
#Teng . . . Teng . . . Teng . . .
Terdengar bunyi lonceng dari dalam, itu menyatakan bahwa waktu nya pulang. Briana langsung menghidupkan mesin mobil nya dan berlalu ketika gerbang sekolah sudah di buka oleh pak satpam.
Tak berbeda dengan yang lain nya, sebagian siswa berhamburan keluar dari kelas. Ada yang berjalan dengan tergesa - gesa, ada yang jalan terlalu santai dan ada sebagian siswa nya lagi masih menetap di dalam kelas sedang bersiap - siap untuk pulang alias berdandan (siswa cewek).
"Loe mau kemana?, tumben - tumbenan dandan kayak gini?, apa lagi ini, kok tumbenan banget gaya rambut loe di ikat separuh? Malah enggak pakai bando lagi". Raysa terheran melihat Anya sedang berdandan tak seperti diri nya yang memiliki ciri khas selalu memakai bando.
"Iya hari ini si Bobby mau jemput gue abis itu kami mau jalan - jalan fu fu fu, terus si Bobby kurang suka dengan gaya gue yang pakai bando, dia bilang gue kayak cewek cupu. Terus dia suka nya sama cewek yang memakai make up. Maka nya gue ubah gaya gue jadi seperti ini untuk dia". Ujar nya sembari mentouch - up wajah nya.
Raysa menggeleng kan kepala nya.
"Itu sama saja dia enggak nerima elo apa ada nya".
Anya/ "Ray . . . Elo tahu apa soal beginian? Pacaran saja elo enggak pernah, gimana mau faham. Dia itu bukan nya enggak mau nerima gue apa ada nya, si Bobby mau nya gue berubah menjadi yang lebih baik. Itu tanda nya dia sayang sama gue, dia perhatian sama penampilan gue. Kan untung nya di gue, gue jadi kelihatan makin cantik fu fu fu fu".
Raysa memutar kan bola mata nya dan mulai malas menanggapi Anya yang sudah berubah.
"Sudah lah. Gue mau cabut". Raysa beranjak meninggal kan Anya sendirian di dalam kelas.
"Ray . . . . Tungguin gue donk . . . .". Teriak nya, namun Raysa tak menghirau kan nya.
.
.
Raysa memarkirkan motor gede milik nya ke dalam bengkel milik keluarga nya. Ia sangat tidak bersemangat.
"Raysa . . . Nanti setelah kamu beberes kamu ke sini ya, bantuin Papa". Seorang pria paruh baya yang muncul dari dalam kios meneriaki Raysa ketika beliau melihat nya berjalan masuk ke dalam rumah.
"Hmmp . . . Iya Pa . . .". Jawab nya, lesu sembari berjalan.
"Kenapa sih tuh anak?, pulang - pulang tampang nya lemas gitu". Beliau bergumam. Ia sedikit khawatir pada anak sulung nya itu.
Raysa merebah kan badan nya ke atas tempat tidur nya. Berulang kali ia menghela kan nafas nya yang terasa berat.
Flash Back . . .
Briana tertawa kecil. Briana menanggapi nya dengan santai, sesekali dia menyungging kan senyuman nya.
"Ha ha ha, enggak salah?, bukan nya kalian yang butuh gue?, bukan nya kalian salah satu dari mereka juga, yang berusaha ngedeketin gue biar bisa berteman dengan gue, ck".
Anya terdiam karena di kick oleh Briana. Sedang kan Raysa dan yang lain nya hanya terdiam melihat pertengkaran mereka.
"Jangan elu pikir gue enggak tahu, gue bukan orang bodoh, percuma donk gue selalu jadi siswi terpintar di sekolah ini kalau gue enggak bisa tahu apa tujuan dan maksud kalian selama ini, selama ini gue cuma pura - pura tutup mata saja soal itu, karena gue pengen tahu sampai mana tujuan kalian. Dan gue peringati sama elu untuk terakhir kali nya, elu harus hati - hati sama kedua cowok bre**s*k itu, kalau tidak?, yaaa elu bakal tanggung penyesalan dan akibat nya sendiri. Gue sudah berusaha untuk memperingati elu, tinggal lu saja mau terima atau tidak. Oh ya satu lagi, gue sama sekali enggak butuh kalian semua terutama elu, yang ada, gue kasihan dan prihatin sama elo semua".
Briana menunjuk kan jari nya ke muka Anya, lalu mengambil tas nya dan beranjak keluar kelas meninggal kan mereka yang kikuk serta tertegun dengan ucapan Briana. Anya sendiri tak bersuara sedikit pun.
.
"Loe mau kemana?, tumben - tumbenan dandan kayak gini?, apa lagi ini, kok tumbenan banget gaya rambut loe di ikat separuh?, malah enggak pakai bando lagi". Raysa terheran melihat Anya sedang berdandan tak seperti diri nya yang memiliki ciri khas selalu memakai bando.
__ADS_1
"Iya hari ini si Bobby mau jemput gue abis itu kami mau jalan - jalan fu fu fu, terus si Bobby kurang suka dengan gaya gue yang pakai bando, dia bilang gue kayak cewek cupu. Terus dia suka nya sama cewek yang memakai make up. Maka nya gue ubah gaya gue jadi seperti ini untuk dia". Ujar nya sembari mentouch - up wajah nya.
Raysa menggeleng kan kepala nya.
"Itu sama saja dia enggak nerima elo apa ada nya".
Anya/ "Ray . . . Elo tahu apa soal beginian? Pacaran saja elo enggak pernah, gimana mau faham. Dia itu bukan nya enggak mau nerima gue apa ada nya, si Bobby mau nya gue berubah menjadi yang lebih baik. Itu tanda nya dia sayang sama gue, dia perhatian sama penampilan gue. Kan untung nya di gue, gue jadi kelihatan makin cantik fu fu fu fu".
Flash on . . .
Raysa memijat - mijat dahi nya yang terasa tegang. Ia memikirkan tentang hubungan nya bersama Briana dan Anya yang kini sudah hancur, bahkan ia sudah tidak bisa lagi mengenali karakter mereka satu sama lain.
"Huuufffffft. . . . Huuuuuuuuuuuuuuh".
Waktu begitu cepat berlalu, kini sudah tiba di hari dimana hari kelulusan mereka. Semua murid kelas 3 berantusias berbaris dengan rapi di lapangan sekolah, untuk pengumuman yang sudah mereka nanti - nanti.
Pengumuman itu pun telah tiba, seorang laki - laki paruh baya yang biasa di kenal dengan Pak Kepala sekolah berdiri di atas panggung yang sudah di persiapkan oleh panitia terlebih dahulu, beliau mengumumkan kelulusan mereka serta mengumumkan tentang prestasi yang di dapati oleh Briana dan Ryo yang pernah di beritahu oleh Pak Gerry tempo lalu.
Pak kepala sekolah meminta kedua nya untuk naik ke atas panggung untuk bergabung dengan beliau dan memberi kan penghargaan khusus untuk mereka berdua.
Semua murid bersorak dan bertepuk tangan dengan riuh. Ryo tersenyum bangga pada diri nya sedang kan Briana hanya memasang wajah datar sembari melihat ke depan. Pak kepala sekolah memberi kan sebuah penghargaan untuk kedua nya serta pak Gerry selaku wali kelas mereka.
Tanpa basa basi Briana meninggal kan panggung beserta guru - guru dan Ryo usai mereka mengambil foto bersama, dia tidak peduli apa kah acara tersebut sudah selesai atau belum. Semua mata tertuju pada Briana, tak terkecuali Ryo.
Ryo mengalihkan mereka dengan mengajak mereka berfoto bersama kembali agar mereka tidak menghiraukan kepergian Briana.
Di tengah - tengah barisan Raysa diam - diam keluar dari barisan lalu mengikuti Briana.
"Bri . . . Briana". Teriak nya.
Briana membalik kan badan nya, lalu berpaling kembali ketika ia melihat sosok Raysa lah yang memanggil diri nya. Ia tidak menghiraukan Raysa dan terus berjalan menuju ke kelas.
"Huuffft".
Tiba - tiba seseorang memegang pundak Raysa dan mengagetkan nya.
"Oh ya ampun". Sentak nya ketika ia menoleh ke belakang. Ia melihat Ryo yang ada di hadapan nya itu.
Ryo/ "Sudah, enggak usah elo kejar dia, mungkin dia masih marah sama elo, beri dia waktu".
Raysa/ "Bukan marah lagi, mungkin dia sudah benci sama gue dan dia enggak bakalan mau kenal sama gue lagi gara - gara si Anya".
Ryo/ "Hmm . . . Kok gara - gara Anya, kan gara - gara perbuatan elo juga, masa elo menyalahkan Anya doank, elo kan juga salah. Elo juga terlibat".
Raysa/ "Fuhht . . . Iya gue juga salah tapi gue sama sekali enggak punya tujuan tertentu ke dia, gue benar - benar mau berteman sama dia tanpa tujuan apa pun kok, semua orang pasti salah faham sama gue, kalian pasti mengira gue juga sama dengan Anya".
Ryo/ "Ya sudah, kalau memang elo benar - benar tulus sama dia, cepat atau lambat Briana akan merasa kan ketulusan elo dan mau memaafkan elo".
Raysa/ "Yaa mudah - mudahan. Oh ya by the way, congratulation ya untuk prestasi yang sudah elo capai". Raysa mengulur kan tangan nya.
Ryo menyambut nya.
__ADS_1
"Thank you. Elo juga selamat karena sudah lulus".
Raysa/ "Aah elo kalau itu enggak perlu diselamatin, ngeledek saja elo"
Ryo/ "Ha ha ha, bukan ngeledek loh, itu juga harus di kasih reward sebagai prestasi karena kita sudah berhasil melewati tahapan 3 tahun ini, itu suatu kebanggaan juga donk".
Raysa/ "Hmm iya iya, makasih banyak".
Ryo/ "He he he, ya sudah gue balik lagi ke sana ya, soal nya tadi gue permisi sebentar ke toilet, enggak enak kan kalau di tungguin he he he".
Raysa/ "Iya iya, pergi sana, entar fans - fans loe ngilang he he he".
Ryo/ "Ha ha ha bisa saja elo. Oh ya entar kalau ada waktu gue mau ke bengkel elo soal nya ada yang mau gue omongin sama elo sekalian juga gue mau benerin mobil gue".
Raysa/ "Oke siap gue tunggu kedatangan loe". Raysa melihat Ryo berlari kembali ke atas podium, lalu mata nya tertarik pada satu pandangan yang tak biasa nya. Ia melihat Anya berjalan lemas, wajah nya tampak pucat dan lesu. Raysa menghampiri nya.
"Elo kenapa Nya?, elo sakit ya?, muka elo pucat gitu, yok kita ke UKS". Raysa bergerak menggandeng tangan Anya dan memapah nya ke UKS.
Anya menggeleng kan kepala nya.
"Enggak usah. Kita ke kelas saja, gue enggak mau ke UKS".
Raysa/ "Elo itu sakit harus nya ke UKS bukan ke kelas. Kalau enggak gue panggil saja dokter UKS nya ke sini, biar dia meriksa elo".
Anya/ "Gue enggak mau Ray, gue mau ke kelas saja".
Raysa/ "Ya sudah, pelan - pelan jalan nya".
Mereka berjalan menuju ke kelas. Briana melirik sekilas ke arah Raysa yang memapah Anya ke bangku nya.
Raysa/ "Kan sudah gue bilang tadi, elo itu sarapan dulu. Kalau elo tadi sarapan, elo enggak bakalan kayak gini waktu baris".
Anya hanya diam tak menghiraukan omelan Raysa.
Raysa sibuk menyodorkan sebungkus roti dan secangkir air mineral pada Anya.
Anya menolak nya. Tiba - tiba Anya berlari keluar kelas sembari memegang perut nya dan menutup mulut nya.
"Ouullwweeekk . . . ". Anya merasa mual lalu muntah.
"Nya . . . Anya". Raysa berteriak memanggil Anya yang sudah ngacir keluar kelas.
Sedang kan Briana tersenyum sinis. Seperti nya ia tahu apa yang terjadi pada Anya.
Raysa melirik Briana lalu berjalan mendekati nya.
"Hai Bri, selamat ya atas prestasi yang sudah elo capai". Raysa mengulur kan tangan nya pada Briana.
Briana mengacuhkan nya sehingga ia menyimpan kembali uluran tangan nya.
"Oh ya, Pasha adek gue kemarin nanyain elo, dia bilang kenapa elo sudah enggak pernah lagi ke rumah, terus dia nitipin ini buat elo". Raysa menyodorkan secarik kertas berwarna biru. Briana menatap kertas tersebut lalu mengambil nya.
__ADS_1
Raysa/ "Itu surat dari dia buat elo, kata nya dia rindu sama elo maka nya dia buat surat ini untuk loe. Mm . . . . Gue keluar dulu ya, mau lihat kondisi Anya".