.


"Ayok...". Ryo berjalan lebih di depan dari Briana dan Briana pun mengikuti nya.


Sesuatu yang tak biasa, mereka melihat banyak nya orang - orang mengerumuni area sekolah yang sudah di kelilingi oleh police line, di tambah lagi banyak nya pihak kepolisian serta bunyi sirine dari mobil polisi dan mobil ambulance.


Sedang kan Ryo dan Briana terkejut dan bingung apa yang sedang terjadi.


#Niiinuuu.... Ninuu... Ninuuuu.....


Terdengar nyaring nya suara bunyi sirine yang membuat suasana pada area itu menjadi menegang kan. Riuh para warga yang berlomba ingin masuk ke dalam gedung sekolah membuat para petugas keamanan kualahan mengatasi nya.


Briana meraih tangan Ryo lalu menggenggam nya begitu erat, sontak Ryo kaget dan menoleh ke arah Briana yang terlihat ketakutan. Ryo mendekatkan diri nya pada Briana dan memberi isyarat bahwa ia menenangkan Briana. Ryo menggenggam tangan Briana dengan erat, lalu menuntun nya masuk ke dalam gedung sekolah.


"Kalian mau kemana? Kalian dilarang masuk ke dalam". Salah satu petugas keamanan menghalangi jalan mereka.


Ryo mengeluarkan kartu pelajar nya dan menunjukkan nya pada petugas itu.


" Kami pelajar di sekolah ini pak, ke datangan kami di sini karena di suruh pak kepala sekolah". Ryo berkata bohong.


Petugas itu mengembalikan kartu pelajar nya dan sesekali melirik Briana yang begitu tegang.


"Ya sudah, kalian silahkan masuk ke dalam. Dia kenapa? Apa dia sedang sakit?".


" I... Iya pak, dia sedang tidak enak badan, dia terpaksa ke sini karena atas perintah pak kepala sekolah". Ryo tersenyum getir.


"Ya sudah, setelah urusan kalian selesai suruh dia minum obat dan istirahat yang cukup".

__ADS_1


" Iya pak, terimakasih, kami masuk dulu ya pak, permisi". Dengan langkah kaki seribu Ryo membawa Briana ke dalam sekolah.


"Bri.. Elo enggak apa - apa kan?". Ryo menatap wajah Briana yang pucat.


" Gue takut sama suara sirine". Untuk pertama kali nya Briana mengatakan pada seseorang apa yang ia takuti. Briana menutup telinga nya.


Ryo melihat sekeliling tempat. Ia menenangkan Briana dan berusaha untuk meredakan ketakutannya.


"Lihat gue, elo tenang ya, ada gue di sini, gue ada di samping loe dan gue enggak akan melepaskan tangan loe. Jadi elo enggak usah takut, lagian itu hanya suara, anggap saja itu suara dari musik yang elo suka". Ryo menggenggam tangan Briana sembari menatap nya. Ryo merasakan tangan Briana yang membeku. Briana pun menatap wajah Ryo yang begitu meyakinkan nya.


Ryo/ "Sekarang, kita masuk ke dalam, abis itu kita langsung ambil mobil loe terus kita pulang. Oke?".


Briana mengangguk pelan menuruti Ryo.


" Ya sudah yuk". Ryo menggandeng tangan Briana. Mereka berjalan menuju parkiran mobil sekolah.


"Nak Ryo.. Nak Ryo..". Tiba - tiba pak satpam sekolah menghampiri mereka dengan nafas nya yang sedikit terengah - engah.


Ryo dan Briana menoleh ke belakang.


" Iya pak?".


"Huh. . Huh.. Kalian tahu enggak? Huh.. Huh...".


Ryo/" Coba bapak atur nafas dulu baru bicara".


"Huuh... Kalian tahu enggak nak Anya teman sekelas kalian berdua tewas di taman belakang sekolah".


Berita itu membuat Ryo kaget dan merinding , sedang kan Briana seperti mati rasa.


" Serius pak? Jadi keramaian ini karena kasus ini?".


"Iya nak Ryo".


Ryo/ " Terus bapak tahu enggak kejadian apa yang terjadi?".


"Bapak belum tahu jelas kejadian yang sebenarnya, cuma menurut petugas kebersihan yang pertama kali melihat mayat nya, itu di sebab kan bunuh diri, karena ia menemukan mayat nya tergantung di pohon yang paling besar di taman belakang, tapi tadi bapak ngeliat mayat nya dari dekat terus bapak melihat ada luka sayatan pada leher nya dan itu bukan seperti sayatan dari tali tambang yang menggantung pada leher nya, malah seperti sayatan dari sebuah benda tajam, menurut bapak ini bukan kasus bunuh diri tapi kasus pembunuhan yang sengaja di buat seolah ini bunuh diri". Satpam itu menceritakan menurut versi nya.


Ryo/ " Ouhmm... Tapi pak, bisa saja itu luka dari bekas tali nya pak, kita enggak bisa sembarangan menyimpulkan kalau kita enggak ada bukti".


"Iya juga sih nak Ryo, kalau lah nak Anya di bunuh, ini pasti karena dendam sama nak Anya. Tapi kira - kira siapa ya pelaku nya".


Ryo merasakan genggaman tangan Briana semakin erat, ia melirik Briana yang sudah mengeluarkan keringat pada wajah nya.


"Eh he he mana saya tahu pak. Kita tunggu saja laporan dari penyelidikan nya, karena mereka lebih tahu soal ini. Cepat atau lambat semua nya pasti terungkap. Oh ya pak, saya enggak bisa lama - lama di sini soal nya saya mau ngantar Briana pulang, dia lagi enggak enak badan he he he".


Pak satpam melirik Briana.


" Oh.. Ehh tapi kalian enggak mau masuk dulu, mau lihat? Lagian teman - teman kalian juga ada di dalam lagi di minta keterangan sama polisi".


" Iya juga sih. Ya sudah , kalian balik saja cepat keburu nanti ada yang lihat kalian, mending kalian cepat keluar dari sekolah, eh tapi kalian jangan lewat dari depan. Lewat dari gerbang sebelah kiri, di situ tidak ada petugas keamanan".


"Baik pak. Makasih banyak ya pak. Jangan sampai ada yang tahu kalau kami ke sini ya pak". Ryo bergerak cepat membuka kan pintu mobil nya untuk Briana.


" Oke siap... Kalian hati - hati. Nak Briana semoga lekas sembuh ya".


Briana tersenyum pada pak satpam. Dengan cepat Ryo melarikan diri keluar dari gedung sekolah dari arah yang di saran kan oleh pak satpam. Mereka pergi menjauh dari ketegangan itu.


"Hmm... Elo masih ngerasa takut?". Ryo meraih tangan Briana lalu menggenggam nya.


Briana hanya diam dengan pandangan kosong.


" Elo mau gue antar pulang atau mau jalan - jalan lagi ke suatu tempat? Atau loe mau gue bawa loe ke rumah gue lagi?".


Briana/ "Antar gue pulang saja".


Ryo/ " Tapi kan gue enggak tahu alamat rumah loe dimana he he he".


Briana melirik Ryo, lalu tangannya merogoh ke dalam tas kecil nya. Dahi nya mengerut dan mengeluarkan isi yang ada di dalam tas.


Ryo/ "Loe nyari apa? Kok sampai di keluarin gitu isi tas nya?".


" Ponsel gue". Briana masih mencari dan memeriksa ke semua mobil nya.


"Kemarin loe waktu bawa gue ke rumah loe, loe ngeliat ponsel gue enggak?".


Ryo menaikkan alis mata nya sebelah, mengisyaratkan bahwa diri nya sedang mengingat.


" Kayak nya enggak ada deh, gue cuma nemuin tas loe saja yang tinggal di bangku taman depan dan gue juga enggak tahu ponsel loe ada atau enggak nya di dalam"


Briana mencoba mengingat nya kembali namun ingatan nya tak sampai ke sana sehingga terasa sakit pada kepala nya.


Ryo/ "Mungkin jatuh di sekolah atau mungkin jatuh nya di rumah gue. Apa kita cari saja ke rumah gue? Mana tahu ponsel loe jatuh di kamar gue".


Briana mengangguk.


" Ya sudah, kita coba cari di rumah loe".


Sebuah nada dering terdengar dari ponsel Ryo. Ryo merogoh saku celana nya lalu mengangkat panggilan tersebut.


"Assalamualaikum Bunda, ya bun".


Briana melirik nya.

__ADS_1


" Waalaikumussalam, Ryo kamu masih di rumah nak?".


Ryo/ "Ryo sudah di luar bun he he he".


" Hmm kebiasaan banget ya kamu nya enggak bilang dulu ke bunda".


Ryo/ "He he he maaf bun, tadi Ryo buru - buru karena mau nolongin teman".


" Hmmp, ya sudah lah, rencana nya bunda mau minta tolong sama kamu, belikan bunda makanan karena teman - teman bunda mau datang ke rumah".


Ryo/ "Lho bukan nya bunda pulang nya malam ya?".


" Iya tadi rencana nya gitu, eh bunda baru ingat kalau bunda ada janji sama teman arisan bunda kalau hari ini mereka mau ke rumah"


Ryo/ "Ouh gitu, tapi Ryo lagi di luar bunda, enggak bisa bantu bunda. Gimana nih? Apa Ryo pesan kan saja melalui online? Bunda tinggal kirim saja sama Ryo list yang mau di beli".


" Enggak usah deh, biar bunda saja yang beli, bunda coba cari di depan komplek, mana tahu ada yang jual makanan enak di sana".


Ryo/ "Hmm maaf ya bunda, Ryo enggak bisa bantu bunda he he he".


" Iya enggak apa - apa. Kamu jam berapa pulang nya nanti?".


Ryo/ "Masih belum tahu bun, nanti kalau Ryo enggak pulang Ryo pasti kabari kok ke bunda".


" Ya sudah, tapi kamu jangan macam - macam ya, apa lagi macam - macam sama perempuan".


"He he he iya bun, Ryo janji enggak akan macam - macam, Ryo cukup satu macam saja". Ryo melirik Briana yang juga melirik diri nya.


" Hmm ya sudah bunda tutup telpon nya, kamu hati - hati kalau di jalan".


Ryo/ "Iya bun, bunda juga hati - hati bawa mobil nya".


" Iya assalamualaikum".


"Waalaikumussalam". Ryo mematikan panggilan nya dan menyimpan kembali ponsel nya ke dalam saku celana.nya.


Ryo/ " Bri kayak nya kita enggak bisa sekarang deh ke rumah gue, soal nya nyokap gue sama teman - teman arisan nya bakal ngumpul di rumah gue. Jadi gimana Bri apa kita nunggu acara mereka selesai baru ke rumah gue atau gue saja yang balik ke rumah nyari ponsel loe??".


Briana mengendus pelan.


"Gue pinjam ponsel loe bentar".


Briana mengambil ponsel yang di sodorkan oleh Ryo.


" Password ponsel loe?". Briana menyodorkan nya kembali.


Ryo/ "Loe ketik saja , gue agak susah ngetik nya sambil nyetir gini. Password nya nama loe".


Briana mulai mengetik, tapi...


" Password salah".


Ryo/ "Salah, perasaan gue enggak ganti password lah, elo sudah benar kan pengetikan nya?".


Briana memutar bola mata nya.


" Ya benar lah, gue sudah ketik password yang loe bilang, NAMA LOE kan password nya?".


Ryo menepuk jidat nya sembari tertawa geli.


"Buah ha ha ha ha".


" Kok loe ketawa?".


Ryo/ "Ya iya lah gue ketawa, abis nya loe lucu banget. Gue bilang password gue nama loe, ehh loe malah ngetik kata nama loe ha ha ha. Maksud gue itu nama loe, B R I A N A, Briana bukan di ketik nama loe ha ha ha".


Briana/ " Ya kali gue kepedean".


Ryo masih tertawa melihat Briana.


Ia mengetik nama nya sendiri pada ponsel Ryo dan ponsel berhasil terbuka. Briana mengutak - ngatik ponsel itu lalu memberikan nya pada Ryo.


"Nih, kita ke rumah gue saja, loe ikutin saja apa kata si mbak ini". Mbak yang di maksud Briana itu suara cewek yang ada di google.


" Hmmp oke siap princess hi hi hi".


Briana melirik sinis.


"Kenapa password ponsel loe pakai nama gue?".


" Biar gue selalu ingat loe setiap saat. Ha ha ha". Ryo malah menggombal Briana.


"Elo mau kita mati di tengah jalan?".


Ryo memanyunkan bibir nya.


" Ya elah Bri, gue kan bercanda doank, biar enggak tegang kali suasana nya kayak di sekolah tadi he he he".


"Enggak lucu".


Ryo/ " Oh ya elo mikir enggak sih kayak nya ada kesamaan nya deh sama kejadian Anya dan kejadian Chiko setahun yang lalu? Dari kesimpulan yang gue dengar dari pak satpam itu sama persis sama kejadian Chiko. Karena gue sempat lihat mayat nya Chiko kayak gitu juga, gantung diri tapi ada sayatan benda tajam di leher nya. Menurut loe sama enggak sih? Dan lagi ini tanggal.....". Ryo mencoba mengingat.


"Ya ampun, ini tanggal 20 bulan mai, sama tanggal nya sama kejadian Chiko". Ryo kaget mengingat tanggal yang sama dan kejadian yang hampir sama.

__ADS_1


Sedangkan Briana hanya terdiam dan berusaha menutupi tangan nya yang kembali bergetar.


__ADS_2